Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
60. Musibah Kebakaran


__ADS_3

Hari demi hari kehidupan Najwa dan Arsyil penuh dengan kebahagiaan. Mereka sangat senang saling membantu satu sama lain, tapi Arsyil lebih sering membantu istrinya mengerjakan tugas rumah dari pada Najwa.


Karena perut Najwa sudah mulai membesar, jadi hampir semua di tangani oleh Arsyil sebelum berangkat ke percetakan. Najwa hanya di perbolehkan memasak, itu pun tidak boleh masak yang terlalu banyak berdiri. Dan juga menyapu lantai.


"Bang kata bu bidan, perempuan hamil itu baiknya banyak bergerak, itu akan memperlancar persalinan nantinya." kata Najwa.


"Ya, itu kalau menjelang lahir. Ngga apa-apa, sekarang adek sering capek, abang ngga mau nanti malah kelelahan." kata Arsyil lagi.


Najwa diam, dia kini menurut saja. Lagi pula, masih dua bulan lagi dia melahirkan, jika banyak bergerak nanti malah lahir prematur. Dia tidak mau itu, setelah usia kandungan sembilan bulan, baru dia akan lebih banyak bergerak.


"Abang berangkat dulu ya, jaga diri di rumah baik-baik." kata Arsyil mencium kening Najwa.


"Iya bang. Oh ya bang, itu sayuran yang mau di panen mau di kemanakan? Apa di jual aja atau di bagikan ke tetangga?" tanya Najwa.


"Di bagikan saja sebagian, sebagian lagi ya di jual ke warung aja kalau adek mau. Atau di simpan di kulkas." jawab Arsyil.


"Ya udah, nanti adek minta sama bu Sri untuk panen lagi sayurnya."


"Kepitingnya di masak siang ini ya dek, nanti siang abang pulang. Sekalian lewat mau ke toko membeli kertas stok di percetakan." kata Arsyil lagi.


"Iya bang, beres." kata Najwa.


Arsyil mengangguk, dia pun menjalankan mesinnya dan melajukan motor pelan. Melambaikan tangan pada Najwa.


"Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Motor Arsyil keluar dari halaman rumahnya, Najwa pun masuk lagi ke dalam rumahnya. Bersiap untuk memasak makan siang nanti. Dia ingin memasak kepiting saus padang, kemarin Arsyil membawakan kepiting yang dia beli sengaja di pasar ikan di dekat pelabuhan.


Jadi Najwa sekarang mau membuat kepiting saus padang, kebetulan dia pernah memasak bumbu saus padang tapi pakai kerang. Jadi tidak ada bedanya, dia akan bersiap untuk memasak sebelum waktu makan siang tiba dan Arsyil pulang siang ini.


_


Tuuut.


Suara ponsel Arsyil berdering malam-malam, dia sedang tidur nyenyak sambil memeluk Najwa. Awalnya dia mengabaikannya, tapi kemudian terusik juga dengan suara dering ponsel yang terus saja berbunyi.


"Siapa sih malam-malam begini menelepon?" gumam Arsyil.


Dia melihat jam di dinding pukul satu dini hari, melihat ponselnya. Ternyata karyawannya di bagian pencetakan mesin, Dimas.


"Dimas? Ada apa dia menelepon? Bukankah lemburannya sudah selesai." ucap Arsyil masih menatap ponselnya.


Dia lalu menjawab telepon dari karyawannya dengan suara serak dan mata yang masih mengantuk.


"Halo, Dimas?"


"Pak Arsyil, percetakannya kebakaran."


"Apa?!"


"Iya pak, kantor percetakannya kebakaran. Tidak tahu dari mana, tapi saya datang ke percetakan sudah membesar apinya. Apa bapak bisa kesini?" kata Dimas.


"Ya Allah, musibah apa lagi ini." ucap Arsyil dengan cemas.

__ADS_1


"Bisa bapak datang kemari, apinya sudah mulai menjalar ke bagian ruang kantor bapak."


"Astaghfirullah, ya saya segera kesana." kata Arsyil.


"Iya pak, saya tunggu. Yang lain ada sebagian sudah di sini."


"Tunggu saya datang, kamu sudah lapor bagian pemadam kebakaran?"


"Sudah pak, ke kantor polisi juga sudah. Kami semua sedang memadamkan kebakaran di bagian kantor bapak."


"Baik, saya segera kesana."


Klik!


Arsyil menutup sambungan teleponnya dengan Dimas, dia pun beranjak turun dari ranjang. Segera memakai celana panjang dan jaketnya, Najwa merasa suaminya tidak ada pun jadi terbangun.


Dia melihat suaminya sedang memakai jaket, heran Najwa menatap suaminya yang tampak cemas itu.


"Bang, ada apa?" tanya Najwa heran.


"Percetakan abang kebakaran dek, entah dari mana kebakaran itu." kata Arsyil bergegas mengambil kunci motornya.


"Astaghfirullah, lalu abang mau kesana?" tanya Najwa ikutan cemas.


"Iya, adek di tinggal sendirian ngga apa-apa kan?" tanya Arsyil.


"Iya bang, ngga apa-apa. Abang pergi aja." katq Najwa ikutan khawatir dengan percetakan suaminya.


