Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
31. Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Bukan hanya Arsyil yang merasa bimbang dan khawatir tentang kontrak pernikahan itu, Najwa juga lebih merasa khawatir. Sejak sikap Arsyil berubah padanya menjadi dingin dan menjaga jarak, Najwa merasa sedih bahkan kecewa dengan sikap Arsyil itu.


Beberapa kali dia memikirkan itu, apa yang harus dia lakukan dengan kontrak pernikahannya dengan Arsyil. Sedangkan dirinya juga sudah mulai nyaman dengan Arsyil, bahkan akhir-akhir ini dia merasa ingin dekat dengan suaminya itu.


"Apa yang harus aku lakukan ya Allah?" gumam Najwa dalam kebingungannya itu.


Setiap malam menjelang hari itu tiba, Najwa bangun dan sholat malam. Memanjatkan doa memohon petunjuk, apa yang harus dia lakukan. Dia jadi ingat dengan kata-kata abahnya, mengejar kebahagiaannya dari pada sebuah janji.


Mumgkin jika dia memilih Arsyil, maka Azam yang akan kecewa. Sebaliknya, jika dia memilih Azam. Belum tentu kebahagiaan akan dia raih dengan mantan suaminya itu.


Najwa dengan khusyuk sholat malam di kamarnya, sengaja dia kembali berpisah kamar dengan Arsyil. Dia tahu suaminya itu bimbang dan bingung sama halnya dengan dirinya, makanya dia memilih tidur terpisah meski dirinya kini tidak bisa tidur sejak pisah kamar dengan Arsyil.


Hingga subuh menjelang, baru Najwa selesai sholat malam dan tidur sebentar. Itu membuat Arsyil jadi aneh dengan Najwa yang selalu terlambat bangun pagi.


Semua pekerjaan Najwa di pagi hari sudah di tangani Arsyil. Dia ingin bertanya kenapa Najwa sering terlambat bangun, tapi Najwa selalu masuk kamar lagi setelah sholat subuh dan tidur lagi.


Baru setelah Arsyil berangkat ke percetakan, Najwa bangun dan mengantar suaminya berangkat kerja.


"Dek, kamu sakit?" tanya Arsyil ketika Najwa baru saja keluar dari kamarnya.


"Ngga bang, apa abang mau ke percetakan?" tanya Najwa.


"Iya, kalau adek sakit. Abang urungkan ke percetakannya." kata Arsyil.


"Nggq usah bang, aku baik-baik saja." kata Najwa dengan datar.


"Emm, adek sudah mengerti maksud abang menjauh darimu kan?"


"Iya bang. Adek mengerti." kata Najwa.


"Ya sudah, abang pergi dulu ya. Jaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah. Abang nanti di marahi sama Azam kalau adek sakit." kata Arsyil dengan nada bercanda.


Najwa hanya tersenyum saja, dia mengantar Arsyil sampai di depan rumah. Mencium tangan Arsyil lalu melambaikan tangan ketika motor suaminya melaju meninggalkan rumahnya.


Di saat itu pikiran Najwa sudah mantap dengan pilihannya, dia tersenyum lalu merapikan rumah dan bersih-bersih rumahnya. Mungkin besok dia akan ke rumah abahnya, di antar oleh suaminya atau pergi sendiri. Baginya akan ada kebahagiaan setelah dia telah memilih siapa yang akan jadi suaminya nanti.


_


Najwa sedang makan siang sendiri di rumahnya, setiap tiga jam sekali dia merasa lapar. Jadi dia langsung makan ketika lapar melanda perutnya, terkadang dia membuat makanan kesukaannya. Seperti seblak pedas, membuat sempol ayam atau cilok kuah.

__ADS_1


Makanan kekinian yang laris di mana pun mereka berjualan makanan tersebut. Seperti saat ini, Najwa makan mie pedas buatannya sendiri. Dia begitu menikmati mie pedas itu, hingga dia tidak mendengar ada yang mengucapkan salam dari luar.


"Assalamu alaikum?!"


Baru ketiga kalinya Najwa menjawab salam dari luar.


"Wa alaikum salam!"


Najwa meminum air di gelas sampai habis, dia lalu melangkah menuju depan untuk mencari tahu siapa yang bertamu di siang hari itu.


