
Hari kedua Najwa kembali datang ke rumah kontrakan Arsyil. Masih sama seperti kemarin, hingga dia pulang sengaja lebih lama dari kemarin. Jam delapan dia baru pulang, sholat pun dia lakukan di masjid ujung jalan.
"Apa abang masih lembur ya?" gumam Najwa memegangi kotak makannya.
Hatinya benar-benar berharap bisa bertemu dengan Arsyil. Dia sangat merindukan sosok Arsyil yang lembut dan bersahaja, selalu membantunya dalam pekerjaan rumah dan juga sangat penyayang.
Tiba-tiba Najwa terisak, dia masih duduk di kursi teras rumah. Mengusap air matanya yang hampir menetes, hatinya sedih dan kecewa belum juga bertemu Arsyil.
Pukul delapan malam lebih dia akhirnya pulang juga. Dia merasa kecewa dua kali datang tidak juga bertemu Arsyil, pikiran Najwa sudah jauh kemana-mana.
Tapi kemudian dia ingat akan rumah ayah mertuanya. Apakah dia tinggal di rumah ayahnya?
"Aah benar, abang pasti tinggal di rumah ayah." ucap Najwa dengan ceria lagi.
Akhirnya dia pun pulang lebih dulu, dia akan datang ke rumah ayah Arsyil di waktu yang sama. Karena sudah pasti Arsyil ada di percetakan jika waktunya kerja. Dia akan datang membawa kotak makan seperti biasanya.
Senyumnya mengembang ketika pikirannya mulai di kuasai perasaan rindu dan tidak sabar ingin bertemu Arsyil.
Najwa pun pulang lagi ke rumah, besok dia akan pergi ke rumah ayahnya. Masih dengan perasaan penuh harapan dia akan bertemu dengan Arsyil, hatinya masih menggebu.
Dia sudah memesan taksi online, merebahkan punggungnya di jok mobil. Rasa lelah dan mata seperti berkunang, padahal dia hanya duduk saja di kursi di depan rumah kontrakan itu.
Di pejamkannya matanya, tangannya masih memegangi kotak makan yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya. Najwa membuka matanya, memandangi kotak makan di tangannya.
Membuka penutupnya, aroma lauk menguar di hidung Najwa. Tiba-tiba dia ingin makan masakan itu, tangannya mengambil satu buah cumi masak kecap lalu di makannya. Ternyata enak juga yang di rasa Najwa, dia pun makan lagi hingga tidak terasa cumi itu pun habis tanpa di makan dengan nasinya.
"Bu, sudah sampai." kata supir taksi itu.
"Eh, sudah sampai?"
"Ya bu."
Najwa pun mengambil uang dalam dompetnya lalu menyerahkannya pada supir taksi online itu. Setelah menyerahkan ongkos taksi, Najwa keluar dari mobil dan segera melangkah masuk ke dalam rumahnya.
_
"Umi, aku pergu dulu ya." kata Najwa menyalami tangan uminya.
"Katanya Arsyil tidak ada di kontrakan, kamu mau tunggu dia lagi di sana?" tanya umi Dila.
__ADS_1
"Ngga umi, tapi ke rumah ayahnya. Pasti abang di sana tinggalnya." jawab Najwa.
"Kenapa kamu baru kepikiran sekarang?"
"Aku pikir abang masih di sana umi, jadi aku tunggu di rumah kontrakan itu." ucap Najwa.
"Ya sudah, semoga berhasil ya. Dan mendapatkan apa yang kamu inginkan." kata umi Dila.
"Amiin umi, terima kasih. Aku berharap bisa bertemu abang saja dulu, umi." ucap Najwa.
Dia lalu pergi meninggalkan uminya, seperti biasa dia membawa bekal kotak makan untuk Arsyil. Segera dia naik ojek online setelah ojek itu berhenti di depan rumahnya.
Sesuai dengan tujuan yang sudah di pesan di aplikasi, Najwa merasa hari ini adalah keberuntungannya akan bertemu dengan Arsyil. Hatinya berdebar dan senyumnya mengembang, meski masih jauh perjalanan menuju rumah pak Marwan.
Suasana hati Najwa sedang bahagia karena dia akan bertemu dengan Arsyil. Ingin rasanya dia berdendang, tapi malu jika itu dia lakukan di sepanjang jalan menuju rumah pak Marwan. Dan akhirnya perjalanan pun sampai juga di depan rumah pak Marwan.
