
Perut Najwa sudah membesar, tinggal menunggu hitungan hari dia akan melahirkan. Itu perkiraan sesuai kalender ketentuan hamil, tapi itu tidak bisa di jadikan patokan benar atau salahnya. Karena biasanya kebanyakan ibu melahirkan selalu saja meleset.
Najwa sedang mengepel lantai sambil berjongkok, karena itu di sarankan oleh bidannya. Awalnya Arsyil merasa aneh. Tapi dia membiarkan istrinya melakukan itu agar persalinannya lancar dan bayinya bisa mencari jalan sendiri untuk keluar dari rahim Najwa.
"Dek, kalau lihat adek begitu kok abang jadi kasihan. Kenapa harus mengepel berjongkok begitu sih." kata Arsyil.
"Biar saja bang, kan bidan juga sudah menyarankan supaya jalan lahirnya lancar. Ya begini caranya, mengepel dengan berjongkok, atau sujudnya di buat lama." kata Najwa menyelesaikan mengepel lantai depan.
"Iya sih, tapi abang jadi ngga tega lihatnya. Udah, abang aja yang ngepel lantainya. Tuh keringatnya keluar banyak, udah cukup dek." kata Arsyil.
"Iya sih bang, lama-lama jadi capek juga." kata Najwa.
Dia pun meletakkan lap untuk mengepel, di lanjutkan sama Arsyil. Najwa duduk di kursi sambil mengelus perutnya yang tiba-tiba keram, dia mengerang. Membuat Arsyil menoleh padanya dan mendekatinya.
"Kenapa dek? Dia ingin keluar?" tanya Arsyil cemas, memegangi perut istrinya.
"Hanya keram saja mas, mungkin dia lagi merubah posisi." jawab Najwa masih mengelus perutnya.
"Apa perlu ke bidan lagi?" tanya Arsyil.
"Ngga usah, memang sering keram sedikit-sedikit. Jangan khawatir, kalau sakitnya terus-terusan pasti itu tanda mau melahirkan." kata Najwa menenangkan suaminya.
"Abang khawatir dek, takutnya adek merasakan sakit terus lahiran ketika abang ngga di rumah." kata Arsyil.
"Oh ya, kebunnya sudah di pikirkan mau di tanam apa bang?" tanya Najwa.
"Sudah, ada dua sih. Ya meski lahan kecil, tapi nanti sistemnya tumpang sari aja. Biar saling memberikan makanan, atau bisa mengirit pupuk." kata Arsyil.
"Hemm, bagus itu. Tapi itu membutuhkan biaya banyak ngga? Adek masih ada tabungan kalau abang butuh modal banyak." kata Najwa lagi menawarkan.
"Ngga usah dek, kalau sayuran sih ngga butuh banyak modal. Paling beli bibit dan pupuk aja sih, uang adek simpan dulu ya. Nanti kalau abang butuh, abang pinjam kok." kata Arsyil dengab senyumnya.
"Jadi, uang adek ngga di pakai bang?" tanya Najwa.
"Nanti, kalau abang benar-benar butuh. Sekarang abang masih ada uang, sabar ya." kata Arsyil. Dia tersenyum lalu mengecup kening istrinya.
Najwa pun ikut tersenyum, dia sebanarnya ingin membantu suaminya. Tapi Arsyil masih kekeh tidak mau menggunakannya meski cara menolaknya secara halus.
Sedang santai dan enak duduk berduaan, ada suara mobil berhenti di halaman rumah Arsyil. Keduanya pun menoleh ke arah pintu, tampak sebuah mobil sedan berwarna merah menyala.
Satu laki-laki keluar dari dalam mobil, Najwa dan Arsyil tahu siapa dia. Azam, dia datang ke rumah Arsyil.
"Adek ke dapur dulu bang, mau memasak." kata Najwa.
"Iya dek." kata Arsyil.
Dia tahu istrinya masih kesal pada Azam, beranjak bangun melangkah menuju pintu depan.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Azam berdiri, Arsyil mendekat dan menyalami sahabatnya itu.
"Masuk Zam." kata Arsyil.
__ADS_1
"Terima kasih, Syil." kata Azam.
