
Najwa menangis dalam kamarnya, dia membaringkan tubuhnya di kasurnya. Umi Dila masuk ke dalam kamar anaknya yang sedang menangis di ranjangnya. Dia mendekati Najwa dan duduk di sisi ranjang itu.
"Najwa." panggil umi Dila.
Najwa bangun, dia pun memeluk uminya dan menangis dalam pelukan ibunya itu. Umi Dila mengusap punggung anaknya dengan lembut, dia tahu anaknya kini mencintai Arsyil.
"Sabar Najwa, kamu bisa memutuskan sendiri. Nak Arsyil tidak bisa mengingkari janjinya pada nak Azam. Dia memang harus menepatinya, kamu harus menghargai keputusannya itu." kata umi Dila.
"Tapi abang sedang berduka umi, kenapa dia lebih mementingkan sahabatnya dari pada dirinya sendiri? Bukankah bisa janji itu di tangguhkan dulu, atau bisa di ubah lagi karena abang sedang berduka." kata Najwa sambil menangis.
"Najwa, terkadang memang laki-laki itu mengesampingkan perasaannya di banding sebuah persahabatan. Apa lagi kalian bertemu karena Azam, sudah tentu Arsyil akan merasa bersalah jika dia menghianati sahabatnya sendiri. Umi memang mengakui kalau Arsyil itu laki-laki yang sangat baik, bahkan terlalu baik. Umi lihat dia sangat mencintaimu, tapi dia merelakanmu untuk sahabatnya yang juga mencintaimu." kata umi Dila menasehati Najwa.
"Aku juga mencintai bang Arsyil, umi. Aku ingin hidup dengannya selamanya." kata Najwa lagi.
"Maka itu, kamu yang memutuskan untuk memilih siapa di antara dua sahabat itu. Siapa yang kini kamu cintai, kamu yang akan menentukannya."
"Aku sudah bilang sama abang, umi. Kalau aku juga cinta, tapi abang tetap membawaku ke rumah abah dan menceraikan aku. Hik hik hik." kata Najwa.
Umi Dila memeluk anaknya, kini terjawab sudah apa arti dari mimpi Najwa empat bulan lalu itu. Ternyata inilah jawabannya, dia menepuk punggung Najwa dengan pelan. Menenangkan dan memberikan kekuatan pada anaknya agar tidak larut dalam kesedihan.
"Bersabarlah Najwa, mungkin satu minggu lagi Azam akan datang kesini. Dan kamu bisa bicarakan dengan Azam masalah perasaanmu pada Arsyil. Tapi kamu harus tetap meminta petunjuk pada Yang Di Atas, karena segalanya Allah yang menentukan semuanya. Yang membolak balikan hati setiap manuisa." kata umi Dila.
Najwa melepas pelukannya, dia menghapus air mata yang masih meleleh di pipinya. Dia menatap uminya dan tersenyum tipis.
"Aku sudah memutuskan untuk memilih siapa umi. Aku akan bicarakan dengan mas Azam, biar mas Azam mengetahui pilihanku dan tidak memaksaku untuk menikah dengannya." kata Najwa.
"Ya, bicarakan dengan Azam. Tapi setelah kamu mengatakan itu, sebaiknya kamu bersiap akan ada sikap lain dari Azam padamu atau pada Arsyil nantinya." kata umi Dila.
"Iya umi, aku tahu. Setidaknya aku akan kuat jika ada abang di sampingku menghadapi semuanya. Semoga semuanya bisa aku atasi." kata Najwa.
"Amiin, umi doakan yang terbaik untukmu dan Arsyil. Serta Azam mau merelakanmu untuk sahabatnya karena kamu yang memilih dia." kata umi Dila.
Najwa mengangguk, umi Dila tersenyum. Dia lalu bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Sampai di depan pintu tampak abah berdiri menghadap pintu kamar Najwa, dia menatap istrinya lalu tersenyum.
__ADS_1
"Jadi umi ingat akan mimpi Najwa itu?" tanya abah.
"Iya bah, mungkin itu arti mimpi Najwa waktu itu." kata umi Dila.
"Abah sebenarnya sudah menebak waktu itu, tapi abah pikir membiarkan semua rencana berjalan lebih duli. Baru mimpi itu akan terbaca setelah terjadi seperti ini. Abah tidak mau di sebut sebagai cenayang." kata abah.
"Umi tahu bah, sejak pernikahan Najwa dengan Arsyil. Umi lihat nak Arsyil yang lebih dulu suka, dan entah kapan itu Najwa bisa jatuh cinta pada suaminya."
