
Arsyil tercekat mendengar jawaban Najwa, keduanya masih saling menatap. Najwa mendekati Arsyil, ingin dia memeluk laki-laki yang selama ini di rindukannya. Tapi status mereka adalah mantan istri dan mantan suami.
Lama mereka hanya diam saja, Arsyil pun tersenyum kaku. Dia tidak menyangka Najwa ada di hadapannya dengan wajah yang tampak senang.
"Abang ngga mau ajak aku masuk ke dalam?" tanya Najwa memecah kebisuan di antara mereka.
"Oh iya dek, aku buka dulu kunci rumahnya." kata Arsyil semakin gugup.
Dia mengambil kunci rumahnya dan segera membuka pintu rumah itu. Di belakangnya Najwa sudah menunggunya, Arsyil menoleh ke belakang. Mempersilakan Najwa masuk ke dalam rumah.
"Masuk dek." kata Arsyil.
"Iya bang." ucap Najwa tersenyum.
Dia berjalan masuk ke dalam rumah, berdiri menatap sekeliling rumah. Masih sama suasana rumah ketika dia datang dengan Arsyil sewaktu ayahnya meninggal.
Arsyil menatap Najwa, rasa rindunya kini terobati dengan kedatangan gadis itu. Dia menunduk dan menarik napas panjang, apa yang dia rasakan tidak bisa di keluarkan begitu saja. Karena dia bukan siapa-siapa Najwa lagi, hanya mantan saja statusnya.
"Adek duduk dulu, abang mau ambilkan minum dulu." kata Arsyil.
"Iya bang."
Najwa duduk di kursi tamu, sedangkan Arsyil masuk ke dalam mengambil minum untuk Najwa. Dadanya bergemuruh, sejak tadi dia tahan. Rindu yang menggebu pada perempuan di depan itu.
"Ya Allah Tuhan, kenapa dia hadir lagi. Aku ingin melupakannya, tapi kenapa dia datang kemari." gumam Arsyil dalam diamnya.
Arsyil menarik napas panjang, lama dia berdiri mencoba menetralkan hatinya yang bergemuruh itu. Ada rasa senang dan bahagia bisa bertemu dengan Najwa lagi. Tapi kemudian dia kecewa, karena sekarang Najwa bukan lagi istrinya.
Setelah hatinya sudah tenang, dia menuangkan air putih ke dalam gelas. Lalu membawanya ke depan, di suguhkan pada Najwa yang sedang duduk menunggunya.
"Maaf dek, airnya bening." kata Arsyil menyuguhkan di depan Najwa.
"Ngga apa-apa bang, air putih juga bisa menghilangkan dahaga kok. Adek minum ya?" kata Najwa.
"Ya, silakan." kata Arsyil kaku.
Najwa pun mengambil gelas di depannya, menenggak isinya sampai habis. Membuat Arsyil tersenyum sendiri melihat Najwa begitu kehausan ternyata.
"Adek haus ya? Mau abang ambilkan lagi?" tanya Arsyil.
"Sudah bang, cukup. Terima kasih." kata Najwa.
__ADS_1
Diam, keduanya kembali diam. Saling menatap, lalu berpaling ke arah lain karena malu. Najwa menunduk, sedangkan Arsyil membuang wajah ke arah lain. Tapi kemudian dia melihat di atas meja ada kotak makan, alisnya berkerut. Ingin bertanya tapi dia ragu.
"Abang pindah rumah ya kesini?" tanya Najwa memecah kesunyian di antara mereka.
"Iya dek, dari pada kosong. Lebih baik pindah kesini, meski jauh tempat kerjanya." jawab Arsyil.
"Iya sih, dua kali adek datang ke rumah kontrakan itu. Adek kira abang masih tinggal di rumah kontrakan itu, ternyata sudah pindah kesini." kata Najwa.
"Adek kesana? Mau apa?" tanya Arsyil kaget.
"Mau ketemu abang." jawab Najwa menatap Arsyil.
Matanya berbulir hampir jatuh, tapi kemudian dia menunduk. Tangannya mengusap matanya, Arsyil diam. Lagi-lagi dia tercekat mendengar jawaban Najwa.
"Adek rindu sama abang, hik hik hik."
Tangis Najwa pecah, dia tidak bisa menahan tangisnya. Membuat Arsyil semakin trenyuh dan hanya diam saja.
"Jangan rindu sama abang dek, adek sudah tidak boleh merasakan rindu sama abang. Adek mau menikah dengan Azam kan, jangan seperti itu." kata Arsyil.
"Kata siapa aku mau menikah sama mas Azam?" tanya Najwa dengan mata yang sudah basah air mata.
"Ngga bang, aku menolaknya." kata Najwa.
Arsyil diam, dia menatap Najwa. Kaget sekaligus heram, kenapa Najwa menolaknya.
