
"Dek, maafkan abang. Abang tidak mau adek kenapa-kenapa, rasanya sakit hati abang melihat adek begini karena abang." ucap Arsyil sepanjang jalan membawa Najwa ke rumah bidan yang di tuju.
Lama Arsyil menggendong Najwa, meski susah payah dia membawanya dalam keadaan panik. Akhirnya dia sampai juga di depan rumah bidan, ibu yang tadi membantu Arsyil pun ikut datang untuk mengetahui kondisi Najwa.
"Bu bidan, tolong bu. Ada orang pingsan!" teriak ibu itu membantu Arsyil.
"Ada apa bu Sri?"
Seorang bidan cantik tergopoh keluar menemui Arsyil dan ibu Sri tadi.
"Ini bu, ada mbaknya mas Arsyil pingsan. Tolong di periksa bu bidan." kata bu Sri ikut panik melihat Arsyil terlihat kepayahan menggendong Najwa.
Sejak tadi Arsyil diam saja menatap wajah Najwa yang masih terpejam dan lemas. Wajah paniknya melihat Najwa terkulai itu benar-benar membuat hatinya sedih.
"Ayo mas, bawa masuk ke dalam saja." kata bidan itu.
Arsyil pun membawa Najwa ke dalam ruangan pemeriksaan. Najwa di baringkan di bangsal, dia masih terkulai lemas. Bidan tadi mengambil stetoskopnya lalu memeriksanya pada Najwa.
Semua dia periksa, memegangi perutnya yang terlihat sedikit membuncit. Arsyil hanya melihat semua yang di lakukan bidan pada Nawja. Hatinya masih takut terjadi sesuatu pada Najwa.
"Bagaimana bu bidan? Apakah dia baik-baik saja atau ada yang di rasakan sama dia?" tanya Arsyil tidak sabar ingin memgetahui keadaan Najwa secepatnya.
"Tidak apa-apa sih mas, mungkin dia kelelahan dan lapar. Dan mungkin juga karena banyak pikiran, suruh di jaga saja kandungannya jangan sampai terjadi apa-apa. Nanti saya beri vitamin saja ya mas." kata bidan cantik itu.
"Apa bu bidan? Kandungan?" tanya Arsyil bingung.
"Iya. Mbaknya ini sedang hamil." jawab bidannya.
Arsyil tertegun, dia menatap bidan itu lalu pada Najwa. Dia tidak percaya dengan ucapan bidan tersebut.
"Apa bu bidan bisa menebak kehamilannya sudah berapa bulan?" tanya Arsyil tidak sabar.
"Sebentar ya mas, saya periksa dulu. Masnya bisa berbalik dulu ya, takutnya kelihatan auratnya." kata bidan itu.
Arsyil diam, tapi kemudian dia pun berbalik. Bukan apa-apa, dia juga malu melihatnya meski dia pernah melihat tubuh Najwa.
Dia hanya ingin meyakinkan dirinya, kalau Najwa hamil itu pasti dengannya. Tidak mungkin juga Najwa hami dengan siapa pun.
Bidan cantik itu pun memeriksa dengan menekan tangannya di perut Najwa. Lalu dia juga memeriksa dengan alat pendeteksi jantung bayi.
"Nah ini, detak jantungnya sudah kedengaran sih tapi masih lemah. Apa masnya dengar?" tanya bidan itu.
Darah Arsyil berdesir, tangannya mengepal. Senyumnya mengembang, dia berucap syukur jika Najwa benar hamil anaknya. Dia menunduk dan menengadahkan tangannya berdoa dan mengusap ke wajahnya.
"Apa sudah selesai bu bidan?" tanya Arsyil.
"Sudah. Kira-kira sudah sepuluh minggu ini tuh hamilnya, kalau tidak pingsan saya bisa tanya kapan terakhir menstruasi. Pasti ketahuan berapa minggu hamil mbaknya ini." kata bidan lagi.
Arsyil pun berbalik, dia menatap Najwa yang masih terpejam matanya. Dia memegangi tangan Najwa, hatinya sudah mantap akan kembali pada Najwa. Kembali rujuk, dan berpikir Azam tidak akan bisa menikahi Najwa.
"Ini mas obat dan vitaminnya ya, suruh minum yang teratur. Jangan banyak gerak dulu, dan makan makanan yang sehat." kata bidan lagi.
"Iya bu bidan, terima kasih."
Arsyil mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya untuk membayar biaya pemeriksaan Najwa. Setelah bicara sebentar, Arsyil pun kembali membopong Najwa. Dia tidak mau Najwa di rumah bidan, meski bidan cantik itu melarang Najwa di bawa pulang sebelum dia sadar.
Saya bawa pulang ke rumah saja bu bidan, saya gendong dengan hati-hati kok." kata Arsyil.
__ADS_1
"Tapi berat mas, kasihan juga mbaknya." kata bidan itu.
"Tidak bu bidan, saya akan bawa hati-hati."
"Ya, baiklah. Terserah masnya saja."
Arsyil pun membopong Najwa dengan pelan. Dia berjalan pelan dan hati-hati, rasa bahagia akan kabar yang mengejutkan itu benar-benar membuatnya takjub. Sepanjag jalan Arsyil selalu berucap lembut pada Najwa yang masih terpejam.
"Maaf dek, abang janji akan jaga adek sampai melahirkan. Abang akan kembali lagi sama adek, abang juga cinta sama adek. Sangat mencintaimu dek." ucap Arsyil.
