
Sejak hari itu, keduanya terasa canggung. Tetapi tidak berlangsung lama, justru Najwa dan Arsyil semakin akrab dan sering bercanda mesra. Semakin hari semakin dekat keduanya, bahkan memang layaknya pengantin baru.
Seperti saat ini, keduanya selesai bercinta dan saling berpelukan. Lupa dengan perjanjian dengan Azam, Najwa justru engga melepas suaminya dari pelukannya.
"Dek, apa kita akan seperti ini terus?" tanya Arsyil mengecup kepala Najwa.
"Kenapa bang?" tanya Najwa masih enggan melepasnya.
"Ngga apa-apa."
Arsyil mengeratkan pelukannya, sedangkan Najwa tertidur dengan nyaman. Arsyil menatap wajah istrinya, sangat cantik di matanya. Semakin hari hatinya semakin tumbuh rasa cinta yang dalam, dia benar-benar merasa khawatir akan waktu yang sebentar lagi tiba.
Satu bulan, ya satu bulan lagi dia akan melepas Najwa untuk Azam. Semakin berat dia untuk melepas istrinya itu, tapi janji adalah janji. Dia tidak bisa mengingkarinya.
"Dek, apa kamu tidur?" tanya Arsyil.
"Hemm."
Suara parau Najwa menandakan dia sudah mengantuk dan tertidur. Arsyil diam, dia semakin mengeratkan pelukannya. Mencoba menyelami hatinya yang paling dalam, memejamkan matanya dan tanpa sadar dia berucap pelan.
"Aku mencintaimu, istriku." lirih Arsyil mengucapkannya.
Hingga sayup-sayup suara ungkapan hati masuk ke alam bawah sadar Najwa. Pikirannya mengiang dengan suara Arsyil itu, hingga terbawa dalam alam mimpinya.
_
Kehidupan Azam yang jauh dari kota di mana Arsyil tinggal dengan Najwa. Dia dan istrinya Nirmala justru sedang baik-baik saja, meski Mala tahu pernikahan dia dan Azam memang ada waktunya.
Tapi sepertinya Azam sangat menikmati kehidupannya dengan Nirmala. Seperti pagi ini, dia menikmati sarapan buatan istrinya. Azam memgakui Mala sangat pandai memasak, meski dulu juga Najwa pandai memasak. Entah kenapa dia sangat suka dengan masakan Nirmala.
"Mas Azam mau tambah lagi lauknya?" tanya Mala.
"Boleh, tambahin sedikit aja. Takutnya nanti ngga bisa jalan kalau makan banyak." kata Azam.
Mala tersenyum, dia senang suaminya sangat menyukai masakannya. Terkadang dia juga menawarkan bekal ke kantornya.
"Oh ya, kakakmu belum datang kesini?" tanya Azam.
"Belum mas, katanya sih besok." kata Mala.
Azam menatap Mala yang sedang menuangkan, rasanya dia sedikit menyukai Mala yang sama halnya dengan Najwa. Tapi, dia tetap akan menikahi Najwa setelah masa iddahnya nanti selesai.
"Aku berangkat kerja dulu." kata Azam.
"Iya mas." ucap Mala.
Azam masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil tas kerja lalu keluar lagi. Mala menunggunya dan bersiap mengantar suaminya berangkat kerja.
"Kamu jaga diri di rumah ya." kata Azam.
__ADS_1
"Iya mas."
Mala menyalami tangan suaminya itu, tanpa sadar Azam mencium kening istrinya itu. Mala tertegun, sejak menikah baru kali ini dia mendapat ciuman dari Azam.
Tapi dia senang, melambaikan tangannya ketika Azam masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya. Dua bulan sudah pernikahan mereka, hanya selisih dua hari pernikahan Azam dan Arsyil.
Sepanjang jalan Azam memikirkan pernikahannya dengan Mala. Dia bingung bagaimana nantinya bicara pada Mala, meski gadis itu tahu akan pernikahan kontraknya. Tapi dia mendaftarkan pernikahannya di KUA, jadi jika menikahi Najwa. Status Najwa adalah istri siri nantinya.
"Bagaimana pernikahan dia dan Arsyil ya?" ucap Azam.
Dia pun meminggirkan mobilnyaz hendak menelepon Arsyil. Hampir dua bulan dia tidak menghubungi sahabatnya dan menanyakan kabar pernikahannya, mencari nomor kontak Arsyil dan menghubunginya.
Tuuut.
Tersambung tapi belum di angkat. Azam masih sabar, dia terus menghubungi Arsyil.
