
Najwa sangat malas sekali saat ini, hari minggu yang di tunggu oleh Azam itu. Membuat Najwa enggan untuk bertemu, tapi dia harus bicara dengan Azam. Mengatakan semuanya pada mantan suaminya itu, meski hatinya menolak.
"Aku merindukan abang." lirih Najwa.
Ingin dia menghubungi Arsyil, tapi rasanya tidak bisa dia lakukan. Hanya bisa menangis tersedu. Najwa benar-benar sudah jatuh cinta pada Arsyil. Pertemuam singkat lalu menikah dan semakin akrab ketika dua bulan lebih.
Bagi Najwa itu sangat membekas di banding kebersamaan lima tahun dengan Azam. Entah kenapa rasa cinta pada Azam dulu hilang seketika, tergantikan oleh sosok sederhana dan santun itu.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu dari luar, Najwa melihat jam di mejanya. Sudah menunjukkan pukul sebelas siang, itu artinya memang Azam datang untuk menemuinya. Mau tidak mau dia akan menemui Azam dan bicara padanya, tentu saja Najwa akan bicara dengan hati-hati.
Meski begitu, dia tetap akan mengatakan secara halus dan sopan. Karena dia tahu karakter Azam itu seperti apa.
Najwa beranjak dari duduknya, dia melangkah menuju pintu dan membukanya. Kali ini abahnya yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa bah?" tanya Najwa.
"Kamu sedang apa?" tanya abahnya.
"Hanya duduk-duduk saja bah." jawab Najwa.
"Tapi kamu tidak sakit kan?"
"Kok abah tanya begitu?"
"Ya, siapa tahu kamu tiba-tiba sakit. Kemarin waktu Azam datang kamu tiba-tiba pusing, abah tidak mau kamu jadi seperti paranoid ketemu Azam." kata abahnya dengan senyum bercanda.
"Abah ini, kemarin itu memang kepala pusing. Lagi pula kan maaih capek karena mengurusi pernikahan Lula." kata Najwa berasalan.
"Kalau sekarang?"
"Insya Allah ngga bah."
"Kalau begitu, temui Azam di depan." kata abah.
"Iya bah." jawab Najwa tersenyum.
"Oh ya, menurut abah kalau kalian bicara serius lebih baik cari tempat yang nyaman. Abah takut kamu tidak nyaman dengan keadaan rumah." kata abah lagi.
"Iya bah."
"Ya sudah, cepat kamu temui Azam dulu. Abah ke depam dulu." kata abah.
"Iya bah."
Abah pun pergi dari hadapan Najwa, perempuan itu menarik napas dan dia menutup pintunya. Dia duduk di tepi ranjang, menunduk memikirkan apa yang akan dia katakan nanti pada Azam.
__ADS_1
Setelah itu dia pun bangkit dan mengambil kerudung instannya, segera keluar dari kamarnya menemui Azam di depan. Dia melihat Azam tampak rapi sedang memgobrol dengan abah dan uminya.
Wajah Najwa terlihat tersenyum tipis ketika Azam melihatbya. Laki-laki itu sangat senang melihat Najwa datang, perasaan rindunya pada Najwa benar-benar dia dapatkan saat ini meski baru melihat Najwa sekarang.
Najwa duduk di samping uminya, abah dan umi menatapnya yang sedang menunduk itu. Azam tak lepas pandangannya, tapi ketika abah mengetahuinya dan berdehem. Azam pun menunduk karena malu abah mengetahuinya.
"Ya sudah, kalian butuh bicara kan. Umi sama abah pergi ke belakang dulu." kata abah.
Dia bangkit dari duduknya, di susul oleh umi Dila. Mereka pergi meninggalkan Najwa dan Azam yang masih saling diam.
Ada perasaan risih pada Najwa ketika Azam kembali menatapnya lagi. Dia mendengus pelan, menatap sekilas pada Azam.
"Bagaimana kabarnya dek?" tanya Azam.
"Alhamdulillah baik." jawab Najwa.
"Kemarin kamu katanya sakit, mas datang kesini." kata Azam.
"Hanya kelelahan saja mas, butuh istirahat. Soalnya dari acara pernikahan Lula, aku belum istirahat sama sekali." kata Najwa.
"Oh ya, Lula anaknya paman Roni itu?" tanya Azam.
"Iya."
"Waah, dia sudah besar ya. Dan sudah menikah, dulu masih remaja ketika aku datang ke rumah paman Roni itu." kata Azam mengingat masa lalu.
