Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
75. Abang Dan Suami


__ADS_3

Azam, Mala, Ridho dan juga Selvi istri Ridho itu makan bersama di ruang makan. Mereka makan dengan mengobrol santai.


Mala melayani suaminya dengan baik, dia senang kini Azam sudah pulang dan berkumpul lagi.


Setengah jam mereka makan sambil bercerita santai. Kini Azam sudah berada di halaman belakang sambil menggendong anaknya Ameer. Mala membawakan minuman kopi untuk suaminya dan juga potongan buah mangga.


Ridho menghampiri keduanya yang sedang mengobrol santai.


"Kalian sedang apa?" tanya Ridho.


"Lagi santai aja bang." jawab Mala.


"Abang duduk di sini, mau bicara dengan suamimu." kata Ridho.


"Ya sudah, aku masuk dulu sama Ameer. Dia juga belum minum asi." kata Mala.


Mala mengambil Ameer dari gendongan Azam. Dia melihat Azam begitu tenang, tak terlihat wajah takut ataupun kaku karena akan di sidang oleh abangnya.


Sepertinya memang Azam sudah siap dengan apa yang akan di bicarakan dengan Ridho. Mala pun masuk ke dalam rumah, menemui kakak iparnya. Menunggu dengan cemas, Selvi tahu adik iparnya itu takut abangnya akan melarang Azam membawanya dan anaknya.


"Mala, kamu kenapa?" tanya Selvi.


"Aku takut saja kak, takut bang Ridho melarang mas Azam bawa aku dan Ameer pulang ke rumah." jawab Mala.


"Jangan takut, ngga mungkin juga abangmu tega melakukan itu. Kakak lihat, suamimu memang terlihat berbeda sepulang dari Kalimantan." kata Selvi.


"Iya kak." ucap Mala.


Dia tetap saja gelisah meski Selvi mengatakan kalau abangnya hanya mau menegaskan pada Azam saja memgenai status dirinya. Namun begitu, dia berdoa semoga semuanya memang baik-baik saja.


Sedangkan di belakang rumah, Azam dan Ridho mengobrol santai tapi serius. Awalnya Ridho menanyakan tentang pekerjaan Azam, tentang dinasnya ke Kalimantan juga semuanya yang menimpanya selama ini.

__ADS_1


"Jadi kamu sudah menyelesaikan masalah sekretarismu itu?" tanya Ridho.


"Sudah, dia sudah ku jamin agar tidak di masukkan ke penjara. Tapi sudah kupecat dia dari pekerjaannya." jawab Azam.


"Lalu, mengenai sahabatmu. Apa dia juga sudah selesai?" tanya Ridho lagi.


"Dia laki-laki yang baik, Arsyil sahabatku yang selalu baik padaku. Tapi aku malah membuatnya jadi hilang pekerjaan, meski tidak di sengaja dan bukan aku yang membuat dia jadi tidak bekerja. Tapi aku tetap bertanggung jawab untuk mengganti rugi semua kebakaran percetakannya itu." kata Azam.


Dia menarik napas panjang, belum bertemu lagi dengan Arsyil dan Najwa. Mungkin sekarang sudah melahirkan mantan istrinya itu.


"Terus, apa kamu masih mengharapkan mantan istrimu lagi?" tanya Ridho.


Azam menoleh pada Ridho, dia menatap datar pada abang istrinya itu. Lalu menatap ke depan lagi dengan menarik napas panjang.


"Apa kamu mengira aku akan menceraikan Mala setelah anakku lahir? Dan mengejar mantan istriku?" Azam balik bertanya.


"Kurasa begitu." singkat jawab Ridho.


"Aku hanya takut saja, Zam. Adikku itu pendiam, meski dia itu terkadang ngeyel. Tetapi dia tidak bisa memaksa apa pun pada orang lain, apa lagi pada orang yang dia cintai. Dia mencintaimu, Zam. Aku sudah berkali-kali katakan kalau pernikahanmu itu hanya sebagai syarat saja. Tapi memang Allah berkehendak lain." kata Ridho.


"Ya, kembali lagi ini adalah takdir Ridho. Takdirku akan selalu hidup bersama dengan adikmu, takdirku akan selalu menyayangi adikmu dan keponakanmu. Apa itu masih saja membuatmu ragu, kalau aku sungguh-sungguh dengan semua takdirku." kata Azam dengan serius.