"Ck, kemana dia. Apa sudah pergi ke percetakan?" ucap Azam menatap ponselnya.
Dia pun sekali lagi menghubungi Arsyil, tersambung tapi tidak belum di angkat.
"Apa dia lagi di percetakan atau masih di rumahnya." ucap Azam.
Dia pun berniat pergi ke rumah kost Arsyil, melajukan mobilnya menuju kostan Arsyil yang dulu. Dia tidak tahu kalau Arsyil sudah pindah kost.
Tuuut.
Azam mendengar ponselnya ada yang memanggil, di lihatnya nama Arsyil di sana. Langsung saja dia menjawabnya.
"Wa alaikum salam, Zam. Apa kabarnya?" tanya Arsyil di seberang sana.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?" tanya Azam ingin tahu keadaan Arsyil dan juga Najwa.
"Alhamdulillah, aku baik. Ada apa?"
"Emm, Najwa bagaimana?" tanya Azam.
Tak ada jawaban, Arsyil diam tidak menjawab. Azam menunggu jawaban Arsyil tentang mantan istrinya itu.
"Syil?"
"Oh ya, Najwa juga baik kok. Dia ada di rumah, aku sudah ada di percetakan. Memangnya ada perlu apa?" tanya Arsyil seperti berat bertanya seperti itu.
"Aku hanya menanyakan Najwa apakah dia baik-baik saja. Dan, kalian sendiri tetap menjaga dan ingat akan perjanjian itu kan?" tanya Azam.
"Ya, Zam. Aku ingat."
"Syukurlah, niatnya aku mau ke kostan kamu."
"Aku sudah pindah kostan, Zam. Aku ngontrak di kompleks perumahan Indah Bahari." kata Arsyil.
__ADS_1
"Lho, kamu ngga kasih tahu aku. Ya sudah, aku akan ke rumah kompleks kamu."
"Tapi aku ada di percetakan Zam."
"Ngga apa-apa, Najwa ada kan?"
"Yaa, ada sih. Tapi ...."
"Oke, kasih alamat rumah kamu. Aku hanya mau mampir sebentar saja kok, ngga akan bawa Najwa. Aku tahu belum saatnya." kata Azam.
"Ya baiklah. Nanti aku chat kamu alamat rumahku." kata Arsyil di seberang sana.
"Thanks, Syil. Aku tunggu. Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Klik!
Azam menutup sambungan teleponnya dengan Arsyil. Dia menunggu chat dari Arsyil mengirimkan alamat rumahnya. Dan tak lama, suara notif chat dari Arsyil pun berbunyi. Azam langsung membuka pesan chat dari Arsyil, dia tersenyum.
Lalu dia pun memutar balik arah mobilnya pergi ke rumah Arsyil. Azam sangat senang Arsyil memberikan alamat rumahnya, dia sangat rindu pada Najwa. Ingin melihatnya dan bicara sebentar saja lalu pergi lagi, begitu niat Azam.
Tapi suara dering ponsel berbunyi, Azam melihat nama istrinya Nirmala menghubunginya. Dahi Azam berkerut, kenapa Mala menghubunginya.
"Halo?"
"Maaf mas Azam, ini bi Darsih. Ibu jatuh pingsan di ruang tamu. Apa mas Azam bisa pulang?" tanya pembantu Azam.
"Kenapa dia bi?" tanya Azam panik.
"Bibi ngga tahu mas, sepertinya ibu kelelahan karena tadi habis beres-beres rumah." jawab bi Darsih.
"Kenapa bibi membiarkan Mala bersih-bersih rumah?! Bukankah itu tugas bibi?!"
"Maaf mas Azam, ibu memaksa. Tapi sebentar kok, tadi saya mau ambil alih pekerjaan ibu. Eh ibunya malah jatuh pingsan." kata bi Darsih ketakutan dengan nada suara Azam meninggi.
"Huh! Ya sudah, saya pulang sekarang!" kata Azam.
Klik!
Azam menutup sambungan teleponnya, dia lalu melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dia cemas pada Mala, ada apa dengan gadis itu. Kenapa dia pingsan segala. Di perjalanan Azam sangat khawatir, dia takut Nirmala kenapa-kenapa. Tapi seingat dia, baru kali ini Mala jatuh pingsan. Sebelumnya tidak pernah.
"Apa yang dia rasakan?" ucap Azam masih terus berpikir.
Mobil terus melaju kencang, dia tidak sadar akan kekhawatirannya pada istrinya itu. Sedangkan mengenai Najwa sendiri dia sudah lupa akan datang ke rumah kontrakan Arsyil.
_
_
__ADS_1
***************