Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
40. Perdebatan Kecil


__ADS_3

Sejak bertemu dengan Arsyil, Azam merasa senang sekali. Dia akan bersiap melamar Najwa setelah masa iddahnya selesai, minggu depan hanya akan berkunjung saja.


Wajah Azam sangat kentara sekali bahagianya, dia selalu menebar senyum ketika sampai di kantornya. Meski itu sudah biasa dia lakukan, tapi kali ini berbeda dari biasanya.


Banyak karyawan bisik-bisik tetangga membicarakan bosnya itu. Tapi Azam tidak peduli apa yang di bicarakan oleh para karyawannya di kantor.


"Eh, saya lihat pagi ini pak Azam berbeda ya dari biasanya." kata karyawan bagian resepsionis.


"Berbeda bagaimana?"


"Beda dengan senyumnya itu, ada aura bahagia." katanya lagi.


"Bukannya pak Azam selalu seperti itu ya?" tanya temannya.


"Iya, tapi menurutku sih beda dari senyum biasanya." katanya lagi.


"Hemm, mungkin pak Azam memenangkan tender proyek besar."


"Saya rasa bukan sih, tapi ada hal lain deh."


"Sudahlah, jangan membicarakan pak Azam. Dia ganteng tapi tetap saja carinya yang wanita sholehah." katanya lagi.


"Benar, yang memakai kerudung dan santun budi pekertinya.


Pembicaraan mereka berhenti setelah waktu jam kerja sudah di mulai, sementara itu Azam yang berada di ruang kantornya memang benar-benar sangat bahagia.


Dia akan memiliki Najwa kembali setelah kurang lebih butuh satu tahun untuk berpisah. Dia sedang duduk di kursinya dengan pandangan mengarah pada langit-langit ruang kantornya, senyumnya mengembang.


Membayangkan bagaimana peristiwa lima tahun dia lewati dengan Najwa, sekalipun dia tidak pernah melihat Najwa membantah atau pun berkata kasar padanya.


"Aah, dek. Kamu selalu saja membuatku merasa rindu, semoga kamu juga sama halnya denganku Najwa." gumamnya sambil membayangkan senyum Najwa.


Tok tok tok.


Pintu ruang kantor Azam di ketuk dari luar, itu sudah di pastikan sekretarisnya. Azam pun merapikan duduk dan penampilannya agar tetap berwibawa di depan bawahannya itu.


"Ya masuk." katanya.


Pintu terbuka, nampak gadis yang berpakaian rapi dengan setelan baju kantor rok selutut dan sopan. Memang Azam menyuruh para karyawannya itu berpakaian sopan tanpa memakai jilbab pun mereka harus berpakaian sopan.


Perempuan cantik itu tersenyum dan melangkah mendekati Azam. Membawa beberapa map di tangannya lalu menyodorkannya pada Azam.


"Hanya beberapa saja yang harus di tanda tangani?" tanya Azam.


"Iya pak. Dan ada email yang masuk di saya dari mr. Roby." kata sang sekretaris.


"Apa isi email itu?"

__ADS_1


"Itu sepertinya peringatan kalau anda harus segera mencari lahan untuknya pak."


"Huh, kemarin dia tidak mengatakan apa pun waktu ada pertemuan. Lagi pula tinggal satu bulan ya. Oh ya, coba kamu cari dan suruh orang untuk mencari lahan strategis." kata Azam.


"Baik pak, tapi saya pernah lewat di sekitar pondok pesantren ada lahan yang sangat strategis di sana, tapi lahannya kurang besar jika mr. Roby menginginkan lahan besar pak." katanya.


"Kita cari tempat lain yang memang lahan kosong."


"Ada di sebelah sebuah percetakan pak, di sana strategis dan memang tidak besar." kata sekretaris Azam.


"Hemm, di mana itu?"


"Dekat dengan pesantren, dan tempat itu memang ramai sekali."


"Jangan bilanb kalau lahan itu dekat dengan percetakan Abadi Makmur?"


"Kalau tidak salah memang di situ." jawabnya lagi.


"Percetakan itu milik sahabatku." ucap Azam.


"Kalau begitu cocok pak."


"Cocok apa?"


"Cocok kalau anda meminta menjual tempat percetakan itu pada anda, dan sahabat anda bisa pindah tempat lain. Ya, anda bisa mengusulkan di tengah kota begitu." kata sekretarisnya mengusulkan.


Dia merasa kasihan dengan sahabatnya, lagi pula dia juga mempunyai modal di percetakan milik Arsyil itu. Pernah sekali Arsyil mengajaknya kerja sama membuka percetakan buku, Azam tidak mau. Dia justru memberi modal pada Arsyil, tapi sekarang dia berpikir itu yang sudah lama dia lupa kalau dia juga memilik modal pada percetakan Arsyil, meski tidak besar.