Azam masuk, dia melihat sekeliling rumah. Entah mencari apa, Arsyil tahu apa yang di cari Azam.
"Najwa di dapur sedang memasak. Duduk, Zam." kata Arsyil.
"Ya, terima kasih Syil."
Dia duduk, Arsyil pun duduk. Keduanya diam, tapi Arsyil bangkit lagi pergi menuju dapur untuk mengambil minuman untuk di suguhkan pada Azam. Dia tidak mau memaksa Najwa untuk mengambilkan minuman, karena istrinya itu sedang kesal pada Azam.
Tak lama Arsyil datang membawa minuman di nampan dengan cemilan di toples kecil.
"Perut Najwa sudah besar, jadi dia tidak bisa bawa minuman kemari. Takut kesandung, karena jalannya lambat." kata Arsyil memberi alasan agar Azam tidak kecewa.
"Ya, jadi belum lahiran?" tanya Azam.
"Belum, tinggal menghitung hari saja kata bidan sih." jawab Arsyil.
"Mau melahirkan di bidan?"
"Iya, soalnya dekat dari rumahku. Oh ya, kamu kemari mau apa?" tanya Arsyil.
"Aku datang kemari mau minta maaf, Syil atas kejadian pembakaran percetakan kamu. Sungguh, aku tidak menyuruh sekretarisku untuk membakarnya. Dia melakukannya sendiri, mungkin dia menganggap aku merasa senang karena sudah bisa mendapatkan lahan di sebelah percetakanmu dan sekalian lahan percetakanmu." kata Azam.
"Aku sudah mengikhlaskannya, Zam." jawab Arsyil.
"Aku tahu, kamu tidak akan membuat semua urusan jadi panjang. Tapi aku tetap merasa bersalah dan merasa tidak enak sama Najwa dan abahnya. Seminggu yang lalu abah datang ke rumahku." kata Azam.
"Abah ke rumahmu? Mau apa?" tanya Arsyil heran.
Arsyil diam, dalam hati merasa bersyukur sahabatnya itu sudah sadar tentang obsesinya pada Najwa.
"Abah tidak bicara apa pun, hanya saja beliau menyuruhku untuk selalu menyayangi istriku. Itu saja." kata Azam lagi.
Arsyil menipiskan bibirnya, membayangkan abah bicara bijak pada Azam. Dia tahu mungkin dengan kata-kata itu banyak sekali mengandung makna yang dalam. Merendahkan dirinya datang ke rumah Azam demi sebuah kehidupan yang harmonis untuk anaknya dan juga mantan menantunya. Agar tidak ada yang saling dendam.
"Syukurlah, aku senang mendangarnya. Abah memang bijaksana sekali." kata Arsyil.
"Iya, aku merasa malu sama abah Syil. Merasa rendah dan rasanya bersalah sekali hingga abah mau datang menemuiku ke rumah." kata Azam lagi.
"Tidak apa, beliau orangnya sangat menyejukkan. Tenang dan berwibawa, tidak banyak bicara." kata Arsyil memuji mertuanya.
"Ya, makanya. Aku sekarang minta maaf sama kamu dan Najwa atas kejadian waktu di pinggir jalan, aku minta maaf sama kamu Syil." kata Azam.
"Iya, aku sudah melupakannya kok."
"Juga, masalah kebakaran itu. Aku ingin mengganti ruginya, berapa pun kerugian yang kamu alami. Aku akan menggantinya, Syil." kata Azam.
"Tidak seberapa Zam, itu juga ada milikmu kok." kata Arsyil.
"Tidak Syil, aku tetap harus bertanggung jawab. Punyaku tidak seberapa, dan aku harus mengganti ruginya. Apa kamu mau aku bangunkan lagi percetakannya di tempat itu?" tanya Azam.
"Tidak, saat ini aku mau alih profesi jadi petani saja. Ayahku punya lahan, meski tidak besar. Aku akan mengelolanya." kata Arsyil.
"Kamu mau menjadi petani?"
__ADS_1
"Iya, memanfaatkan lahan kebun milik mendiang ayah dulu." kata Arsyil.
