Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
36. Memulangkan Najwa


__ADS_3

"Dek abang mau bicara sama kamu." kata Arsyil setelah dia selesai makan.


"Abang mau bicara apa?" tanya Najwa pura-pura tidak mengerti.


"Duduklah dulu dek, abang mau bicara serius." kata Arsyil.


Najwa menatap suaminya, menarik napas panjang. Arsyil mengangguk agar Najwa cepat duduk, Najwa pun duduk. Dia menatap suaminya dengan penuh kesedihan.


Arsyil masih diam, menarik napas panjang lebih dulu. Menatap istrinya lalu menunduk lama.


"Abang mau bicara apa?" tanya Najwa berulang.


"Dua hari perjanjian selesai, abang mengucapkan banyak terima kasih sama adek telah mengisi ruang hati abang meski hanya sebentar." kata Arsyil menjeda ucapannya.


Najwa masih menunggu ucapan selanjutnya dari suaminya, dia menatap lekat pada laki-laki yang kini terlihat tegar. Tepatnya berusaha tegar.


"Bohong kalau abang merasa tidak sedih harus berpisah dengan adek. Tapi janji tetaplah janji dek, abang harus tepati. Azam sangat mencintai adek, mungkin lebih besar rasa cinta Azam pada adek di banding abang." kata Arsyil lagi, tenggorokannya tercekat, hingga dia tidak bisa meneruskan ucapannya.


Sedangkan Najwa masih diam, masih menatap suaminya yang mulai terpaku lalu memejamkan matanya.


"Bang, apa abang tidak merasa sedih dengan kepergian ayah?" tanya Najwa mengalihkan pembicaraan.


"Abang sedih dek, abang merasa bersalah." kata Arsyil mulai terisak.


"Abang jangan pikirkan masalah janji itu, abang sedang berduka. Rasanya akan sangat berdosa sekali adek tinggalkan abang sendiri. Bagaimana tanggapan Abah dan umi tentang masalah abang? Adek yang akan di marahi Abah bang, meninggalkan suami yang sedang terpuruk karena kehilangan ayah. Apa adek setega itu membiarkan abang hidup sendirian dalam kesedihan?" tanya Najwa.


"Ngga dek abang sudah janji dengan Azam, besok adek harus pulang ke rumah Abah. Dan abang pasti akan baik-baik saja, adek jangan khawatir. Sejak itu talak abang jatuh sama adek." kata Arsyil lagi.


"Ya ampun bang, kenapa abang masih bicara seperti itu lagi? Adek mau temani abang sampai bisa melupakan kesedihan abang." kata Najwa masih ngotot dengan sikapnya.


"Dek, tolong jangan membantah. Abang tidak mau adek merasa kasihan pada abang, abang ngga mau adek merasa terbebani karena rasa sedih abang. Kumohon, mengerti abang dek." kata Arsyil lagi.


Najwa mendengus kasar, dia tidak bisa mengubah keputusan Arsyil. Dia mengakui kalau Arsyil adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan juga amanah. Tapi masalah hati, tidaklah bisa seperti itu.


"Abang membuat hati adek kecewa." kata Najwa akhirnya.


"Maafkan abang dek." kata Arsyil.


"Hik hik hik, adek merasa jadi perempuan tidak berguna bagi suaminya. Hik hik hik."


"Adek sangat berguna, jangan salahkan diri sendiri dek. Abang merasa adek sangatlah berharga, jangan menyalahkan seperti itu." kata Arsyil menenangkan Najwa.


"Kalau merasa berharga, kenapa abang mau memulangkan adek ke rumah Abah?" masih dengan Isak tangisnya.

__ADS_1


"Maafkan abang dek, abang tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah takdir ini." kata Arsyil.


"Itu alasan abang saja, kenapa abang tidak bilang kalau abang mau mempertahankan adek karena abang mencintai adek?" tanya Najwa menatap tajam pada suaminya itu.


Arsyil diam, dia menunduk. Ternyata Najwa tahu kalau dirinya mencintainya. Najwa masih menatap suaminya.


"Azam juga mencintai adek, dia lebih besar rasa cintanya dari pada abang." kata Arsyil lagi masih menundukkan wajahnya, tetes air matanya sempat turun. Tapi kemudian dia hapus kembali.


"Bagaimana kalau adek yang mencintai abang?"


Kali ini pertanyaan Najwa membuat Arsyil mendongak, dia menatap wajah Najwa yang sudah penuh dengan air mata. Isak tangisnya sudah tidak bisa di bedakan antara sedih dan kecewa.


"Maaf, abang masih tetap memegang teguh rasa persahabatan. Dan terima kasih adek mencintai abang." kata Arsyil.


"Abang egois!"


Najwa bangkit dari duduknya, dia mengelap wajahnya yang penuh air mata lalu beranjak pergi meninggalkan Arsyil yang masih menunduk. Dia tidak bisa berbuat banyak, dia harus menepati janjinya pada Azam.


