
Esok harinya, Mala pun bersiap untuk pulang ke rumah. Dia menunggu Azam menjemputnya, saat ini bi Darsih tidak menungguinya karena sedang beres-beres rumah dan kamar yang di tempati Mala.
Jadi, dia hanya di temani kakaknya Ridho. Ridho sendiri sedang gelisah karena sejak tadi dia di telepon terus oleh sekretarisnya.
"Bang, mau kembali ke kantor lagi?" tanya Mala.
"Iya, ada meeting dengan investor baru dari Bali. Abang tidak mau melewatkannya, karena sudah janji bertemu jam tiga sore. Ini sudah jam setengah tiga, kok suamimu belum juga datang sih." kata Ridho.
"Ya sudah, abang kembali ke kantor saja. Biar aku menunggu mas Azam jemput." kata Mala.
"Tapi abang ngga yakin kamu di jemput, dia kadang suka seenaknya aja." kata Ridho.
"Udah bang, pergi aja sana. Kalau mas Azam ngga jemput ya aku pakai mobil taksi, gampangkan."
"Masa naik mobil taksi, ya udah sekarang aja abang antar kamu pulang."
"Nanti mas Azam kesini bagaimana?"
"Ya usah ngga apa-apa, dia juga lagi sibuk mungkin." kata Ridho lagi.
"Ck, abang jangan begitu. Kalau mau pergi ke kantor ya pergi aja, udah sana. Nanti di telepon lagi sama sekretarisnya." ucap Mala lagi.
Ridho mendengus kasar, dia ingin menelepon Azam agar cepat menjemput Mala. Tak lama, ponselnya berbunyi lagi.
"Tuh kan. Udah sana pergi, jangan pikirkan aku bang. Aku baik-baik aja kok." kata Mala.
"Ya udah, abang pergi. Kamu jaga baik-baik ya." ucap Ridho.
"Iya."
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Ridho pun pergi, Mala menarik napas panjang. Dia duduk bersandar di bangsalnya. Selang infus belum di lepas. Menunggu suster datang melepas sesuai prosedur administrasi.
_
Najwa merapikan perabot dapur yang kemarin di ambil dari rumah kontrakan. Kebetulan sekali rumah itu sudah habis masanya. Jadi memang harus di ambil barang-barang yang masih tertinggal.
Arsyil dan Najwa sibuk membereskan rumah, dia juga menyuruh orang untuk mengecat rumah pak Marwan yang kini sudah jadi milik Arsyil.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Suara salam dari luar membuat Najwa menghentikan kegiatannya membereskan bagian dapur. Dia melangkah menuju pintu depan, dan membukanya.
"Waah, bu Sri. Silakan masuk bu." kata Najwa dengan senyum ramah.
"Iya mbak, sedang sibuk ya?" tanya bu Sri.
__ADS_1
"Lagi beres-beres dapur aja, kemarin baru di ambil waktu masih di kontrakan itu belum di bawa, jadi lagi beres-beres di dapur." jawab Najwa.
"Oh ya, ibu bisa bantu?" tanya bu Sri.
"Sudah mau selesai kok, cuma menyimpan bagian piring-piring saja. Ada apa ya bu Sri kemari?" tanya Najwa.
"Ngga, barangkali mbak Najwa butuh bantuan, jadi ibu kemari. Kalau sudah selesai ya, ngga apa-apa."
"Iya bu, sudah selesai. Kemarin baru selesai di cat, bang Arsyil yang sudah beresin semua tadi pagi."
"Ya sudah, ibu pulang lagi."
"Lho. Buru-buru bu?"
"Iya, oh ya. Ibu mau kasih tahu, itu sayurnya sebentar lagi panen lho mbak. Yang dua bulan lalu di tanam sama pak Marwan." kata bu Sri lagi.
"Ya, besok di panen bu. Dan saya juga nanti minta bantuan bu Sri untuk panen sayurnya."
"Iya mbak, siap. Kalau begitu, ibu pulang lagi. Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Bu Sri pun pulang lagi setelah mengobrol sebentar dengan Najwa. Najwa mengantar sampai depan pintu, dia melihat motor suaminya memasuki halaman. Ibu Sri menyapa sebentar, dan Arsyil tersenyum.
Arsyil pun masuk ke dalam rumah, Najwa mencium tangan suaminya itu. Arsyil senang, pulang dari percetakan ada yang menyambutnya seperti dulu.
