
"Assalamualaikum!"
"Wa alaikum salam." jawab Najwa, Arsyil dan umi Dila.
Tampak Abah masuk ke dalam, dia melihat ada menantunya Arsyil. Abah langsung menghampiri menantunya itu dan tersenyum padanya.
"Kamu datang kesini nak Arsyil? Abah turut berduka cita, semoga kamu sabar ya menghadapi cobaan ini." kata Abah memberikan kekuatan pada Arsyil.
"Iya bah, terima kasih." jawab Arsyil.
"Maaf Abah dan umi tidak bisa datang untuk takziah ke rumah ayahmu. Abah berada di luar kota selama empat hari ketika Najwa memberitahu kalau ayahmu meninggal dunia." kata Abah lagi.
"Iya bah, tidak apa-apa. Saya juga sudah ikhlas menerima kepergian ayah. Dan sekarang saya mau bicara sama abah mengenai dek Najwa." kata Arsyil.
Umi Dila dan Najwa menatap Arsyil lalu beralih pada abahnya. Abah pun berpikir, apakah itu masalah perjanjian?
"Kamu mau bicara serius dengan Abah?" tanya Abah.
"Iya bah." jawab Arsyil.
"Baiklah, tunggu sebentar ya. Abah baru pulang dan harus ganti baju dulu. Umi, Najwa bawa Arsyil untuk makan siang dulu. Sekalian siapkan juga buat Abah." kata abahnya.
"Baik bah." kata Najwa.
Abah bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Najwa dan Arsyil yang masih diam. Najwa menatap suaminya, dia melihat raut wajah Arsyil tampak gelisah.
"Bang, ke meja makan dulu. Abang makan dulu, baru bicara sama Abah." kata Najwa.
"Iya dek."
Najwa bangkit dari duduknya, di ikuti Arsyil. Tapi Arsyil hanya menatap Najwa dari belakang, dia ragu untuk melangkah. Kemudian akhirnya dia memanggil Najwa.
"Dek."
Najwa menoleh ke belakang, berhenti menatap laki-laki yang tampak lekat menatapnya.
__ADS_1
"Ada apa bang?" tanya Najwa heran.
Arsyil mendekati Najwa, berdiri di depannya lalu dengan cepat memeluknya erat. Dia ingin merasakan memeluk Najwa untuk terakhir kalinya.
"Maafkan abang dek." hanya itu yang di ucapkan Arsyil masih memeluk Najwa.
Najwa diam dia ingin membalas pelukan suaminya, tapi dia tahan. Dia ingin semuanya selesai, dan segera melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Arsyil melepas pelukannya, menatap perempuan yang terlihat sendu itu. Tapi kemudian Najwa pun segera berlalu dan meninggalkan Arsyil. Arsyil tahu Najwa kecewa padanya, tapi dia tidak bisa mengingkari janjinya pada Azam.
Kini Arsyil duduk di depan meja makan, Najwa dan umi Dila sedang menyiapkan menu makanan hari ini. Arsyil memperhatikan apa yang di lakukan istrinya itu. Abah Ubay pun mendekat, dia melihat Arsyil sedang duduk dan melihat apa yang di lakukan oleh Najwa.
Laki-laki tua itu melihat kalau Arsyil tampak sedih dan kecewa menatap Najwa lalu menunduk. Kemudian menoleh pada Abah dan tersenyum.
"Sejak kapan sampai rumah nak Arsyil?" tanya Abah.
"Baru setengah jam lalu bah." jawab Arsyil.
"Aya sudah, makan dulu ya."
"Iya bah."
Keduanya makan dengan tenang, tapi berbeda dengan Najwa. Dia juga sama dengan dirinya, makan tanpa ada rasa selera. Tapi keduanya memaksa makan dengan cepat agar semuanya selesai.
Setengah jam makan siang itu akhirnya selesai juga. Umi Dila membereskan piring-piring bekas makan mereka, di bantu oleh Najwa. Abah mengajak Arsyil duduk di depan ruang tamu.
Najwa dan umi Dila tidak ikut dalam obrolan antara Abah dan Arsyil di depan.
"Najwa, apa benar suamimu akan menceraikanmu?" tanya umi Dila.
"Abang bawa aku ke rumah itu tandanya udah bercerai umi, tinggal bicara sama Abah saja." kata Najwa dengan sedih.
