
"Mbak, apa masih mencintai mas Azam?" tanya Mala.
"Eh, kenapa tanya itu?" tanya Najwa heran.
"Boleh saya bercerita mbak?" tanya Mala kini.
"Boleh saja, mau cerita apa?" tanya Najwa heran.
"Maaf kalau saya terlalu sok akrab dengan mbak Najwa."
"Ngga apa-apa. Cerita saja." kata Najwa.
Mala tersenyum senang, dia hanya berusaha untuk mencari solusi saja. Jika pun nanti tidak berhasil pun tidak masalah, begitu pikir Mala.
"Sejak saya sebelum menikah dengan mas Azam, kakakku bilang kalau ada yang mau melamar saya. Saya ngga tahu kalau dia itu seorang duda, dan saya langsung menerimanya mbak. Saya pikir mas Azam juga suka sama saya, tapi dia memberitahu kalau akan langsung menikah dalam dua minggu itu.
Aku terima saja, dan setelah menikah mas Azam bilang kalau pernikahanku dengannya hanya sebuah syarat dan kontrak saja. Kakakku meminta menikah dengan KUA, biar enak saja. Saya yang tidak tahu apa pun hanya pasrah aja. Lama kelamaan, mas Azam bersikap baik padaku. Dan kami sudah melakukan kewajiban sebagai suami istri.
Hingga akhirnya mas Azam tahu kalau aku ..."
Mala tidak meneruskan ucapannya, dia menatap Najwa. Ada sorot mata penasaran di wajah Najwa, Mala menunduk lagi. Dia menarik napas panjang, malu dia mengatakannya. Tapi berusaha itu adalah wajibkan untuk mempertahankan sebuah hubungan?
"Saya hamil anak mas Azam, mbak." kata Mala akhirnya.
"Hamil?!" tanya Najwa kaget.
"Iya."
"Waaah, alhamdulillah kalau begitu. Ternyata apa yang di inginkan mas Azam tercapai." kata Najwa dengan gembira.
Meski dia juga sedikit kecewa, tapi dia senang juga mendengar istri Azam itu hamil. Bukankah dulu dia di ceraikan karena tidak kunjung hamil juga?
"Selamat ya, sudah berapa minggu?" tanya Najwa dengan antusias.
Mala heran dengan sikap Najwa yang begitu senang mendengar dia hamil. Dia tersenyum, mungkin pikiran Najwa juga sama dengannya. Tapi berbeda dengan Azam, Mala tiba-tiba murung.
"Sudah dua bulan mbak, tapi mas Azam tetap tidak menyukainya kalau saya hamil." jawab Mala lirih.
Najwa diam, dia terpaku dengan ucapan Mala itu. Bingung juga kenapa Azam tidak menyukai istrinya hamil.
"Kenapa?"
"Dia tetap akan mengejar mbak Najwa, hik hik hik. Saya, hanya jadi yang kedua mbak." ucap Mala tiba-tiba terisak.
__ADS_1
Najwa mendekat, dia memeluk Mala yang menangis itu. Hatinya juga perih, kenapa harus Azam mengatakan itu. Untuk menceraikan Mala juga tidak mungkin, karena dia sedang hamil.
Sedangkan dirinya?
Apa dia mau jadi istri kedua, dan suaminya berpoligami?
Mala melepas pelukan Najwa, dia menghapus air matanya. Merasa malu karena menangis di depan perempuan yang di cintai suaminya.
"Maafkan saya mbak, bukan berarti saya menghalangi cinta mbak Najwa sama mas Azam. Tapi saya tidak menyangka akan hamil, lagi pula saya juga ..., hik hik hik."
Najwa diam, dia tahu apa yang akan di katakan Mala itu. Najwa menunduk, menarik napas panjang. Dan masih tetap diam menatap Mala.
"Saya mencintai mas Azam, mbak. Maaf kalau saya lancang mencintai suami saya. Hik hik hik."
"Kenapa minta maaf? Itu wajar kan mencintai suami sendiri, bahkan harus." kata Najwa.
