
Setelah empat puluh hari, Najwa dan Arsyil akan mengadakan aqiqah anaknya Alief. Mereka senang kini pertumbuhan dan perkembangan bayi laki-laki itu sangat pesat. Tak jarang Arsyil selalu menggendongnya, setiap pulang dari kebun langsung cuci tangan dan menggendong Alief.
"Bang, makan dulu. Kamu lapar kan, kok langsung gendong Alief sih." kata Najwa menegur suaminya.
"Abang selalu kangen sama Alief dek, pengennya gendong terus. Cium-cium terus pipinya yang gembul ini, gemas abang jadinya." kata Arsyil.
"Huh, yang punya anak. Sekarang yang di cari anak terus, istrinya ngga." kata Najwa menyindir.
"Memangnya sudah selesai nifas?" tanya Arsyil.
"Ish, kalau selesai nifas. Memang abang mau apa?" tanya Najwa mengerutkan dahinya.
"Heheh, minta jatah dek." kata Arsyil tertawa kecil.
"Ya ampun, belum juga empat puluh hari anaknya lahir. Sudah memikirkan jatah." kata Najwa tersenyum miring.
"Adek ngga tahu sih, abang kadang tersiksa kalau lagi pengen." kata Arsyil.
"Duh bang, sabar kenapa sih."
"Abang sabar dek, mana bisa abang langsung nyeruduk adek kalau masih nifas." kata Arsyil.
"Haish, abang kok sekarang mesumnya keluar ya. Adek ngga nyangka deh, abang tuh dulu jarang minta waktu awal nikah." kata Najwa.
"Itu karena abang punya janji mau mengembalikan adek sama mantan adek itu. Sekarang abang sudah bebas, punya buntut juga dari abang." kata Arsyil dengan senyum cerianya.
"Bang!"
"Kenapa sayang?"
"Abang sadar ngga, itu ngomongnya ada anaknya lho." kata Najwa mengingatkan suaminya.
"Kan belum mengerti dek, nanti kalau sudah besar dia pintar sendiri." kata Arsyil.
"Tahu ah, adek merasa aneh aja sama abang." kata Najwa.
Arsyil tersenyum, dia meletakkan Alief dalam boksnya. Lalu dia pun menghampiri istrinya yang lagi ngambek padanya, dia memeluk Najwa dari belakang dan mencium pipinya.
"Abang bicara begini sama adek aja lho, bukan sama siapa pun. Kan ngga salah sama istri, bisa menambah keromantisan kita juga." kata Arsyil kembali mencium istrinya.
Najwa diam, dia lalu menoleh pada Arsyil. Dan tentu saja membuat Arsyil leluasa mencium bibirnya. Mencium lebih lama dan lembut yang sejak melahirkan jarang melakukannya karena Najwa sibuk mengurusi anaknya.
Setelah puas, Arsyil melepasnya. Dia tersenyum dan tangannya mengusap bibir Najwa.
"Abang kangen." ucap Arsyil.
"Iya, adek tahu. Sabar ya." kata Najwa dengan pipi bersemu merah.
"Berapa hari lagi?" tanya Arsyil.
"Emm, berapa ya?" ucap Najwa menggoda suaminya.
"Dek?"
"Hahah, dua hari lagi bang."
__ADS_1
"Boleh ya?"
"Apanya yang boleh?"
"Jatah abang."
"Tunggu dua bulan bang."
"Lama dek."
"Sabar. Kan dalam aturan islam dua bulan nifas itu." kata Najwa.
"Itu paling lama dek, kalau empat puluh hari sudah selesai. Kenapa ngga?"
Najwa membola, kenapa juga membahas masalah nifas dirinya. Dia pun melangkah meninggalkan suaminya, malas juga membahas empat puluh hari itu. Meski sebenarnya dia juga sudah selesai, tapi apa akan secepat itu suaminya minta jatah.
"Oh ya, acara akekah Alief jadi kan bang setelah empat puluh hari?" tanya Najwa mengalihkan pembicaraannya dengan suaminya.
"Jadi dong sayang, kan itu wajib. Anak kita harus di akekah dan syukuran dengan mengundang tetangga." jawab Arsyil.
"Jadi, rambut Alief juga di cukur ya?"
"Iya. Itu rambut dari lahir harus di cukur."
"Memang harus ya bang? Di cukur habis begitu."
