Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
84. Bekal Makan Siang


__ADS_3

Mala sedang memasak untuk bekal makan siang suaminya. Dia akan datang ke kantor Azam untuk memberikan makan siangnya.


Melirik ke arah jam di dinding, karena jam sebelas siang dia harus selesai memasak dan mengepak makanannya dalam kotak makan. Dan sebentar lagi semuanya selesai, bi Darsih membantu Mala di dapur agar semuanya cepat selesai.


Sesekali dia juga memberi makan Ameer karena Mala masih sibuk memasak. Dan satu jam setengah selesai juga memasak di dapur dan menaruhnya di kotak makan. Dia tinggal berganti pakaian saja dan berdandan sediikit agar tidak terlihat kusam setelah berkutat di dapur.


"Selesai bi, aku mau ganti baju dulu. Jaga Ameer sebentar bi, sekalian nanti masukkan perlengkapan buat Ameer di tas ya bi. Soalnya aku mau bawa Ameer ke kantor mas Azam, siapa tahu mas Azam suka bawa Ameer ke kantor." kata Mala.


"Baik bu." jawab bi Darsih.


Mala melangkah menuju kamarnya, mencuci wajahnya dan juga berganti pakaian. Tak lupa juga berdandan agar tidak terlihat kusam dan bau masakan.


Hanya butuh setengah jam Mala mempercantik diri untuk menemui suaminya. Setelah selesai dia pun langsung keluar dengan membawa tasnya.


Bi Darsih melihat Mala begitu cantik pun tersenyum, dia memuji Mala dalam hati kalau perenpuan itu memang cantik.


"Ibu cantik sekali, pasti mas Azam akan kaget dengan ibu dandan cantik begini." kata bi Darsih.


"Heheh, bi Darsih bisa saja. Semua perlengkapan Ameer sudah di siapkan ya bi?" tanya Mala.


"Sudah bu, tapi sedikit. Hanya pampers, satu celana dan minyak telon aja. Takut ibu bawanya repot, apa lagi bawa bekal kotak makan buat mas Azam juga." kata bi Darsih.


"Iya sih, ya sudah. Aku ngga bawa tas aja, bawa dompet aja di taruh di tas Ameer." kata Mala.


Dia mengambil dompetnya dan memasukkan ke dalam tas perlengkapan milik anaknya. Setelah selesai, dia mengambil Ameer dan menggendongnya. Mengambil kotak makan dari tangan bi Darsih.


"Aku pergi dulu bi, semoga mas Azam suka." kata Mala.


"Iya bu, semoga sukses ya." kata bi Darsih dengan senyum mengembang.


"Amiin."


_


Mala turun dari mobil taksi online, dia membayar taksi tersebut lalu melangkah masuk menuju gedung kantor di mana suaminya bekerja.


Dia melihat banyak sekali karyawan yang lalu lalang keluar masuk ke dalam gedung. Seorang satpam menghampiri Mala dan bertanya padanya.


"Selamat siang ibu, mau cari siapa?" tanya satpam dengan sopan.


"Emm, ini benar kantor pak Azam ya?" tanya Mala.


"Iya bu, ibu mau cari siapa?" tanya satpam lagi.


"Apa pak Azam ada ya di dalam?" tanya Mala.

__ADS_1


Satpam diam, dia memperhatikan Mala dari atas sampai bawah. Penampilannya sih rapi, tapi bawa bekal dan juga bayi. Lalu kenapa mencari pak Azam?


Begitu pikir satpam itu.


"Pak Azam itu pemilik kantor ini, ibu tahu itu?" tanya satpam.


"Tahu pak. Makanya saya tanya apa pak Azam ada di kantornya?"


"Coba tanya sama resepsionis. Dan ada urusan apa ibu mau bertemu dengan pak Azam?" tanya satpam lagi.


Mala diam, memang dia belum pernah datang ke kantor suaminya itu. Karena dia sendiri dulu tidak seperti sekarang yang, lebih perhatian. Jadi untuk datang ke kantor pun dia tidak pernah.


"Ya sudah pak, saya ke resepsionis saja." kata Mala.


Satpam hanya mengangguk saja, dia heran dengan Mala. Tapi dia tidak bisa mengusirnya, lagi pula nanti jika tidak di terima pasti pulang sendiri.