"Lalu, uang ganti rugi apa harus kutransfer ke rekeningmu saja Syil. Terserah kamu mau di gunakan untuk apa, tapi lahan itu apa kamu membiarkannya begitu saja?" tanya Azam.
"Aku tidak tahu, jika itu untuk membayar modal milikmu ambil saja Zam, lahan itu." kata Arsyil.
"Aku sudah membatalkan kerja sama dengan klien yang meminta di carikan lahan itu. Dan Maya juga sudah aku pecat, dia sudah aku berikan jaminan pada kepolisian. Apa kamu keberatan?" tanya Azam.
"Itu terserah kamu Zam, aku tidak menuntut apa-apa. Aku sudah mengikhlaskannya." kata Arsyil lagi.
"Baiklah, aku akan mentransfer uang ke rekeningmu. Jangan di tolak Syil, aku akan terus merasa bersalah sama kamu. Karena aku akan terus di benci sama istrimu." kata Azam tersenyum getir.
Arsyil diam, dia sudah berusaha untuk menasehati Najwa agar tidak marah terus sama Azam. Tapi memang butuh waktu, dan Azam datang ke rumah untuk mengganti rugi tentang kebakaran itu. Memang sebaiknya Arsyil menerimanya, agar Najwa tidak kesal terus sama Azam.
"Baiklah, aku terima. Semoga uang ganti rugi itu bisa meredakan kekesalan Najwa sama kamu." kata Arsyil dengan tersenyun lebar.
Azam pun ikut tersenyum, tentu saja seorang istri akan terus membela suaminya. Siapa pun itu yang membuat suaminya jadi terpuruk sekalipun.
"Ya, terima kasih ya. Dan maafkan aku sekali lagi, juga sampaikan pada Najwa. Aku minta maaf padanya, karena suaminya aku buat jadi pengangguran sementara." kata Azam lagi.
"Hahah, baiklah. Apa perlu Najwa kusuruh kesini?" tanya Arsyil.
"Tidak usah, mungkin nanti juga reda sendiri kan. Aku tahu dia tidak akan lama marah padaku." kata Azam.
"Ya, baiklah."
Keduanya diam, Azam mengambil minuman dan juga cemilan lalu menyuapkannya dengan cepat.
"Oh ya, anakkku sudah lahir Syil. Dia jagoan." kata Azam dengan senangnya.
"Waah, selamat ya. Nanti kapan-kapan aku dan Najwa menengoknya." kata Arsyil ikut senang mendengar kabar dari Azam itu.
"Ya, aku tunggu." kata Azam lagi.
"Bagaimana rasanya jadi seorang ayah baru?" tanya Arsyil.
"Awalnya aku kaget, dan bingung. Karena aku baru merasakannya, entahlah. Mungkin aku terlalu sibuk kerja dan mengejar obsesiku, jadi tidak memperhatikan istriku. Sampai dia melahirkan pun aku masih merasa bingung, tapi sewaktu aku mengadzani anakku. Dalam hatiku bergetar dan ada rasa bahagia, aku hampir menangis. Dan saat itu aku merasa bingung sendiri dengan semuanya." kata Azam menceritakan hatinya sewaktu melihat anaknya pertama kali.
"Waah, berarti kamu sudah mempunyai insting jadi seorang ayah Zam. Selamat sekali lagi ya, semoga kamu bisa bahagia selamanya." kata Arsyil lagi.
"Ya, terima kasih Syil. Aku akan memulai hidupku dengan anak dan istriku selanjutnya." kata Azam lagi.
"Amiin."
"Kamu juga ya, aku akan selalu mendoakanmu agar selalu bahagia." kata Azam dengan tulus.
"Amiin, terima kasih Zam. Doa yang sama buatmu." kata Arsyil.
Mereka bicara sangat hangat sekali, di balik pintu dapur Najwa sedang memperhatikan pembicaraan kedua sahabat itu. Sekilas dia mendengar kalau istri Azam itu sudah melahirkan, tangan Najwa pun mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Mama tidak sabar kamu juga hadir sayang." ucap Najwa dengan senyum mengembang.
_
_
__ADS_1
****************