
Najwa sampai di rumahnya, dia benar-benar lelah sekali setelah bicara panjang lebar dengan Azam. Pikirannya sudah merasa lega setelah bicara dengan mantan suaminya itu. Meski pembicaraan itu tidaklah membuat Azam menerimanya dengan hati lapang.
Tapi Najwa kini harus berpikir lagi untuk menemui Arsyil dan meminta kembali padanya. Kembali rujuk dan hidup bersama lagi, masalahnya apakah dia mau seperti itu?
Tapi, bukankah mereka saling mencintai. Seharusnya akan baik-baik saja jika Najwa datang pada Arsyi dan meminta rujuk kembali.
Najwa masuk ke dalam kamarnya, dia langsung membaringkan tubuhnya karena lelah sekali. Entah karena terpengaruh pikirannya yang sedang lelah juga, yang jelas dia benar-benar lelah dan inginnya langsung tidur.
Ketika dia memejamkan matanya, hanya sebentar. Karena dia belum menjalankan kewajiban, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Najwa membuka matanya kembali, dia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
Umi Dila berdiri menatap anaknya yang sayu karena terlihat lelah. Najwa masuk kembali, di ikuti umi Dila di belakangnya. Mereka duduk di sisi ranjang, lalu Najwa berbaring karena dia merasa lemas sekali hari ini.
"Kamu kenapa lagi?" tanya umi Dila.
"Lelah umi."
"Memang kamu di ajak kemana sama Azam?" tanya umi Dila memijat kaki anaknya itu.
"Cuma makan di restoran oriental umi." jawab Najwa.
"Lho, kok capek? Kan cuma duduk saja."
"Ngga tahu, kepala juga pusing tiba-tiba naik mobil taksi tadi." ucap Najwa.
Umi Dila memijat terus kaki Najwa, dia melihat Najwa merasa nyaman dan memejamkan matanya. Rasa kantuknya kini mulai menyerangnya.
Umi Dila hanya menatap wajah Najwa yang terlihat sayu. Dia merasa kasihan pada Najwa, terasa di ombang ambing oleh takdir nasib pernikahannya. Hanya seumur jagung dia hidup bersama dengan Arsyil, dan itu mampu merubah hati Najwa.
"Semoga kamu bahagia nak, umi dan abah berharap akan kebahagiaan dalam pernikahanmu kelak. Abah punya kejutan untukmu jika memang kamu kembali meraih kebahagiaanmu dengan Arsyil." kata umi Dila.
Tidak terasa air matanya menetes, dia mengusap pipinya. Sangat kasihan sekali dia dengan Najwa, baru usianya dua puluh tiga tahun harus menjadi janda dua kali.
Dia diam saja ketika para tetangga melihat Najwa dan Arsyil datang berdua, berboncengan. Di kira itu adalah pacarnya atau siapa.
Setelah lama memijat kaki Najwa, umi Dila pun keluar dari kamar anaknya. Dia awalnya ingin bertanya tentang pembicaraan Najwa dengan Azam di restoran itu, tapi Najwa malah tertidur setelah uminya memijat kakinya.
_
Malam hari, setelah makan malam. Di ruang tengah. Najwa sedang menonton TV acara kesukaannya yaitu acara sitkom di salah satu chanel TV.
Umi Dila mendekat dan duduk di samping anaknya ketika semua sudah beres di dapur.
__ADS_1
"Najwa, kamu sudah baikan kan?" tanya umi Dila.
"Baikan kenapa umi? Aku baik-baik saja kok." kata Najwa.
"Umi cuma mau tanya masalah tadi siang dengan Azam. Apa urusannya sudah selesai dengan Azam?" tanya umi Dila.
"Kalau aku sih sudah selesai umi, cuma mas Azam sepertinya tidak terima dengan keputusanku." jawab Najwa.
"Kamu menolak dia?" tanya umi Dila lagi.
"Iya. Aku memutuskan akan kembali sama bang Arsyil." ucap Najwa lagi.
"Kamu yakin akan memilih nak Arsyil?"
"Ya umi. Aku mencintai abang, aku akan minta kembali sama dia." kata Najwa.
"Pasti akan terkejut nak Arsyil kamu menolak Azam." kata umi Dila.
