Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
71. Di Ajak Pulang


__ADS_3

Kini usia anak Najwa sudah setengah bulan, dia sangat senang sekali dengan perkembangan anaknya yang begitu cepat sekali. Bobot tubuhnya juga sudah naik, dari tiga kilo segelah menjadi hampir lima kilo dalam waktu setengah bulan.


Bayi itu justru lebih banyak menyerap asi Najwa, sehingga kadang Najwa merasa kewalahan. Tapi untungnya, asinya selalu melimpah, karena Arsyil selalu mengingatkan untuk makan yang banyak atau pun minum juga.


"Adek udah makan belum?" tanya Arsyil.


"Udah bang, tapi kok adek lapar lagi ya." kata Najwa.


"Ya wajar, kan sari makanan yang adek makan di serap sama Alief. Jadi adek lapar lagi lapar lagi." kata Arsyil.


Dia menggendong anaknya dengan hati-hati, karena belum berumur satu bulan. Meski dia merasa takut, tapi Arsyil seperti sudah lihai menggendong anaknya.


Najwa senang, suaminya sering membantunya dalam mengurus anaknya. Terkadang jika malam hari, Arsyil yang pertama kali bangun untuk membantu menggantikan popok Alief, setelah selesai baru di berikan pada Najwa untuk di beri asi.


Waktu terus berjalan, sedangkan kehidupan di rumah Azam. Mala begitu senang, meski memang Azam kini sering ada di rumah. Dia sering menggendong anaknya, Ameer.


Mala juga senang dia suaminya kini perhatian, meski sibuk dia tetap masih juga menggendong anaknya walau hanya sebentar saja.


"Oh ya, besok aku harus pergi ke Kalimantan. Selama tiga hari aja sih, apa kamu tidak masalah kalau aku pergi?" tanya Azam.


"Iya mas, ngga masalah. Itu cuma tiga hari aja kan?" tanya Mala.


"Iya sih, tapi aku ngga bisa gendong Ameer lagi setiap pagi." kata Azam lagi merasa sedih.


"Nanti aku kirim foto dan video kalau kamu sudah di Kalimantan." kata Mala untuk menghibur suaminya.


"Ya, baiklah. Itu lebih baik, oh ya. Abangmu belum datang kemari? Jenguk keponakannya?" tanya Azam.


"Belum sempat katanya, nanti bang Ridho akan datang setelah selesai urusannya. Mungkin hari Minggu besok katanya." kata Mala.


"Baiklah, aku mau bicara juga sama abangmu." kata Azam.


"Mau bicara apa mas?" tanya Mala.

__ADS_1


"Ada lah pokoknya. Maaf, aku ngga bisa ngomong sama kamu." kata Azam.


"Ooh."


Azam mencium pipi Ameer, kemudian dia meletakkan anaknya dalam boks bayi. Setelah dia puas, dia pun menyalami Mala dan mencium keningnya lalu segera berangkat ke kantor karena waktunya sudah pukul delapan kurang sepuluh menit.


Mala mengantar sampai pintu depan, setelah itu dia melambaikan tangannya dan tersenyum. Azam membalasnya lalu dia pun melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.


_


Dua hari sudah Azam dinas keluar kota. Mala mengurus anaknya dengan baik. Dia juga selalu mengirimi foto dan Video anaknya pada suaminya.


Tak jarang Azam juga sering melakukan video call dengan Mala, hanya untuk melihat Ameer. Bagi Mala, itu tidak masalah. Dia tidak di cari, yang penting anaknya selalu di cari. Jadi, Azam menyayangi anaknya.


Saat Azam sedang melakukan video call dengan Mala, abangnya Mala ada di sana. Dia melihat Azam selalu bertanya pada Mala tentang Ameer.


Agak kesal juga Ridho melihat Azam hanya bertanya tentang anaknya saja, tapi tidak bicara masalah adiknya. Setengah jam Mala video call dengan Azam yang selalu meminta anaknya yang dia perlihatkan.


Mala meletakkan ponselnya, Ridho mengambil keponakannya. Tadi Mala mengatakan pada Azam, kalau kakaknya datang dan hanya di respon oh saja. Karena kemarin Azam bertanya Ridho, maka Mala mengatakan Ridho datang ke rumahnya.


"Ngga bang, mas Azam sangat perhatian kok." jawab Mala.


"Tadi kamu bilang aku datang kemari, dia acuh saja." kata Ridho lagi.


"Itu karena tadi mas Azam sedang makan bang, jadi ngga fokus." kata Mala menutupinya.


