
Pelayam datang membawa pesanan Najwa dan Azam. Azam menghentikan kegiatan mengirim pesan entah pada siapa. Mereka pun segera makan setelah pelayan pergi dari hadapan keduanya.
Najwa makan dengan tenang, begitu juga Azam. Dia sesekali menatap Najwa yang makan begitu tenang tanpa tergesa sedikit pun. Bahkan Azam sendiri ingin cepat selesai meskipun dia makan dengan tenang karena mengikuti Najwa.
Lima belas menit makan akhirnya selesai juga, Azam sudah menunggu Najwa selesai makan karena dia makan begitu pelan. Ada rasa tidak sabar dia ingin bicara dengan Najwa tanpa mengganggu makan mantan istrinya itu.
"Dek, seperti apa yang mas katakan di rumah abah. Aku mau bicara sama kamu." kata Azam.
"Ya, bicara saja mas. Aku dengarkan." kata Najwa.
Azam tersenyum, dia menarik napas panjang. Hatinya sudah berdebar, berharap apa yang akan dia sampaikan itu Najwa menanggapi dengan senang hati dan menerimanya.
"Dek, seperti apa yang telah di rencanakan dulu. Kamu menikah dengan Arsyil itu agar aku bisa menikahimu lagi. Bisakah kita kembali lagi sebagai suami istri? Seperti dulu lagi dek." kata Azam langsung pada intinya saja.
Najwa menarik napas panjang, dia menatap Azam yang juga menatapnya. Berharap permintaannya itu di terima olehnya.
"Mas, terkadang sebuah rencana dan keinginan itu tidak sesuai apa yang seharusnya. Apa lagi ada campur tangan Yang Maha Kuasa, pernikahan itu sebuah janji yang di dasari oleh komitmen dan juga janji seorang laki-laki pada istrinya di hadapan Allah swt. Dulu aku sempat berpikir apakah memang aku bisa kembali padamu, karena memang masih punya perasaan sama kamu.
Entah Allah yang membolak balikan hati manuisa, mengirimkan seseorang dengan cara yang tidak biasa. Membuat hatiku pun berubah akan keinginanku kembali bersamamu lagi." ucap Najwa, dia menatap Azam apakah laki-laki itu paham dengan maksud ucapannya.
Tapi bukan Azam tidak mengerti, dia tahu arahnya kemana. Dia menunggu ucapan Najwa selanjutnya, meski hati dan otaknya menentang akan ucapan Najwa itu.
"Terima kasih kamu telah berusaha mencarikan jodoh untukku waktu itu mas, seiring berjalannya waktu. Aku seperti berbalik mengagumi sosok sederhana, tidak lagi berharap kembali bersama lagi denganmu. Hingga berkali-kali aku meminta petunjuk pada Yang Di Atas agar apa yang aku rasakan adalah benar adanya. Aku minta maaf jika aku harus katakan kalau aku menolak permintaanmu mas Azam." kata Najwa.
Hati Azam tiba-tiba sedih, kecewa dan marah. Semua menjadi satu. Dia tidak terima Najwa bicara masalah hatinya yang sudah berubah dengan begitu cepat.
"Maksud adek, apa?" tanya Azam ingin memastikan ucapan Najwa itu.
"Aku menolak kembali dengan keinginanmu mas, aku tidak bisa menjadi istrimu lagi. Ada banyak yang tersakiti jika kamu memaksaku untuk hidup denganku. Aku, bang Arsyil dan istrimu." kata Najwa memeprtegas ucapannya.
__ADS_1
"Dek, masalah Arsyil itu kan sudah selesai. Dia sudah menceraikanmu kan? Perjanjiannya juga selesai dan tidak ada halangan lagi kita untuk menikah. Lalu, apa yang kamu ragukan? Bukankah kamu masih mencintaiku?" tanya Azam penuh sesak di hatinya.
"Tidak mas, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Dan yang mencintaimu itu adalah istrimu." kata Najwa.
"Dek, kan sudah mas bilang dulu. Ketika aku menikah dengan Mala, sama halnya dengan kamu dan Arsyil menikah. Di antara kita juga ada perjanjian pernikahan kontrak." kata Azam.
"Tapi kamu tidak bisa menceraikan istrimu." kata Najwa berusaha tenang dan menyelesaikan satu persatu.
"Tapi sebentar lagi aku akan menceraikan dia, dek. Demi kamu, aku akan menceraikan dia. Ku mohon menikahlah denganku dek, aku sangat mencintaimu." kata Azam lemah.
Dia tidak percaya Najwa akan menolaknya, bahkan dengan kata-katanya yang begitu sakit baginya karena dia sudah tidak mencintainya lagi.
"Mas, jangan egois. Aku tidak mau istrimu sedih, lagi pula dia akan tambah sedih dan stres. Itu tidak baik bagi ksehatannya." kata Najwa lagi.
