Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
55. Pindahan


__ADS_3

Azam mengurungkan niatnya untuk bersalaman dengan Najwa dan Arsyil. Dia kembali lagi ke dalam mobilnya, duduk di depan kemudinya. Napasnya sedikit kencang tak beraturan karena menahan kesal di hatinya.


Dia pun akhirnya menjalankan mesin mobil dan meninggalkan halaman rumah abah dan umi Najwa. Dia benar-benar kesal dan cemburu membayangkan tadi Najwa begitu mesra dan sangat perhatian pada Arsyil.


"Apa mereka benar saling jatuh cinta? Kenapa begitu cepat cinta mereka datang?" ucap Azam.


Mobil melaju sedikit kencang, entah tujuannya kemana. Yang jelas pikirannya sedang kacau, merasa terhianati oleh sahabat sendiri yang dia bantu.


"Aku sudah bantu kamu, Arsyil. Dan kamu yang telah kuperkenalkan pada Najwa, tapi kenapa kamu yang terlihat di cintai oleh Najwa di banding aku dulu." ucap Azam lagi.


Satu jam mobilnya terus berputar-putar di jalanan kota tanpa arah yang jelas. Dia pun akhirnya melihat sebuah kafe, dia pun menghentikan mobilnya di area parkir kafe yang lumayan luas.


Kafe yabg cukup ramai dan tempatnya juga lumayan mewah. Kafe and resto, Azam masuk ke dalam kafe tersebut. Ada live musiknya juga, dia mencari duduk di kursi yang nyaman dan jauh dari keramaian pengunjung.


Ponselnya berdering, dia mengabaikannya. Tapi ponselnya terus berbunyi, di ambilnya dan itu dari rumahnya. Mala, meneleponnya.


Azam melirik malas, dering ponsel itu di abaikannya. Justru dia memanggil pelayan dan memesan minuman.


"Anda mau pesan apa pak?" tanya pelayan.


"Secangkir kopi late saja."


"Ada yang lainnya?" tanya pelayan lagi melirik ke arah ponsel Azam yang terus berbunyi.


"Sudah cukup."


"Baik pak, maaf itu ponselnya bunyi terus."


"Biarkan saja, tidak penting. Cepat ya, jangan pakai lama." kata Azam.


"Baik pak."


Pelayan itu pergi, ponselnya di buat silent. Malas sekali dia menjawab telepon dari Mala, dia ingin menenangkan diri di kafe tanpa ada gangguan dari istrinya yang akhir-akhir ini selalu menuntutnya pulang lebih cepat. Atau bahkan meminta mengantarnya periksa ke dokter.


Sementara itu, di yayasan pesantren. Acara resepsi Arsyil dan Najwa sudah mulai surut para undangan yang hadir. Hanya beberapa kerabat jauh yang masih ada di sana.


Arsyil tampak cemas melihat istrinya itu kelelahan karena cukup lama berdiri untuk salaman dengan para undangan. Ternyata banyak juga yang datang, mereka penasaran siapa suami Najwa setelah dia jadi janda.


Atau siapa istri Arsyil, yang ternyata janda cantik dan sholehah. Sangat beruntung keduanya di pertemukan dan kini bersanding di pelaminan, banyak yang iri dengan mereka. Tapi tak sedikit yang ikut senang karena Najwa sudah bersuami lagi, bahkan sedang hamil pula.

__ADS_1


"Lelah ya dek?" tanya Arsyil.


"Iya bang, tadi lama banget berdirinya. Ngga berhenti-berhenti para undangan minta bersalaman." jawab Najwa memegangi kakinya.


Arsyil berjongkok di depan Najwa dan ikut memijati kakinya. Dia merasa kasihan pada Najwa yang kelelahan, di tambah lagi dia dalam keadaan hamil muda.


"Kita pulang saja ke rumah abah ya?" kata Arsyil menyarankan.


"Iya bang, tapi harus pakai becak. Ngga mungkin juga pakai motor atau jalan kaki." kata Najwa.


"Iya, nanti minta sama santri suruh panggilkan becak aja."


Mereka masih mengobrol dengan posisi Arsyil masih memijat kaki Najwa. Banyak juga santri yang ada di sana melihat pemandangan romantis itu.


"Waah, seneng banget ya suaminya ustadzah Najwa memijat kakinya. Pasti sayang banget tuh sama ustadzah." kata salah satu santri yang melihat pemandangan itu.


