Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
74. Ikatan Batin


__ADS_3

Pukul sembilan malam Azam baru sampai di rumah Ridho, dia sengaja datang langsung ke rumah Ridho untuk bertemu dengan Mala. Tapi sepertinya rumah Ridho sudah sepi, itu artinya semua sudah tidur.


"Apa aku telepon Mala saja ya, dia sudah tidur atau belum?" ucap Azam masih dalam mobilnya.


Meneliti rumah Ridho yang tampak sepi penerangan lampunya. Dia mengambil ponselnya, menghubungi Mala, tersambung tapi tidak ada jawaban. Azam pun akhirnya menyudahi panggilan itu, lalu meletakkan kembali ponselnya di dasbor mobil.


"Besok lagi saja aku datang, kasihan mungkin dia sudah tidur dan lelah." kata Azam lagi.


Dia menyuruh supir taksi pergi dari rumah itu dan melajukannya untuk pulang ke rumahnya. Rasa lelah karena perjalanan jauh dari pulau seberang menuju bandara lalu naik taksi menuju rumah Ridho. Tapi nyatanya sudah malam dan mereka sudah tidur untuk beristirahat.


"Aku juga butuh istirahat, rasanya lelah sekali. Besok pagi-pagi aku akan datang ke rumah Ridho." ucap Azam lagi.


Sementara itu, di rumah Ridho. Mala tidak bisa tidur karena anaknya rewel, badannya juga panas. Dia tidak mendengar ada telepon masuk dari suaminya, shingga tidak menjawab telepon Azam.


Ridho pun masuk ke dalam kamar Mala dengan istrinya juga karena Ameer rewel dan panas juga badannya.


"Kenapa dia menangis terus?" tanya Ridho.


"Badannya panas bang." jawab Mala menenangkan anaknya.


"Dia kangen papanya mungkin." ucap Selvi.


"Ngga tahu kak, memang bayi juga bisa begitu?" tanya Mala.


"Bisa, justru anak kecil lebih sensitif deh kayaknya kalau di tinggal lama sama papanya. Pasti itu, rewel karena kangen sama ayahnya. Kan ada ikatan batin sama dia." kata Selvi lagi.


Mala diam saja, sudah tiga hari Azam tidak meneleponnya. Dia juga cemas kenapa suaminya tidak juga menelepon.


"Coba kamu telepon Azam." kata Selvi.


"Sudah jangan, nanti kalau dia ingat juga pasti kesini." kata Ridho.


Dia sudah memberitahu Azam agar datang ke rumahnya jika ingin bertemu anaknya. Dan jawaban Azam pun sudah dia dapatkan, mungkin besok atau lusa Azam datang ke rumahnya. Katanya mau menjemput istri dan anaknya.


"Kasih asi aja, Mala. Mungkin juga dia lapar dan bisa menurunkan panas juga." kata Selvi.


"Iya kak."


Mala membawa anaknya ke kasur lagi, selama tidur di rumah Ridho. Dia tidur dengan anaknya tanpa tidur di boks lagi.


Dia memaksa menyusui, dan akhirnya bayi laki-laki itu diam dengan menyedot asi dari Mala. Sambil membaca doa dan mengucapkan beberapa kalimat yang menenangkan anaknya, Mala pun akhirnya lega juga anaknya sudah diam.


Ridho dan istrinya pun kembali ke kamarnya lagi, Mala mengambil ponselnya. Dia kaget ada dua panggilan tak terjawab dari Azam.


"Ooh, jadi mas Azam tadi meneleponku? Kok ngga kedengaran ya?" ucap Mala.

__ADS_1


Dia ingin menghubungi balik nomor suaminya, tapi di urungkan karena mungkin saja Azam sudah tidur. Jadi dia pun meletakkan kembali ponselnya.


"Ternyata kamu tahu ya, papa tadi telepon, jadinya nangis. Dan kenapa bisa panas begini nak? Apa benar kamu kangen sama papa?" ucap Mala mengelus pipi anaknya itu.


Bayi laki-laki itu hanya menggeliat saja, matanya terpejam dan terus saja asyik minum asi dari ibunya. Mala tersenyum, dia pun kini memejamkan matanya setelah anaknya melepas asi yang dia minum itu.


_


Pukul sepuluh pagi, badan Ameer sudah lebih baik. Panasnya juga sudah turun, Mala juga sudah memberinya asi lagi kemudian menidurkan bayinya itu.


"Mala, apa suamimu sudah meneleponmu?" tanya Ridho.


"Tadi malam sebenarnya dia menelepon bang, aku tidak tahu. Jadi ngga di jawab." jawab Mala.


Ridho menarik napas panjang, seharusnya kalau dia pulang kemarin. Harusnya hari ini dia datang ke rumahnya.


