
Kebahagiaan Azam dan Mala kini terasa, Azam benar-benar nencintai Mala. Tak ada lagi dalam hidupnya untuk mencari kebahagiaan selain dengan anak dan istrinya.
Begitu juga dengan Arsyil dan Najwa, mereka semakin bahagia saja karena usaha pertanian milik Arsyil berkembang pesat. Banyak permintaan dari restoran ke restoran lain. Arsyil mengedepankan kualitas sayuran dari pada banyak tapi sayuran tidak bagus.
"Jadi permintaan dari beberapa restoran sudah di penuhi bang?" tanya Najwa.
"Ya, ada dua restoran yang mau di kirim cepat. Katanya ada event di restoran itu, jadi mereka meminta abang kirim lebih banyak dan cepat." jawab Arsyil.
Tangannya masih sibuk memainkan keyboard laptopnya. Menghitung modal dalam pengeluaran membeli bibit atau pun pupuknya.
"Katanya abang buat bibit sendiri, ngga beli dari pasar tani itu." kata Najwa.
"Iya, ada teman abang yang ajarkan membuat bibit baru agar tidak membeli bibit pada petani lain." jawab Arsyil.
Dia menoleh pada istrinya yang sedang menyusui Alief, wajah kusam istrinya setelah seharian mengurus rumah dan anaknya yang begitu aktif. Anak laki-lakinya sudah bisa belajar merangkak, jadi Najwa sangat telaten dalam menjaga anaknya agar tidak jatuh atau keluar rumah.
Arsyil tersenyum, dia melihat istrinya menguap beberapa kali. Dia simpan tulisan yang baru di ketik, lalu mendekati istrinya. Duduk di sampingnya dan menatapnya lembut.
"Capek ya dek," tanya Arsyil.
"Iya bang, tadi siang Alief merangkaknya kemana-mana. Aku sampai ngga fokus masak, jadinya masak seadanya aja." jawab Najwa.
"Dia kalau minum asi lama ya dek." kata Arsyil menatap anaknya yang sedang menghisap p*ting Najwa.
"Iya, kan dia sudah besar bang. Mau satu tahun, sekarang lagi belajar berdiri." jawab Najwa lagi.
Arsyil mencium pipi istrinya, lalu mencium pipi anaknya. Najwa kaget, yang tadinya mengantuk jadi melek lagi.
"Dek, kalau Alief punya adik lagi gimana?" tanya Arsyil.
"Ih, Alief masih kecil bang. Jalan juga belum, ngga mau." kata Najwa menolak ucapab suaminya.
"Ya itu sih misalkan dek. Nanti kalau sudah dua tahun, Alief harus punya adik. Biar ada temannya nanti." kata Arsyil.
__ADS_1
"Tau ah, abang nih. Belum juga anaknya besar dan bisa jalan, kok ngomongin adik sih." ucap Najwa.
"Heheh, artinya abang mau dek." kata Arsyil dengan tawa kecilnya.
Mata Najwa membola, dia malas kalau Arsyil bicara seperti itu. Tapi awalnya saja, dia tidak bisa menolak keinginan biologis Arsyil itu. Karena seorang istri tidak boleh menolak keinginan suaminya dalam menyalurkan hasrat kelelakiannya itu.
"Suruh Alief tidur sana, sejak tadi adek tiduran ngga mau aja. Udah minum asi banyak, tapi pengennya main terus. Abang aja yang tidurin Alief, adek mau rebahan sebantar." kata Najwa.
"Oke sayang, nanti kalau Alief sudah tidur hadiah abang adek jangan lupa." kata Arsyil.
Najwa diam saja, Arsyil mengambil anaknya dari tangan Najwa. Membawanya berkeliling agar bisa tidur cepat, awalnya sih susah selalu saja berontak. Tapi setelah dia menyanyikan sholawat nabi, lama kelamaan bayi berusia sebelas bulan itu pun akhirnya memejamkan mata juga.
