Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
72. Mala Menginap


__ADS_3

Mala mendapat kabar kalau Azam pulang di undur, dia ingin meminta izin pada suaminya kalau setelah empat puluh hari akan menginap di rumah abangnya.


"Apa?! Kamu mau ke rumah abangmu?" tanya Azam kaget.


"Iya mas, bang Ridho mengajak menginap di rumahnya. Katanya kak Selvi mau aku tinggal di sana selama mas Azam di luar kota." kata Mala.


Azam diam, dia rasanya ingin sekali bicara dengan Ridho. Tapi tidak bisa pulang cepat, karena ternyata perjanjiannya di undur dua hari lagi. Total dia keluar kota berarti lima hari.


"Mas, bolehkan?" tanya Mala.


"Ya sudah, mungkin kamu juga butuh penyegaran pikiran. Aku izinkan." kata Azam.


Dia khawatir juga mungkin Ridho akan menahan istrinya untuk pulang. Sungguh, saat ini dia ingin segera pulang. Tapi tidak bisa, biarlah nanti dia akan bicara dengan Ridho.


"Terima kasih mas, nanti kalau kamu mau pulang. Aku juga pulang kok." kata Mala memberi ketenangan agar suaminya itu tidak khawatir padanya.


"Ya, jaga diri di rumah abangmu." kata Azam akhirnya mengizinkan Mala pergi menginap di rumah abangnya.


Mala menutup sambungan teleponnya, dia merasa lega. Meski Ridho bilang jangan mengatakan pada Azam, tapi Mala tidak bisa begitu. Dia harus minta izin dulu pada suaminya, apa lagi pasca melahirkan dia harus pergi keluar dari rumahnya.


Kini dia bersiap untuk menyiapkan baju-bajunya serta baju Ameer yang akan di bawa ke rumah abangnya selama dua hari atau tiga hari.


Bi Darsih membantunya, dia melihat Mala sangat senang akan menginap di rumah abangnya besok pagi.


"Ibu mau menginap di rumah pak Ridho?" tanya bi Darsih.


"Iya bi, aku sudah izin sama mas Azam." jawab Mala.


"Memangnya mas Azam pulang kapan bu?" tanya bi Darsih lagi.


"Katanya di perpanjang di sana, jadi dua hari kemudian. Aku pulang mungkin dua hari kemudian sebelum mas Azam pulang." kata Mala.


"Bu, apa karena ini ada hubungannya dengan mas Azam?"


Mala diam, dia menoleh pada pembantunya itu lalu tersenyum. Mala tidak pernah menutupi rahasia apa pun pada bi Darsih, dia menganggap bi Darsih seperti ibunya yang selalu menasehatinya jika dia sedang sedih atau pun ingin sekali menyerah dengan sikap Azam.


"Mungkin bi, bang Ridho hanya ingin bicara dengan mas Azam. Itu jika aku ada di rumahnya, biar dia datang ke rumah bang Ridho." kata Mala.

__ADS_1


"Memang sih bu, mas Azam harus di beri kesempatan untuk memperbaiki. Dulu waktu awal menikah, bibi lihat ibu sama mas Azam terlihat harmonis. Mas Azam yang perhatian dan menyukai masakan ibu, tapi karena apa kok jadi berubah." kata bi Darsih.


"Karena perjanjian itu bi, sudah waktunya tiba. Mas Azam masih berharap mbak Najwa akan kembali padanya, dan lagi aku hamil. Makanya dia jadi berubah dan acuh padaku, mungkin saat itu semuanya tidak sesuai dengan rencana dia." kata Mala.


"Iya sih, mungkin itu juga. Tapi kok, mbak Najwa ngga mau ya sama mas Azam. Padahal mas Azam itu ganteng juga, mapan dan punya perusahaan." kata bi Darsih.


"Mungkin ada sesuatu perbedaan dengan suaminya sekarang bi." kata Mala menebak.


"Iya sih, suaminya mbak Najwa juga ngga kalah ganteng kok. Tapi dia kelihatan sopan banget, bibi pernah lihat waktu resepsi pernikahan itu."


"Aku koo ngga di undang ya waktu itu?"


