
Arsyil tersipu malu mendengar ungkapan cinta istrinya itu. Dia duduk mendekat lalu memeluk lagi Najwa, di ciumnya kening Najwa. Dia benar-benar sangat bahagia sekali.
"Abang juga cinta dek, sangat mencintai adek." kata Arsyil.
"Jadi, abang ngga lagi usir adek kan?" tanya Najwa sedikit bercanda.
"Mana ada, masa abang mau usir ibu dari anak abang sendiri." kata Arsyil semakin memegang erat istrinya itu.
"Aku takut bang, abang lebih mementingkan sahabat abang dari pada adek. Lebih mementingkan perasaan mas Azam dari pada perasaan abang sendiri." ucap Najwa.
"Kali ini ngga, abang akan mempertahankan rumah tangga kita. Abang akan bicara sama Azam jika dia datang lagi. Tapi abang ngga menyangka, kenapa adek mau hamil? Bukankah dulu abang lihat adek beli pil kontrasepsi?" kata Arsyil, dia melepas pelukannya dan menatap Najwa.
"Adek lupa minum bang, waktu itu lupa menaruhnya di mana pil itu. Lagi pula adek sudah mulai suka sama abang, jadi lupa semuanya. Heheh." ucap Najwa.
"Ya ampun, belum juga punya anak. Sudah lupa menyimpan barang, tapi abang senang dan terima kasih mau hamil anakku dek. Terima kasih banyak." ucap Arsyil mencium tangan istrinya.
Najwa tersenyum, dia senang karena hal tak terduga itu ternyata membuatnya kembali lagi pada hubungannya dengan Arsyil.
"Tapi adek ngga tahu kalau hamil lho bang, ngga ada gejala apa pun. Adek hanya merasa sering pusing dan lelah saja." kata Najwa.
"Mungkin itu gejalanya."
"Dan sekarang adek lapar bang, dedeknya minta makan." ucap Najwa dengan manja.
"Oh ya, abang pesan aja ya. Mau?"
"Tadi adek bawa bekal buat abang di meja itu."
"Oh ya, yang kotak makan itu isinya makanan?"
"Iya, itu buat abang. Sengaja adek masak buat abang kalau abang pulang dari percetakan."
Arsyil tersenyum, dia lalu beranjak dari duduknya. Najwa mengikuti. Mereka keluar dari kamar menuju ruang tamu, melihat kotak makan bersusun itu masih tertutup rapi.
Najwa duduk, Arsyil membuka kotak makan itu. Ternyata makanan yang sama ketika Najwa pergi ke kontrakan Arsyil dulu.
"Makan ini ya, abang ngga punya lauk. Kalau nasi ada." kata Arsyil.
"Iya, makan sama-sama bang."
"Iya."
"Suapi adek, bang."
Arsyil menggeleng, dia semakin gemas dengan tingkah Najwa yang manja itu. Senyum Najwa mengembang, Arsyil melangkah ke belakang untuk mengambil nasi dan juga air minum. Najwa bangkit, dia ingin membantu suaminya memgambil piring dan gelas.
"Adek duduk aja, biar abang yang ambilkan." kata Arsyil mengambil nasi yang masih ada di majikom.
"Ngga apa-apa bang, biar cepat adek sudah lapar banget." kata Najwa.
"Dia yang kelaparan atau adek yang pengen cepat makan di suapi sama abang?"
"Dua-duanya bang."
"Ini modus banget sih."
__ADS_1
"Biar aja, adek suka. Heheh."
Arsyil menggeleng kepala saja, satu bulan lebih dia merasa sedih dan murung. Kini bisa tersenyum bahagia, apa lagi melihat tingkah Najwa yang menurutnya semakin menggemaskan ketika hamil muda itu. Manja dan ceria.
_
Pagi hari, keduanya sudah bangun dan menjalankan kewajiban sholat subuh dua rokaat di tambah sholat kobliyah subuh. Keduanya tampak senang kehidupan baru akan di mulai, Arsyil akan selalu ada buat Najwa. Begitu juga dengan Najwa bagi Arsyil.
Setelah sholat subuh, keduanya juga bersih-bersih rumah. Najwa hanya memegang bagian yang ringan saja, karena Arsyil melarangnya untuk melakukan pekerjaan berat.
Dia menurut, terkadang kesal karena kegiatan ringan juga Arsyil melarangnya. Akhirnya Najwa hanya duduk saja di kursi.
"Abang hari ini akan izin tidak pergi ke percetakan. Mau memberitahu pa Sanip dan beberapa tetangga kalau kita ini sebenarnya suami istri. Abang punya video ijab kabul kita waktu itu, ya meski pendek. Tapi cukuplah untuk memberitahu tetangga kalau kita adalah pasangan suami istri." kata Arsyil.
"Iya bang, semalam juga umi bilang harus memberitahu tetangga atau siapa untuk jadi saksi kalau kita sudah rujuk kembali." kata Najwa.
"Iya, dan yang tadi malam menolong adek. Bu Sri juga di kasih tahu, dia orang baik dan ngga akan menyebar fitnah." kata Arysil.
