
Tiga hari menjelang perceraian itu, Arsyil harus bersiap untuk mengembalikan Najwa pada abah dan uminya. Sejak semalam, Arsyil tidak bisa tidur. Bahkan sejak sholat isya itu Najwa bahkan di dalam kamar terus.
Begitu juga dengan Arsyil, dia di dalam kamar terus. Tak ada saling bicara, Arsyil menamakan sikapnya itu sebagai persiapan untuk berpisah dengan Najwa. Sedangkan Najwa menamainya sebuah kerinduan yang belum bisa dia temukan karena Arsyil yang menginginkannya harus bersikap seperti itu.
Arsyil keluar dari kamarnya, dia melihat kamar Najwa masih tertutup. Dia melangkah menuju depan, keluar dan duduk di teras rumah. Sambil memainkan laptopnya, mengutak atik mencoba membuat cover buku lagi untuk cadangan jika ada yang meminta di buatkan covernya.
Tuuut.
Tiba- tiba ponselnya berbunyi, dia mengambilnya dan melihat tidak ada nama di layar ponsel. Arsyil mengerutkan dahinya, tapi kemudian dia menjawabnya.
"Halo?"
"Arsyil?"
"Ya, betul. Siapa ya?"
"Aah, syukurlah. Bapak Sanip, tetangga ayahmu." kata pak Sanip di seberang sana.
Tiba-tiba Arsyil berdetak jantungnya, dia cemas dengan pak Sanip meneleponnya. Ada apa pak Sanip meneleponnya malam-malam?
"Ada apa pak Sanip?" tanya Arsyil penasaran.
"Kamu bisa pulang ke rumah ayahmu?" tanya paj Sanip.
"Kenapa dengan ayah pak Sanip?"
"Pulang saja, nanti kamu tahu sendiri."
"Pak, tolong katakan padaku. Ada apa dengan ayahku?" tanya Arsyil mulai tidak karuan pikirannya.
"Ayahmu sudah berpulang, nak Arsyil."
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Kapan pak Sanip?" tanyanya lagi sudah mulai gelisah.
"Tadi sehabis sholat magrib, pulang dari masjid. Ayahmu tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri, tak lama dia menghembuskan napasnya yang terakhir."
"Ya Allah, ayah!"
Klik!
Arsyil sudah tidak bisa berpikir lagi, dia masuk ke dalam rumah dan segera berganti baju. Pikirannya kacau, dia menangis tersedu. Lalu dia keluar mengambil helm dan kunci motornya.
__ADS_1
Sedang bingung dan hati tidak karuan, Najwa keluar dari kamarnya. Dia melihat suaminya seperti menangis, Najwa heran. Ada apa dengan Arsyil.
"Bang, ada apa? Kok menangis?" tanya Najwa penasran.
"Ayah dek, tadi tetangganya memberi kabar kalau ayah sudah meninggal." jawab Arsyil segera memakai helm.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun."
"Abang ke rumah ayah dulu ya, kamu jaga di rumah." kata Arsyil.
"Tapi bang, adek pengen ikut." kata Najwa.
"Ini sdah malam dek, besok saja."
"Ngga! Pokoknya adek mau ikut!" kata Najwa memaksa.
Arsyil mendengus kasar, Najwa langsung masuk ke kamarnya berganti memakai celana panjang lebar dan segera memakai kerudung. Mengambil ponsel dan tasnya kemudian dia keluar dan menghampiri Arsyil di luar rumah.
"Dek."
"Bang, jangan halangi aku untuk tidak ikut sama abang. Aku masih menantu ayah, aku wajib datang bang." kata Najwa sambil berkaca-kaca.
"Hati-hati bang, jangan ngebut. Adek ada sama abang, jaga pikiran abang." kata Najwa menguatkan suaminya ketika mereka akan mengendarai motor di malam hari dalam keadaan kacau pikiran.
Najwa memegang perut Arsyil memeluk dari belakang sekalian menguatkan suaminya. Arsyil menghapus air mata yang sempat mengalir, dia memegang tangan Najwa untuk mencari kekuatan. Baru setelah itu dia berdoa dan segera melajukan motornya menuju rumah ayahnya.
Jaraknya memang cukup jauh, di malam hari begitu keadaan sudah tampak lengang jalanan. Jadi arsyil mengendarai motor dengan kecepatan tinggi pun masih bisa sampai di rumah ayahnya dengan cepat pula.
Hanya butuh waktu satu jam jika perjalanan menggunakan motor dan berkecepatan delapan puluh kilo meter perjam.
