Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
45. Kejujuran Najwa 2


__ADS_3

"Yang mencintaimu sepenuh hati itu aku dek, kenapa yang di bela dia? Apa kurangnya aku?" kata Azam.


"Kamu tidak kurang apa pun mas, semua sudah ada pada dirimu. Ketampanan, sopan santun, ramah, sholeh dan juga kamu punya segalanya. Semua ada padamu mas, hanya saja hatimu yang tidak pernah mengerti bagaimana hati seseorang. Kamu tahu, abah dan umiku begitu berbesar hati menerimamu datang memintaku kembali. Begitu sabarnya hati abah dan umi ketika anaknya di ceraikan karena alasan yang tidak masuk akal itu. Hanya karena mamamu tidak sabar aku belum punya anak. Aku memikirkan itu, tapi abah dan umiku selalu sabar. Dan tetap mengedepankan perasaanku yang saat itu masih mencintaimu, tapi sungguh mas sekarang aku tidak lagi mencintaimu. Terima kasih kamu masih mencintaiku mas, tapi lebih baik kamu alihkan rasa cintamu pada Mala istrimu." kata Najwa.


Azam semakin diam, wajahnya merah karena menahan marah. Dia tidak terima Najwa menolaknya dan terus saja mengungkit masalah Mala istrinya.


"Bukankah menerima takdir sekarang lebih baik dari pada harus memaksa untuk menikah lagi denganku mas. Kamu bisa tenang dengan anakmu kelak yang akan jadi kebahagiaanmu dan istrimu." kata Najwa lagi.


"Tidak Najwa, aku tetap mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu, aku tidak peduli Mala dengan kehamilannya." kata Azam dengan tatapan penuh kekesalan.


"Mas, jangan berkata begitu. Mala istrimu memberimu kebahagiaan, dia mengandung anakmu. Lagi pula, kamu menikah dengannya itu di catat di kantor urusan agama. Sudah sah juga di mata negara, jangan sia-siakan itu mas, berpikirlah jernih. Kamu bukan mencintaiku, tapi kamu obsesi padaku." kata Najwa.


"Aku benar mencintaimu!" ucap Azam sedikit keras.


Mata sekeliling orang-orang yang sedang sibuk makan di restoran itu sebagian melihat ke arah Azam dan Najwa. Najwa mendengus kasar, dia sangat malu sekali dengan sikap Azam itu.


"Sudahlah mas, jangan di perpanjang lagi. Aku tetap menolakmu untuk kembali menikah lagi." kata Najwa.


Dia sudah tidak respek lagi pada Azam karena keegoisannya itu. Sejak dulu sebenarnya Najwa merasakan kalau Azam itu egois, tapi dia tidak mempedulikannya karena waktu itu masih mencintainya.


Azam diam, dia menatap Najwa yang sedang menunduk memperhatikan ponselnya.


"Maafkan aku dek, aku salah. Tapi, bisakah aku memperbaikinya dan kamu kembali padaku?" tanya Azam.


Najwa mendongak, menatap Azam lekat. Laki-laki itu tidak juga mengerti dengan ucapannya itu. Keadaannya bukan salah dan benar, tapi posisi Azam itu masih beristri dan tidak mungkin menceraikannya.


Lagi pula, Najwa tidak mau merebut orang yang sudah beristri. Apa jadinya jika dia nanti di sebut sebagai pelakor, dia tidak mau itu. Dan yang memberatkannya adalah dia sudah mencintai Arsyil. Mantan suaminya dan akan memperjuangkan cintanya pada Arsyil.

__ADS_1


Mereka saling mencintai, hanya terhalang sebuah janji. Jadi salah satu harus menyerah, dan saatbya Najwa yang berjuang untuk mendapatkan cintanya pada Arsyil.


"Aku ingin pulang mas, terima kasih kamu mentraktirku makan." kata Najwa.


Azam diam, dia tidak rela harus berpisah dengan Najwa saat ini.


"Dek, pertimbangkan lagi. Aku masih ingin hidup denganmu." kata Azam mencoba meminta pada Najwa.


"Tidak mas, aku minta maaf. Hatiku bukan lagi untukmu, jadi jangan memaksaku lagi." kata Najwa.


"Kamu mencintai Arsyil? Apa semudah itu kamu jatuh cinta padanya?" tanya Azam.