Pintu pun di buka, dia melihat perempuan berkerudung panjang dengan wajah manis tersenyum padanya. Najwa mengingat-ingat siapa perempuan yang sedang memegangi perutnya itu.


"Assalamu alaikum mbak Najwa." sapa perempuan itu dengan ramah.


Najwa terkejut, dia pun tersenyum malu karena sejak tadi dia diam keheranan siapa perempuan di depannya itu. Pernah melihat sekilas, tapi entah Najwa lupa siapa dia.


"Silakan masuk, maaf ya." kata Najwa tersenyum ramah.


"Iya mbak, ngga apa-apa."


Perempuan itu masuk ke dalam rumah kecil. Mala memandangi sekeliling rumah BTN kontrakan Najwa dan Arsyil itu.


"Iya mbak."


Dia pun duduk, masih menatap sekeliling rumah. Tidak ada hiasan apa pun, apa lagi kursi untuk duduk. Dia hanya duduk di karpet saja, tapi terasa nyaman meski hanya duduk di bawah.


Tak lama Najwa datang membawa nampan berisi air minum dalam gelas dan juga goples berisi makanan kue kering. Dia letakkan di depan perempuan yang sampai sekarang Najwa masih bingung siapa dia.


"Emm, maaf. Mungkin saya pernah lihat mbaknya, tapi lupa. Dengan siapa ya ini?" tanya Najwa tersenyum ramah.


"Ooh, saya Mala mbak." jawab perempuan itu yang ternyata adalah Nirmala.


"Mala?"


"Iya, Nirmala. Istrinya mas Azam." jawab Mala dengan pasti.


Najwa terkejut, dia menatap gadis itu. Senyum Mala masih mengembang, tangannya juga masih memegangi perutnya. Najwa menunduk, lalu tersenyum bingung. Kenapa Mala tahu rumah kontrakan suaminya itu?


"Oh, istrinya mas Azam." kata Najwa.

__ADS_1


"Iya mbak. Mau silatirahmi aja dan ingin tahu lebih dekat mbak Najwa, mantannya mas Azam. Maaf kalau saya bicara seperti ini." kata Mala.


"Oh ngga apa-apa." kata Najwa kini lebih santai, meski dia juga heran kenapa Mala datang padanya.


"Emm, saya banyak tahu tentang mbak Najwa dari bi Darsih. Mbak Najwa orangnya baik dan juga sholehah, saya juga tahu kalau mbak Najwa sudah menikah dengan sahabat mas Azam." kata Mala lagi.


"Ya, benar."


"Daan, ... Saya juga tahu tujuan mas Azam menikah dengan saya itu karena kontrak pernikahan." kata Mala dengan suara berat.


Najwa diam, memang semuanya tahu apa tujuan dia menikah dengan Arsyil. Dan Azam menikah dengan Mala, bukankah memang perjanjian akan sebentar lagi habis?


"Lalu, apa yang membuat mbak Mala datang ke rumah suamiku ini untuk menemuiku?" tanya Najwa.


"Saya itu datang ke rumah abahnya mbak Najwa, minta alamat rumah mbak Najwa yang sekarang. Dan alhamdulillah ketemu juga." kata Mala lagi.


"Lho, mas Azam juga tahu kok alamat rumah ini." kata Najwa membuat Mala kaget.


"Jadi, mas Azam datang kesini?" tanya Mala penuh kekagetan.


"Ya, tapi waktu itu saya tidak ada. Cuma suami saya yang menemuinya." kata Najwa menjelaskan pada Mala agar tidak kesal.


"Ooh, begitu."


Keduanya diam, Mala mengambil gelas yang di sediakan oleh Najwa tadi. Menenangkan hatinya, dia berpikir harus selesai hari ini. Karena tidak ada waktu lagi.


"Maaf, saya haus mbak. Jadi habis minumnya, heheh." kata Mala tertawa kecil.


"Ngga apa-apa, nanti kalau haus lagi saya ambil minum lagi di belakang."


Mala tersenyum, dia mengangguk saja. Keduanya kembali diam. Mala bingung mau bercerita dari mana untuk membicarakan pada Najwa.


"Mbak, apa masih mencintai mas Azam?"


_


_


*************

__ADS_1


__ADS_2