Arsyil melirik pada istrinya, dia melihat Najwa memejamkan mata. Antara tidur dan tidak, Arsyil pun tersenyum. Dia tidak tega jika harus memaksa istrinya untuk melayaninya di ranjang.
Pada akhirnya, Arsyil membiarkan istrinya tidur untuk istirahat. Mengurungkan niatnya untuk mengajak Najwa tidur bercinta.
_
Najwa memajamkan matanya, dia merasa pusing kepalanya. Entah kenapa sejak pagi kepalanga pusing sekali, rasa mual di perutnya menambah dia semakin kesusahan beraktifitas.
Najwa duduk bersandar, memejamkan matanya karena pusingnya semakin bertambah.
"Aku kenapa ya, sejak pagi kok pusing terus." ucapnya.
Dalam bayangannya dia memikirkan apakah keinginan Arsyil selama ini akan terwujud?
Deg!
Najwa membuka matanya, dia mengingat sudah bedapa hari dia telat datang bulan. Dia meraba perutnya lalu bagian dadanya, tidak terasa kencang. Tapi di pegang bagian depannya terasa nyeri ketika di pencet.
"Waah, apa ini ya? Aku pusing, suka mual, dan ini dadaku kok sakit." gumamnya.
Dia mengingat kembali kapan terakhir dia mengalami menstruasi. Setelah di ingat, dia pun terkejut. Dia pun berdiri, tapi terasa oleng. Akhirnya dia pun duduk kembali, lidahnya juga terasa pahit.
__ADS_1
Najwa mengambil gelas di meja, melihat anaknya yang sejak tadi bermain dengan tenang. Setelah tidak pusing lagi, dia pun bangkit dan melangkah menuju kamarnya.
Mengambil alat tespeknya yang tinggal tersisa. Empat bulan lalu dia telat datang bulan, dia takut akan hamil lagi. Setelah di tespek, tidak hamil. Hanya kelelahan saja, beruntung sekali. Waktu itu dia juga meminum pil KB, tetapi dia kadang lupa minum pil KB itu.
Dia masuk ke dalam kamar mandi, mengecek apakah dia hamil atau tidak. Beberapa menit dia menunggi, dan betapa terkejutnya dia tespek itu menunjukkan dua garis merah.
"Aaah, abaaaang!" teriak Najwa dalam kamar mandi.
Secepat kilat, Arsyil yang baru datang dari kebun itu pun kaget dan langsung menghampiri istrinya dalam kamar mandi.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Arsyil panik.
Najwa keluar dari kamar mandi, dia menatap tajam pada suaminya dengan mulut cemberut. Dia menyerahkan alat tespek itu pada Asuaminya, dan Arsyil pun bingung. Dia melihat alat tespek itu, ternyata garis dua merah.
Arsyil terkejut lalu tersenyum senang, dia menatap Najwa yang masih cemberut itu. Memeluk istrinya lalu mencium kepalanya.
"Alhamdulillah, ternyata Allah memberi kepercayaan pada kita untuk punya anak lagi." kata Arsyil.
"Tapi Alief masih kecil bang, bagaimana nanti menjaganya?" kata Najwa kesal.
"Tenang sayang, abang akan bantu jaga Alief." kata Arsyil.
"Abangkan ke kebun, mana bisa jaga Alief lama-lama." kata Najwa masih merajuk.
"Ngga, mungkin nanti abang serahkan sama Memet. Nanti abang cuma mengontrol aja kerjaan para pekerja itu, setelah selesai abang pulang lagi. Jaga Alief di rumah." kata Arsyil.
Najwa pun diam, dia lalu tersenyum. Arsyil pun kembali mengecup kening istrinya lama, tapi kemudian sebuah tangisan kencang membuat keduanya pun kaget.
"Hwuuuaaaa, papapa!"
_
_
__ADS_1
**************