
Arsyil bersiap untuk pergi ke kantor polisi, dia mengeluarkan motonya. Najwa mengikutinya dari belakang, dia bingung sendiri.
"Bang, adek ikut dong ke kantor polisinya." pinta Najwa.
"Mau apa dek?"
"Ya, adek pengen tahu aja. Siapa yang tega membakar percetakan abang." kata Najwa.
Arsyil menatap istrinya, menarik napas panjang. Dia membawa istrinya masuk ke dalam rumah lalu memeluknya, menenangkan istrinya sebenarnya. Bahwa itu adalah urusannya, bukan urusan istrinya juga.
"Adek sabar ya, nanti abang kasih tahu kalau memang sudah benar pelakunya itu. Tapi, apa yang adek lakukan jika pelakunya sudah di ketahui?" tanya Arsyil.
"Ya ngga mau apa-apa sih, kesel aja bang." kata Najwa.
"Kok adek yang jadi emosian ya, harusnya abang nih yang kesal. Tapi abang udah ikhlas, sungguh. Adek juga harus ikhlas ya." kata Arsyil.
Najwa menatap suaminya, lalu menangguk pelan. Di tariknya napas panjang dan beristigfar, Arsyil tersenyum. Dia mengecup kening istrinya dan beralih pada bibirnya.
"Sudah ya, abang pergi dulu. Adek harus ikhlaskan semuanya, dan abang sudah punya pandangan ke depan mau melakukan apa. Nanti abang bicarakan dengan adek setelah pulang dari kantor polisi." kata Arsyil.
"Maksudnya bang?"
"Emm, kalau di ceritakan sekarang. Abang akan ketinggalan di kantor polisinya, jadi tunggu abang pulang dan kita diskusi sama-sama dengan rencana abang ini. Oke?" kata Arsyil mengerlingkan matanya dan tersenyum manis.
Membuat Najwa pun tersipu lalu tertawa kecil, rasanya dia selalu tidak bisa marah dan membantah suaminya karena perlakuan manis dan mesra itu. Meski dalam keadaan kalut dan sedih karena tempat usahanya terbakar. Tetap saja Arsyil bersikap tenang dan menenangkannya.
"Iya bang, kalau abang begitu. Mana bisa adek kesal sama abang." kata Najwa dengan senyum mengembang.
"Ya sudah, abang pergi dulu. Jaga diri di rumah ya, kalau abang lama sampai siang. Adek makan duluan aja." kata Arsyil.
"Iya bang, tapi adek tetap tunggu abang pulang dan makan siang bareng." kata Najwa.
Arsyil mengangguk, dia lalu keluar lagi mendekati motornya kemudian menaikinya. Dia melambaikan tangannya pada Najwa dan mengucapkan salam.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
_
Sesampainya di kantor polisi, Arsyil langsung menemui komandan yang bertugas mengusut masalah kebakaran percetakannya itu. Meski dia sudah mengikhlaskannya, tapi dia harus tahu siapa dalang di balik pembakaran percetakan itu.
"Selamat siang pak Arsyil." sapa komandan polisi dan menjabat tangan Arsyil.
"Siang juga pak Agus." jawab Arsyil.
"Duduk dulu pak Arsyil."
__ADS_1
Arsyil mengangguk, dia pun duduk berhadapan dengan komandan Agus. Komandan Agus mengambil berkas penyelidikan yang dia lakukan dengan anak buahnya. Lalu menjelaskan pada Arsyil secara detail dan jelas.
Arsyil sedikit terkejut dengan pernyataan komandan Agus, dia mendengarkan dengan serius apa yang di sampaikan oleh polisi tersebut.
"Kami sudah menemukan orang yang membakarnya itu, dan sudah kami awasi. Pak Arsyil pernah bilang kalau semuanya sudah di ikhlaskan, tapi ini tergantung anda. Jika anda mau mengusut tuntasnya, kami bisa meneruskannya. Tapi jika anda mau menemui sang pelaku, kami bisa mengantarnya ke tempat orang tersebut dan mengintrogasinya juga." kata komandan Agus.
"Bapak sudah menemukan pelakunya?"
"Iya. Dan saat ini dua polisi sudah ada di tempat orang itu." kata komandan Agus.
"Apa bisa saya bertemu dengannya? Saya ingin bertanya padanya, kenapa dia melakukannya." kata Arsyil.
"Tapi pak Arsyil, dia pelakunya. Kemungkinan ada yang menyuruhnya, dan itu yang perlu kita selidiki lagi. Karena dia tidak mungkin melakukan itu sendirian dan saya rasa dia tidak kenal pak Arsyil. Oh ya, mungkin juga itu persaingan bisnis atau ada sesuatu yang di inginkan dari tempat anda pak Arsyil." kata komandan Agus.
"Maksudnya, ada yang menginginkan tempat saya itu?" tanya Arsyil.
"Betul sekali, dan jika tempat anda sudah rata seperti itu. Mungkin ada yang menawar tempat anda. Anda bisa mengingat siapa saja yang datang ke percetakan anda untuk menawar tempat anda itu." kata komandan Agus lagi.