Mala mendongak, dia tidak menyangka justru Najwa berkata begitu. Dia mencari wajah kecewa pada Najwa, tapi perempuan itu mampu menuntupi apa yang di cari Mala.
"Apa mbak Najwa tidak kecewa?"
"Kenapa harus kecewa? Selama tiga bulan, bahkan hidup bersama. Melakukan hal bersama dan tidur bersama, menimbulkan rasa cinta itu wajar. Itu halal, cintamu pada suamimu itu halal mbak Mala. Jangan meminta maaf pada saya, jika mas Azam masih mengabaikan mbak Mala. Tunggulah, bersabar. Akan ada waktunya mbak Mala dapat cintanya juga." kata Najwa menasehati Mala.
"Iya, aku tahu. Meskipun itu kecil dan jadi yang kedua." kata Mala, merasa Najwa itu menang dengan ucapannya itu.
Lama mereka mengobrol, hingga sore hari. Dan akhirnya Mala pun berpamitan.
"Maaf kalau saya datang dan menceritakan masalah saya mbak Najwa. Jika mbak Najwa mau menikah dengan mas Azam, lakukan saja. Aku ngga apa-apa kok, yang penting anak saya nanti setelah melahirkan ada papanya. Itu saja." kata Mala akhirnya dia sadar diri kalau datang ke rumah Najwa menceritakan semuanya itu tidak ada artinya.
"Jangan minta maaf, dan jangan pikirkan semuanya. Aku yakin Allah akan memberikan hidup yang terbaik buat mbak Mala dan saya juga." kata Najwa dengan bijaknya.
"Iya mbak, dan saya minta sama mbak Najwa. Jangan beritahu mas Azam kalau saya datang kemari. Saya janji ini yang terakhir kalinya menemui mbak Najwa." kata Mala.
"Kenapa tidak mau datang lagi? Kita bisa jadi teman kok." kata Najwa.
"Entahlah mbak, lihat saja nanti. Maaf sekali lagi ya mbak."
"Saya juga minta maaf ya."
"Kalau begitu, saya pulang dulu mbak. Takutnya mas Azam pulang lebih cepat, dan di tanya kemana saya pergi." kata Mala.
"Iya, sebaiknya pulang sebelum suamimu pulang lebih dulu. Karena memang tidak baik seoeang istri pergi tanpa sepengetahuan suami." kata Najwa.
"Iya mbak, saya tahu. Kalau begitu saya pamit. Assalamu alaikum." kata Mala.
__ADS_1
"Wa alaikum salam." jawab Najwa.
Mala melangkah pergu meninggalkan Najwa, dia langsung masuk ke dalam mobil taksi yang dia pesan itu. Dan mobil pergi, masuk motor Arsyil ke halaman rumahnya.
Dia menghentikan motor di depan rumah. Laki-laki itu melihat pintu terbuka, tapi istrinya tidak ada. Dia heran kenapa pintu terbuka Najwa tidak ada dan tadi dia melihat ada mobil taksi berhenti di depan halaman rumahnya.
"Assalamu alaikum, dek?!"
"Wa alaikum salam."
Arsyil lega karena ada jawaban salam dari dalam. Ternyata bukan Najwa yang masuk ke dalam taksi tadi, dia pun masuk. Najwa menyambut suaminya dan menyalaminya.
"Sudah pulang bang?" tanya Najwa.
"Iya, kan abang ada di sini." jawab Arsyil.
"Heheh, iya sih."
"Oh ya, tadi ada mobil berhenti di depan dan pergi lagi. Apa ada tamu tadi?" tanya Arsyil menebak penasaran.
"Iya."
"Siapa?"
"Teman baru kenal bang."
"Teman baru kenal?"
"Sudah jangan di pikirkan, abang mandu aja sana. Bau tuh badannya."
"Lho, abang di kantor aja kok. Ngga kemana-mana."
"Tapi bau, udah sana mandi." ucap Najwa menutup hidungnya sambil meringis.
Arsyil menatap istrinya yang memencet hidung, lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya. Mengambil handuknya, pikirannya masih bertanya-tanya tentang teman baru Najwa itu. Siapa dia?
"Teman baru?"
_
_
*****************
__ADS_1