Najwa diam saja, dia malas menanggapi ucapan Azam yang mengingat masa lalu ketika mereka masih jadi pengantin baru. Ketika itu dia datang berkunjung ke rumah pamannya dan bahkan dulu Azam memang sangat suka sekali bicara dengan Lula, sepupunya itu.
"Bicara apa mas?" tanya Najwa.
"Emm, kamu sudah tahu seharusnya. Arsyil bilang kamu sudah cerai dengannya, jadi kamu sudah bebas kan untuk di khitbah lagi sama mas." kata Azam.
Najwa diam, dia menarik napas panjang. Melirik jam di dinding, berinisiatif untuk pergi makan di luar. Azam masih menunggu tanggapan Najwa.
"Dek."
"Mas, aku butuh ruang yang nyaman untuk bicara masalah serius seperti ini." kata Najwa.
"Maksudnya?"
"Kita bicara di luar saja, mungkin jalan kemana." kata Najwa.
"Waah, itu ide yang bagus dek. Boleh kalau begitu, sekalian kita kencan saja. Heheh." kata Az penuh semangat.
Najwa diam saja, ini yang terakhir dia keluar sama Azam. Dan dia akan memutus harapan Azam padanya.
"Aku ganti baju dulu mas sebentar."
__ADS_1
"Ya, lama tapi dandan yang cantik juga ngga apa-apa dek." kata Azam dengan penuh semangat.
Najwa diam saja, dia bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Azam yang tampak senang karena akan pergi dengan Najwa.
Tidak lama Azam menunggu Najwa selesai mengganti baju. Wajahnya juga tidak di poles apa pun, karena memang sengaja Najwa tidak berdandan. Lagi pula, dia malas untuk berdandan.
"Kita kamu kemana dek?" tanya Azam.
"Terserah kamu mas, tapi jangan terlalu jauh." kata Najwa.
"Oke, kita ke restoran saja ya. Soalnya ini sudah waktunya makan siang juga. Mas lapar dek." kata Azam.
"Ya, terserah mas Azam aja." ucap Najwa.
Najwa melangkah lebih dulu, di susul oleh Azam di belakangnya. Mereka pun masuk ke dalam mobil Azam yang terbaru, Azam membukakan pintu untuk Najwa. Tapi Najwa menolaknya, dia merasa Azam sedang mengambil hatinya untuk melakukan hal kecil itu.
Tapi Najwa tidak sedikit pun hatinya beralih, dia masih memikirkan bagaimana bicara dengan Azam tapi dengan suasana santai dan tidak menyinggung hatinya mantan suaminya itu.
Mobil melaju, Azam mencari restoran terdekat yang tidak sederhana. Karena dia ingin membawa Najwa ke restoran yang enak untuk mengobrol juga. Sampai juga mereka di sebuah restoran oriental, Najwa sendiri tidak masalah karena terlihat di sana terpampang tulisan halal di depan pintunya.
"Ngga apa-apa kan kita makan di sini?" tanya Azam.
"Ngga apa-apa, di pintu ada tulisan halal kan?"
"Iya, makanya aku ajak kamu kesini karena halal, lagi pula di sini tempatnya enak kok." kata Azam.
Mereka masuk, langsung di sambut oleh petugas yang memang di tugaskan untuk menyambut tamu yang datang untuk makan. Mereka di antar ke salah satu meja paling ujung, karena Azam yang memintanya.
"Kita di sini aja dek, tempatnya nyaman." kata Azam.
"Hemm."
Najwa duduk lebih dulu, dia tidak mau Azam membantunya seperti layaknya di film-film itu. Hal romantis seperti itu memang dulu sering di lakukan Azam padanya, tapi kali ini Najwa selalu menolaknya.
Mau tidak mau Azam juga langsung duduk di depan Najwa. Pelayan datang memberikan buku katalog dan menyerahkannya pada Azam.
Mereka memilih makanan yang simpel saja, sedangkan Najwa mengikuti apa yang di pesan Azam.
"Tempatnya enak ya dek." kata Azam berbasa basi.
"Ya." singkat Najwa menjawab.
Kembali, keduanya diam lagi. Najwa masih berpikir apakah dia langsung bicara atau menunggu Azam bicara lebih dulu. Dia melirik Azam yang sedang bermain ponsel, sibuk sepertinya.
Najwa menarik napas panjang, entah sedang mengirim pesan sama siapa Azam itu. Apa dia mengirim pesan pada seseorang yang dia rindukan?
_
__ADS_1
_
******************