"Ya ngga harus, tapi kalau di cukur habis supaya nanti tumbuh rambutnya bagus aja. Kenapa memangnya?" tanya Arsyil.
"Sayang bang, kalau rambutnya di cukur semua." kata Najwa.
"Abang memang sudah survei seperti itu?"
"Ngga."
"Hadeeh, bikin teori sendiri aja."
"Heheh."
Arsyil kembali mencium istrinya, dia benar-benar sangat rindu dengan kemesraan mereka. Selama Alief hadir, Najwa sering tidur cepat. Dan siang hari kadang dia harus pergi ke kebun, jadi untuk bermesraan dan romantis harus menunggu kesempatan seperti saat ini.
"Abang tunggu lho dek." kata Arsyil melepas ciumannya.
Kembali Najwa membola matanya, dia pun berlalu dan meninggalkan suaminya yang sudah mulai berpikir mesum itu. Apa jadinya jika sudah empat puluh hari, Najwa berpikir mungkin Arsyil akan menungguinya terus.
"Makan bang." teriak Najwa.
"Iya sayang."
_
Acara syukuran akekah anak Arsyil dan Najwa akan di laksakanan malam hari. Najwa sibuk dengan membeli banyak, dan para tetangga membantu Najwa menyiapkan makanan untuk akekah nanti malam.
Tak lupa juga abah dan umi sudah ada di rumah, membantu kegiatan masak memasak di dapur.
"Acaranya apa saja, Syil?" tanya abah.
__ADS_1
"Pengajian saja bah, dan doa." jawab Arsyil menggendong Alief yang sedang di cukur rambutnya.
"Semua tetangga di undang?" tanya abah lagi.
"Ngga semua sih bah, yang dekat aja."
"Abah sekalian beri siraman rohani ya, sekalian juga mengenalkan pesantren abah mengajar. Siapa tahu ada anak-anak dari mereka mau jadi santri di pesantren." kata abah.
"Iya bah, silakan saja. Justru saya senang kalau abah mau memberikan siraman rohani pada mereka. Tadinya saya bingung mau ada acara apa lagi selain mengaji dan doa itu, kalau abah berkenan memberikan siraman rohani ya saya senang sekali bahm" kata Arsyil.
"Ya, baiklah. Abah akan siapkan juga itu ada brosur dari pesantren. Kebetulan sudah memasuki masa penerimaan santri baru di yayasan juga. Tadinya abah juga bingung di suruh membagikan brosur itu."
"Nah, bener itu bah. Kalau ada brosur pasti mereka ada yang tertarik juga selain memberikan penjelasan dari abah."
"Ya, itu maksud abah."
"Semoga saja ada yang mau anaknya ke pesantren bah."
"Amiin."
Obrolan mereka terhenti ketika Alief menangis karena terbangun dengan kepalanya yang sudah botak. Dia menangis, Arsyil pun menenangkan dengan menggendong berjalan kesana kemari.
Najwa datang tergopoh karena mendengar anaknya menangis.
"Kenapa bang? Kok nangis Aliefnya?" tanya Najwa.
"Ngga apa-apa, mungkin dia kaget kalau rambutnya sudah botak." kata Arsyil.
"Apa dia lapar. Barangkali pengen minum asi." kata Najwa lagi.
Arsyil memperhatikan anaknya, tangan Alief pun di masukkan ke dalam mulutnya. Mencari-cari sesuatu dan menghisapnya.
"Iya itu, dia lapar." kata abah.
"Ya sudah, sini Aliefnya. Minun asi dulu."
"Ya, abang beresin rambut-rambut ini dulu."
"Jangan di buang, Syil rambutnya." kata abah.
"Kenapa bah?" tanya Arsyil.
"Masih baru mas, taruh saja di mangkuk lalu di isi air. Simpan dulu beberapa hari, barangkali anaknya nangis terus karena rambutnya hilang." kata tukang cukurnya.
"Kok begitu?" tanya Arsyil heran.
"Turuti saja, Syil. Ngga ganggu ini kan?" kata abah.
"Iya sih bah. Baiklah, sesuai anjuran di taruh di wadah mangkuk dan di beri air lalu di simpan." kata Arsyil.
Abah dan tukang cukur anaknya itu tersenyum. Meski memang itu tidak ada kaitannya dengan medis dan hukum islam, cuma mitos saja. Tapi apa salahnya di turuti, tidak mengganggu juga memang.
_
_
__ADS_1
************