Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
69. Kontraksi


__ADS_3

Arsyil menghampiri istrinya yang sedang duduk menonton televisi. Dia tersenyum senang istrinya menonton dengan damai dan serius dengan acara sinteron kesukaannya.


"Adek nonton apa?" tanya Arsyil duduk di sebelah istrinya.


"Ini bang, nonton sinteron. Biasanya aku ngga suka nonton sinetron, kok ini ceritanya bagus ya. Jadi adek nonton aja." jawab Najwa.


"Awas, jangan baper. Biasanya baper kalau ceritanya sedih atau bikin kesal." kata Arsyil.


"Wajarlah bang, lha kan terbawa alur cerita." kata Najwa lagi.


"Asal jangan terbawa emosi aja dek." kata Arsyil.


Najwa menoleh ke arah suaminya, lalu tersenyum. Arsyil melihat di meja, masih ada sisa mangga kupas belum habis di makan Najwa. Dia pun mengambilnya dan menyuapkannya pada Najwa, lalu mengambil satu lagi dan di makan sendiri.


"Oh ya dek, waktu Azam datang kemari itu dia mengganti kerugian kebakaran percetakan itu. Kira-kira buat apa ya dek?" tanya Arsyil meminta pendapat istrinya.


"Ya terserah abang, kan itu uang abang juga." jawab Najwa.


"Iya sih, sebagian buat persiapan lahiran kamu. Dan sisanya abang bingung buat apa lagi." kata Arsyil.


"Kan rencana awal abang itu mau bertani. Alihkan aja kesana, sewa lahan selama setahun, lalu abang tanam apa itu yang abang suka lalu kan nanti panen terus di jual hasilnya." kata Najwa memberi saran.


"Waah, ide kamu oke dek. Ya udah, nanti abang cari lahan yang dekat sama lahan ayah aja. Biar nanti sekalian di bajak untuk di kelola." kata Arsyil penuh semangat.


"Nah, itu lebih baik." kata Najwa.


"Besok abang mau pergi ke pasar tani, beli bibit dan pupuk yang abang butuhkan. Adek mau nitip apa?" tanya Arsyil.


"Emm, bakso enak kayaknya bang makan siang-siang." jawab Najwa.


"Cuma bakso? Biasanya banyak makannya." kata Arsyil.


"Ngga boleh makan terlalu banyak bang, takutnya nanti bayinya kebesaran. Susah keluarnya, kata bidan di kurangi makannya." kata Najwa lagi.


"Ooh, begitu."


"Iya, tapi kalau makan buah sih ngga apa-apa bang. Beli aja sekalian buah-buahan."


"Buah apa pengennya?" tanya Arsyil kembali menyuapi Najwa lagi.


"Emm, buah anggur hijau bang. Adek mau makan buah anggur hijau, kalau di sini susah carinya." kata Najwa.


"Boleh, besok abang beli sekalian."


"Iya."


"Ke kamar yuk dek?" ajak Arsyil dengan senyuman manisnya.


"Hemm, abang pengen?"


"Iya, ngga apa-apa kan?"


"Ngga apa-apa, malah kata bidan boleh kok sering-sering buat merangsang jalan lahir juga." kata Najwa.


"Ya udah, ayo jangan pakai lama." ajak Arsyil bersemangat.

__ADS_1


Najwa tersenyum, yang seperti itu membuatnya merasa senang karena Arsyil yang memintanya lebih dulu.


_


Arsyil sudah membeli semua bibit-bibit yang akan dia tanam di lahan kebun milik ayahnya. Dia akan memulai dari bawah lagi untuk jadi seorang petani. Sesuatu yang baru baginya, tapi dia akan terus belajar dari petani-petani handal dan tutorial dari video di internet.


Dia kini bersiap pergi ke ladang, dengan di bantu dua orang yang akan mencangkul sebagian dan memberinya upah sesuai tarif seorang petani.


"Dek, makanannya jangan lupa di bawa ke kebun ya nanti." kata Arsyil.


"Iya bang, tapi sebenarnya sebentar lagi selesai makanannya. Tinggal di bawa ke kotak makan." kata Najwa.


"Ngga apa-apa, adek bawa saja ke saja. Abang sudah di tunggu sama pak Karta dan pak Dodo yang bantu abang di kebun." kata Arsyil lagi.


"Ya udah berangkat aja bang. Nanti adek bawa makananya kesana, sekalian adek makan di sana juga." kata Najwa lagi.


"Iya, abang pergi dulu dek."


"Iya bang."


Arsyil bersiap untuk pergi ke kebunnya, tak lupa dia mencium kening istrinya dan tersenyum. Setelah itu dia pun pergi membawa cangkul baru yang kemarin dia beli.


Lumayan uang ganti rugi dari Azam cukup lumayan besar, jadi dia bisa gunakan juga untuk membeli alat pertanian. Arsyil juga sudah bernegosiasi menyewa lahan di sebelah miliknya, hanya seperempat hektar dia sewa selama satu tahun.


