
Abah masuk ke dalam kamarnya, di ikuti oleh istrinya. Dia melihat suaminya meletakkan buku-buku kitab yang dia gunakan untuk mengajar di yayasan. Umi Dila duduk di sisi ranjangnya, masih menatap suaminya kemana pun dia berjalan.
Abah Ubay pun menoleh ke arah istrinya, karena merasa sejak tadi istrinya itu memperhatikan apa yang dia lakukan.
"Kenapa umi? Umi mau bicara sama abah?" tanya suaminya.
"Bah, tadi kelihatannya nak Azam bersemangat sekali deh datang kesini." kata umi Dila.
"Lalu?" tanya abah.
"Ya, kalau pada akhirnya Najwa dan nak Azam bicara masalah kembali lagi. Lalu Najwa menolaknya, itu sangat mengecewakan nak Azam lho ya." kata umi Dila lagi.
"Umi berharap anakmu kembali pada Azam?" tanya abah.
"Ngga bah, umi sih tetap milih nak Arsyil. Meskipun keduanya memang sama-sama baik dan juga santun, tapi ya itu sih terserah Najwa." kata umi Dila.
"Kan umi tahu Najwa akan pilih siapa, dia mencintai Arsyil. Terus, kenapa umi jadi ragu?"
"Ngga ragu bah, cuma kasihan aja."
"Umi ini pasti nih, kepincut dengan penampilan Azam dan mobil barunya."
"Ih, kok abah ngomongnya begitu."
"Ya makanya, biarkan Najwa yang memutuskan. Dia yang merasakan bagaimana mencintai seseorang suami. Dia juga yang harus memperjuangkan cintanya itu. Jangan terpengaruh apa pun. Kadang-kadang abah suka bingung dengan umi deh."
"Bingung kebapa bah?"
"Ya, itu. Melihat Azam dengan penampilan berbeda kok ya jadi bingung, melihat Arsyil yang sopan dan ramah selalu di puji-puji. Umi nih tidak bisa di mintai pendapat menurut abah."
"Lho, kok abah jadi marah sih?"
"Bukan marah, umi. Tapi aneh."
"Ya ampun, masya Allah bah. Umi itu tetap memilih anaknya bahagia, abah sendiri kan juga begitu. Cuma umi merasa kasihan kalau ternyata nanti nak Azam di tolak sama Najwa.
"Jangan bicarakan itu, biar Najwa yang memutuskan. Mereka memang butuh bicara bangak kok, abah sih memang Najwa segera memutuskan pilihannya. Kasihan melihat dia selalu bersedih di dalam kamarnya, abah berharap dia bahagia dengan pilihannya." kata abah.
"Iya bah, umi juga berpikir begitu. Menjadi janda dua kali itu, gimana ya rasanya. Sangat sedih dan malu, umi juga malu jika ketemu tetangga menggunjingkan Najwa." kata umi Dilla.
"Jangan pikirkan para tetangga umi, mereka tidak tahu masalahnya bagaimana. Yang terpenting, abah sih punya rencana jika Najwa sudah memilih keputusannya." kata abah.
"Rencana apa bah?"
"Nanti saja kalau Najwa sudah mengambil keputusan." ucap abah.
__ADS_1
"Abah nih, bikin penasaram umi saja."
"Jangan di pikirkan, abah lapar mi. Buatkan makanan."
"Iya."
_
Seharian Najwa di kamar terus, dia kelelahan setelah mengurusi segala kebutuhan pernikahan adik sepupunya di daerah lain. Umi dan abahnya memberitahu kalau empat hari yang lalu Azam datang ke rumahnya dan ingin bertemu dengannya.
Najwa tidak terlalu menanggapi, tapi dia memikirkan apa yang di katakan uminya tentang kedatangan Azam ke rumahnya. Baru saat ini dia berpikir untuk menyelesaikan masalahnya dengan Azam.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar Najwa di ketuk, dengan malas Najwa beranjak dari pembaringannya dan melangkah menuju pintu kamarnya. Membuka kuncinya lalu menarik daun pintu.
Tampak umi Dila menatapnya, dia merasa kasihan pada anaknya yang sedang beristirahat.
"Kamu sedang apa nak?" tanya umi Dila.
"Tiduran aja umi. Kenapa?" tanya Najwa.
"Ada Azam di depan. Pengen ketemu kamu katanya." kata umi Dila.
