
Usia anak Najwa sudah menginjak empat bulan, dan sedang aktif sekali bicara. Meski dengan bahasa bayi, tetap bayi laki-laki itu sangat aktif dengan celotehannya. Membuat Najwa dan Arsyil tambah gemas.
Apa lagi umi Dila sering sekali ke rumah Arsyil dan Najwa demi bermain dan menggendong cucunya yang semakin menggemaskan.
"Alief aktif banget ya, Najwa. Umi sampai kewalahan deh." kata umi Dila ketika dia datang ke rumah Najwa.
"Iya umi, meskipun usianya baru empat bulan. Tapi itu badannya ngga mau diam, apa lagi kalau di gendong. Maunya di ajak jalan-jalan terus." ucap Najwa.
"Waah, iya. Tapi kalau ngga gendong Alief tuh umi rasanya kangen deh." kata umi Dila.
"Hahah, memang Alief ini sangat menggemaskan dan bikin kangen. Abang aja setiap waktu dzuhur pasti pulang buat bermain sama Alief." kata Najwa lagi.
Umi Dila tersenyum, dia sendiri selalu merasa kangen dengan cucunya. Apa lagi Arsyil sebagai ayahnya. Dia ingat dengan awal menikah Najwa dan Arsyil, sangat tidak di sangka dan tidak akan sebahagia sekarang. Mempunyai anak dari Arsyil itu suatu anugerah.
Tidak di sangka mereka akan hidup bahagia, Najwa dan Arsyil yang hanya mengenal dalam ta'aruf saja. Lalu menikah dalam waktu yang dekat pula, dan kini keduanya saling mencintai dan mempunyai anak sebagai penguat hubungan mereka.
Najwa menoleh ke arah uminya yang sedang menatapnya penuh senyuman.
"Umi kenapa senyum-senyum melihatku?" tanya Najwa mengganti pampers Alief.
"Umi tidak menyangka kamu akan hidup sebahagia ini dengan suami selinganmu dulu. Rasanya umi pikir, kamu akan tetap mencintai Azam." kata umi Dila.
"Seperti apa yang sudah di gariskan, umi. Mungkin iya inilah takdirku dengan abang, umi. Tapi aku bahagia dengan abang, dia sangat sabar dan perhatian sama aku. Makanya aku mengagumi sifat dan ketulusannya itu, membuat aku jadi merubah haluan cintaku dari mas Azam beralih ke abang, umi." kata Najwa.
"Ya, kembali lagi dengan takdir. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menempatkan pada kesalahan yang salah untuk manusia yang baik. Kamu itu baik Najwa, makanya Allah memberikan suami yang terbaik untukmu selanjutnya." kata umi Dila.
"Iya umi. Aku sekarang lebih mengerti tentang hidup yang di jalani, semuanya memang sudah di tentukan oleh Yang Di Atas." kata Najwa.
"Ya, harus banyak bersyukur dalam hidup ini. Kita di beri banyak rejeki dalam bentuk apa pun, tetap kita bersyukur." kata umi Dila.
Najwa tersenyum, dia memberikan Alief lagi pada uminya. Dan dia sendiri akan menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
"Suamimu pulang jam berapa Najwa?" tanya umi Dila.
"Abang sedang pergi ke toko tani umi, jadi mungkin agak lama pulangnya." jawab Najwa.
"Lama ya?"
"Kalau berangkatnya tadi dari kebun, berarti ya lama umi. Kenapa umi?" tanya Najwa lagi.
"Umi mau minta antar pulang kalau dia pulang cepat. Tapi kalau lama, umi pesan ojek online saja." kata umi Dila.
"Nanti aku telepon abang dulu, umi."
"Ya. Telepon saja."
Najwa mengambil ponselnya, dia menelepon suaminya. Tak lama, sambungan telepon di jawab.
"Assalamu alaikum, bang."
"Wa alaikum salam dek, ada apa? Mau nitip makanan?" tanya Arsyil di seberang sana.
__ADS_1
"Boleh, bungkusin bakso bang. Jangan pedas ya."
"Iya sayang, kalau umi mau di bawakan apa?"
"Abang pulangnya masih lama?"
"Ngga sih, sebentar lagi. Ini udah selesai. Kenapa memangnya?" tanya Arsyil.
"Umi minta di antarkan pulang. Kalau abang masih lama, umi mau pulang naik ojek online aja katanya."
"Ooh, sebentar lagi sayang. Ini mau beli bakso buat adek, terus langsung pulang." kata Arsyil lagi.
"Ya udah, umi pulang sama abang aja kalau sebentar lagi pulang sih."
"Iya."
Klik!
_
Hari Minggu, biasanya Arsyil selalu ada di rumah. Dia sengaja di hari Minggu untuk liburannya di rumah bermain dengan anaknya Alief, apa lagi sekarang bayi laki-laki itu sudah bisa menanggapi candaan ayahnya.
Najwa senang, jika haru Minggu Arsyil membantunya menjaga Alief di rumah. Selain dia bisa leluasa mengerjakan pekerjaan rumah juga bisa berkumpul santai dengan suaminya.
"Assalamu alaikum."
