
Tangan Arsyil mengelus punggung Najwa, membuat gadis itu pun meremang. Tubuhnya menggeliat karena merasa geli.
"Bang?"
"Hemm?"
"Adek turun ya, udah siang mau sholat subuh." kata Najwa mencoba melepas pelukan Arsyil.
Tapi Arsyil diam saja, dia membuka matanya. Menatap wajah Najwa yang terlihat sangat cantik. Dorongan kuat akan hatinya ingin memiliki Najwa seutuhnya kali ini membuatnya takut. Wajahnya mendekat pada wajah Najwa, di ciumnya bibir istrinya itu dengan lembut dan mencoba mengeksplornya.
Dorongan hatinya ingin terus mencium istrinya hingga dia terus sampai ke seluruh wajah Najwa. Najwa memejamkan matanya, dia tahu Arsyil dalam keadaan ingin menggaulinya. Sejenak dia membiarkan seperti itu, dia pun terbuai.
Suara lenguhan keluar dari mulutnya, membuat Arsyil semakin bersemangat. Dia terus mencium di bagian leher, tangannya tidak tinggal diam. Sepertinya dia sudah di kuasai oleh kabut asmara yang ingin menyelam indahnya malam pertama dengan istrinya itu.
Najwa sampai terkejut ketika bunyi alarm jam di meja menyadarkan mereka kalau waktu membatasi kegiatan intim itu. Najwa mendorong tubuh Arsyil, tapi Arsyil tidak peduli, dia terus mencumbu Najwa.
"Bang, sudah siang. Kita belum sholat subuh." kata Najwa mengingatkan suaminya itu.
Arsyil pun berhenti, ada tatapan kecewa pada matanya. Najwa merasa bersalah, tapi waktunya tidak tepat karena jam sudah menunjukkan pukul lima empat puluh menit.
Arsyil menarik napas panjang, dia pun duduk dan menunduk karena malu telah mencumbu Najwa. Najwa diam, dia menutupi bagian dadanya dengan selimut. Lalu beranjak dari ranjang Arsyil, dia ambil bajunya dan segera keluar dari kamar itu.
Dadanya juga bergemuruh, dia merutuki kesalahannya karena mencegah Arsyil untuk mencumbunya.
"Maafkan aku bang, waktu yang tidak bisa di cegah." ucap Najwa lirih.
Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu. Lama dia di dalam kamar mandi, sampai Arsyil menunggu di luar tanpa memanggilnya untuk segera keluar.
Tak lama, Najwa pun keluar dengan handuk di kepala dan handuk kimononya. Dia kaget suaminya sudah duduk di sana, tapi kemudian dia pun segera pergi ke kamarnya.
Arsyil hanya menatap kepergiannya, dia menunduk melihat ke bagian celananya. Masih terasa sakit akibat tertahan, tapi kemudian dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia mau mandi, tidak peduli tubuhnya masih belum turun suhu tubuhnya.
_
Siang hari, Arsyil kembali panas. Dia tidur dengan pulas, Najwa pun masuk ke dalam kamar suaminya. Membawakan makanan untuk Arsyil, meletakkan di meja seperti biasa dia duduk di tepi ranjang dan menatap wajah Arsyil.
Menarik napas panjang, dia benar- benar merasa bersalah pada suaminya itu. Tangannya memegang tangan Arsyil, dia terkejut kenapa tubuhnya kembali panas.
"Bang, bangun. Makan dulu." kata Najwa.
Arsyil membuka matanya, dia menatap Najwa lalu tersenyum. Bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap istrinya.
"Abang panas lagi badannya?"
"Tadi pagi abang mandi dek, mungkin itu yang buat badan abang panas lagi." kata Arsyil.
__ADS_1
"Ya ampun bang, baru tadi pagi udah adem. Kenapa mandi?" tanya Najwa.
Arsyil hanya tersenyum saja, Najwa sendiri merasa aneh kenapa dia bertanya seperti itu. Salah tingkah keduanya, Najwa pun mengambil piring di meja dan mengaduk makanan untuk di suapi oleh suaminya.
"Abang makan dulu, nanti minum obat lagi ya." kata Najwa.
"Abang makan sendiri dek, siapkan aja obatnya." kata Arsyil.
Najwa pun menurut, dia serahkan piring pada Arsyil dan dia mengambil obat di meja. Melihat suaminya makan dengan lahap, dia senang Arsyil makan dengan lahap.
"Lapar ya bang?" tanya Najwa niatnya menggoda.
"Biar perut ngga kosong aja, panas juga cepat turun kan." kata Arsyil.
"Iya sih."
Dia menyerahkan obat pada Arsyil, dan laki-laki itu langsung menenggaknya kemudian minum air putihnya.