Mala berjalan masuk gedung, dia melihat lobi dan ada bagian resepsionis lalu bertanya.


"Permisi mba, pak Azam ada di kantor ya?" tanya Mala.


Resepsionis itu mengerutkan dahinya, meski perempuan yang membawa anak itu memang terlihat. Tapi kenapa bertanya tentang pak Azam.


"Mbak siapa? Kenapa cari pak Azam?" tanya petugas resepsionis.


"Emm, saya ingin bertemu pak Azam." jawab Mala.


"Saya Mala, Nirmala saya ini ...."


"Mala!"


Belum sempat meneruskan kalimatnya, suara panggilan pada Mala. Dia pun menoleh ke arah sumber suara itu, Mala tersenyum.


"Mas Azam." kata Mala.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Azam heran.


"Ini mas, aku bawa bekal makanan buat kamu." jawab Mala.


Azam diam, dia melihat petugas resepsionis menatapnya dan juga istrinya. Lalu menunduk setelah mendapat tatapan darinya.


"Ya sudah, ayo ke kantorku saja. Kenapa bawa Ameer juga?" tanya Azam.


"Takut lama mas, jadi aku bawa Ameer." kata Mala.


Azam mengambil Ameer dari gendongan Mala, mereka pun berjalan menuju lift. Semua mata memandang Azam dan Mala yang masuk ke dalam lift, merasa heran dan kaget dengan istri bosnya itu.

__ADS_1


Mala menoleh ke arah suaminya, dia melihat Azam begitu senang bermain dengan Ameer. Menciuamnya dan menggodanya hingga bayi laki-laki itu tergelak. Mala tersenyum, dia pun keluar lift mengikuti kemana suaminya melangkah.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh. Waktu makan siang sudah tiba, mereka pun masuk ke dalam ruangan kantor Azam. Mala melihat sekeliling ruangan, sangat nyaman dia pun duduk di sofa.


Meletakkan bekal kotak makannya di meja dan membukanya agar suaminya juga makan. Azam melihat kotak makan yang sudah terbuka, tiba-tiba perutnya lapar dan berbunyi.


"Kamu yang masak makanan ini?" tanya Azam duduk di samping Mala.


"Iya mas, sengaja datang bawa bekal makan siang buat mas Azam. Mau yang mana mas lauknya?" tanya Mala.


"Emm, semuanya deh. Kayaknya enak semua, ambilkan." kata Azam.


"Iya."


Mala pun mengambil nasi dan lauk pauknya, kemudian dia memberikan pada Azam. Tapi Azam meminta di suapi karena dia menggendong Ameer, Mala menggeleng lalu tersenyum. Rasanya menyenangkan membawa bekal makanan untuk suaminya di saat waktu jam makan siang.


Sampai makanan habis, Mala menyuapi suaminya sampai makanannya habis. Hingga gilirannya lapar dia pun makan juga, Azam melihat istrinya makan dengan lahap lalu tersenyun.


"Mala, terima kasih ya." kata Azam.


Mala menoleh, dia melihat suaminya masih menatapnya dan tersenyum.


"Iya mas. Dan aku juga minta maaf ya mas, mungkin begini saja yang bisa aku lakukan agar mas Azam tidak marah lagi sama aku." kata Mala.


"Ngga kok, aku cuma kesal aja kamu begitu." jawab Azam.


"Iya, lain kali aku ngga akan mengulanginya lagi." ucap Mala.


Azam pun tersenyum lalu mengangguk, dia mencium kening istrinya kemudian bermain lagi dengan anaknya.


Mala tertegun lama, kemudian melanjutkan mengunyah karena terkejut dengan apa yang di lakukan suaminya. Mencium keningnya, berarti hatinya sedang baik. Mala pun tersenyum, dia senang kini Azam tidak marah lagi padanya.


Benar apa yang di katakan Najwa dulu, Mala ingat ucapan mantan istri suaminya Najwa. Kemudian dia melanjutkan makanannya hingga habis. Waktu terus berjalan, Mala pun akhirnya pamit pulang. Mobil taksi sudah menunggunya di depan pintu gerbang kantor.


"Aku pulang ya mas." kata Mala.


"Ya, hati-hati."


"Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


_


_

__ADS_1


*************


__ADS_2