
Dalam taksi, abah dan umi diam saja, pikiran mereka tadi pada pemandangan di pinggir jalan. Di mana Arsyil dan Azam bicara masalah Najwa, abah Ubay memejamkan matanya. Dia mengingat Azam yang memukul menantunya dua kali itu membuatnya marah pada Azam, mantan menantunya dulu.
Umi Dila menoleh ke arah suaminya, dia tahu laki-laki di sampingnya itu sedang memikirkan kejadian di pinggir jalan tadi.
"Umi jangan ceritakan pada Najwa tentang kejadian tadi, abah yakin Arsyil tidak akan bercerita kejadian tadi pada Najwa juga." kata abah.
"Azam sangat keterlaluan, bah. Bagaimana bisa dia memukul Arsyil dua kali seperti itu?" tanya umi Dila.
"Azam masih belum terima dengan pernikahan Najwa dan Arsyil. Makanya dia tadi sangat marah, apa lagi Najwa juga mengandung anak Arsyil." kata abah.
"Apa salahnya mereka menikah lagi? Bukankah Arsyil dan Najwa saling mencintai, lalu kenapa dia begitu marah? Dia juga masih punya istri, dan katanya sedang mengandung juga." tanya umi Dila tidak habis pikir dengan sikap Azam itu.
"Sudahlah umi, terkadang memang orang butuh pelampiasan." kata abah lagi.
"Tidak bisa begitu bah, harusnya Azam itu tahu diri. Tahu kesalahannya dia apa, bukan malah melampiaskan kemarahan karena Najwa tidak lagi mau menikah dengannya. Menurut umi, Azam itu egois." kata umi Dila.
"Memang ada orang seperti itu, umi. Azam itu hidupnya selalu di permudah dengan keadaan, dia jarang menerima kekalahan atau pun mengalah. Karena sejak kecil selalu mendapatkan apa yang dia inginkan." kata abah lagi menenangkan istrinya.
"Tetap saja, umi tidak terima jika di posisi Najwa. Umi akan marah dan menemui Azam, kenapa dia memukul Arsyil. Sedangkan dia sudah memenuhi semua permintaan Azam, bahkan dia juga awalnya menolak Najwa rujuk karena mempertimbangkan dirinya. Kenapa dia yang jadi marah, hanya karena mereka saling mencintai." kata umi Dila lagi penuh emosi.
Abah menarik napas panjang, jika istrinya melihat hal yang salah. Maka akan terus mengomel dan belum selesai jika suaminya yang bertindak.
"Umi diamlah, nanti abah akan menemui Azam. Sekarang umi janji pada abah, agar tidak menceritakan apa pun pada Najwa atau pun Arsyil." kata abah lagi.
"Sekarang umi sulit memaafkan dia, bah. Terlalu banyak dia mengecewakan kita, apa lagi di tambah dia memukul menantu kita yang baik itu. Apa kita akan diam saja, bah?" tanya umi Dila.
"Kan abah sudah katakan tadi, nanti abah akan menemui Azam. Abah cuma minta sama umi, jangan menceritakan kejadian tadi sama Najwa, ataupun bertanya sama Arsyil. Biar abah yang urus, umi kalau belum di kasih solusi selalu saja ngomong." kata abah kesal.
"Umi tidak ngomel bah, kenyataan di depan mata itu sudah menunjukkan kalau Azam itu egois." ucap umi Dila lagi.
"Umi!"
Suara keras abah pada umi Dila menandakan kalau abah itu sudah mulai kesal dengan ucapannya yang selalu berulang. Umi Dila mendengus kasar, dia akhirnya diam saja.
Sang supir yang sejak tadi mendengarkan perdebatan itu melirik pada pasangan suami istri yang sedang mempermasalahkan kejadian tadi. Supir itu juga melihat kejadian pemukulan Arsyil oleh Azam.
Tapi supir itu tidak peduli, bukan urusannya permasalahan rumit keluarga penumpangnya itu. Dia hanya menjalankan pekerjaannya, mengantar penumpang.
_
Sementara di rumah Arsyil, dia baru pulang. Najwa menyambutnya dengan senyum seperti biasa. Tapi senyum itu menghilang ketika melihat wajah suaminya membiru dan ada darah yang mengering di sudut bibirnya.
"Bang, kenapa muka abang?" tanya Najwa sambil memegangi wajah suaminya.
"Abang tadi jatuh dek dari motor, tadi ada mobil jalannya cepat banget. Jadi motor abang keserempet dan jatuh." jawab Arsyil berbohong.
"Ya ampun bang, kenapa abang keserempet? Abang melamun?" tanya Najwa lagi.
"Iya, melamunin adek." kata Arsyil dengan senyum mengembang.
"Masya Allah bang, kalau di jalan kenapa harus melamun. Tapi kan abang pakai helm, kenapa bisa mukanya kena dan biru begitu. Berdarah lagi." tanya Najwa merasa janggal.
__ADS_1
"Tadinya abang berhenti dan lepas helmnya, eh mobilnya malah menyerempet motor abang. Dan abang jadi jatuh juga." kata Arsyil lagi.
"Duh bang, kalau di jalan harus hati-hati. Sekarang banyak banget kendaraan yang jalan seenaknya saja, ngga lihat kendaraan lainnya." kata Najwa.
"Iya sayang, abang akan selalu hati-hati. Abang mandi dulu ya, bau nih badannya." kata Arsyil.
"Tapi adek suka kok." ucap Najwa.
"Hahah, adek selalu suka yang abang punya." kata Arsyil dengan tawa renyahnya.
