Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
13. Rencana Pernikahan


__ADS_3

Pembicaraan mengenai Arsyil dan Najwa sudah berlangsung. Mereka berepakat dan mengulang perjanjian secara lisan, tapi Azam sepertinya takut dengan sesuatu penghianatan oleh Arsyil. Dia meminta perjanjian itu ada hitam di atas putih.


"Kenapa harus ada perjanjian seperti itu, Zam?" tanya abah Najwa.


"Hanya untuk berjaga-jaga saja bah, saya takut Arsyil akan lupa dengan janinya." kata Azam.


Arsyil diam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Abah melihat pada Arsyil yang terlihat mimik wajahnya seperti terkejut dan tertekan. Terlalu egois Azam itu, kenapa dia jadi khawatir masalah itu.


"Nak Azam, abah kasih nasehat buat kamu. Abah harap kamu mengingatnya dan ikhlas dalam kehidupan ini." kata abah.


"Ya bah, Insya Allah."


"Begini, dalam hidup ini ada yang namanya takdir. Ada yang namanya rencana. Rencana bisa saja di jalankan, bisa juga tidak. Rencana Allah itu memang di sebut takdir, kita berencana untuk menikahkan nak Arsyil dengan Najwa ada tujuannya. Semua sepakat termasuk juga Azam. Kesepakatan itu dua bulan atau tiga bulan, bisa saja hanya seminggu pernikahan itu. Tapi kan kita tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan, setidaknya kita bisa memberi jeda. Dalam pernikahan jangan ada yang tersakiti, dan tidak ada keterpaksaan. Najwa bisa saja dia akan memilih laki-laki lain untuk pendamping hidupnya kelak, urusan cinta itu bisa kok di ubah dengan kebiasaan sehari-hari dengan suaminya. Jadi, jangan mengikat janji orang yang sudah membantu nak Azam. Itu akan menyakiti semua pihak, karena yang berjanji itu akan tersakiti jika takdirnya berbeda." kata abah.


"Tapi saya hanya mengantisipasi saja bah, kalau Arsyil tidak menepati janjinya. Itu saja." kata Azam.


"Apa nak Azam percaya dengan nak Arsyil?" tanya abah.


"Iya bah."


"Nah, jalani saja dulu. Abah percaya dengan nak Arsyil tidak akan mengingkari janjinya." kata abah.


Azam terdiam, dia hanya merasa takut kalau nantinya Arsyil jatuh cinta pada Najwa. Akan sulit nantinya untuk berpisah, dan Najwa?


"Nak Azam sudah punya calon istri kan?" tanya abah.


"Sudah bah." jawab Azam.


"Kapan menikah?" tanya abah.


"Tunggu dek Najwa menikah dengan Arsyil bah, baru saya menikah." kata Azam.


"Emm, kalau menikah nanti. Tolong abah dan Najwa serta Arsyil di undang ya, biar tahu tentang perjanjian pernikahan itu harusnya seperti apa." kata abah.


"Iya bah."

__ADS_1


Ketiganya diam, abah melirik pada Arsyil yang masih diam dan merasa tidak enak pada Azam. Dia memang tadi merasa kagum dengan Najwa, meski seorang janda Azam. Tapi sepertinya dia sangat sholeha, yang tidak bisa Arsyil mengerti kenapa Azam dengan entengnya memberi talak langsung tiga sama Najwa.


Apa dia menganggap pernikahan itu mudah, semudah hidupnya yang selalu saja bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan sekarang, dia merasa kebingungan sendiri dengan rencananya itu.


"Oh ya nak Arsyil, masih punya orang tua?" tanya abah.


"Hanya ayah saja yang saya miliki bah." jawab Arsyil.


"Apa ayah nak Arsyil tahu tentang pernikahan ini dengan adanya perjanjian?" tanya abah.


"Iya bah, ayah saya tahu." jawab Arsyil lagi.


"Bagaimana tanggapannya?"


"Ya, awalnya sih tidak setuju. Tapi saya meyakinkan tentang takdir yang kita tidak tahu bah." kata Arsyil.


