
Arsyil diam saja melihat istrinya kembali lagi ke rumahnya. Tapi dia kemudian bertanya kenapa Najwa bisa kembali lagi, bukankah tadi dia pamit untuk pergi ke rumah abahnya.
"Adek kenapa balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Arsyil.
"Emm, tadi mas Azam datang ya?" tanya Najwa tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Iya, tadi pagi abang sudah kasih tahu kamu kan dek." kata Arsyil.
"Oh ya bang." kata Najwa jadi salah tingkah.
Arsyil melihat Najwa jadi heran, kenapa dia salah tingkah begitu. Apa benar Najwa masih mencintai mangan suaminya itu? Tiba-tiba hatinya sedikit kecewa.
"Dek, tadi Azam menanyakan tentang kontrak itu. Setengah bulan lagi kita akan bercerai." kata Arsyil pelan.
"Lalu?" tanya Najwa.
"Ya, kamu nanti abang pulangkan ke rumah abah dan umi." kata Arsyil menatap istrinya.
Dia mencari tahu dari wajah dan tatapan Najwa itu, apakah dia senang dengan kabar itu atau bagaiamnana.
"Ooh, masih setengah bulan lagi kan?" tanya Najwa.
"Iya sih dek, tapi ...."
"Jangan di pikirkan bang, manfaatkan waktu dalam setengah bulan ini. Buat apa memikirkannya?"
"Kamu, tidak senang, maksud abang kamu ...."
"Sudah bang, adek bilang jangan pikirkan. Adek mau menikmati kebersamaan sama abang, tolong jangan pikirkan itu." kata Najwa dengan senyum mengembang.
Arsyil masih diam menatap istrinya, kemudian dia pun tersenyum. Benar apa yang di katakan Najwa, tetapi semakin dia dekat akan semakin sakit rasanya jika berpisah. Arsyil akan semakin tidak rela untuk melepas Najwa.
"Tadi abah memberitahu, kalau beliau sedang berkunjung keluar kota sama umi. Jadi adek balik lagi, ngga jadi ke rumah abah." kata Najwa.
"Ooh, begitu."
"Bang?"
"Ya dek?"
"Kita jalan-jalan yuk?"
"Kemana?"
"Ke taman kompleks aja, jalan kaki juga ngga apa-apa. Biar lebih lama." kata Najwa masih dengan senyum mengembangnya.
__ADS_1
"Yakin jalan kaki? Kan jauh tempatnya."
"Ngga apa-apa, hitung-hitung olah raga aja." kata Najwa.
"Baiklah, abang ganti baju dulu ya. Ngga enak pakai baju begini." ucap Arsyil.
Najwa mengangguk lalu Arsyil bangkit dari duduknya. Pikirannya masih seputar kontrak pernikahan itu, dia takut dengan perpisahan dengan Najwa. Dia benar-benar sudah mencintai istrinya itu.
Lama Arsyil termenung dalam kamarnya, rasa gelisah, kecewa serta ketakutan akan perpisahan membaur jadi satu. Membuat Najwa di luar kamar heran dan memanggil suaminya itu.
"Bang, udah belum?"
Teriakan Najwa membuyarkan pikiran Arsyil. Cepat-cepat dia mengganti celana dan bajunya yang lebih baik. Setelah selesai, dia pun keluar lagi dan menghampiri istrinya.
"Ini masih siang dek, kan panas kalau jalan kaki ke taman kompleks itu. Apa lagi kendaraan yang lewat." kata Arsyil.
"Ngga apa-apa, dari pada aku minta ke Bali. Mending pergi ke taman kompleks." kata Najwa dengan sedikit candaannya.
"Kalau ke Bali kan harus beli tiket dulu dek, terus mengemasi barang. Kok jauh sih perbandingannya ke Bali."
"Ya abang kenapa ragu begitu, sudah bagus kan adek cuma minta jalan-jalan ke taman kompleks aja. Apa lagi cuma jalan kaki." kata Najwa.
"Heheh, iya sih dek." kata Arsyil tertawa kecil.
Sedikit terhibur dengan ucapan Najwa itu, dia senang istrinya tidak menunjukkan apakah sama dengan dirinya atau bahkan sangat menunggu keputsan itu.
_
"Halo Nadia, dari bagian cetak bukunya sudah semua?" tanya Arsyil di telepon.
"Sudah pak, tinggal covernya saja kata mas Dimasnya." jawab Nadia.
"Baiklah, besok saya bawa gambar covernya sama dia. Maaf malam-malam ganggu kamu, Nadia." kata Arsyil.
"Iya pak, ngga apa-apa."
Klik!
