
Najwa menyiapkan obat untuk di minum oleh Arsyil. Dia mengambil gelas dan membawakan obatnya pada suaminya.
"Bang, bangun. Di minum obatnya." kata Najwa.
Arsyil pun bangun dengan pelan, dia seperti tidak punya tenaga untuk duduk. Di bantu oleh Najwa menegakkan badannya, lalu menyodorkan obatnya untuk di minum.
"Bismillahirrohmanirrohiim."
Arsyil menenggak obat yang di sodorkan Najwa, lalu minum air dalam gelas. Setelah itu dia pun terbaring lagi, Najwa menatap suaminya masih pucat wajahnya.
"Abang makan ya, dari pagi abang belum makan apa pun." kata Najwa.
"Ngga pengen makan dek, pahit mulutnya." kata Arsyil.
"Ya di paksa bang, biar obat bekerja dengan cepat. Makan ya?"
"Ya udah, tapi dikit aja ya."
"Iya. Adek ambilkan dulu."
"Hemm."
Najwa bangkit dari duduknya, dia keluar dari kamar Arsyil untuk mengambil makan. Tak lama Najwa pun kembali ke kamar suaminya, dia membawa sepiring nasi dan lauknya. Mata Arsyil terpejam, dia tertidur karena efek samping obat yang dia minum.
Najwa duduk di sampingnya, Arsyil membuka matanya. Menatap istrinya sedang mengaduk makanan lalu mengambil sesendok dan menyuapinya pada Arsyil.
"Buka mulutnya bang." kata Najwa.
Arsyil membuka mulutnya, suhu badannya masih tinggi. Dia makan sesuap, dua suap tiga suap. Dia sudah tidak bisa merima makanan yang di sodorkan Najwa.
"Udah dek, abang kenyang." kata Arsyil.
"Kan baru tiga suap bang." kata Najwa.
"Ngga apa-apa, nanti di lanjut lagi. Perut abang terasa mual kalau makan banyak." kata Arsyil.
"Ya udah, abang tidur aja dulu. Nanti waktu sholat dzuhur adek bangunkan." kata Najwa.
"Iya, terima kasih ya dek." kata Arsyil tersenyum.
"Iya bang."
Arsyil kembali berbaring, dia merasa lebih baik setelah minum obat dan makan tidak suap itu. Kini dia pejamkan matanya untuk tidur.
Najwa pun keluar dari kamar suaminya, hari sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Dia harus bergegas membuat makanan untuk makan siang. Kali ini Najwa membuat bubur saja untuk suaminya.
__ADS_1
Karena biasanya orang sakit makan susah dan pastinya enak makan yang hangat-hangat. Jadi dia membuat bubur ayam dengan resep yang dia tahu dari uminya.
_
Malam hari, Arsyil kembali menggigil kedinginan. Najwa selalu mendampingi di tempat tidur suaminya itu. Di merasa aneh kenapa Arsyil semakin panas suhu badannya, padahal dari pagi hingga malam hari sudah tiga kali minum obat.
"Bang, dingin ya?" tanya Najwa memegangi kening Arsyil.
"Iya dek, dingin benget. Ssshhh." ucap Arsyil dengan mendesis kedinginan.
Najwa bingung harus bagaimana membantu suaminya agar cepat turun panasnya. Dia lalu mengambil air kompresan di meja, memeras handuk kecil lalu di letakkan di kening Arsyil. Mengelap keringat di leher suaminya.
"Aneh, kenapa berkeringat tapi suhu badannya panas. Kok bisa begini?" ucap Najwa.
Dia memegang telapak tangan Arsyil, dingin tapi badannya panas sekali. Dia tidak memiliki termometer, hanya mengira saja kalau suhu badan Arsyil kemungkinan tiga puluh sembilan derajat.
Najwa bingung harus bagaimana, dia melihat jam beker di meja. Pukul sepuluh malam, dia memeriksa kembali kompresan di keningnya.
"Bang, sudah lebih baik?" tanya Najwa.
"Lumayan dek setelah di kompres." jawab Arsyil.
"Ya udah, tunggu jam dua belas ya bang. Kalau masih panas juga, abang nanti minum obat lagi." kata Najwa.
"Iya dek." ucap Arsyil.
"Kenapa bang? Apa abang ingin sesuatu?" tanya Najwa.
"Ngga dek, tapi abang minta maaf karena merepotkan kamu. Abang inginnya cepat sembuh, kasihan kamu belum bisa istirahat sejak pagi karena mengurus abang." kata Arsyil.
"Ngga apa-apa bang, jangan pikirkan itu. Itu sudah kewajibanku sebagai istri abang, jangan sungkan begitu." kata Najwa.