"Tadi bu Sri mau apa kesini dek?" tanya Arsyil melepas tas ranselnya.
Dia membawanya masuk ke dalam kamarnya, di susul oleh Arsyil. Sampai di kamar, Najwa menyimpan tas ransel di tempatnya semula.
Arsyil pun mendekat dan memeluk Najwa dari belakang. Mencium pipinya, tangannya mengelus perut Najwa. Nahwa tersenyum dia senang sekali dengan suasana seperti itu.
"Abang sayang banget sama adek." ucap Arsyil di telinga Najwa.
"Adek juga bang." ucap Najwa.
Keduanya saling berpelukan, saling mencium. Ciuman yang tidak mengandung gairah. Hanya sebuah ungkapan hati yang sedang menikmati kebahagiaan dari perasaan cinta masing-masing.
Arsyil melepas ciumannya, dia menatap lembut Najwa. Mengusap wajah ayu itu dengan tangannya. Najwa tersenyum, dia mengecup beberapa kali bibir Arsyil. Membuat laki-laki itu tertawa kecil karena gemas dengan tingkah istrinya.
"Kok abang jadi makin cinta ya, adek tambah menggemaskan." kata Arsyil.
"Sama bang." ucap Najwa.
"Sama ya?"
"Iya. Kenapa?"
" Emm, ini jam berapa?" tanya Arsyil masih tersenyum.
"Emm, baru jam tiga. Oh ya, kok abang pulang cepat ya? Kenapa?" tanya Najwa jadi heran.
__ADS_1
"Abang selalu kangen sama adek, pengennya cepat pulang." jawab Arsyil.
Tangannya masih membelai pipi Najwa, mengecup lagi bibirnya. Najwa memejamkan matanya, membuat Arsyil semakin tertawa.
"Hahah!"
"Ih, kenapa abang jadi tertawa sih?" kata Najwa merajuk manja.
"Abang tambah gemas kalau adek begitu, jadi pengen makan adek." kata Arsyil.
"Memangnya adek makanan?"
"Iya, makanan abang setiap hari, setiap waktu, setiap detik." ucap Arsyil.
Dia mulai mencium kembali dengan lembut, ada rasa ingin mencumbu istrinya itu. Dia menyntuh setiap inci wajah Najwa dengan lembut dan pelan, Najwa kembali terpejam. Mereka kini akan menyelami manisnya sebuah perasaan yang akan mengungkapkan dengan gairah yang ada.
Waktu berjalan melambat, memberikan jalan bagi kedua sejoli yang sedang meneguk manisnya sebuah cinta yang menyatu. Menyampaikan kerinduan hati untuk saling menyentuh dengan perasaan masing-masing.
Kini mereka sudah beralih di atas ranjangnya, tanpa melepas apapun dari paguatan bibirnya. Tapi tiba-tiba suara dari dalam perut Najwa dan Arsyil berbarengan menghentikan keduanya.
Keduanya melepas pagutan bibirnya, saling menatap lalu tertawa lucu.
"Adek lapar?" tanya Arsyil.
"Abang juga lapar tuh." kata Najwa.
"Hahah!"
Tawa mereka pun akhirnya mengakhiri kemesraan yang sebentar lagi akan meneguk manisnya sebuah percintaan.
"Kita makan sama-sama yuk, dari pada perut protes lagi." kata Arsyil.
"Iya, kayaknya ini si bayi deh bang pengen makan. Soalnya tadi siang adek udah makan, kok lapar lagi sih." kata Najwa.
"Mungkin dia ngga mau mamanya capek sebelum isi perut." kata Arsyil.
Mereka pun turun dari ranjang, lalu melangkah keluar dari kamarnya menuju dapur. Najwa sudah memasak sejak siang tadi, dia menyiapkan makan untuknya dan suaminya.
"Abang ngga makan di percetakan?" tanya Najwa.
"Ngga, pikiran abang lari ke adek aja. Kangen terus sama adek." jawab Arsyil.
"Ish, terus adek harus ikut ke percetakan gitu?"
"Ya ngga, cuma kali ini aja abang kangen banget sama adek. Mau telepon adek, ponselnya habis baterainya. Lupa bawa chargernya, ya udah abang pulang aja." kata Arsyil.
Najwa tersenyum dia duduk di depan suaminya. Mereka sama-sama makan dengan santai. Makan sambil mengobrol, membuat mereka semakin akrab dan mesra.
_
_
__ADS_1
*******************