"Dua hari lagi Ameer berusia empat puluh hari, kamu bilang mau tinggal ke rumah abang. Abang mau bawa kamu lusa, Mala." kata Ridho.


Mala tertegun, dia menatap abangnya. Dia lupa kalau Azam sudah memintanya jangan pergi dari rumahnya.


"Mas Azam tidak mengizinkan aku keluar dari rumahnya bang. Aku lupa kalau mas Azam sekarang sudah berubah." kata Mala.


"Ck, abang tidak yakin dia berubah." kata Ridho.

__ADS_1


"Sungguh bang, makanya mas Azam sering menelepon ketika dia keluar kota." kata Mala lagi membela suaminya.


"Sekarang begini saja, kamu pulang dulu ke rumah abang. Jika dia benar mencarimu, bukan cuma mencari anaknya. Abang akan perbolehkan dia bawa kamu, yang dia butuhkan itu anaknya. Bukan kamu, kalau dia butuh kamu. Nanti abang bicarakan sama suamimu." kata Ridho.


"Bang, jangan begini. Nanti mas Azam marah bagaimana?" tanya Mala takut.


"Dia bicara sama abang, nanti abang tanya lagi sama dia." kata Ridho lagi.


"Mas Azam juga sudah berniat untuk menemui abang kok. Cuma dia masih sibuk, abang tunggu saja mas Azam datang menemui bang Ridho." kata Mala lagi.


"Ya makanya, abang bawa kamu itu agar Azam datang menemui abang dan bicara. Biar jelas, kalau kamu masih di sini. Dia akan lupa lagi bicara sama abang, biar kamu di akui bukan hanya sebagai ibunya Ameer. Tapi juga sebagai istri yang di cintai, itu kan yang kamu inginkan?" tanya Ridho.


Mala diam, meski benar apa yang di katakan abangnya. Tapi dia merasa berat harus keluar dari rumah suaminya.


"Mala, abang ini sayang sama kamu. Sejak awal abang kurang setuju tujuan Azam menikahimu itu, meski abang di bantu sama dia. Tapi kan abang juga ngga mau kamu hanya sebagai pengganti saja, makanya abang meminta dia untuk menikah di catat oleh pihak KUA. Biar kamu kuat, kalau pun memang harus terjadi perceraian dan kamu mempunyai anak. Setidaknya kamu dapat bagian untuk anakmu, ya walaupun Azam juga pasti akan memberikan apa pun. Tapi abang hanya khawatir saja, makanya sekarang kamu ikut abang pulang. Biar Azam yang mencari kamu ke rumah abang." kata Ridho lagi.


Mala diam lagi, tujuannya sih benar. Tapi apa boleh dia bisa keluar dari rumahnya ketika suaminya tidak di rumah?


Dalam Islam, seorang istri tidak boleh keluar dari rumah suaminya meski dalam keadaan apa pun tanpa seizin suaminya.


"Bang, aku ini seorang istri. Tidak bisa keluar begitu saja tanpa izin suamiku. Abangkan tahu, seorang istri tidak boleh keluar tanpa seizin suaminya. Jadi abang jangan memaksaku untuk pergi dari rumah mas Azam." kata Mala memberitahu abangnya itu.


"Abang tahu Mala, tapi keadaan jaman sekarang itu berbeda. Kamu hanya menurut pada suamimu, tapi dia belum tentu mencintaimu. Jika hanya satu hati yang mencintai, kenapa harus bertahan?"


"Aku percaya sama mas Azam, dia sungguh berubah bang. Aku memberinya kepercayaan untuk berubah, meski awalnya dari seorang anak. Tapi aku yakin mas Azam juga lambat laun akan mencintaiku." kata Mala lagi.


"Begini saja, kamu bukan pergi dari rumahmu. Tapi kamu main ke rumah abang, itu saja alasannya. Biar nanti abang juga yang bicara sama suamimu. Sudah jangan menolak lagi, lusa abang mau jemput kamu untuk menginap di rumah abang. Kakakmu juga ingin melihat puas keponakannya." kata Ridho tetap kekeh ingin bawa Mala ke rumahnya.


Mala diam saja, dia tidak menyangkal ucapan abangnya lagi. Lagi pula, memang kakak iparnya juga ingin melihat secara puas keponakannya itu. Karena dia juga sedang hamil muda dan tidak bisa pergi kemana-mana. Jadi Mala pun akhirnya setuju dengan usul abangnya itu.


_


_

__ADS_1


**************


__ADS_2