Suara salam dari luar, Arsyil mengerutkan dahinya. Seperti suara seorang perempuan, dia pun menoleh pada istrinya.
"Siapa itu dek?" tanya Arsyil.
"Bukan kayaknya, coba adek tengok." kata Arsyil.
"Iya bang."
Najwa pun pergi menuju pintu depan, penasaran siapa yang bertamu di waktu siang begini.
"Wa alaikum salam." jawab Najwa setelah membuka pintu rumah.
Perempuan yang memberi salam itu tersenyum, mengangguk hormat pada Najwa. Sedangkan Najwa sendiri heran, siapa perempuan itu?
"Cari siapa ya mbak?" tanya Najwa.
"Saya Maya mbak, mau bertemu dengan pak Arsyil." jawab Maya.
Najwa tertegun, dia heran kenapa perempuan itu mencari suaminya? Apa suaminya punya teman perempuan?
"Oh, mau apa ya?" tanya Najwa sedikit curiga.
"Maaf mbak, tapi pak Arsyilnya ada?" tanya Maya lagi.
"Ada sih, tapi ...." ucapan Najwa menggantung.
__ADS_1
"Siapa dek?" tanya Arsyil menggendong Alief mendekati istrinya.
"Ini, ada yang cari kamu bang. Maya namanya." kata Najwa.
Arsyil melihat Maya, dan Maya pun tersenyum ramah. Arsyil pun membalasnya, tapi Najwa seperti kesal dengan tamu suaminya itu.
"Suruh masuk saja dek, temani dia juga." kata Arsyil yang tahu istrinya itu cemburu pada Maya.
Ya, Maya adalah sekretaris Azam dulu. Dia datang ke rumah Arsyil setelah kurang lebuh satu tahu kejadian kebakaran percetakannya itu.
Najwa pun menurut, dia mengajak Maya masuk ke dalam rumah. Membawanya ke ruang tamu, dia pun pergi menuju dapur untuk mengambil minuman lalu membawanya ke depan.
Arsyil masih diam, dia masih sibuk menenangkan anaknya Alief yang tiba-tiba rewel.
"Maaf ya Maya, anak saya rewel." kata Arsyil.
"Tidak apa pak, saya juga cuma sebentar kok." kata Maya.
"Silakan mbak Maya, di minum." kata Najwa setelah dia menyajikannya di meja.
"Iya, terima kasih mbak."
"Oh ya, ada keperluan apa ya mbak Maya datang mau bertemu dengan suamiku?" tanya Najwa mewakili suaminya yang sibuk menenangkan anaknya.
Maya melirik ke arah Arsyil, sebenarnya dia tidak enak juga kalau harus bicara dengan Najwa istrinya. Tapi rupanya Arsyil paham dengan lirikan Maya itu.
"Katakan saja, Maya. Istriku juga perlu tahu kok." kata Arsyil.
Maya tersenyum kaku, meski Arsyil sendiri tidak tahu kenapa Maya datang menemuinya. Itu aneh sekali, dan dari mana dia tahu rumahnya.
"Maaf sebelumnya pak Arsyil, mbak juga. Saya ini tadinya sekretarisnya pak Azam, dulu yang pernag menyuruh orang untuk membakar percetakannya pak Arsyil demi lahan itu. Maksud saya kesini untuk minta maaf pada pak Arsyil yang telah membakar percetakan itu, saya benar-benar salah. Beruntung pak Azam baik sekali mau menjamin saya tidak di penjara, tapi syaratnya harus minta maaf sama pak Arsyil." kata Maya.
Najwa diam, dia pun kini mengerti siapa Maya dan apa tujuannya itu. Arsyil pun juga diam, ternyata Azam memang berbuat baik juga meski Maya salah karena pembakaran itu yang kena imbas adalah perusahaannya dan nama baiknya.
"Apa pak Arsyil mau memaafkan saya? Kalau tidak, saya akan di hantui rasa bersalah pada anda pak." kata Maya.
"Maaf mbak Maya, semuanya memang sudah berlalu. Mbak Maya datang kemari meminta maaf sama suami saya itu bagus juga." kata Najwa.
"Mbak Maya sudah jangan berpikir begitu, Azam juga sudah cerita kok. Dan sejak dulu saya sudah memaafkan, jadi jangan di pikirkan dan di ungkit lagi." kata Arsyil.
"Terima kasih pak Arsyil, sungguh saya menyesal melakukan itu. Kalau bukan karena pak Azam dan anda pak Arsyil yang baik, mungkin saya masih berada di penjara." kata Maya menunduk.
"Jangan pikirkan lagi, saya sudah memaafkannya kok." kata Arsyil lagi.
"Terima kasih pak Arsyil, saya kesini cuma sebentar kok. Dan saya sudah di tunggu, karena kesini sekalian mampir. Ingat dengan alamat yang di berikan pak Azam pada saya." kata Maya lagi.
Arsyil dan Najwa tersenyum, kini Maya pun berpamitan karena memang dia di tunggu oleh suaminya di depan.
Najwa pun merasa lega, ternyata perempuan itu adalah orang yang menyuruh membakar percetakan suaminya dan meminta maaf secara langsung pada Arsyil.
_
__ADS_1
_
************