"Assalamu alaikum!"


Terdengar suara salam dari luar, mereka berada di belakang rumah. Mala dan Ridho masuk ke dalam rumah, mereka berjalan menuju ruang depan. Dan terlihat Azam berdiri dengan tersenyum.


"Assalamu alaikum, Mala." kata Azam.


Mala tersenyum, dia pun mendekat dan menjawab salam suaminya.


"Wa alaikum salam mas." jawab Mala menyalami tangan suaminya.


"Semalam aku pulang dan langsung kesini. Tapi rumahmu sepi, kupikir sudah tidur semua. Jadi aku pulang lagi." jawab Azam.


"Jadi kamu menelepon aku semalam mas? Aku tidak tahu kamu telepon." kata Mala.


"Ya, tapi aku juga takut kamu sudah tidur. Makanya aku pulang ke rumah. Ameer mana?" tanya Azam.


"Lagi tidur di kamar." jawab Mala.


Azam pun melangkah menuju kamar yang di tunjuk Mala. Dia sangat rindu sekali pada anaknya yang sudah enam hari tidak bertemu. Mala mengikuti dari belakang, dia melihat Azam duduk di sisi ranjang menatap anaknya lalu mencium pipi gembul bayi itu.


"Dia sakit?" tanya Azam.


"Ya, semalam rewel dan badannya panas. Sudah di beri obat sih dan asi jugam" jawab Mala.


"Perlu ke dokter?" tanya Azam.


"Ngga usah, ketemu papanya juga sembuh kok." jawab Mala.


Azam menatap istrinya, lalu beralih pada anaknya. Dia menggendong dengan pelan bayi yang sedang tidur itu. Menciumnya dan menimangnya.

__ADS_1


"Jadi kamu kangen sama papa sayang?" ucap Azam kembali mencium pipi Ameer.


Mala tersenyum, dia melihat anaknya pun terusik dengan ciuman Azam. Lalu kembali menangis tapi pelan, Azam pun menenangkan kembali. Dia sudah hafal bagaimana menggendong anaknya dan juga menenangkannya.


"Sudah beres mas urusan di Kalimantannya?" tanya Mala.


"Ya, semua sudah beres." jawab Azam singkat.


Mala kembali diam, dia pun menunduk. Azam menoleh ke arah istrinya.


"Kamu ngga kangen padaku?" tanya Azam pada Mala.


"Apa perlu aku jawab?" Mala balik bertanya.


"Ngga usah, aku yang menjawab. Aku kangen sama kamu." kata Azam menatap Mala.


Wajah Mala memerah, lalu dia pun tersenyum. Baru kali ini Azam mengatakan hal romantis padanya. Sangat kaget, tapi dia senang Azam mengungkapkan perasaannya saat ini.


"Kamu mau makan di sini mas?" tanya Mala menetralkan hatinya yang bahagia itu.


"Ya, kan aku mau bicara sama abangmu. Aku juga mau jemput kalian pulang ke rumah." kata Azam.


"Hwuaa! Hwuaaa!"


"Uuh, kamu kangen sama papa sayang? Papa gendongbya, ayo kita keluar dari kamar. Kita nanti pulang ya, papa mau bicara dulu sama om Ridho. Baru setelah itu kita pulang sama mama juga. Oke? Jangan nangis terus sayang, cup cup cup." ucap Azam menenangkan anaknya yang menangis.


Azam pun membawa Ameer keluar dari kamar, di ikuti oleh Mala di belakang. Mereka menuju ruang tamu, duduk di sofa dengan menggoda anaknya. Azal terlihat bahagia sekali menggoda anaknya, dan Mala pun ikut tertawa ketika Ameer tertawa karena di goda oleh Azam.


Ridho dan Selvi melihat mereka dari jauh, Ridho menarik napas panjang. Selvi menatap suaminya, dia tahu suaminya itu seperti tidak percaya dengan adik iparnya.


"Mereka kelihatan jadi keluarga bahagia bang." kata Selvi.


"Ya, kelihatannya. Tapi abang perlu bicara juga sama Azam." kata Ridho.


"Ya bicara saja bang, tapi jangan memaksa mereka untuk berpisah. Dosa lho bang." kata Selvi.


"Siapa yang mau menyuruh mereka berpisah, abang hanya mau menegaskan Azam untuk membahagiakan Mala. Itu saja." kata Ridho.


"Ya sudah. Ayo kita ke belakang, bantu aku menyiapkan makan siang."


"Iya."


Mereka pun pergi lagi ke belakang untuk menyiapkan makanan yang sudah matang dan di pindahkan ke meja makan.


_

__ADS_1


_


************


__ADS_2