Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
15. Permikahan Azam


__ADS_3

Semua sudah menunggu di masjid kecil di mana hari ini adalah pernikahan Azam dan gadis yang di pilihkan untuk menjadi calon istri Azam. Seperti ucapan Azam itu, gadis itu masih muda. Lebih mudah dari Najwa, dia cantik dan sholeha juga.


Nirmala Nuraisyah, adik dari rekan bisnis Azam di kantornya. Nirmala ini gadis yang lembut sebenarnya, Azam beberapa kali bertemu dengan Nirmala sebelum dia tahu Arsyil memberi keputusan mau menikah dengan Najwa.


Azam kenal baik dengan kakaknya, dia meminta pada Ridho kakak Nirmala itu. Karena kedua orang tua Ridho dan Nirmala sudah wafat, dia meminta pada kakaknya dan menceritakan perihal maksudnya untuk menikahi adiknya.


Kini Azam sudah berada di masjid kecil itu, Nirmala juga. Semua tamu datang termasuk pasangan pengantin baru, Arsyil dan Najwa. Juga umi Dila dan abah Ubay.


Azam selalu melirik ke arah Najwa, dia tampak kesal melihat Arsyil begitu dekat dengan abah Najwa. Sedangkan Najwa sendiri hanya sesekali menatap Azam, lalu beralih bicara dengan umi Dila.


"Sudah siap semuanya?" tanya penghulu itu.


"Sudah pak penghulu." jawab Azam.


Sepertinya pernikahan ijab kabul Azam kali ini berbeda dengan Arsyil dulu, Azam lebih formal dan mengundang penghulu. Ada keheranan pada kedua orang tua Najwa, kenapa pernikahan Azam seperti akan di daftarkan di KUA. Karena ada petugas KUA di sana.


Tapi abah Ubay diam saja, sepertinya Azam mungkin akan menjadikan istri siri bagi Azam. Karena mengurus perceraian ke pengadilan agama butuh proses panjang dan alasan kuat.


Tiba-tiba abah Najwa itu merasa kecewa dengan sikap Azam itu. Dari sini dia tahu kalau tujuan Azam tidaklah serius meminta Najwa untuk jadi istrinya lagi. Tapi abah Najwa beruntung anaknya ada yang menikahi meski hanya sebuah kontrak pernikahan. Dia berharap Najwa dan Arsyil saling jatuh cinta sebelun waktu kontrak nikahnya selesai, begitu pikiran abah.


"Bah, apa yang abah pikirkan?" tanya umi Dila.


"Ngga apa-apa umi. Kita fokus pada pernikahan Azam saja. Setelah ini kita pulang." kata abah suaminya.


Umi Dila diam, dia melihat suaminya seperti memikirkan sesuatu dan ada kekecewaan. Tapi mungkin di rumah dia akan tanya lagi nanti.


Persiapan ijab kabul sudah di mulai. Azam tampak gugup meski dia sudah dua kali ini mengucapkannya. Dia melirik Nirmala di sampingnya, lalu menatap Najwa yang duduk diam di samping Arsyil.


"Pak Azam, anda sudah siapkan?" tanya penghulu.


"Ya pak penghulu."


"Baiklah, kita mulai saja ijab kabulnya."


Lalu penghulu pun mengucapkan doa-doa serta khotbah nikah di hadapan semua orang. Semua nampak khusyuk mendengarkan penghulu membacakan khotbah nikah, hingga kini pengucapan ijab kabul Azam dan Nirmala.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nirmala Sari binti Abdullah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."

__ADS_1


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah."


Penghulu mengucapkan doa dan kembali menucapkan khotbah nikah beberapa menit, setelah itu Azam dan Nirmala melakukan tanda tangan buku nikah.


Tampak terkejut Najwa, Arsyil dan kedua oranf tua Najwa. Ada yang membuat kecewa di sana, seharusnya perjanjiannya itu nikah siri. Tapi kenapa Azam menikah secarap hukum juga?


Azam melihat satu persatu keluarga Najwa, dia melihat banyak yang kecewa padanya. Dia merasa tidak enak hati, tapi dia tidak bisa menolak syarat dari kakaknya Nirmala kalau menikah dengan adiknya harus dengan hukum yang kuat.