Ridho menatap dalam pada Azam, dia mencari suatu kebenaran pada adik iparnya itu. Lalu dia menatap ke depan, menarik napas panjang.


"Aku hanya tidak mau adikku saja yang mencintaimu. Sedangkan kamu tidak, sebagai seorang kakak. Aku harus melindungi adikku agar dia tidak terluka, meski hidupnya berkecukupan dan selalu kamu perhatikan kebutuhannya." kata Ridho menerawang jauh ke depan.


Azam tahu apa yang di katakan Ridho itu, dia juga tidak bisa memaksa begitu saja hatinya untuk mencintai Mala. Tapi dia percaya, dengan kebiasaan mereka bersama lambat laun akan terjalin kisah cinta dirinya dan Mala.


"Aku laki-laki bertanggung jawab, menyayangi anakku dan juga istriku. Aku juga manusia yang punya hati dan otak, Ridho. Tidak mungkin dengan berjalannya waktu yang panjang dan kebersamaan kami sepanjang hari tidak menimbulkan rasa cinta di hatiku. Mungkin aku harus banyak bersyukur, mendapatkan adikmu tanpa harus berdebat lebih lama lagi. Dan kamu harus percaya padaku, aku akan membahagiakan Mala dan Ameer." kata Azam meyakinkan Ridho sang abang ipar.


"Itu yang kumau, Zam. Kita ini teman, aku tidak mau di antara pertemanan ini akan putus silaturahmi antara saudara atau sebagai teman hanya karena ada permasalahan yang mengganjal. Tapi aku juga sebagai kakak harus memastikan adikku jatuh di tangan yang tepat, karena sesungguhnya dulu aku menyesal telah memberikan Mala sama kamu demi kepentinganku sendiri." kata Ridho.

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Kamu pasti akan kecewa padaku, tapi percaya sama aku. Kalau aku akan membahagiakan Mala dan Ameer untuk selamanya kakak ipar." kata Azam.


Ridho menoleh pada Azam, lalu tersenyum dan menunduk. Dia menarik napas panjang, merasa lega karena Azam berkata dengan sungguh-sungguh.


"Aku pegang janjimu, Zam. Jika ada masalah, selesaikan kalian berdua. Tapi jika masalah kalian terlalu rumit dan masalah hati lagi, maka aku akan jadi orang tua kalian. Dan jika kamu mengingkari janjimu, aku tidak akan segan membawa Mala pulang ke rumahku Zam." kata Ridho lagi.


"Ya, pegang janjiku Dho. Selama aku masih mampu menjaga Mala dan Ameer, maka jangan sekali-kali ikut campur urusan keluargaku. Tapi jika kamu sudah keterlaluan ikut campur masalah keluargaku, aku juga tidak segan membencimu Ridho." kata Azam.


Keduanya saling menatap. Tapi kemudian mereka pun tersenyum, lalu tertawa kecil. Kini suasana kembali santai seperti semula.


Mala dan Selvi pun ikut bergabung dengan keduanya. Mala melihat suaminya tersenyum senang, dia mengambil Ameer dari gendongan Mala. Menggodanya dengan mencium perutnya, membuat bayi laki-laki itu menggeliat dan tertawa kecil.


"Gemas banget sih papa sama kamu, nak." ucap Azam pada Ameer.


Mala tersenyum, dia melihat ke arah abangnya. Tampak raut wajahnya juga santai, itu artinya pembicaraan mereka benar-benar selesai dan tidak ada perdebatan sengit antara Ridho dan suaminya.


"Kita pulang ke rumah, yuk nak. Papa kangen sama mama." kata Azam lagi bicara pada bayi itu.


Tentu saja membuat wajah Mala memerah, dia menunduk dalam karena ucapan suaminya. Dan Ridho pun menggoda adiknya.


"Dia tahu kamu sudah selesai nifas. Makanya dia mau cepat pulang ke rumah." kata Ridho melirik pada adiknya.


"Waah, mau kangen-kangenan ya rupanya." kata Selvi menanggapi ucapan suaminya.


Azam hanya tersenyum, begitu juga dengan Mala. Suasana hangat membuat keempat orang itu kembali mengobrol santai, bagi Mala itu semua membuatnya merasa senang. Karena sesungguhnya dia juga merasa rindu dengan suaminya itu. Rindu yang berbeda baginya pada Azam.


_


_


************

__ADS_1


__ADS_2