"Di luar hujan bang." kata Najwa.
"Oh, abang ngga dengar tadi."
Arsyil ingin keluar dari kamarnya, sudah tiga hari dia sakit dan panas tidak juga turun. Baru tadi malam dia turun panas, tapi siang ini kembali panas.
"Abang mau kemana?" tanya Najwa.
Najwa diam saja, pikirannya kembali mengingat pagi itu. Entah karena merasa bersalah atau dia ingin melakukan itu dengan Arsyil. Tapi kembali dia ragu, ragu karena dua bulan lagi masa pernikahan dengan Arsyil selesai.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah." ucap Najwa penuh kebimbangan.
Tapi kemudian dia pun memghampiri suaminya, melihat dia sedang mengotak atik laptopnya. Najwa diam, rasa bersalahnya kian menguasai hatinya.
"Bang." panggilnya.
Arsyil pun menoleh, dia melihat Najwa seperti sedih menatapnya.
"Kenapa dek?" tanya Arsyil heran.
"Emm, abang sedang apa?" tanya Najwa kaku.
"Ini, mau memeriksa pekerjaan dulu. Kemarin Nadia kirim pesan apakah desain cover bukunya sudah jadi atau belum. Abang mau menyelesaikannya dulu lalu di kirim sama Nadia ke emailnya." jawab Arsyil.
Najwa diam, dia ragu mengatakan apa yang dia ingin katakan. Di liriknya jam di dinding sudah pukul dua siang.
"Abang sudah sholat dzuhur?" tanya Najwa.
__ADS_1
"Sudah."
"Emm, kalau sudah selesai pekerjaannya. Abang ke kamarku ya." kata Najwa.
"Eh?"
Arsyil menoleh ke arah Najwa yang sudah berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia heran dengan sikap istrinya itu, tapi kemudian dia menyelesaikan pekerjaannya yang sebenarnya tinggal kirim saja ke email Nadia.
Setelah selesai, dia diam. Memikirkan apa sebenarnya yang ingin di tunjukkan Najwa padanya. Dia lalu membereskan laptopnya lalu menyimpannya lagi dalam tasnya. Kemudian dia pun menuju kamar Najwa.
Tok tok tok.
Arsyil mengetuk pintu, di dorongnya pintu itu dan dia pun masuk. Tidak melihat Najwa, tapi ketika menutup pintunya. Arsyil menelan salivanya, dia melihat Najwa memakai baju tipis berbahan sifon. Hingga tembus pandang, sambil menunduk malu.
Arsyil mendekat, dia menarik napas berat. Masih bingung apakah itu bentuk penyerahan diri Najwa padanya?
"Dek?"
"Abang sudah lebih baik?" tanya Najwa memastikan suaminya itu kuat fisiknya.
"Ya, tapi apakah ini ...."
"Lakukanlah bang." kata Najwa pelan.
Arsyil terdiam, lalu dia tersenyum. Kemudian dia menarik tubuh Najwa dalam pelukannya, merasakan getaran dalam hatinya, detak jantungnya. Begitu juga dengan Najwa.
Kemudian Arsyil menggiring Najwa ke ranjang istrinya itu. Mereka pun kini melakukan ritual suami istri yang sempat tertunda karena waktu sholat subuh hampir habis dan sudah satu bulan setengah belum melakukannya.
Dengan penuh gairah, Arsyil mencumbu istrinya. Mereka lupa waktu kontrak tinggal satu setengah bulan lagi. Yang mereka rasakan adalah kebahagiaan telah menyelami nikmat Tuhan atas hubungan yang penuh berkah itu.
Lama mereka melakukannya, hingga Arsyil sudah mencapai puncaknya dan lenguhan panjang terdengar di bibir Arsyil dan Najwa. Tubuh mereka pun lunglai karena pertempuran penuh cinta itu.
Arsyil mencium kening Najwa, keduanya masih saling berpelukan. Najwa memejamkan matanya, itu adalah hubungan yang terjeda selama tujuh bulan tidak dia lakukan lagi. Rasa yang di rasakan Arsyil sungguh luar biasa.
"Terima kasih dek. Kamu mau melakukannya." kata Arsyil masih mendekap erat tubuh Najwa.
"Iya bang, maaf adek baru menyerahkannya sekarang." kata Najwa.
"Ngga apa-apa, saat ini mungkin abang akan sembuh total karena adek mau memberikan abang hak." kata Arsyil dengan bahagianya.
Najwa diam saja, dia tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Mungkin demam tingginya itu karena lama menahan hasratnya sebagai laki-laki, begitu pikir Najwa.
Keduanya masih saling berpelukan, tanpa sadar mereka pun tidur siang dalam keadaan polos dan berpelukan.
_
__ADS_1
_
******************