Arsyil menutup sambungan teleponnya, Najwa menghampiri Arsyil dan meletakkan wedang jahe di depan suaminya itu. Arsyil mendongak ke arah Najwa, dia tersenyum lalu melanjutkan membuat cover yang sebentar lagi selesai.
"Masih lama ya bang?" tanya Najwa.
"Sebentar lagi kok, ini mau di kirim sama Dimas. Karena bukunya sudah selesai di cetak, tinggal covernya saja yang belum selesai. Beberapa kali abang ganti kok rasanya ngga cocok terus, jadi lama covernya." kata Arsyil.
"Kalau buat desain cover adek rasa mudah bang, kenapa lama?" tanya Najwa.
__ADS_1
"Ada tiga cover yang harus abang buat. Sudah di buat, tapi abang ngga cocok. Jadi abang ganti beberapa kali, baru kali ini abang cocok. Ya, meski ada yang kurang sih. Takutnya bukunya kurang laku kalau covernya ngga cocok sama isi bukunya." kata Arsyil.
"Jadi, cover buku juga menentukan laku tidaknya sebuah buku?" tanya Najwa.
"Ngga juga, hanya sebagian. Tapi orang awam yang baru lihat cover bukunya menarik, pasti akan tertarik dan langsung mmebaca terus beli bukunya." kata Arsyil.
"Bukannya itu untung-untungan bagi si penulis juga bang?"
"Ya, tapi kalau cover bagus kan abang juga membantu penulis dalam penjualan buku dia. Dan abang akan puas jika ada penulis bilang bukunya laris karena lihat covernya bagus." kata Arsyil lagi.
"Begitu ya bang." kata Najwa.
Keduanya diam, Arsyil mengambil gelas berisi wedang jahe yang tadi di bawakan oleh Najwa.
"Abang ngantuk ngga?" tanya Najwa.
"Kenapa? Adek sudah mengantuk?"
"Emm, pengen tidur sama abang." kata Najwa dengan malu-malu.
Arsyil menatap istrinya, dia lalu mengangguk dan segera menutup laptopnya setelah menyimpan hasil pekerjaannya. Berniat melanjutkan setelah sholat subuh nanti, kini dia akan melakukan ibadah subah rasul karena malam ini malam Jum'at.
Najwa mengajaknya, bahkan memintanya dengan bahasanya sendiri dan Arsyil memahaminya. Keduanya pun masuk ke dalam kamar, mereka langsung naik ke ranjang dan memulai melakukan pendekatan lebih dulu dengan saling menatap lalu saling mencium.
Tak ada kegelisahan saat ini bagi keduanya, yang ada hanya gairah untuk melakukan percintaan dengan perasaan bahagia. Arsyil melakukannya dengan penuh kelembutan dan penuh cinta.
Dia mencurahkan semua rasa cintanya pada Najwa. Berharap apa yang di lakukannya itu menanamkan satu benih pada rahim Najwa, tapi dia tahu istrinya itu membeli pil pencegah hamil. Entah di minum atau tidak, Arsyil tidak tahu.
Tapi yang jelas, saat ini Arsyil ingin menumpahkan rasa cinta terdalamnya pada Najwa. Karena memang sebentar lagi dia harus berpisah dengan istrinya itu.
Hanya mengucapkan dalam hati, ungkapan cintanya pada Najwa. Satu jam mereka melakukan percintaan dengan penuh cinta itu, Arsyil memeluk Najwa. Mencium kepalanya dan beberapa kali mengucapkan kata cinta hanya dalam hati.
Najwa sendiri merasakan kalau Arsyil benar-benar mencintainya. Dia tahu, dalam diamnya suaminya memendam perasaan penuh cinta untuknya. Najwa membalas pelukan suaminya, merasakan cinta terdalam dari suaminya meski tanpa di ucapkan.
Keduanya pun tidur dengan pulas hingga subuh menjelang. Arsyil bangun lebih dulu, dia melihat Najwa yang tertidur pulas. Dia menutupi dengan selimut bagian dada Najwa yang terlihat.
"Kamu cantik sekali dek, abang semakin mencintaimu." ucap Arsyil.
Dia lalu beranjak dari duduknya dan segera pergi ke kamar mandi untuk mandi wajib setelah malam harinya mereka bercinta. Arsyil kembali gelisah, mengingat waktunya tinggal sepuluh hari untuk bercerai dengan Najwa.
Mulai hari ini, dia sudah meyakinkan diri untuk menjaga jarak dengan Najwa. Menyiapkan dirinya sendiri agar tidak lagi mencintai Najwa. Bersikap biasa saja pada Najwa, itulah keputusan Arsyil selanjutnya.
"Maafkan abang dek, mulai saat ini abang akan bersikap biasa saja sama kamu." ucap Arsyil dalam kegelisahannya setelah dia mandi tadi.
_
__ADS_1
_
*****************