"Mungkin menimbang ada mas Azam, bu."


"Benar juga."


Keduanya diam, mereka menerawang dengan pikiran masing-masing. Hingga suara tangisan Ameer pun membuyarkan mereka. Bi Darsih dengan sigap bangun dan segera mengambil Ameer dari boks bayi.


"Waah, kayaknya den Ameer lapar." kata bi Darsih.


Bi Darsih memberikan Ameer pada Mala, dia membuka baju bagian atasnya dan segera memberikan asi pada anaknya yang sedang kelaparan.


_


Dua hari Mala sudah berada di rumah Ridho, dia senang sekali bisa berada di rumah abangnya. Apa lagi kakak iparnya, Selvi juga sangat senang adik dari suaminya menginap di rumahnya.


"Waah, Ameer sudah gembul ya. Pasti minum asinya banyak banget." kata Selvi.


"Iya kak, dia kalau minum asi lama banget." kata Mala.


Selvi menimang bayi itu, dia sangat senang sekali. Karena dia juga sekarang sedang hamil muda, dia baru bisa hamil setelah melalui program hamil oleh dokter kandungan. Beruntungnya langsung berhasil, setelah dua tahun menikah dengan Ridho belum di karunia anak.


"Senangnya punya bayi yang cepat besar begini, enak di gendongnya. Kalau masih bayi merah, takut jatuh gendongnya." kata Selvi.


"Aku awalnya begitu kak, tapi bi Darsih memberitahu dan ajarin aku buat gendong Ameer biar ngga kaku. Kan setiap malam harus minum asi, jadi aku harus ambil sendiri dari boksnya." kata Mala.


Selvi tersenyum, mendengar Mala hamil, dia pun ingin juga punya anak dan konsultasi dengan dokter kandungan.

__ADS_1


"Sudah berapa minggu kak, hamilnya?" tanya Mala.


"Mau dua bulan berarti delapan minggu, kata dokter ngga boleh capek-capek dulu. Takut nanti janinnya lemah dan keguguran." kata Selvi.


"Iya kak, dulu aku sih ngga tahu kalau hamil. Eh, waktu itu pingsan jadi aku tahu dari sana kalau aku hamil." kata Mala.


"Beruntung kamu langsung hamil, Mala." kata Selvi.


"Aku ngga beruntung kak, aku ngga di cintai sama mas Azam." kata Mala menarik napas panjang.


"Jangan di pikirkan, dia pasti mencintaimu. Menurut kakak sih, abang bawa kamu ke rumah itu tepat. Biar Azam datang menjemputmu dan bicara sama bang Ridho. Kakak rasa memang mereka butuh bicara." kata Selvi lagi.


"Iya, tapi aku sudah izin sama mas Azam kalau akan menginap kesini. Dia mengizinkan, tapi kelihatannya berat."


"Ya, memang harus izin suamimu."


"Makanya aku bilang dulu, kalau tujuan bang Ridho bawa aku pulang kemari. Ya udah, pasti mas Azam datang jemput aku." kata Mala.


"Iya. Memang harus izin suami kalau mau pergi, apa lagi sekarang sih mudah mau memberitahu dengan menelepon."


"Tapi kok, dua hari aku di sini. Mas Azam belum menelepon ya, biasanya dia setiap mau magrib itu menelepon." ucap Mala merasa heran dengan suaminya.


Tiba-tiba dia merasa khawatir akan berubah lagi, raut wajahnya pun berubah. Selvi melihat perubahan wajah Mala, adik iparnya itu.


"Mungkin dia sibuk Mala." kata Selvi menenangkan adik iparnya itu.


"Iya kali kak." kata Mala menanggapi.


Tapi dia merasa khawatir juga, biasanya Azam menelepon dan video call dengannya untuk di tunjukkan Ameer padanya. Jadi terasa aneh kenala dua hari ini Azam tidak meneleponnya lagi.


Suara tangis Ameer membuyarkan pikiran Mala, Selvi yang sedang menggendong Ameer pun kini mengembalikan bayi yang berbobot lima kilo kini. Benar-benar gemuk tubuh bayi yang berusia empat puluh lima hari itu.


_


_


************

__ADS_1


__ADS_2