Mau tidak mau Azam pun menurutinya, tapu nanti dia akan menjelaskan pada Najwa dan kedua orang tuan Najwa. Kalau itu syarat dari kakaknya untuk menikah dengan Nirmala.


"Bagaimana bisa Azam menikah dengan mendaftarkan pada petugas KUA?" gumam Arsyil.


Gumaman Arsyil itu di dengar oleh Najwa. Hingga dia juga merasa kecewa, tapi Najwa masih berpikir positif kalau Azam mungkin saja mempunyai syarat dengan gadis yang di nikahinya.


_


Satu hari setelah pernikahan, Azam datang ke rumah abah dan umi Najwa. Dia datang untuk menjelaskan pernikahannya kemarin.


"Wa alaikum salam."


Pintu di buka, tampak umi Dila, dia heran kenapa Azam datang ke rumahnya setelah menikah kemarin. Azam tersenyum dan menyalami umi Dila.


"Saya boleh masuk umi?" tanya Azam.


"Oh ya, masuk saja nak Azam." ucap umi Dila.


Azam mengangguk, dia mengikuti umi Dila menuju ruang tamu. Dia duduk setelah di persilakan duduk oleh umi Dila.


"Ada apa nak Azam datang kemari? Pemgantin baru kok seharusnya bersenang-senang dengan istrinya, kok sudah datang kemari saja." kata umi Dila.


"Saya mau ketemu dengan abah, umi." kata Azam.


"Mau apa?" tanya umi Dila.

__ADS_1


"Mau bicara saja, mungkin ada kesalah pahaman dengan kemarin. Apa abah ada, umi?" kata Azam.


"Ada, kebetulan hari ini tidak ngajar di yayasan. Umi panggilkan dulu ya." kata umi Dila beranjak.


"Iya umi."


Azam menunggu dengan sedikit gugup. Dia merasa tidak enak dengan abah Najwa itu, karena Najwa dan Arsyil sendiri menikah secara siri. Kenapa dirinya menikah secara hukum juga.


Tal lama abah datang dan melihat Azam duduk sambil menunduk. Abah duduk di depan Azam, menatap Azam yang masih belum sadar dengan kehadirannya itu.


"Ehem!"


Suara deheman abah membuat Azam kaget, dia tersenyum lalu bangun dari duduknya dan menyalami abah Najwa tersebut.


"Ada apa nak Azam datang kemari? Pengantin baru kok sudah keluar rumah saja." kata abah menyindir.


"Heheh, ngga abah. Hanya ada perlu saja sama abah." kata Azam.


"Perlu apa?"


"Emm, masalah kemarin. Saya minta maaf karena pernikahan saya itu." kata Azam.


"Lalu?"


"Ya, saya minta maaf karena menikah dengan penghulu dan ada pihak dari KUA. Karena kemarin itu permintaan kakaknya istri saya, menikah dengan membawa pihak KUA. Jadi mau tidak mau saya turuti, saya tidak enak sama abah dan umi kemarin itu." kata Azam.


"Lho, itu kan terserah nak Azam saja. Bagaimana rencana pernikahannya, karena yang menjalankan pernikahan kan nak Azam dan istri nak Azam. Abah tidak masalah, kenapa harus merasa tidak enak?" kata abah.


"Bukan begitu bah, karena kan dek Najwa menikah hanya secara siri saja. Jadi saya merasa tidak enak hati, tapi sungguh bah itu permintaan kakaknya dan kalau tidak menurutinya maka kakaknya tidak merestui kami menikah dengan syarat seperti itu." kata Azam.


"Tidak masalah bagi abah, tapi yang penting semuanya berjalan dengan takdir yang di Atas. Allah sudah menentukan semuanya, abah berpikir begitu. Dan tidak ada masalah kok, jadi jangan merasa tidak enak sama abah." kata abah..


Azam merasa lega, dia pun berbicara santai sebentar lalu dia pun berpamitan pada abah. Dia merasa tidak enak dengan Nirmala telah meninggalkannya di rumah sendiri setelah menikah kemarin.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2