Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
18. Kunjungan Abah Dan Umi


__ADS_3

Najwa diam saja melihat struk belanjaannya, dia tidak percaya akan habis enam juta membeli perlengkapan dapur itu. Mobil mereka melaju santai, Arsyil melihat istrinya hanya diam saja jadi heran.


"Sejak tadi kok diam saja dek, ada apa?" tanya Arsyil.


"Bang, belanjanya habis banyak banget. Apa itu terlalu boros ya?" tanya Najwa merasa bersalah.


"Ngga kok, abang masih banyak tabungannya. Sudah jangan di pikirkan, sudah di niatkan untuk beli perabotan rumah. Tuh di belakang abang beli tv buat hiburan kamu kalau abang kerja." kata Arsyil.


"Tapi kan ...."


"Jangan di pikirkan, rejeki itu akan datang lagi. Allah sudah atur semuanya." kata Arsyil.


Najwa masih diam, dia menoleh pada Arsyil. Lalu tersenyum, rasanya dia belum pernah belanja habis begitu banyak. Walau pun itu di izinkan oleh Azam dulu, tapi dia tidak pernah melakukannya. Mungkin itu hanya membeli perabot dapur, dia sangat senang jadi kalap untuk membelinya.


Sampai di rumah, Arsyil membantu membongkar belanjaan tadi dengan Najwa. Dia merasa puas dan senang bisa membuat Najwa senang dengan berbelanja barang-barang keperluan dapur.


Saat seperti ini akan jadi kenangan juga buatnya, kelak hal seperti ini akan dia kenang. Belanja bareng dengan istrinya, Najwa. Perempuan sholehah dan juga berpendidikan.


"Bang, sudah semua ya?"


"Iya, besok lagi saja dek di beresinya. Sekarang kamu pasti lelah, istirahat saja, dan ngga usah masak lagi buat makan malam. Abang nanti pesan di aplikas saja. Mandi aja, kan sebentr lagi maghrib." kata Arsyil.


"Iya bang, badanku juga udah lengket banget ini."


Najwa pun pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan segera mandi karena menjelang maghrib juga sekalian ambil air wudhu. Arsyil memasang TV yang tadi dia beli di supermarket, besok pagi dia akan memasang antenanya agar siangnya Najwa sudah bisa menonton TV agar tidak kesepian ketika di rumah sendirian.


_


Siang hari, Najwa sudah menyiapkan makanan dan buah untuk abah dan uminya yang berniat datang ke rumah kontrakan suaminya. Dia sudah beres-beres perabot yang kemarin dia beli, semuanya sudah tertata di dapur. Meski dapurnya sederhana, tapi sesuai dengan keinginan Najwa untuk menyimpan perabot dapurnya.


Pagi tadi, Arsyil memberinya ATM miliknya untuk keperluan rumah tangganya. Meski sebentar, tapi Arsyil ingin semua urusan rumah tangga di atur oleh Najwa dan dia yang membantunya. Awalnya Najwa menolaknya, tapi Arsyil memaksa. Dia mengatakan sebagai nafkahnya oada Najwa istrinya.


"Abang kasih buat nafkah kamu dek, meski cuma tiga bulan. Tapi tanggung jawab abang pada istri harus di jalani, gunakan saja uang yang ada di ATM sesuai keinginan kamu saja." kata Arsyil pagi tadi.


"Tapi bang, aku tidak butuh apa pun kok." kata Najwa berusaha menolaknya.


"Ngga apa-apa, mungkin sekarang tidak. Tapi kan masih ada waktu dua bulan dua puluh lima hari, gunakan saja. Abang ikhlas kok, itu nafkah buat adek." kata Arsyil.


Najwa pun akhirnya menerimanya, dan kini dia masih menyimpannya. Mungkin nanti dia akan menggunakannya jika memang dia butuh.


Tok tok tok.

__ADS_1


Suara ketukan pintu mengagetkan Najwa yang sedang bermain ponsel setelah selesai beres-beres dan masak makanan untuk menyambut abah dan uminya.


Najwa melangkah menuju pintu depan, dia membukanya dan tersenyum senang. Terlihat di depannya abah serta uminya berdiri.


