Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
73. Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Azam sangat kesal sekali kenapa kliennya selalu membatalkan perjanjiannya. Sudah dua hari dia batal pulang lagi ke rumahnya, apa lagi di tambah Mala menginap di rumah Ridho.


Dia takut Ridho akan mempengaruhi istrinya untuk meninggalkannya. Sedangkan dia sedang berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Mala.


Meski dia belum seratus persen mencintai Mala, tapi dia akan berusaha menjadi suami yang baik dan ayah yang baik pula. Karena sesungguhnya dia sangat senang sekali memiliki anak dan juga istri yang baik seperti Mala.


Pagi ini, Azam kembali bertemu dengan kliennya. Sebenarnya tinggal survei dan tanda tangan kontrak kerja sama saja, tetapi karena yang memiliki tempat juga investor itu yang menentukan semuanya. Jadi dia harus bersabar dan mengikuti kemauan kliennya.


Di lobi hotel dia menunggunya, karena sebentar lagi akan datang klien dan mereka akan bertemu di hotel di mana Azam menginap selama lima hari itu.


Azam melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul sembilan pagi. Rasanya dia gelisah sekali menunggu orang yang sejak tadi dia tunggu itu.


"Ck, kalau masih saja membatalkannya. Lebih baik aku pulang saja, itu berarti dia tidak serius kerja sama denganku." ucap Azam gelisah.


Sepuluh menit dia menunggu, sambil menunggu dia pun memesan tiket pulang ke tempatnya. Rasanya dia sudah rindu sekali dengan Ameer, anak laki-lakinya itu kini sudah sangat gemuk. Membuat dia ingin sekali menggendongnya.


Dua hari ini dia tidak menelepon Mala, atau video call dengannya. Karena sejak Mala memberitahu akan menginap di rumah Ridho, hatinya jadi kacau.


"Selamat pagi pak azam?" sapa seorang laki-laki berdiri di depan Azam.


Azam mendongak, dia melihat laki-laki tersenyum ramah. Dia pun berdiri dan menyalami laki-laki tersebut dengan membalas senyuman ramah padanya.


"Waah, selamat pagi juga pak Wirawan. Saya kira anda akan membatalkan janji lagi hari ini." kata Azam dengan menyindir laki-laki itu.


"Hahah! Tidak pak Azam, saya tahu saya salah dua kali membatalkan janji. Maaf karena ada urusan keluarga, saya mementingkan urusan keluarga di banding pekerjaan. Karena anda menunggu saya dengan sabar, maka saya pun menemui anda pak Azam." kata pak Wirawan.


Azam tertegun, kenapa banyak sekali pengusaha sukses itu selalu mengutamakan keluarga? Sehingga apa pun jika ada sesuatu selalu di utamakan.


"Maaf pak Wirawan, anda mementingkan keluarga dari pada pekerjaan. Apa anda tidak merasa khawatir jika pekerjaan itu akan hilang?" tanya Azam penasaran.


"Karena keluarga itu sejatinya adalah pendukung nomor satu dalam karir kita dalam mencapai kesuksesan. Jika kesuksesan kita itu hanya kita sendiri yang menjalaninya, itu salah pak azam. Keluargalah yang banyak sekali mendukung. Terutama istri yang selalu mendoakan keberhasilan dan kesuksesan suami.

__ADS_1


Jika ada suami yang menyombongkan diri atas keberhasilannya itu karena usaha kerja kerasnya. Maka itu salah, meski istri kita hanya di rumah saja. Sesungguhnya dia mengirimkan bala tentara doa dari Tuhan untuk kesuksesan kita. Makanya banyak sekali para suami itu yang tidak menikmati dan bersyukur memiliki istri yang selalu mendukung apa yang kita kerjakan. Dia akan mengalihkan kesombongannya dengan mencari pelarian lain karena dia merasa sukses.


Dia tidak sadar kesuksesannya itu adalah doa-doa seorang istri. Dan pada akhirnya, lambat laun ada beberapa laki-laki hancur dengan usahanya dan juga kehidupannya karena merasa sombong dan juga berbangga diri atas pencapaiannya." kata pak Wirawan.


"Waah, nasehat anda sungguh sangat berarti. Memang sepertinya harus begitu ya." kata Azam.


"Iya, makanya saya selalu berterima kasih pada istriku dan pada anakku. Juga pada ibuku." kata pak Wirawan.