Abah terkejut, tentu saja itu benar. Yang ada di pikiran Arsyil adalah memenuhi janjinya, entah akan seperti apa hatinya menghadapi anaknya yang begitu lembut dan santun. Abah sendiri merasa menyesalkan tindakan Azam dulu, kenapa terburu-buru memberi talak langsung tiga pada Najwa.


Dia tahu setelah Najw pulang ke rumah dengan membawa koper berisi baju-bajunya. Awalnya abah dan umi Dila tidak terima, tapi seiring waktu mereka menerima kenyataan kalau anaknya sudah menjadi janda. Dan sekarang, mantan menantunya itu meminta kembali anaknya?


"Baiklah, nak Arsyil bisa bawa ayahnya datang ke rumah abah. Membicarakan tentang lamaran dan kesepakatan itu, Insya Allah kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan saja untuk kalian bertiga yang terbaik." kata abah.


"Iya bah." kata Arsyil.


"Secepatnya ya." ucap abah tidak sabar.


"Iya bah." jawab Arsyil lagi.


"Besok juga bisa kok."


"Besok?" tanya Arsyil kaget.


"Iya, dan lusanya langsung menikah. Lebih cepat lebih baik, tidak apa-apa kan?" tanya abah.


"Ya, ngga apa-apa sih." kata Arsyil.

__ADS_1


"Apa nak Arsyil belum siap?" tanya abah.


"Insya Allah saya siap bah, dan nanti tinggal tunggu waktunya saja." kata Arsyil.


Abah tersenyum, sedangkan Azam sendiri sebenarnya dia lega karena Arsyil dapat di percaya. Dia akan mencoba mempercayai sahabatnya itu, menepati janjinya setelah dua bulan atau tiga bulan menikah.


"Baiklah, abah rasa pembicaraannya selesai. Apakah ada unek-unek yang harus di sampaikan lagi?" tanya abah.


"Emm, maaf bah. Menikahnya di mana ya?" tanya Arsyil.


"Abah sudah siapkan. Tapi maaf tidak di sini, nanti abah akan kasih tahu setelah abah bertemu dengan ayah nak Arsyil besok." kata abah.


"Oh, baiklah bah. Maaf kalau saya terlalu penasaran." kata Arsyil tersenyum malu.


"Tidak mengapa. Nah, kalau nak Azam sendiri bagaimana? Apa ada yang harus di bicarakan lagi?" tanya abah.


"Maaf bah, kalau misalkan Najwa dan Arsyil menikah. Mereka akan tinggal di mana? Apa boleh saya siapkan tempat tinggal untuk mereka?" tanya Azam.


"Maaf Zam, bukannya aku menolak kebaikanmu. Aku akan bawa dek Najwa ke kostanku, atau bila perlu aku cari kontrakan yang baru jika kostanku itu terlalu sempit untuk berdua." kata Arsyil.


"Tapi Syil, Najwa itu biasa hidup dengan keadaan baik." kata Azam.


"Aku akan memperhatikan apa yang di inginkan Najwa, Zam. Jangan khawatir, selama aku jadi suami Najwa nanti semuanya aku penuhi apa yang di inginkan calon istriku nanti." kata Arsyil tidak terima jika harus Azam semua yang mengatur.


"Sudahlah, jangan berdebat masalah tempat tinggal. Insya Allah Najwa itu bisa beradaptasi di mana pun tempatnya, dan nak Azam harus percaya pada nak Arsyil. Meski pernikahan itu hanya kontrak, biarkan saja nak Arsyil memberikan yang terbaik untuk Najwa kelak. Jangan khawatir nak Azam." kata abah.


Laki-laki tua itu tahu, ada kekhawatiran pada Azam. Dan dia juga tahu sebagai laki-laki tidak mau harga dirinya jatuh di hadapan perempuannya, termasuk istrinya. Sama halnya Arsyil, abah tahu Arsyil laki-laki bertanggung jawab.


Pembicaraan pun selesai, kini Azam dan Arsyil berpamitan. Besok Arsyil akan datang lagi dengan ayahnya pak Marwan untuk membicarakan rencana pernikahan esok lusa.


_


_


********************

__ADS_1


__ADS_2