
Abah duduk termenung di teras rumah, dia memikirkan nasib menantunya yang kini sudah tidak bekerja lagi. Umi Dila menghampiri suaminya, dengan membawa secangkir kopi dan cemilan.
"Abah memikirkan apa?" tanya umi Dila.
"Besok abah mau ke rumah Azam." kata abah.
"Ya, abah terlalu banyak pertimbangan, begini jadinya. Dia sekarang seenaknya, umi kesalnya minta ampun." kata umi Dila.
"Abah hanya mau bicara saja umi, bukan memarahinya." kata abah.
"Ya, mau bicara atau apa itu. Yang penting abah cepat temui Azam, lama-lama kalau abah ngga pergi juga. Umi yang akan pergi ke rumahnya." kata umi Dila mengancam.
Abah menoleh pada istrinya, melihat perempuan paruh baya itu sedang kesal. Dia mengambil kopi di meja lalu menyeruputnya pelan.
"Iya umi, kan memang waktu itu abah harus di tugaskan kyai Sholeh ke luar kota. Harus menggantikan beliau ceramah di sana." kata abah.
"Ya iya, tapi setelah pulang dari sana. Abah ngga langsung pergi ke rumah Azam juga." kata umi Dila masih kesal.
Abah menarik napas panjang, dia tahu istrinya itu marah sekali pada mantan menantunya. Tapi kali ini memang abah harus segera menemui Azam, entah dia sedang sibuk mencari cara untuk menghindar dari hukuman polisi dengan menyew pengacara. Entahlah.
Sementara itu, Azam masih berada di kantornya. Dia mendapat kabar harus menyelesaikan urusannya dengan kepolisian dan juga memberi keterangan masalah kebakaran itu. Belum lagi tadi pagi dia dapat telepon juga kalau Mala sudah mengalami kontraksi mau melahirkan.
Semuanya membuat Azam pusing, dia menangguhkan datang ke kepolisian setelah mengantarkan Mala ke rumah sakit untuk persalinan anaknya.
Bi Darsih yang setia menemani Mala ikut cemas dan khawatir dengan keadaan Mala yang tak kunjung melahirkan. Masih saja kontraksi dan baru pembukaan lima.
"Bi, sakit sekali. Apakah dia akan lahir dengan selamat?" tanya Mala menahan sakit kontraksi perutnya.
"Sabar bu, semua orang melahirkan pasti sakit. Itulah kenapa seorang anak harus berbakti pada orang tuanya karena mengandung dan melahirkan sakitnya luar biasa." kata bi Darsih menenangkan Mala.
"Aku baru sadar ketika dulu pernah membuat ibu marah, dan malah aku kabur ke rumah teman sampai berhari-hari. Lalu bang Ridho menyusulku untuk pulang, rasanya seperti ini rasa sakit melahirkan. Eeeuh ..." ucap Mala menahan sakit yang bergejolak.
"Iya bu, seharusnya seorang suami itu harus memahami betapa besar perjuangan seorang istri untuk melahirkan anak. Rasa sakitnya luar biasa, tapi kadang laki-laki tidak memikirkan itu. Mereka hanya senang dan bahagia anaknya sudah lahir dan bangga jika sudah memiliki anak. Tidak tahu bagaimana rasanya hamil dan melahirkan." kata bi Darsih.
"Kodrat seorang perempuan bi, aaaah." ucap Mala.
Bi Darsih terus mengelus punggung Mala agar merasa tenang. Dia terus melihat ke arah pintu. Menunggu Azam datang mendampingi istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Apa mas Azam sudah datang bi?" tanya Mala sambil meringis.
"Belum bu, mungkin sedang di jalan." kata bi Darsih.
"Mungkin dia sibuk bi, dan lupa kalau aku mau melahirkan anaknya." ucap Mala.
"Tidak mungkin bu, mas Azam pasti datang. Tadi bibi sudah kasih kabar dan katanya akan datang kemari." kata bi Darsih.
__ADS_1
"Tolong telepon abangku saja bi, mungkin dia bisa membantuku." kata Mala lagi.
Dia tidak berharap banyak akan kedatangan Azam. Beberapa hari ini Azam sibuk sekali, Mala tidak tahu kesibukan Azam saat ini. Bahkan dia juga tidak tahu pekerjaan Azam di kantornya.
Mala sudah mengikhlaskan Azam yang semakin jauh darinya. Setelah melahirkan, Mala akan bicara pada suaminya. Bahwa dia akan pulang ke rumah kakaknya, Ridho. Itu rencana Mala yang belum di bicarakan dengan bi Darsih.
Dokter kandungan dan dua perawat masuk ke dalam ruang persalinan. Dia memeriksa bagian bawah Mala, apakah pembukaannya sudah ada tambahan atau masih saja di angka lima.
"Suami ibu kemana? Kok belum kelihatan?" tanya dokter.
"Masih di kantor, dokter. Sssshhh."