Mereka pun makan makanan sederhana yang di buat Arsyil. Najwa kaget dengan suaminya itu bisa masak juga.
"Abang sering masak?" tanya Najwa ketika dia makan masakan buatan suaminya itu.
"Ngga juga dek, abang masak kalau suka aja. Tapi masak jengkol juga abang bisa." kata Arsyil.
"Masak jengkol?!"
"Iya."
"Mau bang." kata Najwa.
"Kata siapa? Aku ngidam jengkol nih." ucap Najwa dengan suara manjanya.
"Duh, nyesel abang bilang bisa masak jengkol." kata Arsyil lagi.
"Ayolah bang, bikin masakan jengkol ya. Adek pengen merasakan jengkol buatan abang." kata Najwa.
"Ya, besok aja ya."
"Sekarang bang."
"Mana ada orang jualan sayur siang begini?"
"Ada, di pengkolan jalan di depan kan ada warung sayuran."
"Kok adek tahu?"
"Ya, adek sempat lihat ke warung itu waktu supir taksi berhenti di depan warung itu. Beli sekarang ya?"
"Besok aja."
"Sekarang bang."
Arsyil menarik napas panjang, bibirnya menipis melihat tingkah manja istrinya. Dia pun akhirnya mengangguk, Najwa pun tersenyum senang.
"Assalamu alaikum!" teriak seseorang di depan.
__ADS_1
"Wa alaikum salam." jawab Arsyil dan Najwa berbarengan.
Arsyil melangkah menuju pintu dan membukanya, dia melihat ibu Sri yang tadi malam menolong Najwa pingsan. Dia tersenyum pada Arsyil dengan tangannya membawa sesuatu berbau khas dalam mangkok.
"Waah, bu Sri. Masuk bu." kata Arsyil dengan ramah.
"Terima kasih mas Arsyil. Ibu bawa lauk seadanya saja buat mas Arsyil." kata bu Sri.
"Bu Sri repot sekali sampai bawakan makanan segala." kata Arsyil merasa tidak enak.
Najwa mendekat pada Arsyil dan bu Sri. Dia tersenyum ramah dan menunduk tanda hormat.
"Mbaknya sudah sehat ya?" tanya bu Sri pada Najwa.
"Alhamdulillah bu, saya baik-baik saja. Terima kasih tadi malam ibu menolong saya." kata Najwa.
"Ibu kebetulan lewat, eh mbaknya jatuh pingsan. Ibu kaget, jadi panggil mas Arsyil." kata bu Sri.
"Oh ya bu Sri, sebenarnya dia ini istri saya. Dan kami sempat bercerai lalu kami rujuk kembali." kata Arsyil memberitahu ibu Sri.
"Waah, benarkah? Yang waktu pak Marwan meninggal itu ya? Pak Marwan sempat ngomong sih kalau sebenarnya mas Arsyil itu menikah, tapi ibu diam saja karena ibu pikir pak Marwan cuma bohong. Ternyata benar ya, heheh." kata bu Sri.
"Iya bu, dan kemarin itu baru pertama kali Najwa datang ke rumah ayah. Jadi belum sempat saya bawa kemari." kata Arsyil beralasan.
"Maaf lho kalau ibu tidak percaya dengan ucapan pak Marwan. Karena ngga pernah lihat nak Arsyil bawa istrinya." kata bu Sri lagi.
"Ini nih bu foto ijab kabul saya dengan istri saya, memang pernikahannya sederhana saja. Dan awalnya ada masalah sedikit, jadi kami pisah. Lalu sekarang kami bersama lagi." kata Arsyil menunjukkan foto pernikahannya dengan Najwa di ponselnya.
"Iya ya, sekarang ibu tidak su'udhon lagi sama mas Arsyil dan mbaknya. Maaf sekali lagi."
"Tidak apa, memang saya yang salah tidak membawa istri saya kemari karena kesibukan saya di percetakan bu. Dan saya memang berniat untuk memberitahu ibu dan pak Sanip saja." kata Arsyil.
"Oh ya, ini ibu ada sedikit lauk. Makanan kesukaan ibu sih, ibu sering masak lauk ini. Barangkali mas Arsyil dan mbak Najwa suka, mohon terima ya." kata bu Sri menyodorkan mangkuk itu.
"Waah, ini sih yang lagi di minta istri saya bu. Dia ngidam jengkol." kata Arsyil.
"Apa?! Jadi mbak Najwa sedang hamil?"
"Iya, Alhamdulillah."
"Waah, selamat mas Arsyil dan mbak Najwa. Selalu sehat ya." kata bu Sri.
Arsyil pun mempersilakan bu Sri duduk, di temani oleh Najwa dan mereka mengobrol sebentar. Arsyil mengembalikan mangkuk bekas masakan jengkol dan bu Sri pun pamit pulang.
"Adek sekarang sudah terpenuhi ya ngidamnya." kata Arsyil.
"Ngga bang, tetap saja adek pengen abang bikin masakan jengkol. Pasti rasanya lezat buatan abang dari pada buatan bu Sri." kata Najwa mengunyah jengkol satu biji.
Arsyil, " Yaah ...?"
_
_
*******************
__ADS_1