Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
86. Bahagia Selamanya ( Tamat )


__ADS_3

Kehamilan Najwa kali ini berbeda dengan kehamilan anak pertamaya. Kali ini Najwa sangat manja pada Arsyil, dia sering sekali meminta makan di suapi. Padahal Arsyil juga kadang kerepotan dengan mengawasi Alief anak pertamanya yang sedang aktif sekali.


Tapi dia sabar menghadapi sikap manja istrinya itu, dia begitu ekstra sibuk sebelum kehamilan anak pertamanya. Karena sebelumnya, Najwa hanya pusing saja dan bisa melakukan aktivitas di rumah.


"Bang, belikan adek rujak manis dong. Enak deh kayaknya makan rujak manis yang pedas gitu sambelnya." kata Najwa pada suaminya.


"Beli di mana dek malam begini, semuanya tutup." kata Arsyil.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Najwa ngidam ingin makan rujak manis. Di mana orang menjual rujak manis malam begini, pasti kebanyakan penjual tutup karena sudah malam.


"Di mana kek, di cari bang." kata Najwa sedikit merajuk.


Arsyil menatap istrinya, rasa lelah yang sejak pagi tadi dia mengurus Alief dan juga harus ke kebun mengecek bibit yang mau di tanam. Dan sekarang istrinya minta di belikan rujak manis malam-malam.


"Bikin aja yuk dek?" kata Arsyil.


"Adek ngga punya simpanan buah di kulkas bang." kata Najwa.


"Kita cari, nanti kalau ada abang buatkan yang pedas ya." kata Arsyil dengan tersenyum, berharap istrinya mau di buatkan rujak darinya.


"Baiklah, tapi bener ya yang pedas?" kata Najwa.


"Iya sayang, abang buatkan yang pedas."


Arsyil pun bangkit dari tidurnya, dia melangkah keluar kamar di susul Najwa menuju dapur. Mencari buah yang ada di kulkas. Arsyil membuka kulkas, di lihatnya memang tidak ada buah di dalam.


"Tuh kan, ngga ada buah." kata Najwa.


Dia kecewa, kalau pun ada satu buah saja dia akan buatkan. Diam sambil berpikir, dia pun tersenyum akhirnya.


"Oh ya, nanti abang minta buah mangga muda sama bu Sri aja. Mau ngga?" tanya Arsyil.


"Mangga muda? Mau bang!" ucap Najwa berbinar.


"Ya udah, adek jaga Alief dulu sebentar. Abang mau ke rumah bu Sri dulu minta mangga muda." kata Arsyil.


"Iya, tapi bener ya nanti bikin sambel yang pedas."


"Iya, tapi adek makan sambelnya jangan banyak-banyak." kata Arsyil.


"Ya kalau ngga enak, adek makan ngga banyak bang." ucap Najwa.


"Ya udah, nanti abang buat sambelnya ngga enak aja."


"Ih, jangan dong bang."


"Ya udah, abang ke rumah bu Sri dulu."


"Iya."


Arsyil pun pergi meninggalkan Najwa di dapur, dia akan keluar rumah dan mencari mangga muda ke rumah ibu Sri. Dia ingat kalau sekarang sedang musim buah mangga dan masih belum ada yang di ambil oleh ibu Sri.


"Assalamu alaikum, ibu Sri?"


"Wa alaikum salam."


Pintu terbuka, bu Sri tampak heran kenapa malam-malam Arsyil datang ke rumahnya.


"Ada apa ya mas Arsyil?" tanya bu Sri.


"Maaf ganggu bu Sri, saya mau minta mangganya satu saja. Istri saya ngidam pengen buat rujak manis, tapi tidak ada buahnya." kata Arsyil.

__ADS_1


"Waah, hahah. Ternyata mbak Najwa hamil lagi ya, pantas saja jarang keluar rumah. Ternyata hamil lagi, heheh." kata bu Sri.


"Iya bu, tadinya mau beli rujak manis. Tapi malam begini mana ada yang jual, jadi saya minta buah mangganya satu saja kayaknya cukup." kata Arsyil.


"Iya iya, ambila aja mas Arsyil. Kalau satu sih kurang, bisa ambil tiga atau empat saja buat besoknya lagi ngga apa-apa."


"Oh ya, terima kasih bu Sri." kata Arsyil.


Dia pun menuju pohon mangga yang memang tidak tinggi batangnya, tapi buahnya rimbun. Arsyil memetik tiga mangga muda, karena dia pikir mungkin Najwa akan meminta lagi untuk besoknya.


"Sudah bu, tiga saja. Ini juga cukup kayaknya." kata Arsyil.


"Oh ya, dan ini tadi ibu punya simpanan pepaya. Kebetulan masih mangkal, tapi sudah kuning nih mas. Bawa aja sekalian." kata bu Sri memberikan kantong plastik pada Arsyil.


"Eh, terima kasih bu. Merepotkan saja, saya jadi ngga enak." kata Arsyil.


"Ngga apa-apa, memang orang ngidam tuh banyak maunya dan ada-ada saja. Heheh."


"Heheh, iya bu. Kalau begitu saya pulang dulu, dek Najwa pasti mencari."


"Iya, jangan sungkan kalau mau mangga lagi mas Arsyil."


"Iya bu."


Arsyil pergi meninggalkan rumah bu Sri membawa kantong kresek berisi mangga dan buah pepaya. Dia senang membayangkan istrinya pasti sangat gembira dia membawa mangga dan juga pepaya.


_


Sudah sembilan bulan kandungan Najwa, dia begitu berat menjalaninya karena perutnya benar-benar besar. Di kira hamil anak kembar, tapi ternyata bayinya besar di dalam perut.