"Abang hanya merasa ngga enak dan kasihan sama kamu." kata Arsyil.
"Kalau begitu, abang makan ya?"
"Iya. Tapi sedikit saja dek." kata Arsyil.
Najwa mengangguk, dia lalu keluar dari kamar Arsyil untuk mengambil bubur untuk suaminya. Setelah selesai, Najwa kembali lagi ke kamar. Dia duduk di samping suaminya yang ternyata tertidur, Najwa menghela napas panjang.
Dia letakkan mangkuk berisi bubur, di tempelkannya tangan di dahi Arsyil. Dia kaget, ternyata masih saja panas suhu badannya. Najwa bingung, kenapa masih saja panas suhu badannya itu.
"Di kompres sudah, minum obat sudah. Tapi kenapa panasnya ngga turun-turun ya?" ucap Najwa bingung.
Berpikir bagaimana agar suaminya itu cepat turun panasnya dan tidak naik lagi?
__ADS_1
Dia pun ingat dengan info tentang bagaimana menurunkan panas pada orang sakit.
Tanpa pikir panjang, Najwa pun membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya. Dia melihat Arsyil kedinginan dan menggigil. Dia buka semua baju yang melekat di tubuh Arsyil dengan pelan.
Saat itu Arsyil hanya bisa pasrah karena dia sendiri sedang tidak sadar dengan suhu badannya benar-benar tinggi. Najwa membuka semuanya, hanya pakaian dalam Arsyil yang melekat di tubuhnya.
Sejenak Najwa ragu, tapi kemudian dia pun melepas bajunya semua. Tinggal pakaian dalam saja, dia akan melakukan terapi skin to skin untuk menurunkan suhu tubuh Arsyil yang masih saja tinggi.
Najwa segera memposisikan berbaring di samping suaminya dengan setengah telanjang. Dia berbaring dan menarik tubuh Arsyil untuk memeluknya. Tubuh mereka saling menempel, Najwa menutupi tubuhnya dan suaminya dengan selimut.
Keduanya tidur saling berpelukan, awalnya Najwa canggung dan terasa panas. Tapi dia terus memeluk erat tubuh Arsyil, keduanya saling berpelukan.
"Semoga ini bisa membantumu meredakan panas tubuhmu bang." ucap Najwa dalam pelukan Arsyil.
Saat itu baik Arsyil maupun Najwa merasakan kehangatan tubuh masing-masing dan juga merambah ke hati dan jantung masing-masing juga. Semakin lama mereka semakin erat memeluk, hingga terasa enggan untuk melepas.
Najwa sampai ketiduran dalam pelukan Arsyil, dan Arsyil merasa tubuhnya lebih baik. Cara skin to skin yang di lakukan Najwa itu sungguh ajaib.
Suhu tubuh Arsyil kini semakin turun, keduanya terlelap dalam berpelukan dengan keadaan tubuh setengah telanjang. Tapi mereka tidak peduli, berpikir bahwa keduanya adalah suami istri sah.
Hingga subuh menjelang, Arsyil nyaman dalam pelukan Najwa. Begitu juga dengan Najwa, dia mempererat pelukannya pada Arsyil.
Arsyil pun sadar akan keadaan mereka, tapi dia tidak peduli. Kini suhu tubuhnya turun jadi hangat, dia membuka matanya. Menatap istrinya yang terlelap dalam pelukannya, mencium dahi Najwa dan tersenyum bahagia.
"Terima kasih, kamu melakukan cara seperti ini untuk menurunkan panas tubuhku. Aku tidak tahu jika cara berpelukan bisa menurunkan panas pada tubuhku." ucap Arsyil pelan.
Tangannya membelai pipi Najwa yang lembut, mencium pelan pipinya. Tak lama mata Najwa bergerak karena terusik dengan sentuhan tangan suaminya.
Najwa menatap Arsyil, lalu tersenyum manis.
"Abang sudah lebih baik?" tanya Najwa.
"Ya, panasnya sudah turun. Terima kasih dek, cup." ucap Arsyil mengecup kening Najwa.
"Oh, kalau sudah turun panasnya. Adek mau turun dulu, ini sudah subuh." kata Najwa merasa malu di tatap oleh Arsyil dari jarak beberapa senti.
"Jangan turun, tunggu dulu. Abang nyaman seperti ini." kata Arsyil mengeratkan pelukannya.
Najwa kembali memejamkan katanya, dia juga merasakan kenyamanan berpelukan dengan Arsyil. Tangan Arsyil membelai punggung Najwa, membuat gadis itu jadi meremang.
"Bang?"
_
_
__ADS_1
********************