Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
06. Membicarakan Calon Suami Najwa


__ADS_3

Abah, umi Dila dan juga Najwa diam mendengar pertanyaan Azam tersebut. Abah melirik ke arah anaknya yang menunduk dalam karena bingung mau menjawab apa.


"Apa dek Najwa menerimanya bah?" tanya Azam.


"Tanya saja sama Najwanya Zam, abah hanya membantu kalian bagaimana baiknya saja. Dan seperti apa yang abah katakan dulu, kalian sudah tidak bisa rujuk begitu saja. Kamu dan Najwa harus menikah dengan orang lain. Baru bisa menikah lagi." kata abah Najwa.


"Iya bah, saya tahu." kata Azam.


"Lalu, kenapa kamu bertanya lagi?" tanya Abah Najwa.


"Ya, saya meminta persetujuan dari abah dan juga Najwa saja kok. Nanti sesuai dengan arahan abah, saya akan menikah lagi begitu juga Najwa. Baru nanti saya bercerai dan Najwa pun begitu." kata Azam lagi.


"Memangnya kamu sudah punya calon istri? Lalu dengan Najwa? Abah belum mencarikan calon suami untuk Najwa yang bisa di beri pengertian sesuai keinginanmu." kata abah lagi.


"Emm, biar saya saja yang mencari calon suami dek Najwa bah. Karena nantinya calon suami dek Najwa ini saya yang memberi pengertian tentang rencana saya itu." kata Azam.


Abah diam, dia menoleh ke arah Najwa. Melihat anaknya itu setuju dengan pilihan Azam.


"Najwa, bagaimana menurutmu? Azam akan mencarikan calon suami untuk kamu. Apa kamu sendiri yang mencarinya? Barangkali ada guru di yayasan yang mau menjadi syarat itu untuk kamu." kata abah Najwa meminta persetujuan anaknya itu.


"Emm, kalau guru dari yayasan. Nanti heboh lho bah, masa baru menikah kok sudah bercerai." umi Dila menyela perkataan suaminya.


"Iya bah, aku juga tidak mau jadi heboh nantinya di yayasan. Apa kata mereka kalau aku menikah terus nantinya harus bercerai." kata Najwa menimpali ucapan uminya.


"Tapi kan hanya syarat saja, kita beritahu saja tentang syarat itu pada dia. Pasti dia mengerti kok." kata abahnya.


"Maaf menyela bah, saya punya teman yang masih lajang. Dia teman baik saya, dan saya akan meminta teman saya untuk menikah dengan Najwa." kata Azam ikut menimpali ucapan abah itu.


Tampak umi Dila setuju, Najwa diam saja. Dia juga setuju dengan usul mantan suaminya itu. Jika dari yayasan, kemungkinan memang akan heboh di yayasan. Hanya karena ingin kembali pada Azam, justru ingin mempermalukan guru tersebut.


Tahu sendiri mereka kalau guru perempuan di yayasan banyak juga yang masih lajang. Dan pasti akan banyak gunjingan juga di kantor yayasan. Mentang-mentang anak pengurus yayasan jadi seenaknya saja mempermainkan guru laki-laki. Begitu yang akan di gunjingkan oleh guru-guru di yayasan. Dan akan menyebar ke tetangga-tetangga.


"Tapi, apa temanmu itu akan mau menikah dengan syarat seperti itu?" tanya abah.

__ADS_1


"Insya Allah dia mau bah, karena saya sudah memintanya kemarin sebelum datang kemari." jawab Azam.


"Ooh, jadi kamu sudah mempersiapkannya?" tanya abah lagi.


"Iya bah, dan dia mau. Jika memang seperti itu, saya nanti akan memperkenalkan Najwa pada teman saya itu." kata Azam lagi.


"Dan kamu sendiri, bagaimana? Apa kamu ada gadis yang akan siap kamu nikahi dengan syarat seperti itu?" tanya abah.


"Ada bah, kemarin itu saya mencari teman saya dan memintanya. Sekaligus saya juga mencari calon istri saya dan akan menikahinya dengan syarat juga." kata Azam lagi.


"Ooh, jadi kamu sudah niat sekali ya cari calon suami Najwa dan juga calon istrimu nanti." kata umi Dila.


"Heheh, iya umi. Saya memang ingin sekali kembali sama dek Najwa, dan saya sendiri yang akan memilihkan calon suami dek Najwa." kata Azam lagi.


"Baguslah, berarti abah tidak perlu mencari calon suami untuk Najwa. Abah juga bingung apakah ada yang mau jadi suami Najwa jika di beri syarat seperti itu." kata abah.