"Iya, kapan ya punya suami kayak suami ustadzah. Udah ganteng, baik dan sayang istri pula." kata satunya lagi.


"Hemm belajar yang rajin dulu, jangan lupa berdoa biar kelak dapat suami kayak pak Arsyil itu." kata teman satunya lagi.


"Yaelah, kita lagi enak lihat pemandangan yang bagus. Kamu ganggu aja sih."


Arsyil membantu Najwa berdiri, mereka pun keluar pondok. Di sana becak sudah menunggu Najwa dan Arsyil.


"Antar ke rumah abah ya pak." kata Arsyil.


"Iya ustad." jawab tukang becak itu.


Najwa tersenyum suaminya di panggil ustadz. Arsyil menaiki motor yang sudah siap oleh santri. Acara sudah selesai, umi dan abah masih di dalam yayasan pondok. Jadi Najwa dan Arsyil pulang lebih dulu.


_


Satu minggu setelah resepsi pernikahan Arsyil dan Najwa, keduanya bersiap untuk kembali ke rumah milik ayah Arsyil.


"Kalian sudah tidak capek?" tanya umi Dila.


"Sudah cukup umi istirahatnya, kan sudah seminggu. Rumah abang pasti bangak debu karena ngga di bersihkan." jawab Najwa.


"Apa suamimu akan kembali ke percetakan lagi?" tanya umi lagi.

__ADS_1


"Iya umi, setiap hari juga pergi ke percetakan. Katanya lagi banyak pesanan, jadi tidak bisa di tinggalkan lama-lama." kata Najwa lagi.


Dia membereskan baju-bajunya semua, juga barang-barang pribadinya. Arsyil pulang akan membawa mobil kantor percetakannya untuk mengangkut barang-barang Najwa.


"Oh ya, perabot dapur yang dulu kamu beli di rumah kontrakan itu. Apa tidak di ambil sekalian?" tanya umi Dila.


"Di bawa umi, nanti sekalian mampir ke rumah kontrakan dan mengambil perabot dapur dan kasur juga." kata Najwa.


"Tapi agak jauh ya jadinya."


"Ya ngga apa-apa, abang juga tidak.masalah. Lagi pula kan rumah ayah kosong umi, dari pada mengontrak mending rumah ayah di tempati. Nanti sesekali aku yang urus kebun ayah juga."


"Jadi almarhum mertuamu punya kebun juga?" tanya umi Dila.


"Iya umi, cuma ngga besar. Mungkin hanya dua belas meter kali lima meter sih, kebun itu kesibukan di waktu senggang. Sebentar lagi mau panen sawi dan daun bawang, lumayan aja sih buat tambahan uang belanja. Atau nanti buat acara syukuran empat puluh hari ayah minggu depan." kata Najwa.


"Ya, itu lebih baik. Terserah kamu saja, tapi kamu harus jaga kesehatan lho. Kandunganmu kan baru memasuki tiga bulan."


"Iya, makanya nanti sih nyuruh orang aja buat panen itu sayur." kata Najwa lagi.


Dia sudah selesai mengepak baju-baju dan barangnya di masukkan ke dalam kardus. Arsyil masuk ke dalam kamar istrinya itu, dia melihat ada tiga kardus yang harus di angkut dalam mobilnya.


"Itu barang milik adek semua?" tanya Arsyil.


"Iya bang, kebanyakan ya?" tanya Najwa.


"Ngga kok, abang pikir ada sepuluh kardus." kata Arsyil.


"Ish, adek ngga pernah beli barang yang ngga bermanfaat bang. Semua yang adek beli itu ya di pakai semua, ngga ada yang nganggur atau di simpan-simpan. Ngga bagus juga membeli barang yang hanya suka lihatnya aja tapi ngga di manfaatkan. Kan mubadzir, bang." kata Najwa.


"Iya, aja adek punya barang simpanan yang ngga di pakai. Ya sudah, abang bawa ke dalam mobil aja sekalian. Kita nanti langsung pergi ke rumah kontrakan ambil barang perabot." kata Arsyil.


"Iya bang."


Arsyil mengambil kardus berukuran sedang dua-duanya. Satunya kardus besar yang nanti di ambil setelah menyimpan dua kardus di mobil.


_


_

__ADS_1


********************


__ADS_2