Arsyil pun mengingat-ingat. Memang ada yang datang, tapi dia tidak tahu siapa, lagi pula itu sudah dua bulan lalu.
"Memang dulu ada pak, tapi saya tidak menggubrisnya. Kupikir apa itu bisa terjadi?"
"Bisa saja."
"Lalu, apakah bisa mengarah ke orang yang pernag datang menawar tempat percetakan itu pak?"
"Baiklah, saya setuju untuk menemui pelaku itu. Saya juga ingin tahu siapa dalang pembakaran percetakan milik saya." kata Arsyil.
"Kalau begitu, mari ikut saya. Saya juga akan menangkapnya juga, tapi dengan keputusan anda. Apakah dia akan di usut atau anda mau memaafkannya dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Tapi, menurut saya itu anda bisa membuat laporan penuntutan pada pelaku dan juga dalangnya." kata komandan Agus.
"Iya pak, saya akan ambil keputusan setelah tahu siapa dalangnya." kata Arsyil.
Komandan Agus pun membawa Arsyil menuju tempat di mana pelaku pembakaran itu berada. Dia sudah di awasi oleh polisi agar tidak bisa kabur setelah tahu dirinya menjadi target.
Arsyil menaiki motornya, dia mengikuti mobil di depannya menuju tempat di mana pelaku berada. Dia penasaran juga siapa pelakunya dan pelaku utamanya. Atau dalang pembakaran itu, karena sejauh ini dia tidak punya saingan apa lagi musuh dalam bisnis percetakan.
Bahkan dia mengenal baik pemilik percetakan di wilayah kota di mana pun. Dia tidak susdzon sama pemilik percetakan siapa pun, karena dia yakin rejeki orang itu sudah ada yang mengaturnya.
Satu jam perjalanan, motor masih mengikuti mobil polisi di depan. Mereka memasuki gang perumahan yang lumayan padat, ada gang sempit juga. Sehingga tidak bisa di lewati oleh mobil. Hanya motor Arsyil yang bisa lewat ke gang tersebut.
Sesampainya di rumah kecil, tampak dua orang polisi yang sedang menyamar sambil mengawasi rumah kecil itu.
"Apa rumah itu yang di tempati pelakunya pak?" tanya Arsyil.
"Iya, dia ada di dalam dan tidak berani keluar dari rumahnya." kata polisi yang menyamar itu.
"Ternyata lebih tidak mampu dari saya." gumam Arsyil.
__ADS_1
Dia pun berjalan menuju rumah kecil itu, dengan dua polisi. Salah satunya komandan Agus tadi. Mereka mengetuk pintu, dan tak lama pintu terbuka. Tampak seorang perempuan berdiri sedang hamil tua menatap satu persatu tamu di depannya.
Arsyil jadi tidak tega jika memang suami perempuan yang sedang hamil tua itu adalah pelakunya.
"Kami mencari suami ibu, apa ada?" tanya komandan Agus.
"Ada di dalam pak, ada apa ya?" tanya perempuan itu heran.
"Bisa di panggilkan?" tanya komandan Agus.
"Bisa."
Perempuan hamil itu pun masuk lagi, dia memanggil suaminya yang sedang tidur di kamar. Lama mereka tidak juga keluar, hingga komandan Agus masuk dan menemui mereka di dalam.
Tampak seorang laki-laki ketakutan melihat siapa yang datang itu. Dia mau bersembunyi, tapi di tahan oleh komandan Agus.
"Kami mau bicara saja mas, jangan takut." kata komandan Agus.
"Ampun pak, maafkan saya." kata laki-laki itu.
"Kita bicara di depan ya. Masnya bisa bicara tentang kebakaran percetakan itu." kata komandan Agus.
"Tapi, saya hanya di suruh."
"Ya saya tahu. Makanya saya minta keterangan dari masnya, kalau mau kooperatif. Maka hukumannya akan ringan." kata pak Agus lagi.
Laki-laki itu pun menurut, dia pun keluar dan duduk di teras. Arsyil menatap iba pada laki-laki itu, melirik istrinya yang juga ketakutan suaminya di tangkap oleh polisi atas perbuatannya.
"Coba ceritakan siapa yang menyuruh anda untuk membakar percetakan pak Arsyil ini." kata komandan Agus menunjuk Arsyil.
Laki-laki itu menatap takut pada Arsyil, dia menunduk merasa bersalah. Tapi dia butuh uang untuk melakukan pembakaran itu.
"Sebenarnya saya butuh uang pak." kata laki-laki itu menunduk.
"Katakan saja siapa yang menyuruh masnya."
"Saya cuma di suruh."
"Iya tahu, siapa yang menyuruh mas membakar percetakan saya?" tanya Arsyil tidak sabar.
"Seorang perempuan yang menyuruh saya, tapi dia bilang, katanya yang menyuruh itu pak Azam."
"Apa?!"
_
_
__ADS_1
*********************