"Jaga diri ya dek, kunci rumah. Jangan cemaskan abang, pasti semuanya beres." kata Arsyil menenangkan istrinya yang ikut cemas juga.


Arsyil mengecup kening Najwa, lalu dia pun segera keluar. Di susul Najwa di belakangnya, Arsyil mengeluarkan motornya dan segera menjalankan mesinnya. Dia menoleh ke arah Najwa lalu melajukan motornya pergi menuju percetakannya. Di mana tempat untuk mengais rejeki dan memberi nafkah istrinya.


Hati Arsyil benar-benar kacau dan gelisah. Bagaimana bisa percetakannya itu terbakar, kenapa bisa terbakar. Sedangkan dia selalu mengecek mesin dan juga bagian listriknya agar tetap aman.


Arsyil mengendarai motornya dengan cepat, karena malam hari dan tidak banyak kendaraan yang lewat. Dia pun akhirnya sampai juga di percetakannya, benar saja kantor percetakannya terbakar dan hampir semuanya hangus.


Arsyil turun dari motornya, dia syok dengan keadaan percetakannya yang sudah hampir rata itu. Mesin-mesin percetakan juga terbakar, banyak sekali yang terbakar.


Arsyil hanya bisa diam saja menatap puing-puing kebakaran itu. Dia tidak mengerti, kenapa cobaannya sekarang adalah usaha miliknya. Bagaimana dengan buku yang sedang dia cetak milik penulis yang membuat buku padanya.


"Ya Allah ..."


"Pak Arsyil?"


"Bagaimana ini bisa terjadi, Dimas?" tanya Arsyil.


"Saya tidak tahu pak, niatnya saya mau ke perecetakan jam sebelas malam itu. Karena ada yang ketinggalan, tahu-tahu semua gedungnya sudah di lalap api dan banyak warga sini sedang menyiram dengan air. Aku pun panik dan ikut membantu mereka, dan juga memanggil pemadam kebakaran. Lalu saya langsung menelepon bapak." kata Dimas.


Arsyil jadi lemas, tiba-tiba dia berjongkok. Dimas membantu Arsyil berdiri lagi, memberi kekuatan untuk bersabar.


"Tidak ada yang terselamatkan sama sekali, Dimas?" tanya Arsyil.


"Iya pak. Semuanya hangus terbakar." jawab Dimas.


Arsyil kembali diam, dia memejamkan matanya. Mengucapkan istighfar berkali-kali, deringan ponsel dari istrinya dia abaikan.

__ADS_1


Lama dia termenung menatap puing-puing sisa kebakaran itu. Petugas pemadam kebakaran pun sudah pulang setelah semuanya selesai dan api sudah padam. Kini tinggal dari kepolisian untuk menyelidiki sebab akibat kebakaran itu terjadi.


"Yang punya percetakan ini siapa?" tanya polisi.


"Saya pak." jawab Arsyil.


"Apakah anda tidak tahu percetakannya kebakaran?" tanya polisi lagi.


"Saya baru datang karena di hubungi oleh karyawan saya ini." jawab Arsyil menunjuk Dimas.


"Jadi, karyawan anda jadi saksi kebakaran ini ya. Nanti saya interogasi karyawan anda dan anda juga. Juga saksi lainnya, sepertinya ini bukan kebakaran biasa." kata polisi.


"Iya pak, saya nanti memberi keterangan pada pak polisi." kata Dimas.


"Baiklah, apa sekarang bisa ikut ke kantor polisi?"


"Ya, bisa pak."


"Dengan bapak juga. Biar keterangannya semakin kuat." kata polisi lagi.


"Iya pak, saya ikut juga." ucap Arsyil.


Mereka pun kini ikut ke kantor polisi, Arsyil mengangkat sambungan teleponnya dari Najwa.


"Halo dek."


"Bagaimana bang, kondisi kantornya?"


"Sudah hangus rata dek. Sekarang abang mau ke kantor polisi buat laporan dan memberi keterangan tentang kebakaran itu." kata Arsyil.


"Jadi, abang sekarang mau ke kantor polisi?"


"Iya, sabar ya. Abang akan langsung pulang kalau semua selesai dari kantor polisi." kata Arsyil lagi menenangkan istrinya.


"Iya bang, adek cemas aja dengan abang. Bagaimana dengan percetakannya itu." kata Najwa.


"Ngga apa-apa dek, abang baik-baik aja. Adek jangan khawatir." ucap Arsyil lagi.


"Ya udah, adek tutup teleponnya bang."


"Iya dek, tidur ya. Jangan tunggu abang, adek harus istirahat yang cukup."


"Iya bang."


Klik!


Arsyil menutup sambungan teleponnya, pikirannya masih tidak menentu dengan kebakaran itu. Bagaimana dia harus membangun usaha itu lagi dari awal, atau jika tidak. Apa yang harus dia lakukan, semuanya berseliweran di kepalanya.


Wajah cemas Najwa pun melintas di pikirannya. Dia menarik napas panjang, lalu menaiki motornya untuk pergi ke kantor polisi.


_


_


************************

__ADS_1


__ADS_2