Kini dia terisak, rasa sesak di dada karena pembicaraannya dengan Najwa benar-benar membuatnya jatuh dan menyesal.


"Ya Allah, kuatkan hatiku. Semoga semuanya cepat berlalu. Maafkan aku dek, maaf. Hik hik hik." ucap Arsyil.


_


Dia bersiap untuk pulang, baju-baju yang dulu dia bawa pun dia masukkan ke dalam tasnya. Arsyil menunggu di ruang tamu, rasa gelisah dan bersalah serta kecewa pada diri sendiri terus menggelayuti pikirannya.


Dia menoleh ke arah pintu kamar Najwa, belum juga keluar dari kamarnya istrinya itu. Arsyil menarik napas berat, di lihatnya lagi kamar Najwa. Tapi kemudian keluar Najwa dengan membawa tas berisi baju-bajunya.


Dia menatap Arsyil lama, lalu melangkah mendekat pada suaminya.


"Sudah siap dek?" tanya Arsyil.


Najwa hanya mengangguk saja, dia menarik napas berat. Rasanya berat sekali dia harus meninggalkan rumah kontrakan yang penuh kenangan manis itu. Dia menatap Arsyil lalu memalingkan lagi, Arsyil mengambil tas dari tangan Najwa dan membawanya keluar. Langkahnya sangat berat, tapi itu harus di lakukan.


"Bang, seperti ucapan abang tadi malam. Adek pulang berarti talak sudah jatuh pada adek." kata Najwa.


"Iya dek." jawab Arsyil.


Najwa diam, artinya hanya satu talak jatuhnya. Dia bisa memikirkan bagaimana nanti kelanjutan cintanya dengan Arsyil, kali ini dia yang akan bertindak. Dia membiarkan Arsyil memenuhi janjinya lebih dulu.


Semalam dia sudah memikirkannya, memang Arsyil tidak bisa berbuat banyak.


Keduanya kini sudah berada di motor, Arsyil melajukannya dengan pelan. Sedangkan Najwa memeluk suaminya dari belakang dengan erat.

__ADS_1


"Kemarin adek memberitahu Abah, kalau ayah abang meninggal. Abah ngga bisa takziah karena ada di luar kota bang, katanya nanti mau takziah setelah pulang dari luar kota. Mungkin siang ini Abah pulang." kata Najwa di belakang Arsyil.


"Iya dek, maaf kalau abang kemarin melarang adek memberitahu Abah." kata Arsyil.


Perjalanan terasa sangat singkat, mungkin pikiran mereka tidak fokus pada jalanan sehingga tanpa di sadari motor sudah berada di depan rumah Abah Najwa.


Keduanya turun, Arsyil membawa tas milik Najwa. Langkahnya terhenti sejenak, tapi kemudian dia melangkah lagi. Tekad yang tadi kendor kini harus dia kencangkan lagi.


"Assalamualaikum!"


"Wa Alaikum salam."


Jawab dari dalam rumah, Najwa dan Arsyil berdiri di depan pintu. Najwa tidak berniat untuk masuk lebih dulu, dia menatap suaminya yang sebentar lagi menjadi mantan.


Pintu terbuka, nampak umi Dila berdiri menatap keduanya.


"Ya Allah, nak Arsyil Najwa. Masuk dulu kalian. Jangan berdiri di depan pintu saja." kata umi Dila.


"Iya umi." jawab Arsyil tersenyum kaku.


Arsyil masuk ke dalam, dia menuju ruang tamu di mana dulu pertama kali melihat Najwa dan jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Nak Arsyil, umi turut berduka dengan meninggalnya ayah nak Arsyil. Abah sama umi belum sempat ke rumah nak Arsyil, Abah kaget mendengar besannya meninggal. Baru siang ini Abah pulang, dan umi minta maaf karena tidak bisa datang." kata umi Dila.


"Ngga apa-apa umi, saya juga datang kesini kok untuk memulangkan dek Najwa." kata Arsyil.


"Ya Allah nak Arsyil, seharusnya tidak langsung sekarang. Dan apa benar kalian akan berpisah?" tanya umi Dila.


"Iya umi, saya harus menepati janji saya pada Azam umi." kata Arsyil.


Umi Dila menatap menantunya itu, lalu menoleh pada Najwa. Dari wajah keduanya terlihat ada kesedihan. Umi tahu anaknya itu merasa sedih, entah mungkin Najwa sudah ada rasa lain pada Arsyil.


"Tunggu Abah dulu ya, katanya sebentar lagi sampai." kata umi Dila.


Arsyil hanya mengangguk, dia tetap pada sikapnya untuk mengembalikan Najwa pada Abah dan uminya. Tak lama, terdengar suara mobil berhenti di depan halaman rumah. Mereka tahu itu pasti mobil taksi yang mengantarkan Abah pulang ke rumah.


"Assalamualaikum!"


_


_


*****************

__ADS_1


__ADS_2