"Tidak, kamu cari yang lain saja. Aku tidak mau merusak rejeki orang. Meski bisa saja aku meminta padanya, coba kamu cari yang lain saja." kata Azam.


"Ada pak, tapi jauh. Itu di pinggir kota dan memang lahannya besar, cuma masalahnya mr. Roby mau tidak dengan lahan itu. Karena memang tempatnya kurang strategi."


"Ya sudah, kamu cari informasi lain lagi. Siapa tahu ada yang mau menjual lahannya pada perusahaan kita."


"Kalau menurutku sih itu pak, yang dekat dengan percetakan. Bahkan di sebelahnya lagi juga ada beberapa toko yang menjual produk-produk seperti apa yang di produksi perusahaan mr. Roby. Dan di sana sangat laris pak, kalau kita menjual itu dengan kualitas baik dan harga terjangkau saya rasa akan menyaingi produk lain itu." kata sang sekretaris dengan penuh semangat.


"Tidak. Kamu cari yang lain saja." kata Azam tetap menolak usul sekretarisnya itu.


"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi."


"Hemm."


Perempuan cantik itu keluar dengan rasa kecewa karena usulnya di tolak oleh Azam. Dia ingin sekali usul itu di terima, tapi Azam justru memikirkan sahabatnya.


_


Azam bersiap untuk pergi ke rumah abah Najwa, dia sudah membeli sesuatu sebagai hadiah untuk Najwa. Mala, sang istri memperhatikan penampilan Azam itu. Dia heran dengan suaminya, kemudian dia pun mendekati Azam.

__ADS_1


"Mas Azam mau kemana?" tanya Mala.


"Aku mau menemui calon istriku." kata Azam.


Deg!


Mala diam, dia menatap suaminya yang sedang bersiap dengan penampilannya yang paripurna menurut Azam.


"Apa mbak Najwa sudah bercerai?" tanya Mala.


"Ya, satu minggu yang lalu." jawab Azam melirik pada istrinya.


"Mas Azam akan menikahi langsung mbak Najwa?" tanya Mala.


"Tentu saja tidak, kenapa kamu tanya seperti itu? Baru juga dia sedang menjalani masa iddah." kata Azam sedikit ketus menjawab pertanyaan Mala itu.


Mala diam, dia ragu untuk bicara lagi. Azam melirik tangan Mala yang sedang mengelus perutnya yang sedikit membesar. Mala menunduk, dia lalu memberanikan diri meminta pada Azam.


"Mas, apa kamu tidak kasihan sama aku?" tanya Mala.


"Kasihan kenapa? Aku bahkan menggauliku layaknya suami istri, memberimu nafkah dan memenuhi segala sesuatu yang di butuhkan olehmu dalam menjaga kehamilan itu. Lalu aku harus mengasihanimu bagaimana?" tanya Azam.


"Kamu tidak kasihan dengan keadaanku, hatiku menolak kamu menikah lagi mas." kata Mala.


"Mala! Jangan melunjak kamu, aku sudah bilang dari awal pernikahan. Bahkan kamu sekarang yang menang, pernikahanmu denganku di catat di KUA. Sedangkan Najwa tidak, lalu kamu memintaku untuk tidak menikahi Najwa? Aku mencintainya, sangat mencintainya." kata Azam mulai emosi dengan ucapan Mala itu.


Mala menunduk, dia takut suaminya itu tiba-tiba memukulnya. Tapi tidak, Azam tahu itu adalah tindakan KDRT. Dia menarik napas panjang, menatap tajam pada istrinya itu. Tapi kemudian Mala berucap pelan.


"Aku juga mencintaimu, mas. Tidakkah kamu mempertimbangkan perasaanku?" tanya Mala.


"Heh, jangan memaksaku untuk membencimu Mala."


"Kenapa kamu jadi egois begini mas? Aku istri sahmu, aku juga mengandung anakmu." kata Mala.


Emosinya pun meledak seiring dengan emosinya meningkat karena hormon kehamilannya. Azam sangat kesal pada Mala, tapi dia menarik napas panjang saja. Menatap istrinya yang kini menangis tersedu.


"Sudahlah Mala, jangan membahas ini. Kamu yang akan sakit sendiri, karena aku tetap akan menikahi Najwa. Aku bertanggung jawab padamu dengan kehamilanmu itu. Aku tetap akan menikahi Najwa tiga bulan lagi, jadi jangan membuatku emosi Mala." kata Azam dengan nada pelan.


Mala masih terisak, ingin dia egois dan tetap mempertahankan Azam tidak menikah lagi dengan Najwa. Tapi perjanjian sudah di buat sebelum mereka menjadi suami istri sesungguhnya.


Azam meninggalkan Mala yang masih terisak, dia sungguh tidak ingin berdebat masalah Najwa. Tekadnya sudah bulat akan menikahi Najwa dan akan mempriotaskan Najwa karena dia sangat mencintainya.


_


_


*********************

__ADS_1


__ADS_2