Tampak sepi rumah sederhana itu, Najwa turun dari motor dan membayar ongkos ojek. Dia melangkah menuju rumah itu, seperti biasa dia akan menunggu Arsyil pulang. Duduk di kursi teras dengan menatap sekeliling jalan.
Ada beberapa tetangga rumah pak Marwan yang heran pada Najwa duduk di teras. Dan ada juga ibu-ibu yang mendekat pada Najwa, bertanya ada keperluan apa.
"Mbak, cari mas Arsyil ya?" tanya ibu-ibu itu.
"Iya bu." jawab Najwa.
"Iya bu, saya tahu." kata Najwa.
"Jadi mbaknya mau menunggu?"
"Iya."
"Lama lho mbak."
"Ngga apa-apa, saya tunggu di sini." jawab Najwa dengan senyum ramahnya.
"Ya sudah, nanti kalau sampai magrib belum juga datang mas Arsyilnya. Mbak bisa datang ke rumah saya untuk sholat magrib ya, rumah saya ada di samping rumah pak Marwan ini." kata ibu-ibu itu.
"Iya bu, terima kasih." ucap Najwa lagi.
Ibu itu pun tersenyum dan pamit pergi lagi. Najwa mengangguk, dia duduk dengan tenang. Melirik jam di tangannya, masih pukul lima sore lebih. Dia berharap Arsyil datang tidak lama lagi.
__ADS_1
Hingga menjelang magrib, Arsyil belum juga muncul. Semakin bertambah waktu menit, Najwa semakin gelisah dan cemas. Apakah akan sama, dia akan gagal bertemu dengan Arsyil. Najwa menarik napas panjang, dia masih sabar menunggu.
"Aku harus sholat dulu, tadi ibu tadi memberitahu rumahnya di sebelah rumah abang. Aku mau ikut sholat magrib dulu saja, setelah selesai aku tunggu lagi di sini." ucap Najwa.
Dia pun beranjak dari duduknya, pergi ke rumah ibu tadi menyapanya. Dia akan sholat dan berdoa semoga hari ini bisa bertemu dengan Arsyil.
Najwa mengetuk pintu, dia melihat ibu tadi dan tersenyum. Dia bicara sebentar untuk izin ikut sholat di rumahnya. Najwa pun di suruh masuk dan segera mengambil air wudhu, dia tidak mau berlama-lama untuk mengobrol. Hanya ikut sholat saja dan langsung pergi lagi ke rumah Arsyil.
"Kok buru-buru sekali mbak?"
"Iya, soalnya takut kemalaman. Kalau abang, maaf bang Arsyil pulang malam saya bisa pulang dulu. Besok bisa kesini lagi." kata Najwa.
"Penting banget ya mbak sampai harus menunggu sampai malam begini?" tanya ibu itu.
"Ya ngga penting banget sih bu, tapi memang penting."
Najwa pun pamit, dia meninggalkan kotak makan di meja depan rumah. Dia berjalan cepat menuju halaman rumah pak Marwan, duduk lagi. Dia menarik napas panjang, masih sabar menunggu Arsyil pulang.
Perut Najwa terasa lapar, dia ingin makan. Tapi masih menunggu Arsyil pulang.
"Aku lapar, tapi tanggung abang pulang. Ini sudah pukul setengah tujuh. Apa dia akan lembur?" ucap Najwa melirik jam di tangannya.
Rasa lelah, lapar dan kecewa di hati membuatnya serasa lemas tubuhnya. Hatinya benar-benar sedih, untuk ketiga kalinya tidak juga bertemu dengan Arsyil.
Baru saja dia merasa sedih, sebuah motor memasuki halaman rumah pak Marwan. Najwa mendongak, hatinya bergetar melihat suara dan bentuk motor itu berhenti di depan halaman. Dia menatap laki-laki yang masih memakai helm, senyumnya mengembang.
"Abang." gumam Najwa penuh kerinduan.
Arsyil melepas helmnya, dia menoleh ke arah Najwa. Dia terkejut melihat perempuan yang sudah dia kembalikan ke rumah abahnya. Tatapanya beradu dengan Najwa, lama. Tubuhnya kaku melihat mantan istrinya ada di depannya.
Setelah sadar, dia mendekati Najwa. Menarik napas panjang lalu menunduk, kemudian dia menatap Najwa lagi.
"Adek datang kemari? Ada apa?" tanya Arsyil dengan suara pelan.
"Adek rindu bang."
"...?"
_
__ADS_1
_
*******************