Yang di bicarakan hanya diam saja, dia pasrah saja apa yang akan di lakukan Azam untuknya. Meski terkadang dia berpikir, apakah etis dia baru menikah lalu bercerai demi untuk kembali pada mantan suaminya Azam?


"Najwa, bagaimana menurutmu?" tanya abah.


"Lho kok, apanya sih. Kamu tidak mendengarkan pembicaraan abah dengan Azam tadi?" tanya abah.


"Maaf bah, tadi agak pusing sedikit. Jadi tidak banyak yang aku dengar pembicaraan abah dengan mas Azam." kata Najwa beralasan.


Abah dan Azam menatap Najwa yang memang terlihat lelah. Tapi kini abah menjelaskan apa yang tadi di usulkan oleh Azam. Sebagian dia mendengarkan dan mengetahui rencana Azam itu, tapi yang terakhir tidak dia dengar karena memikirkan selanjutnya bagaimana.


"Kamu mengerti kan, Najwa?" tanya abah setelah menjelaskan usulan Azam itu.


"Terserah mas Azam dan abah saja. Aku terima saja bah, karena kan mas Azam yang meminta dan juga abah tinggal menyetujuinya saja." kata Najwa.


"Abah memang menyetujuinya saja, Najwa. Tapi, apa kamu tidak apa-apa jika teman nak Azam yang akan menikahi kamu?" tanya umi Dila yang sejak tadi diam saja.


"Ya, mungkin lebih baik seperti itu umi. Karena jika dari warga kampung sini atau dari guru-guru di yayasan, mereka pasti akan heran kenapa seperti itu. Menikah dengan syarat dan nantinya akan bercerai." kata Najwa.

__ADS_1


"Baiklah, berarti Najwa sudah setuju kan? Abah akan menyetujuinya juga." kata abah.


Azam tersenyum, dia senang karena usulannya di terima oleh Najwa. Apa lagi masuk akal juga, dia akan meminta pada temannya sekali lagi dan mengenalkan Najwa pada temannya itu.


"Kalau begitu, nanti saya bilang lagi sama temanku bah. Dan nanti saya kenalkan dek Najwa dengan calon suaminya, yaitu teman baik saya." kata Azam.


"Ya boleh, karena Najwa dan temanmu itu harus mengenal lebih dulu. Jadi nanti tidak canggung ketika sudah menikah." kata abah.


"Iya bah. Dan dek Najwa setuju kan dengan usulku?" tanya Azam pada Najwa.


"Terserah mas Azam saja. Aku terima saja mas." jawab Najwa.


"Alhamdulillah kalau begitu, nanti aku kenalkan dek Najwa sama temanku lusa. Karena dia jauh tempat tinggalnya. Dan aku jarang ketemu dengan dia." kata Azam.


Semua nampak senang, abah, umi Dila dan juga Azam. Tapi tidak dengan Najwa, dia masih ragu dan gelisah. Namun begitu, dia harus menerima keputusan Azam dan juga abahnya.


"Kalau begitu, saya pulang dulu bah. Insya Allah lusa nanti akan saya bawa teman yang di maksud kemari. Nanti di kenalkan sama dek Najwa." kata Azam.


"Iya. Abah serahkan semuanya sama kamu nak Azam. Abah minta kamu bicarakan semuanya sama teman nak Azam itu, syarat menikah itu dan tujuannya juga. Karena ini demi kebaikan kamu dan Najwa, jadi semua harus jelas dan tidak boleh ada yang keberatan dengan syarat itu." kata abah.


"Insya Allah tidak bah, nanti pembicaraan ini saya bicarakan lagi dengan teman saya itu, agar dia memahami maksud dan tujuanku meminta bantuannya." kata Azam.


"Ya baiklah, abah tunggu janjimu lusa membawa temanmu itu. Dan Najwa juga sepertinya ingin tahu calon suaminya." kata abah lagi melirik anaknya yang diam saja.


"Iya bah. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Insya Allah saya akan datang lagi dengan teman saya itu." kata Azam.


Dia lalu beranjak dari duduknya, menyalami abah dan umi Dila. Serta menatap Najwa lalu tersenyum padanya.


Abah, umi Dila dan Najwa mengantar Azam sampai depan rumah. Dan Azam pun menaiki mobilnya lalu melajukannya dengan pelan. Najwa, umi Dilla dan abah masuk ke dalam rumah. Karena waktu azan sholat magrib sudah berkumandang dari masjid yayasan.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2