Najwa tersenyum, dia memeluk suaminya dari samping. Rasanya menyenangkan bercanda mesra seperti itu, Najwa merasakan perbedaan perlakuan Azam dulu dengan Arsyil sekarang. Meski sama-sama mencintai dirinya, tapi Arsyil jauh lebih membuat Najwa bahagia.
"Adek mau ikut abang mandi?" tanya Arsyil.
"Ngga, adek sudah mandi tadi." jawab Najwa.
"Terus, kapan ini mau lepas tangannya?" tanya Arsyil lagi.
Najwa menatap suaminya, dia tersenyum kemudian melepas tangannya yang di pinggang suaminya. Arsyil juga ikut tersenyum, dia mengecup bibir istrinya lalu masuk ke dalam kamar. Najwa melihat suaminya masuk ke dalam kamar, dia pun menoleh ke arah depan.
Melihat sebuah mobil berhenti di depan halaman rumahnya. Senyum Najwa mengembang lagi, dia melangkah keluar dari rumah dan menyambut umi serta abahnya yang baru datang itu.
Sedangkan mobil yang membawa abah dan umi pun berhenti di depan rumah sederhana, di mana di depan rumah sudah terlihat motor yang tadi berhenti di pinggir jalan itu. Umi dan abah pun turun, abah memberikan ongkos taksinya.
"Ini ya mas ongkosnya." kata abah menyerahkan uang dua lembar merah dan biru.
"Terima kasih pak." kata supir tersenyum ramah.
"Pantas saja jadi rebutan laki-laki tadi, ternyata perempuan itu cantik banget." gumam sang supir.
Mobil melaju pelan setelah supir itu melihat Najwa tadi.
Sedangkan Najwa menyalami tangan kedua orang tuanya dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
"Mana suamimu, Najwa?" tanya umi Dila.
"Umi."
Abah mengingatkan istrinya agar menjaga ucapannya itu, dan tidak bertanya atau bercerita apa pun.
"Ngga bah, umi ngga akan apa-apa." kata umi Dila mengerti panggilan suaminya.
"Abang lagi mandi, umi. Tadi wajahnya merah dan berdarah sedikit, katanya jatuh di jalan." jawab Najwa.
Abah lega mendengar ucapan Najwa itu. Benar saja, Arsyil tidak akan memberitahu Najwa masalah tadi bertemu dengan Azam.
Mereka masuk ke dalam rumah yang kini sudah terlihat segar karena berganti cat. Tampak Arsyil keluar dari kamarnya dengan wajah sedikit membiru, umi Dila menatap menantunya itu.
Rasa kesalnya kini muncul lagi, abah melihat wajah umi Dila. Dia tahu istrinya itu mulai kesal lagi, tangannya pun mengelus punggung umi Dila. Umi Dila menoleh ke arah abah, dan abah hanya tersenyum memberi kode.
"Maaf umi, abah. Saya habis mandi dulu." kata Arsyil menyalami umi dan abah bergantian.
__ADS_1
"Iya ngga apa-apa, memang kalau pulang dari kerja enaknya langsung mandi." kata abah.
"Umi pikir karena kalian habis melakukan itu." kata umi Dila.
Arsyil menunduk dan tersenyum saja, Najwa masuk membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Arsyil membantu meletakkan minuman di meja, dia tidak mau Najwa kesusahan berjongkok karena perutnya yang mulai membesar.
"Waah, perutmu sudah kelihatan Najwa." kata umi Dila.
"Iya umi, sudah lima bulan lebih." kata Najwa mengelus perutnya.
"Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan menimang cucu bah." ucap umi Dila, kini dia sudah lupa dengan rasa kesalnya.
"Ya, sabar umi. Masih empat bulan lagi menimangnya." kata abah.
Semua tertawa kecil, Najwa duduk di samping uminya. Tangan umi Dila mengelus perut anaknya itu, dia pun terkejut ketika.
"Oh ya, umi sama abah menginapkan di sini?" tanya Najwa.
"Ngga, malam saja pulangnya." kata umi Dila.
"Yaah, umi. Menginap saja di sini, ya?" kata Najwa.
"Abah ada pertemuan di yayasan nanti malam. Jadi tidak bisa menginap." kata abah.
"Lho, kok pertemuannya malam bah?"
"Ya, karena kyai Sholeh minta begitu. Hanya pengurus yayasan saja yang berkumpul, tidak banyak. Jadi pertemuannya malam, sekalian ngobrol dan kumpul-kumpul katanya." jawab abah.
"Padahal aku ingin umi dan abah menginap di sini." kata Najwa kecewa.
"Nanti saja kalau anakmu sudah lahir, insya Allah abah sama umi menginap." kata abah lagi.
"Benar ya bah?" kata Najwa semangat.
"Iya."
Najwa senang sekali, Arsyil hanya tersenyum saja melihat istrinya begitu senang. Umi Dila menatap menantunya lagi, lalu mendengus kasar. Entahlah, bagi umi Dila rasa kecewa pada Azam sekarang lebih besar di bandingkan dulu anaknya di cerai dengan alasan yang kurang masuk akal menurutnya.
"Allahu akbar, Allahu akbar!"
"Alhamdulillah, waktu magrib sudah tiba."
"Kita sholat berjamaah."
"Iya bah."
Mereka pun pergi mengambil wudhu dan segera sholat berjamaah di rumah Arsyil. Tampak ada kebahagiaan dan kekecewaan dalam rumah itu di antara masing-masing orangnya. Tapi mereka tahu bagaimana menyimpan rasa seperti itu, agar orang yang mereka cintai tidak merasa syok dengan cerita di balik kekecewaan seseorang.
_
_
__ADS_1
*****************