"Tapi Azam bilang kemarin sama abang dia akan menikahimu secepatnya dek. Dia juga bilang kamu ingin menunda pernikahannya karena ingin tenang dulu. Katanya adek mau menunggu cerai dengan istrinya, baru adek mau menikah dengan Azam." kata Arsyil.
Najwa menarik napas panjang, dia memejamkan matanya. Rasa pusing mendengar ucapan Arsyil itu membuatnya kesal sekali, kenapa Azam mengatakan kebohongan pada Arsyil.
"Adek sudah bicara sama mas Azam, dan adek menolaknya. Adek mau kembali sama abang, adek cinta sama abang." kata Najwa dengan jelas agar Arsyil tahu kalau dia menolak Azam karena dirinya.
Arsyil kini yang menundukkan kepalanya, rasanya dia ingin meloncat memeluk Najwa. Tapi pikirannya masih ingat dengan ucapan Azam kemarin. Seperti sungguh-sungguh ucapan Azam di ingatan Arsyil.
"Dek, terima kasih. Tapi abang tidak bisa, Azam sangat mencintai adek dengan tulus. Dia mau melakukan apa saja untuk bisa menikahi kamu dek. Abang ini siapa? Hanya sebatas suami selingan, abang tidak bisa menerima adek lagi. Maaf." ucap Arsyil.
Air mata Najwa meleleh, dia terisak mendengar ucapan Arsyil yang begitu menyakitkan baginya. Kenapa dia di tolak oleh laki-laki itu.
"Hik hik hik, cinta tidak bisa di paksa bang. Adek sekarang mencintai abang, adek ingin kembali sama abang. Ingin rujuk, abah dan umi juga sudah setuju. Kenapa abang masih memikirkan mas Azam? Bukankah lebih baik memikirkan perasaan abang sama adek? Adek kecewa sama abang!" ucap Najwa, air matanya terus meleleh tak terbendung.
Dia menatap Arsyil lekat, mencari kebenaran di mana mata laki-laki itu penuh kerinduan dan cinta untuknya. Arsyil menunduk, menarik napas panjang. Dia bingung dengan situasi seperti itu, ingin rasanya dia menyambut permintaan Najwa. Tapi rasanya tidak tega mengingat betapa pilunya Azam ketika bercerita padanya tentang Najwa.
__ADS_1
"Maafkan abang dek." ucap Arsyil lirih.
Najwa masih diam, tiba-tiba dia berdiri. Hatinya benar-benar kecewa dan kesal pada Arsyil. Kenapa dia mementingkan sahabatnya dari pada cintanya pada Najwa.
"Abang mau adek terus menjanda?"
"Dek. Bukan begitu."
"Kalau begitu, berarti abang mau adek terus menjanda. Baik, adek mau menjada terus selamanya!"
Setelah mengatakan itu, Najwa melangkah keluar. Dia pergi meninggalkan Arsyil yang sedang kalut dan bingung dengan keadaan yang tidak terduga itu. Pikiran Arsyil kacau, dia benar-benar marah pada dirinya yang telah membuat Najwa menangis untuk kedua kalinya.
"Mas Arsyiil! Tolong!"
Teriakan seorang perempuan di luar membuat Arsyil terkejut. Dia bangkit dari duduknya dan keluar menghampiri asal suara. Dia terkejut melihat Najwa terkulai pingsan di depan perempuan yang tadi berteriak itu.
"Masya Allah, dek Najwa!" ucap Arsyil panik.
Dia melihat Najwa pingsan, dia khawatir apakah Najwa pingsan karena dia tadi mengatakan hal yang menyakitkan hatinya.
"Mas, bawa saja ke bidan dekat rumah pak Sanip itu." kata ibu tadi yang berteriak.
"Tapi itu bidan bu, bukan dokter." kata Arsyil masih panik melihat keadaan Najwa.
"Tapi bidan itu juga bisa memeriksa orang sakit kok, ada plangnya di sana dia bisa mengobati orang sakit juga. Bukan orang melahirkan saja, sudah mas. Jangan banyak berdebat, segera bawa mbak ini ke bidan dekat rumah pak Sanip itu." kata ibu-ibu itu tidak sabar.
"Iya bu, pintu rumah belum di tutup."
"Biar ibu saja yang tutup. Mas Arsyil cepat bawa mbaknya ke bidan, takutnya kenapa-kenapa mbaknya." kata ibu tetangga Arsyil lagi.
"Iya bu. Terima kasih, saya akan bawa ke bidan saja."
"Ya. Cepat."
Arsyil pun membopong Najwa dengan hati-hati, terasa berat dia rasakan. Tapi dia cepat membawa Najwa ke bidan yang di tunjuk oleh ibu tadi, berjalan cepat dengan menggendong Najwa.
_
_
******************
__ADS_1