"Ya umi tidak tahu, nak. Barangkali dia tidak sabar ingin ketemu kamu dan bicara sama kamu." kata umi Dila lagi.
Najwa menghela napas panjang, dia berbalik dan duduk di tepi ranjangnya. Di susul oleh uminya dan duduk di sampingnya.
"Kamu capek?" tanya umi Dila.
"Iya umi, pengennya sih istirahat dan tidur. Umi tahu sendiri kan, aku sibuk banget mengurusi pernikahan Lula. Dia ngga mau di urus orang lain, maunya sama aku saja." ucap Najwa.
"Umi tahu Najwa, kamu bisa menemui Azam dulu. Dan kamu bisa suruh dia datang lagi nanti, jika ingin bicara panjang lebar sama dia. Jangan di suruh menunggu." kata umi Dila.
"Umi saja yang bilang."
"Lho, kok?"
"Bilang saja aku lagi sakit umi, nanti katakan saja dua hari lagi aku mau bicara sama dia." kata Najwa.
Tiba-tiba kepalanya pusing, dia memegangi kepalanya. Lalu dia pun membaringkan tubuhngya di kasur.
Umi Dila pun heran, dia diam melihat anaknya yang terpejam itu.
"Kamu benar sakit?" tanya umi Dila.
__ADS_1
"Iya umi, tolong umi saja yang katakan sama mas Azam ya." kata Najwa lagi.
Umi Dila menarik napas panjang, dia memegangi kening Najwa. Tidak panas, tapi mungkin dia kelelahan.
"Baiklah, umi katakan nanti sama Azam. Tapi kamu benarkan nanti bicara sama dia?"
"Iya umi, aku juga tidak mau berlarut-larut menanggung masalah seperti ini. Aku juga tidak mau mas Azam terus berharap padaku, umi jangan khawatir."
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Umi keluar dulu menemui nak Azam."
"Iya umi, bilang saja sama mas Azam. Maaf untuk sekarang aku tidak bisa menemuinya."
"Iya."
Umi Dila pun bangkit dari duduknya, serba salah juga. Di sisi lain Azam terus memaksa ingin ketemu secepatnya dengan Najwa, tapi anaknya menolak. Umi Dila menoleh ke belakang menatap anaknya yang masih terpejam dan memegangi pelipisnya.
Kemudian dia melanjutkan keluar dari kamar Najwa lalu menuju ruang tamu. Menemui Azam, memberitahu kalau Najwa sedang kelelahan.
"Maaf nak Azam, Najwa lagi istirahat tadi umi lihat. Dia kelelahan karena membantu sepupunya menikah." kata umi Dila setelah dia duduk di depan Azam.
Lagi-lagi Azam kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Najwa. Wajahnya murung, menunduk karena kecewa.
"Memang tidak bisa ya ketemu sebentar saja umi?" tanya Azam mencoba meminta pada umi Dila.
"Najwa kepalanya pusing, dia butuh istirahat juga. Kemarin umi kan sudah bilang, datang satu minggu lagi. Itu agar nak Azam bisa bertemu Najwa dalam keadaan santai dan tidak ada kegiatan apa pun." kata umi Dila mengingatkan.
"Iya sih umi, tapi saya kangen sama dek Najwa." ucap Azam.
"Ya sudah, nak Azam tunggu dua hari lagi ya. Najwa bilang juga dia mau bicara sama nak Azam. Jadi nak Azam sabar dulu, Najwa tidak akan terus menghindari nak Azam kok." kata umi Dila.
"Iya umi, maaf kalau kedatangan saya tidak tepat waktu. Kalau begitu, saya pulang lagi umi. Kebetulan memang dua hari lagi itu hari minggu, jadi saya juga tidak ada kesibukan dan santai." ucap Azam.
"Nah, kan lebih baik bicara di waktu yang santai dan banyak waktu. Barangkali ada banyak pembicaraan di antara nak Azam dan Najwa."
"Iya umi. Kalau begitu, saya pamit pergi ke kantor lagi umi. Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Azam pun pergi dari hadapan umi Dila, dia kecewa tidak bertemu dengan Najwa. Benar-benar rasa rindunya pada Najwa tidak bisa dia tahan lagi, meski dulu dia bisa menahannya ketika masih jadi istri Arsyil.
_
_
*******************
__ADS_1