
Saat ini Azam dan Arsyil sedang berada di rumah orang tuanya Najwa. Arsyil pikir Najwa anak seorang kyai, tapi anak pengurus yayasan di pesantren. Apakah boleh melakukan pernikahan kontrak dengannya?
Tapi tentu saja itu bisa, asal dari kedua belah pihak menyetujui dan ada kesepakatan. Sangat di sayangkan memang, tapi yang ada di pikiran Arsyil adalah Azam egois.
"Maaf nak Azam, abahnya Najwa sedang di yayasan. Ada rapat katanya, dan Najwa masih mengajar di yayasan." kata umi Dila.
"Iya umi, ngga apa-apa." jawab Azam.
Umi Dila menatap laki-laki di samping Azam, dia melihat Arsyil sangat santun dan berwibawa serta mengayomi kelihatannya. Dan sudah mengira kalau laki-laki yang di bawa Azam itu adalah orang yang akan jadi suami selingan Najwa.
"Oh ya umi, kenalkan. Dia temanku, namanya Arsyil. Dan dia ini yang saya bicarakan waktu itu umi." kata Azam.
"Oh ya, nak Arsyil ya. Saya uminya Najwa." kata umi Dila.
"Saya Arsyil bu, teman Azam." kata Arsyil dengam sopan.
Ketiganya pun terlibat pembicaraan yang ringan, karena umi Dila tidak mau membicarakan hal inti dari keinginan Azam itu. Itu jadi urusan suaminya dan Najwa nanti. Tak lama, suara langkah dari luar terdengar. Mereka menoleh ketika ada ucapan salam dari luar itu.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Najwa masuk ke dalam, dia melihat ke ruang tamu. Dia terkejut dengan kedatanga Azam dan laki-laki di sampingnya. Azam tersenyum pada Najwa, sedangkan Najwa ikut tersenyum tapi kaku karena sekilas dia menatap Arsyil yang juga tersenyum padanya.
"Sudah pulang nak? Abah mana?" tanya umi Dila.
"Masih di kantor yayasan Mi, belum selesai. Tapi sebentar lagi selesai sih, aku masuk dulu mi." kata Najwa.
"Iya."
Najwa masuk ke dalam kamarnya, dia tertegun tadi melihat laki-laki di samping Azam. Apakah dia calon suami selingannya itu?
"Apa dia yang di bawa mas Azam. Kok dia terlihat santun sekali, dia siapa ya?" gumam Najwa.
__ADS_1
Dia berdiri dengan pikiran melayang tentang laki-laki tadi. Tapi kemudian dia beristighfar, lalu mengganti bajunya. Mungkin sebentar lagi di panggil oleh uminya atau abahnya.
Sedangkan di ruang tamu, Azam sangat senang bisa bertemu dengan Najwa lagi. Umi Dila masih bertanya pada Arsyil tentang kesibukannya setiap harinya. Lebih tepatnya pekerjaan Arsyil.
"Waah, punya percetakan buku ya. Apa bisa mencetak buku-buku doa dari pesantren juga?" tanya umi Dila.
"Bisa umi, kebanyakan juga dari pesantren di dekat kantor saya juga sering membuat buku yasin atau buku kitab terjemah. Cetak undangan juga bisa, semua masalah percetakan ada di percetakan saya." kata Arsyil.
"Enak juga ya." kata umi Dila.
"Enak apanya umi, lha kan prospeknya itu hanya sewaktu-waktu saja kok percetakan itu." kata Azam menyela obrolan Arsyil dan umi Dila.
Arsyil diam, dia kurang suka dengan ucapan Az itu. Tapi tidak bisa di pungkiri memang kalau usaha percetakan itu memang musiman dan tidak terlalu banyak yang mencarinya. Tapi usaha percetakan Arsyil sedang berkembang, jadi dia optimis percetakannya masih terus berjalan.
Tak lama, abah Najwa pun datang. Memberi salam dan langsung menuju ruang tamu. Karena sebelumnya umi Dila sudah memberinya pesan kalau Azam datang dengan calon Najwa.
"Waah, jadi ini ya calon Najwa itu?" tanya abah Najwa.
"Iya bah, dan dia sudah saya mintai untuk membantu, dan juga sudah berjanji pada saya." kata Azam.
"Iya bah. Saya juga sudah setuju dengan kesepakatan yang di buat Azam, dan Insya Allah akan mematuhinya." kata Arsyil.
"Bagus itu, jadi perjanjiannya berapa bulan Zam?" tanya abah.
"Dua bulan atau tiga bulan, bah."
"Baiklah, umi panggilkan Najwa ya." kata abah.
"Iya bah."
Umi Dila pun bangkit dari duduknya, dia masuk ke dalam kamar anaknya dan menyuruh Najwa keluar menemui Azam dan calon suami selingannya itu.
Tak lama Najwa keluar dengan umi Dila, dia berganti baju dengan pakaian warna pink dan kerudung putih tulang. Sangat cantik di mata Azam dan Arsyil, kedua laki-laki itu menatap kagum pada Najwa. Meski polesan make up hanya tipis saja, tapi tetap terlihat cantik dan natural.
__ADS_1
"Najwa, sini. Kamu kenalan dengan calon suamimu." kata abah.
"Iya bah." ucap Najwa.
Dia pun duduk di sebelah abahnya, menunduk dalam karena malu juga di depannya adalah bukan mahramnya.
"Nah, kalian berkenalan dulu. Tidak usah berjabat tangan, boleh saling menatap sebentar saja. Agar tidak menimbulkan fitnah pada hati sebelum kalian menjadi suami istri." kata abahnya.
"Iya bah."
Arsyil diam, dia masih menatap Najwa lalu beralih pada Azam yang terlihat tidak suka hal itu. Tapi dia harus menghadapinya.
"Assalamu alaikun Najwa." sapa Arsyil.
"Wa alaikum salam." jawab Najwa.
"Saya Arsyil Arkana Daud, sahabat Azam dan calon suami dek Najwa." kata Arsyil.
"Oh, iya bang Arsyil. Saya Najwa Nabila." kata Najwa.
"Nah, cukup perkenalannya ya. Abah ingin bicara dengan nak Arsyil dan nak Azam. Umi tolong bawa Najwa ke dalam, nanti hasilnya abah beritahu sama umi dan Najwa." kata abah.
"Iya bah."
Najwa dan umi Dila pun bangkit, mereka pun masuk ke dalam untuk menunggu keputusan abahnya itu. Sebelum masuk ke dalam, Najwa sempat melirik pada Arsyil. Begitu juga dengan Arsyil yang tanpa sengaja melihat Najwa menatapnya.
Ada keraguan pada Arsyil tentang rencana Azam itu, dia takut akan jatuh cinta lebih awal pada Najwa. Tapi dia tidak bisa mundur, karena sekarang sudah berhadapan dengan abahnya Najwa.
"Jadi, kita bicarakan mengenai rencana selanjutnya."
_
_
__ADS_1
*******************