Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
17. Belanja


__ADS_3

Seeuai janjinya, Arsyil pulang lebih awal. Dia dan Najwa akan pergi ke supermarket untuk membeli peralatan dapur. Arsyil pulang membawa mobil kantor dan itu membuat Najwa heran dengan mobil yang di bawa Arsyil itu.


"Bang, kok bawa mobil? Mobil siapa?" tanya Najwa merapikan kerudungnya.


"Mobil kantor dek, sengaja abang pinjam. Kan mau belanja perabot banyak, jadi abang pinjam mobil kantor. Biasanya ada yang bawa kalau belanja kebutuhan percetakan, jadi sekarang abang pinjam dulu. Dan lagi nganggur sih mobilnya." kata Arsyil.


"Emm, ya udah. Betul sih kita belanja banyak barang dan butuh mobil juga." kata Najwa.


"Tapi maaf ya, mobilnya itu ngga kayak punya Azam. Mobilnya sudah tua mesinnya, heheh." kata Arsyil.


"Ngga apa-apa bang. Yang penting bisa jalan kan?"


"Ya jalan, kan abang bisa pulang ke rumah bawa mobil."


"Ya udah, aku ambil tas dulu ya bang."


"Iya, abang tunggu di mobil." kata Arsyil.


Najwa langsung pergi tanpa menanggapi ucapab Arsyil. Masuk ke dalam kamar dan mematut penampilannya di kaca, apakah sudah pas setelan baju dan keridungnya. Karena dia mau jalan-jalan dengan suaminya.


"Kok aku seneng ya hari ini." kata Najwa tersenyum ceria tampak di cermin.


Dia merapikan kerudungnya kembali, dan setelah cukup dia pun keluar dan langsung menuju mobil yang terparkir. Mobilnya memang memang lumayan, merk senia warna silver itu terlihat tidak mewah. Memang di bandingkan dengan mobil Azam, sangat jauh.


Bagi Najwa, dia tidak masalah. Yang penting jiwa seorang perempuannya sedang menonjol, ingin berbelanja di supermarket untuk membeli peralatan dapur saja rasanya menyenangkan. Apa lagi sekarang pergi dengan suaminya.


Najwa masuk ke dalam mobil, dia melihat Arsyil menatapnya sambil tersenyum. Najwa pun membalas senyum suaminya dan merapikan kembali kerudungnya.


"Sudah bang, yuk kita berangkat." kata Najwa.


"Kita pergi kemana?" tanya Arsyil.


"Ke supermarket, di sana banyak pilihan." jawab Najwa.


"Oke, kita berangkat. Bismillahirrohmannirrohimm." ucap Arsyil.


Najwa pun tersenyum, dia sangat senang sekarang bisa keluar rumah dan jalan-jalan. Biasanya ketika di rumah abahnya jarang pergi ke supermarket karena jaraknya jauh dan dia juga ada tugas mengajar di yayasan.


"Dek, kegiatannya apa sebelum menikah sama abang?" tanya Arsyil.


"Mengajar di yayasan bang." jawab Najwa.


"Mengajar sekolah?" tanya Arsyil lagi.


"Iya, aku kan lulusan sarjana pendidikan. Jadi kata abah harus mengajar di yayasan, biar ilmunya bermanfaat." kata Najwa lagi.


"Kalau sekarang, kan sudah menikah. Apa tidak mengajar lagi? Abang lihat kamu di rumah saja." kata Arsyil.


"Kata abah cuti dulu, menikmati masa pengantin baru." kata Najwa.

__ADS_1


"Waah, abah pengertian juga ya." kata Arsyil tersenyum lebar.


Najwa hanya tersenyum saja, dia lalu mengambil ponselnya di tas karena berbunyi. Arsyil menoleh pada istrinya lalu menatap jalanan lagi, hanya mendengar istrinya menjawab telepon.


"Assalamu alaikum, bah."


"Wa alaikum salam."


"Ada apa bah?"


"Rencananya abah besok hari Jum'at mau ke kontrakan suamimu. Kirim alamatnya, Najwa."


"Oh, abah sama umi mau datang ke rumah?" tanya Najwa menoleh ke arah suaminya.


"Iya, hanya ingin berkunjung dan ingin tahu rumah suamimu di mana." kata abahnya.


"Iya bah, nanti aku kirim alamatnya."


"Ya sudah, abah tutup dulu teleponnya. Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Klik!


"Ada apa?" tanya Arsyil.