Pandangannya sama dengan Najwa, di acara sitkom itu ada pembicaraan antara suami istri yang di duga suaminya bermain genit dengan karyawan di mana dia bekerja. Dan istrinya marah-marah, tapi bertingkah lucu.
Membuat Najwa tersenyum, umi Dila pun mengikuti. Mereka sejenak menikmati acara hiburan di televisi, hingga abah pun ikut bergabung dengan mereka.
"Urusan apa bah?"
"Dengan Azam."
"Selesai, aku sudah memutuskan menolaknya kembali." jawab Najwa.
"Kamu yakin?"
"Yakin bah, bukan mas Azam pilihanku sekaranh. Abah juga sudah tahu kan pilihanku." kata Najwa.
"Ya, abah tahu. Tapi kamu juga tidak semudah membalikkan tangan jika mau kembali dengan Arsyil. Dia pasti akan menolak juga karena Azam juga." kata abah.
Najwa menatap abahnya, dia belum mengerti maksud dari ucapan abahnya.
"Maksudnya bang Arsyil akan menolakku?" tanya Najwa.
"Mungkin, karena dia lebih mementingkan menjaga persahabatan di banding hatinya sendiri. Kamu harus pikirkan bagaimana bisa meyakinkan dia nantinta, nak." kata abah.
Najwa diam, dia tidak memikirkan itu. Tapi dia akan meyakinkan Arsyil jika dirinya akan memilih Arsyil dan akan meraih kebahagiaan bersama.
__ADS_1
"Abah bukannya membuatmu berkecil hati, tapi Arsyil itu teguh pendiriannya. Jadi kamu pikirkan baik-baik untuk kembali dan bisa meyakinkan dia." kata abah.
"Ya abah, kami saling mencintai bah. Apa itu bisa jadi modal untuk bisa meyakinkan abang kembali sama aku?" tanya Najwa.
"Bisa saja. Yakinkan saja dia dengan cinta kalian itu." kata abah.
"Iya bah."
Najwa merasa tenang sekarang, setidaknya dia mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya untuk kembali rujuk dengan Arsyil. Dia akan datang besok ke kontrakannya dan Arsyil dulu, di mana mereka hidup bersama selama kurang lebih tiga bulan.
Malam semakin larut, Najwa sudah merasa mengantuk ketika jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Umi, aku masuk dulu ke kamar. Rasanya sudah mengantuk mata ini." kata Najwa.
"Ya sudah, tidur sana. Kamu kelihatannya kepayahan sekali." ucap umi Dila.
"Iya umi. Hoaaam."
Najwa pun melangkah meninggalkan umi dan abahnya di ruang tengah itu. Abahnya menatap kepergian anaknya, merasa lega setelah dia mendengar Najwa sudah selesai urusannya dengan Azam.
"Bah, apa abah senang dengan keputusan Najwa?" tanya umi Dila.
"Abah yang penting Najwa bahagia umi, jika dia bahagia dengan Arsyil. Abah juga ikut senang, begitu juga dengan Azam." kata abah.
"Abah lupa dengan rasa kecewa sama Azam dengan kejaidan delapan bulan lalu itu?" tanya umi Dila.
"Abah tidak bisa melupakan umi, tapi ada baiknya memaafkan dari pada memendam rasa kecewa. Apa lagi saat itu Najwa masih mencintai Azam, abah tidak bisa terus kecewa dengan perceraian mereka. Tapi sekarang abah senang jika Najwa lebih memilih orang yang tepat. Entah Arsyil itu adalah memang di takdirkan jodoh Najwa, tapi abah juga merasa kehidupan mereka tidak selalu berjalan mulus umi." kata abah.
"Maksud abah apa?"
"Sudahlah umi, kita doakan saja Najwa hidup bahagia dengan cintanya. Abah yakin mereka akan hidup bersama lagi, meski ada lika likunya nanti. Kita doakan dia bahagia umi, anak kita satu-satunya harus bahagia dengan pilihannya." ucap abah.
"Iya bah, umi selalu doakan Najwa hidup bahagia sampai mereka menua seperti kita." kata umi Dila.
Abah menarik lengan istrinya itu dan tersenyum, mereka pun berpelukan dari samping. Sambil mendoakan untuk kebahagiaan Najwa.
_
_
********************
__ADS_1