Sehingga Najwa harus diet makanan kalau ingin melahirkan normal. Bobot bayi di perkirakan sudah mencapai tiga kilo gram, jadi menurut bidan harus mengurangi makan.


Tapi pagi hari, makin lama makin teratur, hingga dia pun duduk sebentar lalu jalan lagi dengan gelisah. Menunggu suaminya pulang membeli sayur di ujung jalan sana dengan anaknya Alief.


"Abang kok lama banget ya, kemana dulu sih dia." gumam Najwa.


Dia sudah mulai gelisah, di ambilnya ponselnya. Dia ingat akan umi dan abahnya, lalu meneleponnya cepat.


"Assalamu alaikum umi."


"Wa alaikum salam, Najwa. Ada apa? Kamu mau melahirkan?" tanya umi Dila.


"Iya nih mi, kayaknya. Soalnya sejak semalam keram terus dan sakit." kata Najwa meringis.


"Suamimu ada? Umi sama abah kesana sekarang."


"Iya mi, abang lagi beli sayur di pengkolan jalan itu. Tapi belum pulang ini, eeeuh."


"Ya udah, kamu siapkan saja dulu. Umi mau bersiap ke rumah kamu."


"Iya umi. Assalamu alaikum."


Klik!


Najwa meletakkan ponselnya, dia berjalan menuju pintu depan. Menunggu suaminya pulang, dan tak lama suami dan anaknya pulang juga. Najwa pun senang, tapi kemudian dia meringis lagi.


Arsyil melihat istrinya sedang meringis pun segera menghampiri dengan menggendong anaknya.


"Dek, udah mau lahiran?" tanya Arsyil.


"Iya nih bang, adek sakit perutnya." kata Najwa.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo siap-siap pergi ke bidan." kata Arsyil ikut gelisah juga.


"Alief ikut juga?" tanya Najwa.


"Titipkan saja sama bu Sri, nanti abang ambil lagi kalau adek sudah lahiran." kata Arsyil.


"Adek tadi udah hubungi abah sama umi, katanya mau kesini sekarang bang." kata Najwa kembali meringis.


"Ya udah, ngga apa-apa. Nanti umi kan juga jaga adek juga di bidan sama abang, nanti abah ambil Alief di rumah bu Sri." kata Arsyil.


"Ya udah, kita jalan pakai motor bang?"


"Naik becak dek, nanti abang suruh tukang becak di warung bakso itu abang panggil." kata Arsyil langsung pergi ke rumah bu Sri menitipkan Alief padanya.


Najwa mengangguk, dia sudah semakin merasa mulas. Tapi masih bisa di tahan, dia pun jalan bolak balik agar cepat pembukaan bertambah.


Tak lama, Arsyil datang menaiki becak, dia segera menghampiri Najwa yang sudah semakin meringis kesakitan. Najwa naik becak, dan Arsyil segera mengambil perlengkapan persalinan.


Mereka menaiki becak lalu menuju rumah bidan yang dulu Najwa melahirkan. Becak mereka berpapasan dengan mobil yang di tumpangi oleh abah dan umi Najwa. Mereka turun dan ikut kemana becak itu pergi.


Sampai di rumah bidan, Najwa sudah tidak bisa menahan lagi. Setelah berbaring dia langsung mengejan dan sudah keluar bayinya, beruntung bidan langsung tanggap menangani Najwa melahirkan cepat hanya beberapa menit saja setelah berbaring.


Keluarga Arsyil menyambut kehadiran anak kedua mereka yang sedang berada di rumah bidan itu. Arsyil tidak menyangka Najwa melahirkan begitu mudah, bayi itu sudah di bersihkan dan langsung di adzani oleh Arsyil.


Umi dan abah juga sudah datang di tempat itu, mereka senang cucu keduanya sudah lahir. Yang membuat senang adalah cucunya perempuan.


"Alhamdulillah, cucuku perempuan." kata umi Najwa mencoba menggendong cucunya.


"Sudah lengkap berarti bu, anaknya." kata bidan.


"Iya, tapi kalau mau nambah lagi sih ngga masalah." kata Arsyil.


"Abaaang!"


"Hahah, ngga sayang. Nanti kalau sudah besar adiknya Alief ini."


"Siapa namanya Syil?" tanya abah.


"Nihayah Aisyah Putri, bah. Harapannya jadi seorang perempuan yang kuat dan tangguh seperti Siti Aisyah." kata Arsyil.


"Waah, bagus ya. Alhamdulillah, abah senang mendengarnya." kata abah.


"Alief di titipkan sama siapa?" tanya umi Dila.


"Sama tetangga umi, di belakang rumah. Ibu Sri itu." jawab Arsyil.


"Ya sudah, anak kalian sudah lahir. Abah sama umi mai ambil Alief di rumah tetangga itu." kata abah.


"Iya bah."


Umi dan abah pun pulang ke rumah Arsyil, sedangkan Najwa dan Arsyil begitu bahagia mendapatkan anak perempuan untuk pelengkap rumah tangga mereka.


Harapannya sepasang suami istri itu bahagia sampai menua, hidup tenang dan tidak ada lagi masalah. Meski pun memang kehidupan rumah tangga tidaklah mudah, tetapi di barengi dengan saling mencintai penuh kesabaran, keimanan dan saling mempercayai masing-masing pasangan membuat mereka jadi bisa menghadapi ujian hidup.


_


_


>>>>>>>>>>>>> T A M A T <<<<<<<<<<<<<<<


\=\=\=>> terima kasih ya yang sudah setia dengan cerita Najwa dan Arsyil. Sehat selalu para pecinta novel othor, bisa mampir ke novel lainnya ya..😉😊😊😍

__ADS_1


__ADS_2