Sesampainya di depan rumah pak Marwan, Arsyil dan Najwa segera turun. Dia melihat banyak tetangga yang berkerumun. Mayat pak Marwan akan segera di mandikan malam itu juga, besok pagi bisa langsung di kuburkan. Begitu rencana para tetangga, karena tidak baik menunda pemakaman mayat berlama-lama.
Arsyil dan Najwa masuk ke dalam rumah, mereka sudah menangis menghadap mayat ayah Arsyil itu. Tampak para tetangga melihat Arsyil dengan seorang perempuan berjilbab.
Mereka heran, kenapa Arsyil membawa seorang perempuan. Setahu mereka anak pak Marwan itu belum menikah tapi ada beberapa tetangga yang pernah melihat Najwa dengan Arsyil datang menemui pak Marwan.
"Dia siapa ya sama nak Arsyil?" tanya tetangga ibu-ibu.
"Mungkin itu istrinya." jawab yang lain.
"Tapi, kapan menikahnya?" bisik salah satu tetangga.
__ADS_1
Hampir tetangga di rumah pak Marwan itu heran dengan kehadiran seorang perempuan berjilbab panjang yang selalu dekat dengan Arsyil.
Najwa tahu kalau tetangga ayah mertuanya itu memggunjingkannya. Tapi dia tidak peduli, yang penting saat ini dia menguatkan hati suaminya.
Arsyil di dekati pak Sanip yang tadi memberitahunya mengenai meninggalnya ayahnya. Mereka bicara sebentar untuk pemandian mayat pak Marwan, Arsyil menyerahkannya pada pak Sanip dan dia juga ikut memandikan jenazah ayahnya.
Jenazah pak Marwan sudah berada di samping rumah untuk di mandikan, Arsyil ikut serta memandikan. Dia sampai menitikkan air matanya karena merasa menyesal selama hampir satu bulan tidak mengunjungi ayahnya.
Saat itu dia sedang menikmati baru menjadi suami yang sempurna. Merasakan kebahagiaan ketika Najwa menyerahkan dirinya, setelah itu dia tenggelam dalam kesedihan menjelang berpisah dengan Najwa.
Kini dia datang dengan keadaan ayahnya sudah tidak ada lagi. Arsyil terus menangis, menyesali dirinya yang tidak mengunjungi ayahnya hidup sebatang kara.
Satu jam selesai di mandikan, jenazah pak Marwan pun segera di bersihkan dan langsung di kafani. Setelah itu di sholati oleh para tetangga yang hadir.
"Nak Arsyil, penguburannya besok saja ya. Ini kelihatannya gerimis, dan pasti di jalan juga akan licin. Lagi pula ini sudah malam." kata pak Sanip.
"Iya pak, tidak apa-apa. Biar di rumah saja dulu menginap, besok pagi bisa langsung di kuburkan." kata Arsyil.
"Iya, kalau ngga hujan saja sih masih bisa di kubur malam-malam kalau mau. Mereka juga sudah siap sih kalau langsung di kubur malan ini, tapi jalannya licin karena hujan gerimis begini." kata pak Sanip lagi.
"Iya pak, biar saja di sini. Saya juga mau mengaji di depan jenazah ayah."
"Oh ya, nanti ada kok dari remaja masjid yang akan mengaji di rumah untuk mendoakan jenazah pak Marwan. Karena pak Marwan setiap hari aktif sholat berjamaah di masjid, jadi para remaja masjid sepakat akan menginap dan bergantian mengaji di depan jasad pak Marwan." kata pak Sanip.
"Iya pak, terima kasih. Tapi saya bingung untuk menyediakan makanan dan minuman untuk mereka, saya baru tahu dan tidak sempat untuk membeli makanan." kata Arsyil lagi.
"Ngga apa-apa, ada ibu-ibu tetangga yang suka rela menyediakan makanan ringan dan juga air mineral kemasan gelas. Nak Arsyil tenang saja, temani saja jasad pak Marwan untuk terakhir kalinya. Kalau masalah semuanya nak Arsyil jangan khawatir." kata pak Sanip lagi.
"Iya pak Sanip, sekali lagi terima kasih ya. Saya jadi merepotkan pak Sanip."
"Sudah, jangan merasa merepotkan orang. Semua mau membantu kok, kami di sini bergotong royong. Dan ini mungkin para tetangga dengan suka rela membantu karena dulu pak Marwan sering membantu para tetangga di sini, banyak katanya yang sering di bantu pak Marwan." kata pak Sanip lagi.
"Iya, terima kasih pak Sanip."
Pak Sanip hanya menganggu dan menepuk pundak Arsyil. Arsyil pun kembali mendekat di depan mayat ayahnya, dia duduk bersila dan mulai mengaji untuk mendoakan ayahnya itu.
_
_
****************
__ADS_1