"Umi ini, cinta itu tidak harus datang pada pandangan pertama. Meski memang ada yang seperti itu, tapi Najwa kan waktu itu masih mencintai Azam. Jadi tidak bisa berpaling begitu cepat. Sudahlah, biarkan takdir mereka berjalan sesuai ketentuan Allah. Kita doakan saja kebaikan dari mereka, terutama Najwa dan Arsyil juga Azam."
"Semoga Azam menerimany ya bah, kalau tidak. Maka akan ada dua orang yang sakit hati karena keterpaksaan dan keegoisan salah satunya." kata umi Dila.
Mereka kini berada di ruang tengah, menonton televisi dengan acara favorit mereka. Yaitu acara kuis siapa berani maju di salah satu chanel tv.
_
Sepulang dari rumah abah Najwa, Arsyil hanya berdiam diri di ruang tamu. Dia menatap sekeliling ruangan yang tidak besar itu, hanya berukuran empat kali enam meter saja.
Tiba-tiba air matanya mengalir, dia terisak sedih dengan keadaannya kini. Matanya terpejam lalu di usapnya air matanya yang jatuh. Benar-benar terpuruk saat ini, entah apa yang akan dia lakukan tanpa Najwa di sisinya.
Dalam kesendiriannya seperti itu, bayangan tentang kemesraan dirinya dan Najwa terlintas jelas di pikirannya. Ketika menaiki motor, ketika ada di dapur, ketika ada di meja makan dan juga berada di kamar mereka dulu saat tidur bersama.
Bahkan cumbuan percintaan terekam jelas di benak Arsyil. Tentu saja itu membuat dirinya kembali menangis sedih, semua kini hanya tinggal kenangan saja.
Lama dia menangis sedih meratapi hatinya yang kosong dan juga cintanya yang tidak bisa bersatu dengan Najwa, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mengabaikannya sejenak, tapi kemudian berkali-kali ponselnya terus berbunyi.
Akhirnya Arsyil mengambil ponsel dalam tasnya, dia melihat nama Azam di layar pipih itu. Diam sejenak, dia menarik napas panjang lalu menjawab telepon Azam.
"Assalamu alaikum Zam."
"Wa alaikum salam, Syil. Aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu, maaf aku baru tahu ketika aku datang ke percetakanmu kemarin, karyawanmu memberitahuku." kata Azam.
"Terima kasih Zam." jawab Arsyil.
__ADS_1
"Apa kamu masih di kontrakan? Maksudku, kamu ada di kontrakan atau di rumah ayahmu?" tanya Azam.
"Aku di rumah, sore nanti aku akan ke rumah ayah. Untuk sementara aku akan tinggal di rumah ayah, Zam." kata Arsyil.
"Kamu akan tinggal di sana? Dengan Najwa?" tanya Azam ragu.
"Tidak Zam, aku sudah mengembalikan dek Najwa ke rumah abah tadi siang. Aku sudah menceraikan dia, jadi kamu bisa menikahi dek Najwa setelah masa iddahnya selesai." kata Arsyil dengan tegas.
Dia tidak mau bertele-tele bicara pada Azam di telepon mengenai Najwa, dia tahu Azam meneleponnya ingin menanyakan dirinya dan Najwa. Lebih tepatnya mantan istrinya.
"Syil, waktunya kan belum selesai. Masih ada besok, kenapa kamu terburu-buru mengantarkan Najwa ke rumah abah." kata Azam.
"Bagiku sama saja, Zam. Mau besok atau sekarang, tidak ada bedanya. Aku harus menceraikan Najwa dan mengembalikannya pada abah. Dan kamu bisa menikahinya, sesuai keinginanmu." kata Arsyil.
Azam diam di seberang sana, dia merasa senang tapi tidak tega harus melakukan itu. Dia akui Arsyil adalah sahabat yang sangat baik, selalu menepati janjinya. Tidak salah jika dia meminta pada Arsyil untuk membantunya, meski dia dulu tampak ragu akan ada perasaan yang bermain dalam hubungan rumah tangga Arsyil dan Najwa.
"Emm, Syil aku ingin bertemu denganmu. Aku harus menemuimu di kontrakan atau di rumah ayahmu?" tanya Azam.
"Sore ini aku pulang ke rumah ayah, kalau mau besok saja di rumah ayah. Sementara rumah kontrakan ini aku kosongkan." kata Arsyil.
"Oke Syil, besok aku datang ke rumah ayahmu. Maaf aku baru meneleponmu, dan sekali lagi turut berduka cita untukmu. Semoga om Marwan tenang di sisiNya." kata Azam.
"Amiin, terima kasih Zam."
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Klik!
_
_
__ADS_1
*******************