Jika berhasil dia akan menyewanya lagi, dia bersungguh-sungguh menjalani bisnis pertanian. Dia juga mencari penyalur dan pengepul sayuran dan buah untuk di pasarkan ketika sayurnya sudah di panen.


Hari demi hari, satu minggu sudah semua lahan di gemburkan. Kini tinggal menanam bibit saja, Arsyil senang waktunya menanam bibit dan menunggunya dengan sabar.


Hingga pagi ini, Arsyil berangkat ke kebun. Semuanya sudah siap, tapi dia seperti gelisah mau meninggalkan Najwa sendirian di rumah.


"Ngga, kenapa bang?" tanya Najwa.


"Inikan sudah satu minggu lebih dari perkiraan lahiran. Apa dia belum juga ada tanda-tanda melahirkan?" tanya Arsyil.


"Iya sih, tapi aku ngga ada merasa apa pun. Paling suka keram aja, kadang-kadang. Abang khawatir?" tanya Najwa.


"Iya, takutnya kamu melahirkan abang ada di kebun." jawab Arsyil.


"Ya kalau adek sudah mulai mulas. Nanti adek telepon abang." kata Najwa.


"Bener ya, abang ngga mau lho kalau adek kesakitan abang masih di kebun." kata Arsyil lagi.


"Iya, adek langsung hubungi abang kalau sudah mulas perutnya. Sudah sana berangkat ke kebun, ini sudah jam berapa lho. Nanti kalau sudah panas, jadi males lagi." kata Najwa.


"Ya udah, abang pergi ke kebun dulu. Jangan lupa ya, telepon abang." kata Arsyil lagi.


"Iya abangku sayang. Adek akan selalu cari abang untuk bertanggung jawab dengan kehamilan ini." kata Najwa dengan senyum manisnya.


"Duh, ya ampun. Abang selalu bertanggung jawab, makanya adek harus kasih tahu abang secepatnya." kata Arsyil lagi.


Najwa mengangguk, Arsyil pun senang. Dia mengecup kening istrinya lalu mengambil perlengkapan untuk bertani. Dia menaiki motor dan Najwa melambaikan tangannya pada suaminya itu.


Setelah jauh, Najwa pun segera masuk ke dalam rumah. Seperti biasa dia akan memasak untuk di bawa ke kebun.


Satu jam, Najwa masih biasa saja. Tapi kemudian dia merasa keram perutnya semakin lama semakin sering. Dia pun merintih, keluar air dari bagian bawahnya. Najwa pun segera masuk ke dalam kamarnya, mengambil ponselnya dan segera menghubungi suaminya.

__ADS_1


Tuuut.


"Assalamu alaikum dek?"


"Wa alaikum salam, bang. Adek kok perutnya sakit ya, terus keluar air dari jalan lahir. Abang pulang deh." kata Najwa sambil meringis.


"Ya Allah, iya dek. Abang langsung pulang, tunggu ya."


"Iya bang, cepat ya bang. Adek sudah sakit banget. Euuh!"


"Iya dek, adek ke rumah ibu Sri aja. Minta antar ke bidan mau melahirkan ya. Abang cepat pulang ini."


"Iya bang."


Klik!


Najwa menutup sambungan teleponnya, dia mengambil perlengkapan bersalin. Dengan langkah tertatih karena menahan sakit, dia pun keluar rumah menuju rumah ibu Sri. Tetangga Arsyil.


Tok tok tok.


"Bu Sri, assalamu alaikum!"


"Wa alaikum salam."


Pintu di buka, bu Sri muncul dia tampak keheranan dengan Najwa yang sedang meringis kesakitan.


"Duh, mbak Najwa kenapa?" tanya bu Sri.


"Ini bu, saya keram dan sakit. Tadi keluar air ketuban kayaknya, terus perut saya sakit. Ibu bisa temani saya ke bidan?" tanya Najwa.


"Memang mas Arsyil masih di kebun?" tanya bu Sri.


"Iya, tapi tadi sudah saya kasih tahu. Lagi pulang."


"Ya sudah, ayo ibu antar. Tapi jalan kaki mbak Najwa."


"Ngga apa-apa, sekalian agar cepat pembukaan juga."


"Waah, takutnya nanti lahiran di jalan. Jangan mbak, nanti tunggu mas Arsyil pulang aja. Ibu temani ya di rumah." kata bu Sri.


Najwa diam, memang ada benarnya juga. Dia pun mengangguk, kini dia pun kembali ke rumahnya dengan ibu Sri menemaninya menunggu Arsyil datang.


Tak lama, motor Arsyil pun datang juga. Dia panik melihat istrinya sudah meringis kesakitan.


"Kita langsung saja ke bidan mas, kasihan mbak Najwanya. Sudah kesakitan sejak tadi." kata bu Sri.


"Iya bu."


Najwa pun segera naik motor suaminya, dia nyalakan mesin kemudian melajunya pelan agar istrinya nyaman. Ibu Sri mengikuti dari belakang sambil membawa perlengkapan persalinan Najwa.


_


_


*********************

__ADS_1


__ADS_2