"Apa sudah di hubungi?" tanya dokter lagi.
"Sudah dokter, mungkin macet." jawab bi Darsih.
"Soalnya ibu masih belum pembukaannya, jika sampai malam nanti belum nambah-nambah maka ibu terpaksa harus di operasi sesar." kata dokter kandungan.
"Tunggu ayahnya datang saja dulu dok, jangan di operasi lagi." kata bi Darsih.
"Ya, makanya tolong di hubungi lagi. Karena nantinya operasi itu harus ada persetujuan suami ibunya."
"Ya dokter, nanti saya hubungi lagi." ucap bi Darsih.
Sedangkan Mala masih meringis kesakitan, dia mengguling ke kanan dan ke kiri. Bi Darsih merasa kasihan, tapi begitulah perempuan yang sedang berjuang untuk melahirkan seorang anak.
Tiba-tiba Azam pun masuk ke dalam ruangan bersalin. Dia melihat Mala sedang ketakutan dan kesakitan, dia pun tertegun melihat istrinya yang bergulang guling di bangsal menahan sakit.
"Apa belum juga melahirkan, bi?" tanya Azam.
"Iya mas, mungkin bayinya menunggu ayahnya datang." kata bi Darsih.
Azam diam, dia mendekati Mala. Dia melihat Mala yang terpejam menahan sakit luar biasa itu, tangannya menggenggam tangan Mala.
Mala pun membuka matanya, tampa terkejut dia melihat Azam sedang memegang tangannya memberi kekuatan padanya.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Azam.
"Sakit." jawab Mala.
"Sakit sekali?" tanya Azam lagi.
"Sakitnya seperti tulang-tulangku mau copot semua."
Azam terdiam, dia menatap wajah istrinya. Membayangkan sejak dia di tolak oleh Najwa, dia banyak mendiamkan Mala. Tanpa mengajaknya bicara, atau pun sekedar makan sarapan pagi. Semuanya dia hindari karena rasa kesal, marah dan juga kecewa campur jadi satu saat itu.
__ADS_1
Dia lampiaskan semuanya pada Mala, hingga istrinya itu berpikiran kalau dirinya sudah tidak menginginkannya lagi. Meski tahu Najwa sudah kembali lagi dengan suaminya dan menikah secara resmi.
"Eeeeuh, bi Darsih! Sakiiit!" teriak Mala.
Dia malah memanggil bi Darsih, pembantu di rumah Azam yang selama ini setia menemani dan membantunya. Azam tertegun, kenapa istrinya justru meminta bantuan pada bi Darsih. Bukan pada dirinya yang jelas sudah ada di depannya.
"Bi Darsih, aaaah!"
"Sabar bu, nanti saya panggilkan dokter ya. Mungkin sudah nambah pembukaannya, dan bi Darsih pun segera keluar untuk memanggil dokter kandungan.
"Maafkan aku, Mala." ucap Azam.
"Eeeuh, uh uh uh. Aaaah, aku tidak tahan lagi!" teriak Mala.
Azam bingung harus melakukan apa. Dia hanya mengelus perut istrinya, dia merasakan ada pergerakan yang sangat kencang dalam perut Mala.
Tak lama dokter pun datang, dia segera memeriksa keadaan Mala. Darah dan air ketuban sudah pecah, dokter memeriksa dengan tangannya. Lalu dia pun menyuruh dua perawat itu untuk menyiapkan semuanya. Persalinan Mala akan segera di lakuka.
"Sudah lengkap ya, ternyata tidak butuh lama pembukaan lengkap. Ibu akan saya bimbing untuk mengejan, dan bapak dampingi istrinya. Beri semangat agar ibunya juga ikut semangat untuk mengeluarkan bayinya." kata dokter.
"Iya dokter." ucap Azam.
Dokter sudah memakai sarung tangan, kedua perawat berdiri di sebelah sisi kanan kiri dokter. Semuanya tampak tegang, bi Darsih pun menyaksikan persalinan Mala.
"Dalam hitungan ketiga, ibu langsung mengejan ya. Satu, dua, tiga!"
"Eeeeeuh!"
"Ya, lagi bu. Satu, dua, tiga!"
"Eeeeuuh!"
Oek! Oek! Oek!
"Alhamdulillah!"
Ucapan syukur semuanya setelah bayi keluar dengan selamat. Azam sendiri tampak bingung, dia melihat bayi yang sudah berada di tangan perawat. Lalu dia menatap Mala yang kelelahan karena sudah berjuang mengeluarkan bayinya dengan selamat.
Ada rasa haru dalam diri Azam, dia mengelus kepala Mala lalu tersenyum bahagia.
"Terima kasih, dan maafkan aku." ucap Azam.
Mala hanya menatap lemah suaminya, lalu dia pun menutup matanya. Dokter menyuruh Azam keluar dan menunggu anaknya segera di adzani olehnya.
_
__ADS_1
_
****************