"Tapi memang perjanjiannya begitu kan? Atau kamu punya perasaan lain sama Arsyil?" tanya umi Dila.
"Aku sudah bicara pada abang, umi. Tapi abang tetap mau menepati janjinya." kata Najwa lagi.
__ADS_1
"Memang seorang laki-laki sejati seperti itu, Najwa. Dia lebih mementingkan tanggung jawab pada sebuah janji dari pada perasaannya. Dia laki-laki baik, Najwa. Jika kamu mencintainya, lakukan saja apa yang menjadi kebahagiaanku. Kamu bisa memikirkannya, siapa yang akan kamu pilih. Arsyil atau Azam, keduanya adalah kebahagiaanmu ke depannya nak." kata umi Dila.
Najwa diam saja, dia mengerti apa yang di katakan uminya itu. Dan dia juga sudah memutuskan pilihannya.
Sedangkan di ruang tamu, Abah dan Arsyil duduk saling berhadapan. Arsyil duduk dengan rapat dan menunduk dalam, dia masih bingung apa yang akan di bicarakannya dengan Abah Najwa itu.
"Kamu mau bicara apa nak Arsyil?" tanya Abah.
"Bah, sebelumnya saya minta maaf kalau datang kemari untuk mengembalikan dek Najwa pada Abah." kata Arsyil menjeda ucapannya.
Abah masih diam, dia masih mendengarkan ucapan Arsyil selanjutnya. Meski dia tahu batas waktu perjanjian tinggal hari ini, dan besok Najwa sudah jadi seorang janda lagi.
"Abah juga tahu tentang perjanjian itu, makanya sebelum waktunya tiba. Saya kembalikan dek Najwa pada Abah saat ini juga, dan kembalinya dek Najwa ke rumah Abah itu jatuh pula talak saya pada dek Najwa." kata Arsyil dengan suara serak karena tercekat ucapannya di tenggorokan.
Dia menunduk dalam, air matanya hampir jatuh. Tapi kemudian dia mengelapnya dengan cepat.
"Kamu yakin dengan ucapan itu nak Arsyil? Sepertinya berat untuk melepas Najwa." kata Abah.
"Saya harus menepati janji bah, biar bagaimana pun saya di pertemukan dengan dek Najwa juga karena Azam. Jadi, saya harus menepati janji saya pada Azam. Saya kembalikan dek Najwa pada Abah." kata Arsyil lagi.
"Baiklah, Abah terima anak Abah jadi janda lagi. Tapi ingat ya nak Arsyil, meraih kebahagiaan itu untuk diri sendiri itu perlu. Tapi Abah mengerti dengan sikap nak Arsyil itu adalah bentuk tanggung jawab seorang laki-laki yang menepati janjinya pada teman sendiri. Perkara masalah hati mungkin bisa di sampingkan, tapi percaya pada takdir Allah nak Arsyil. Takdir nak Arsyil menikah dengan Najwa adalah jalan dari Allah, walaupun jalannya tidak sesuai pada umumnya. Dan jangan menolak kelak jika Allah menyatukan kalian lagi, entah kapan waktunya itu. Abah tidak tahu." kata Abah seperti memberi isyarat pada Arsyil.
Arsyil mendongak, tetap saja dia merasa Najwa adalah bukan takdir untuknya. Azam yang lebih berhak sekarang ini pada diri Najwa. Dia juga akan merasa terbiasa dengan tidak adanya Najwa dan lambat laun akan cintanya memudar dan menghilang.
Lama pembicaraan mereka, hingga waktu sore pun tiba. Arsyil berpamitan pada Abah Ubay itu, Najwa tidak mengantarnya di depan. Dia sedang menangis dalam kamarnya, meratapi dirinya yang kini sudah menjadi seorang janda lagi untuk yang kedua kalinya.
"Saya permisi pulang dulu bah, maafkan saya kalau saya membuat dek Najwa sedih dengan keputusan saya ini." kata Arsyil.
"Ya, Abah mengerti." kata Abah.
Arsyil pun menaiki motornya, dia menyalakan mesinnya. Di dalam kamar Najwa, dia sedang menatap kepergian Arsyil dari balik gorden jendela kamarnya sambil menangis tersedu.
"Bang, aku akan memperjuangkan cintaku pada kamu. Hik hik hik...."
_
__ADS_1
_
****************