"Tidak dek, mas sudah katakan sama dia. Kalau nanti akan mas ceraikan."
"Apa kamu berniat menduakan aku?"
"Menduakan Mala, istrimu?"
"Dek, sudah aku katakan berkali-kali kalau aku akan menceraikan dia. Demi kamu."
"Aku tidak mau merampas hak seorang anak mas. Dan kamu tidak tahu apa yang ada dalam hatiku, bukan karena masalah istrimu atau bakal calon anakmu aku menolakmu." kata Najwa lagi dengan tatapan penuh ketegasan.
Tentu saja Azam terkejut, dari mana Najwa tahu kalau istrinya itu sedang hamil anaknya. Dia menatap penuh kekecewaan dan kekesalan.
"Dari mana kamu tahu kalau Mala hamil?" tanya Azam.
"Berarti benar kan, kamu mau menduakanku dengan Mala istrimu."
__ADS_1
"Tidak seperti itu, dari awal aku sudah berniat menceraikan dia. Tapi dia malah hamil anakku, makanya nanti setelah dia melahirkan akan aku ceraikan dia." kata Azam lagi.
"Sebuah pernikahan itu tidak bisa di buat main-main mas. Kamu dulu menceraikan aku karena tidak kunjung hamil kan. Lalu sekarang istrimu hamil, kenapa kamu malah ingin menceraikan dia? Apa yang kamu inginkan sebenarnya? Apa hanya kesenangan saja yang kamu inginkan? Bagaimana jika nanti aku menikah denganmu dan tidak kunjung hamil juga. Kamu akan lari kemana? Masih setia padaku atau mencari mantan istrimu yang sudah punya anak darimu. Apa itu tidak akan menyakitiku mas nantinya?" kata Najwa lagi.
Azam diam, dia tidak berpikir kesana. Yang dia pikirkan hanya akan menikah dengan Najwa dan hidup bahagia meski nanti belum punya anak lagi.
"Aku akan tetap memilih kamu dek." kata Azam.
"Kamu lebih mementingkan keegoisanmu di banding istrimu yang telah memberimu anak. Tidak semua keinginan itu harus terus di dapatkan mas, aku bicara seperti ini agar kamu mempertimbangkan istrimu yang sedang hamil. Mana mungkin dia kamu ceraikan dalam waktu dekat karena sedang hamil. Orang hamil itu butuh perhatian suaminya, akan seperti apa istrimu jika dia di abaikan olehmu? Akan seperti apa sakitnya jika kamu hanya mementingkanku yang tidak bisa lagi mencintaimu mas Azam." kata Najwa dengan tegas.
Ternyata memang Azamlah yang egois, dia memiliki segalanya. Tapi tidak bisa dia membeli perasaannya saat ini, apa lagi harus menyakiti Mala yang jelas-jelas mencintai Azam secara tulus.
Najwa mengambil gelas berisi air mineral, dia menenggaknya hingga habis setengahnya. Melirik Azam yang masih diam. Entah diamnya karena dia memikirkan ucapannya atau karena dia kesal dengan ucapannya yang menolak mantan suaminya.
"Aku masih tidak percaya dengan datangnya cinta dalam waktu singkat pertemuan dek. Apa kamu di paksa oleh Arsyil untuk menolaka ajakanku?"
"Mas!"
"Kamu terpengaruh ucapan dia kan? Sampai kamu berani menolakku saat ini." kata Azam menuduh Arsyil penuh emosi.
"Tidak ada hubungannya dengan bang Arsyil. Bahkan aku meminta padanya untuk tidak menceraikan aku, dia tetap melakukannya. Karena dia sudah janji sama kamu mas, janji akan mengembalikan aku padamu. Meski dia juga dalam keadaan sakit hati dan juga sedih karena ayahnya meninggal. Apa aku harus tega meninggalkan dia sendiri dalam kepiluannya telah di tinggal berpulang oleh ayahnya? Tidak mas, bang Arsyil justru memaksaku untuk pulang ke rumah abah. Dia tidak mempedulikan hatinya, dia hanya memikirkan sahabatnya yang memberinya janji." kata Najwa.
Dia mulai kesal karena Azam mengungkit masala Arsyil. Dia berpikir tidak ada hubungannya Arsyil dan masalahnya dengan Azam. Urusannya dengan Arsyil sudah selesai, tinggal bicara dengan Azam. Tapi Azam malah menuduh laki-laki sederhana itu berkata untuk mempengaruhinya.
Bahkan dia menangis di hadapannya saja tidak mau karena takut Arsyil akan membuat Najwa simpati padanya. Atau mengatakan cinta secara langsung agar Najwa tidak jadi pergi darinya.
_
_
__ADS_1
******************