"Katanya besok abah sama umi mau datang bang." jawab Najwa.


"Iya, aku harus kirim alamat sama abah."


"Ya sudah kirim saja, kita sekalian belanjanya beli bahan makanan buat menyambut abah sama umi ya." kata Arsyil.


"Jangan banyak-banyak bang, abah sama umi paling sebentar." kata Najwa.


"Ngga apa-apa, kalau sebentar sekalian aja bawakan buah buat di rumah." kata Arsyil.


Najwa diam, dia merasa Arsyil begitu baik. Meskipun dulu Azam juga baik padanya juga kedua orang tuanya. Tapi rasanya Arsyil tidak perhitungan meskipun pernikahan mereka hanya sebentar.


Mobil Arsyil pun sudah memasuki area parkiran supermarket. Dia menghentikan mobilnya agak ke dalam, biar masuk dari pintu belakang langsung masuk ke dalam supermarket. Setelah memarkirkan dengan benar, mereka pun turun. Arsyil menggandeng tangan Najwa.


Membuat Najwa terkejut, dia menatap suaminya. Arsyil hanya tersenyum saja, dia tidak ingin Najwa jauh darinya ketika sudah berada di dalam supermarket.


"Biar tidak jauh-jauh dari abang." kata Arsyil yang tahu akan kebingungan Najwa.


"Iya bang, abang takut aku belanja banyak barang?" tanya Najwa.


"Hahah, ngga juga. Biar romantis aja dan jadi kenangan nantinya." kata Arsyil masih dengan senyumnya.


Najwa diam, dia menunduk. Rasanya memang akan selalu di ingat apa tujuan mereka menikah.

__ADS_1


Mereka sudah memasuki supermarket di bagian perabot dapur. Najwa lupa dia berjalan cepat untuk mengambil beberapa alat memasak. Arsyil memperhatikan Najwa yang sangat antusias mencari barang-barang untuk memasak dan banyak juga yang dia ambil.


Arsyil hanya mengikuti saja apa yang di ambil oleh istrinya itu. Karena dia tidak tahu kebutuhan dapur apa saja yang perlukan.


"Sudah belum dek? Keranjangnya penuh lho." kata Arsyil.


Najwa menoleh ke arah keranjang, dia kaget dengan banyaknya barang yang dia ambil.


"Astaghfirullah, bang. Ini banyak banget aku ambil barang-barangnya." kata Najwa melihat barang di keranjang begitu banyak.


"Ya ngga apa-apa, kan kamu yang tahu kebutuhan di dapur. Abang ngga tahu apa lagi, kamu beli saja semuanya." kata Arsyil.


"Jangan bang, nanti adek pilih lagi mana yang perlu di beli. Kan masih ada yang belum di beli juga." kata Najwa.


"Apa lagi?"


"Bumbu dapur dan sayuran, dan banyak juga buat memasak bang." kata Najwa.


"Hahah, aku tidak tahu semuanya dek. Biasanya kalau malas buat nasi goreng ya beli makanan di warung sudah tinggal makan. Ya sudah, kamu pilih saja apa yang perlu di beli. Abang mau ke bagian elektronik dulu." kata Arsyil.


"Mau beli apa bang?" tanya Najwa.


"Mau lihat-lihat saja, siapa tahu ada yang menarik. Promo diskon misalnya. Heheh." kata Arsyil.


Najwa diam, lalu dia meneruskan memilih barang lagi dan mengganti yang tidak terlalu butuh.


Lama dia memilih barang perabot, lalu beralih ke bagian buah dan sayur. Juga bagian daging dan ikan. Dia beli beberapa dan juga banyak bumbu serta snack untuk cemilan.


Lama dia memilih barang, hingga perutnya sudah terasa lapar. Dia mencari Arsyil di tempat elektronik, tapi tidak ada.


"Lho, kemana dia ya?" gumam Najwa.


"Cari abang dek?"


"Eh, bang. Tadi katanya di tempat elektronik, adek cari ngga ada." kata Najwa.


"Tadi ke mobil dulu sebentar terus kesini lagi. Takut adek lapar, soalnya abang juga sudah lapar."


"Iya bang, aku lapar."


"Ya sudah, kita bayar dulu yang tadi di beli. Baru nanti kita cari makan." kata Arsyil.


"Iya bang."


Mereka pun menuju kasir untuk membayar perabot dan belanjaan lainnya yang di beli Najwa.


_


_

__ADS_1


*********************


__ADS_2