"Assalamu alaikum, Najwa." ucap umi Dila memeluk anaknya..


"Wa alaikum salam umi. Aku kangen sama umi." kata Najwa menjawab salam uminya dan membalas pelukan uminya.


"Sama abah tidak kangen?" tanya abahnya.


"Ya kangen bah." jawab Najwa tangan menyalami abahnya.


"Abah kira kamu sudah lupa sama abah karena sudah punya suami lagi." kata abahnya.


"Ngga bah, Insya Allah."


"Arsyil kemana?" tanya umi Dila.


"Di percetakan bah, katanya akan pulang cepat hari ini."


"Oh begitu."


"Baik bah."


"Menurut kamu, dia laki-laki yang bertanggung jawab dan lembut?" tanya abah lagi.


"Iya bah."


"Lalu, kamu akan melanjutkan rencana sebelumnya?" tanya abah lagi.


"Belum tahu bah, kan baru satu minggu kok." kata Najwa.


"Tapi kelihatannya kamu senang dengan pernikahan ini." ucap umi Dila.


Najwa diam saja, dia mungkin sudah nyaman dengan Arsyil. Tapi belum bisa mengisi hatinya saat ini, mungkin nanti seiring berjalannya waktu. Karena dia merasa dekat dengan Arsyil masih sebatas partner saja.


"Najwa, abah harap jika waktunya selesai. Kamu pikirkan lagi, apa yang membuatmu bahagia. Kejarlah itu, umi sama abah hanya berharap kamu mendapatkan kebahagiaan selamanya bersama pilihanmu nantinya." kata abah.


Najwa diam saja, mereka bertiga duduk di ruang tamu. Umi Dila melihat sekeliling rumah, dia pun berdiri dan melangkah menuju dapur. Tampak dia heran dan takjub dengan perabot dapur semuanya baru.


"Najwa, sih deh." panggil umi Dila.

__ADS_1


Najwa pun menuju dapur, di mana uminya ada di sana. Entah mau memanggil anaknya itu.


"Ada apa mi?" tanya Najwa.


"Ini semua perabot baru ya?" tanya umi Dila.


"Iya mi, kemarin baru beli." jawab Najwa.


"Banyak banget, lengkap lagi. Semua di belikan Arsyil?" tanya umi Dila.


"Iya umi, aku kalap mi beli di supermarket. Itu juga sudah di kurangi, tapi bang Arsyil membolehkannya kok." kata Najwa.


"Ya ini berlebihan sih, tapi apa kamu tidak berpikir kalau pernikahan kalian nantinya akan berakhir dalam tiga bulan?"


"Iya mi, tapi bang Arsyil bilang nanti buat istrinya nanti kalau menikah lagi." kata Najwa.


"Sayang lho ya, tapi sudahlah. Umi sih berharap kamu sama Arsyil saja, Najwa." kata umi Dila.


"Umi."


Suara abahnya mengingatkan istrinya itu, dia menatap umi Dila lalu beralih pada anaknya.


"Kamu siapkan makanan, Najwa buat kami?" tanya abah.


"Iya bah, apa abah mau makan sekarang?" tanya Najwa.


"Tunggu suamimu pulang saja, abah mau tiduran di sofa. Rupanya di depan ada TV baru, abah mau nonton TV dulu." kata abahnya.


Umi Dila masih diam, dia menatap anaknya lalu tersenyum. Merasa bersalah pada anaknya yang sudah mendahului pendapatnya.


"Maafkan umi, sayang. Jangan pikirkan apa pun, yang penting kamu fokus pada tujuanmu untuk meraih cinta Azam lagi. Dan seperti kata abah tadi, kamu bisa menentukan kebahagiaanmu sendiri tanpa memikirkan kami dan juga suamimu Arsyil." kata umi Dila.


Najwa diam saja, belum juga satu bulan kenapa semuanya sudah goyah. Bahkan dia sudah mulai nyaman dengan Arsyil, hanya masih tidur terpisah saja.


Entah kapan mereka akan melakukan hubungan intim yang akan menyempurnakan hubungan mereka sebagai suami istri yang sah. Najwa masih belum berpikir kesana, masih ingin beradaptasi dengan suaminya itu.


_


_


********************

__ADS_1


__ADS_2