Sampai di rumah, dia langsung membaringkan Najwa di ranjangnya. Melepas sepatunya dan membenarkan posisinya dengan pelan agar Najwa tidur dengan nyaman.
Dia duduk di sisi ranjang, menatapi wajah Najwa lalu tangannya menyentuh pipi perempuan itu. Senyumnya mengembang, sangat bahagia Arsyil rasakan.
Kepala Najwa pun bergerak, tangannya memegangi pelipisnya. Lalu membuka matanya perlahan. Dia melihat wajah Arsyil yang tersenyum dengan menatapnya lembut.
"Abang, aku kenapa?" tanya Najwa masih memegangi pelipisnya.
"Kamu pingsan dek." jawab Arsyil.
"Pingsan? Kenapa bang?" tanya Najwa heran.
"Karena adek lelah, harus banyak istirahat." jawab Arsyil lagi masih dengan tatapan lembutnya.
Najwa takjub, tatapan Arsyil yang selalu di rindukan itu membuatnya sedih. Dia ingat tadi sebelum pingsan itu Arsyil menolaknya untuk kembali. Tiba-tiba dia beringsut lalu duduk, membuang muka ke samping menghindari tatapan Arsyil.
"Adek mau pulang bang." kata Najwa.
"Menginap saja di sini." kata Arsyil.
"Abang sudah ngga mau lagi sama adek, abang lebih mementingkan sahabat abang dari pada hati abang sendiri." kata Najwa.
"Ngga dek, abang terima. Abang terima permintaan rujuk adek." kata Arsyil..
Najwa terkejut, dia menatap Arsyil tidak percaya. Dia tidak percaya dengan ucapan Arsyil itu.
"Abang menerima adek? Benar itu bang?" tanya Najwa masih tidak percaya.
"Ya, abang terima. Karena di perutmu itu ada benih cinta abang." kata Arsyil dengan pelan dan lembut..
Agar Najwa mendengarnya dengan jelas. Tatapannya tidak lepas dari wajah perempuan itu. Begitu juga Najwa, tapi kemudian dia pun tersadar dengan ucapan Arsyil. Menunduk melihat perutnya lalu merabanya.
"Maksudnya, adek ha-mil?" tanya Najwa.
"Ya, hamil anak abang dek." kata Arsyil.
"Benarkah?!"
"Itu benar, adek sedang hamil anak abang sudah sepuluh minggu. Jaga dia ya, abang juga akan menjaga adek dengan baik." kata Arsyil lagi.
Tiba-tiba Najwa pun melonjak cepat memeluk Arsyil. Dia memeluk suaminya kini, mereka pun rujuk kembali. Najwa memeluk Arsyil dengan erat dan dia terisak bahagia, Arsyil membalas pelukan istrinya.
"Terima kasih sayang, dan maaf kalau abang membuat adek banyak pikiran. Membuat kamu sedih dan menangis." kata Arsyil.
Najwa melepas pelukannya, dia menatap suaminya kini. Senyumnya mengembang lalu dia pun mencari tasnya.
"Adek cari apa?"
__ADS_1
"Tasku bang, di mana?"
"Ada di meja, sebentar abang ambilkan."
Arsyil mengambil tas Najwa yang ada di meja, lalu menyerahkannya padanya. Najwa membuka tasnya dan mengambil ponselnya, lalu mencari kontak uminya. Arsyil hanya melihat apa yang di lakukan oleh Najwa.
"Halo umi, assalamu alaikum."
"Wa alakum salam, kamu sudah ketemu Arsyil?" tanya umi Dila langsung menanyakan tentang tujuannya.
"Sudah umi, dan kami sudah rujuk lagi. Abang sudah menerimaku umi." jawab Najwa menatap Arsyil yang tersenyum lalu menunduk malu.
"Alhamdulillah, besok kamu beritahu tetangga Arsyil ya. Kalau kalian dulu adalah suami istri dan berpisah dulu." kata umi Dila memberi saran.
"Iya umi. Nanti aku kasih tahu abang, dan umi akan dapat kejutan dari kami nantinya." kata Najwa dengan senyum bahagianya.
"Oh ya? Kejutan apa?"
"Besok aku pulang umi, kasih tahu kejutannya sama umi dan abah." ucap Najwa lagi.
"Kamu menginap di rumah Arsyil?"
"Iya umi, tidak apa-apa kan?"
"Ya, ini juga sudah malam. Kalau kalian benar rujuk kembali ya, tidak masalah. Asal kalian besok beritahu tetangga suamimu ya, agar tidak timbul fitnah nantinya."
"Iya umi."
"Umi sih cuma tidak mau kalian dapat fitnah nantinya, meski memang orang-orang tidak peduli. Tapi lebih baik cari saksi kalau kalian pernah menikah dan sekarang rujuk kembali." kata umi Dila di seberang sana.
"Iya umi. Kalau begitu, aku tutup teleponnya. Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Klik!
Najwa menutup sambungan teleponnya, dia letakkan ponselnya di meja. Menatap kembali pada Arsyil yang sejak tadi selalu memandanginya. Keduanya saling senyum, dan Najwa pun berucap dengan suara manja.
"Bang ..."
"Kenapa dek?"
"I love you."
"Hahah!"
_
_
\=>> duh, othor jadi baper.. 😉😄
\=>> yang ikut baper bolehlah kasih vote atau kopi sama othor, biar semangat updatenya...😋😅
_
***************
__ADS_1