"Aku sudah bilang mas, Allah yang bisa membolak balikan hati manusia. Meskipun hanya sebentar saja, tapi hatiku bisa berubah. Allah yang Maha Kuasa, tidak bisa di tentang lagi. Meskipun aku tahu tentang perjanjian itu, tapi sebuah janji suci pernikahan tidak bisa di permainkan mas. Aku takut Allah akan murka jika mempermainkan sebuah pernikahan hanya karena keinginan dan keegoisan kita. Apa lagi orang yang kita anggap sebagai objek dari perjanjian kita itu sangatlah menerima, tapi ternyata takdir berkata lain mas." kata Najwa memberi pengertian tentang cinta yang dia rasa bukanlah kekaguman semata.


Tapi sebuah rasa yang muncul begitu dalam pada suaminya Arsyil dulu. Mungkin memang jodoh sebenarnya adalah Arsyil, bukan Azam lagi. Begitu pun juga sama dengan Azam, jodohnya adalah Nirmala.


"Percayapah mas, suatu saat kamu akan mengerti apa artinya cinta yang datang karena takdir. Cinta yang datang karena Allah itu bukan untuk merusak hubungan yang sudah terjalin, itu bukan cinta. Tapi obsesi dan nafsu syetan mas, jangan terpedaya dengan perasaan cinta yang penuh nafsu.


Azam diam, entah apa yang dia rasakan saat ini. Sakit hati, kecewa dan merasa tidak mau terkalahkan oleh siapa pun. Nyatanya cinta Najwa berpaling darinya begitu cepat, baginya itu adalah sebuah kekalahan yang tidak bisa dia terima begitu saja.


"Aku ingin pulang mas, mas Azam harus merenungkan semuanya. Perhatikan istŕimu yang sedang mengandung, jika kamu belum bisa mencintainya. Cobalah untuk menyayanginya saja demi anak yang dia kandung." kata Najwa.


Azam hanya diam saja, dia tidak menanggapi ucapan Najwa. Pikirannya sibuk dengan kekalahan dalam merebut kembali hati Najwa, dia merasa itu adalah hinaan baginya. Ya, Azam merasa itu sebuah hinaan.


Seorang Arsyil mampu memikat Najwa dengan cepat. Biasanya dia selalu memikat dan selalu di kagumi banyak wanita di kantor maupun kliennya.


"Dek, tidak bisakah aku di beri kesempatan?" tanya Azam lagi.

__ADS_1


"Maaf mas, aku tidak bisa. Terima kasih kamu masih mencintaiku, masih berharap padaku. Tapi aku minta maaf sebesar-besarnya, aku tidak bisa kembali padamu. Banyak alasan kenapa aku tidak bisa kembali, satu alasan yang terpenting adalah aku tidak mau egois dan aku harus mengejar kebahagiaanku sendiri." kata Najwa lagi.


Luruh sudah harapan Azam ingin mendapatkan Najwa kembali, dia benar-benar kecewa dan marah. Tapi dia tidak bisa lagi memaksa Najwa untuk memberinya kesempatan.


Najwa pun bangkit, dia menatap Azam yang masih duduk di kursinya. Ingin dia lebih dulu pergi, tapi sepertinya Azam masih tidak juga bangun.


"Aku pulang dulu mas." kata Najwa memutuskan untuk pulang sendiri.


"Aku antar dek, kamu pergi denganku. Jadi aku harus mengantarmu juga ke rumah." kata Azam.


"Tidak usah mas, aku akan pulang dengan taksi saja. Kamu bisa pulang sendiri, dan mungkin kamu mau merenungkan apa yang sudah kamu lakukan mas." kata Najwa.


"Aku sudah merenungkannya, aku akan berusaha untuk meyakinkan kamu lagi dek." kata Azam.


Najwa diam, dia menatap Azam. Tapi kemudian dia menarik napas panjang, sepertinya Azam masih belum menerima kenyataan kalau dirinya menolak permintaannya untuk menikah lagi.


"Maaf mas, aku pulang sendiri saja. Assamalu alaikum." ucap Najwa.


Dia pun beranjak pergi meninggalkan Azam, tidak ada gunanya dia bicara panjang lebar dengan Azam dan berlama-lama kalau mantan suaminya itu belum menerima keputusannya.


Najwa terus melangkah meninggalkan restoran itu, dia keluar dan langsung menghentikan taksi yang kebetulan berhenti di depan restoran oriental itu.


Saat Azam mengejar Najwa keluar, ternyata perempuan itu sudah masuk ke dalam mobil taksi yang sudah bergerak pergi meninggalkan restoran itu.


"Aaargh, sial!"


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2