Azam takjub dengan ucapan pak Wirawan, jika memang di terapkan seperti itu. Maka tidak ada keluarga yang pecah belah atau pun hancur gara-gara orang ketiga. Yaitu seorang perebut suami orang.


_


Azam memikirkan percakapannya dengan pak Wirawan. Sangat masuk akal sekali, mencintai keluarga intinya akan mendatangkan kesuksesan. Apa lagi selalu menghargai istrinya sebagai perempuan satu-satunya dalam hidupnya, lengkap sudah kehidupannya dan tidak perlu lagi orang lain sebagai penghiburnya.


"Apakah aku bisa melakukan seperti itu? Aku sendiri masih ragu dengan diriku sendiri." ucap Azam.


Dia kini masih berada di hotelnya, malam ini dia akan berangkat naik pesawat untuk pulang ke rumah. Dengan perasaan rindu pada anaknya dan juga Mala.


Apa dia sudah mulai biasa dengan Mala, istrinya?


Bukankah cinta bisa datang karena biasa? Biasa bertemu dan juga berbicara.


Ya, Azam akan memulainya dengan itu. Karena secara tidak sadar, Azam sudah merindukan istrinya Mala.


"Aah, aku rindu masakan Mala. Kenapa juga aku pulang terlalu lama, bukankah rejeki akan datang sendiri jika kita mendahului keluarga?" ucap Azam lagi ingat akan ucapan pak Wirawan.


Panggilan dari operator kepada penumpang dengan tujuan kota J akhirnya menggema di seluruh antero terminal bandara.


Azam segera berjalan menuju pengecekan tiket dan segera menuju lift untuk segera ke kabin pesawat.


Dia benar-benar ingin bertemu anak dan istrinya, tiba-tiba dia merasa rindu pada Mala. Gadis pendiam tetapi selalu saja sedikit cerewet masalah kepastian suatu hubungan suami istri seperti apa.

__ADS_1


Azam menerima pesan dari Ridho, dia pun membacanya. Pesan singkat yang dia baca dari kakak iparnya, bahwa mengingatkan kalau adiknya ada di rumahnya.


'Jika ingin ketemu anakmu, datanglah ke rumahku.'


Begitu pesan singkat dari Ridho, dan Azam pun menjawab singkat juga.


'Ya, aku akan datang ke rumahmu menjemput istri dan anakku yang aku cintai dan aku sayangi.'


Begitu balasan singkat Azam pada Ridho, balasan singkat jelas dan padat sebelum dia mengganti mode terbang setelah memasuki kabin pesawat yang akan membawanya pulang untuk bertemu dengan istri dan anaknya.


Hanya membutuhkan waktu satu jam setengah naik pesawat menuju kotanya. Tidak lama, tapi bagi Azam rasanya itu sangat lama sekali.


Setelah dia duduk, beberapa menit kemudian pesawat pun take off menuju bandara halim perdana kusuma. Azam memejamkan matanya, dia membayangkan wajah istrinya penuh senyum menyambutnya sambil menggendong anaknya Ameer.


"Astagfirullahal adzim, apa ini benar aku merindukan istriku?" gumam Azam.


Dia membuka matanya, menoleh ke arah jendela kapal. Masih terdapat kabut awan yang melintas di lintasan jalanan pesawat terbang.


Beberapa detik dia menatap awan-awan di luar, tapi kemudian senyum Mala kembali mengiang di matanya. Seakan awan di langit itu membentuk wajah manis istrinya. Azam pun mengedipkan matanya berkali-kali, dia tidak percaya kenapa kini pikiran dan hatinya di penuhi dengan wajah istrinya.


"Oh ya ampun, ternyata Allah memberikan rasa lain padaku. Apakah ini benar-benar cinta?" ucap Azam lagi tidak percaya dengan semua penglihatannya, pikirannya dan juga hatinya.


"Baiklah, aku bersyukur dengan perasaan ini datang juga padaku. Pada istriku, tentu mungkin pak Wirawan menyadarkan hatiku sehingga aku benar-benar merasa jatuh cinta dan sekaligus rindu pada istriku." ucap Azam lagi.


Dia pun tersenyum, lalu memejamkan matanya lagi. Memastikan kalau dia benar-benar merasakan cinta pada istrinya. Merasakan rindu yang menggebu pada Nirmala, istrinya.


_


_


**************

__ADS_1


__ADS_2