Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
78. CLBK


__ADS_3

Kehidupan Arsyil dan Najwa begitu bahagia, kebun yang di kelola Arsyil pun sukses dengan panen yang lumayan banyak. Serta permintaan pasar juga meningkat, dia menanam sayuran yang banyak peminatnya. Terutama di restoran.


"Alhamdulillah dek, abang sekarang sudah bekerja sama dengan restoran yang mau mengambil sayuran dari kebun abang. Mereka pengen sayuran yang masih segar, jadi abang bisa langsung kirim ke restoran itu ngga perlu lagi melalui pengepul." kata Arsyil.


"Alhamdulillah bang, adek senang dengarnya. Rejeki kita di buka melalui jalan lain, kita bersikap sabar dengan ujiannya. Allah selalu memberikan jalan lain ya bang." kata Najwa menanggapi ucapan suaminya.


"Iya, mungkin Allah menyuruh abang untuk memanfaatkan kebun ayah. Dan lahan itu juga ngga seberapa, tapi hasilnya besar lho dek." kata Arsyil lagi.


"Iya. Terus itu, sewa lahan di sebelahnya bagaimana? Apa masih lanjut bang, di perpanjang maksudnya?" tanya Najwa.


"Abang pengennya lanjut, tapi dua hari lalu pemiliknya mau di pakai katanya. Bingung nih abang bagaimana nanti kalau restoran pengen membeli sayuran abang lebih banyak lagi." kata Arsyil.


"Sebelum masa sewa itu habis, cari saja lahan yang mau di jual bang. Tanya pak Sanip deh, katanya sih ada yang mau jual lahan. Tapi bukan di dekat lahan punya abang, agak jauh katanya." kata Najwa.


"Waah, benarkah? Berapa meter katanya dek?"


"Adek ngga tahu bang, makanya abang besok tanya aja sama pak Sanip. Waktu itu pak Sanip datang kesini, mau ketemu abang sore. Tapi abang belum pulang, jadi pak Sanip bilang begitu aja. Adek lupa mau sampaikan sama abang waktu itu." kata Najwa lagi.


"Ya udah, besok abang temui pak Sanip. Tanya tentang lahan yang mau di jual itu." kata Arsyil.


Modal dari menanam sayur sudah kembali setelah Arsyil berjuang memasarkan ke supermarket atau restoran yang dia tawarkan. Ada juga dia kumpulkan di pengepul awalnya, tapi setelah dia kesana kemari menawarkan sayuran yang dia tanam. Akhirnya ada juga restoran sebagai pelanggan tetap. Meski kadang tidak banyak, tapi dia mengatur agar setiap hari panen untuk di kirim ke restoran itu.


_


"Dek, kita belum menjenguk anaknya Azam lho sejak lahir itu." kata Arsyil bicara dengan hati-hati pada istrinya.


Najwa masih membereskan baju-baju Alief dan miliknya serta milik Arsyil. Arsyil melihat mimik wajah istrinya nampak biasa saja, apakah dia enggan menanggapi atau tidak mendengarnya.


"Dek?"


"Iya bang, kenapa?" tanya Najwa.


Arsyil menarik napas panjang, ternyata Najwa tidak mendengarnya tadi.


"Kita ke rumah Azam yuk?" ajak Arsyil.


Najwa menghentikan kegiatan melipat bajunya, dia menoleh ke arah suaminya dan menatapnya. Lalu melanjutkan kegiatan melipat baju.


"Mau apa kesana?" tanya Najwa.


"Silaturahmi dek, sekalian menengok anaknya juga. Dan kita juga mengenalkan anak kita." kata Arsyil lagi, dia memperhatikan lagi wajah istrinya.


"Abang ngga takut nanti adek CLBK?" tanya Najwa.


"CLBK itu apa?"


Najwa menoleh ke arah suaminya, dia tersenyum karena tidak tahu apa itu CLBK.


"Sudah, ngga usah abang tahu apa itu CLBK." kata Najwa.

__ADS_1


"Eh, abang tahu itu apa CLBK." kata Arsyil.


"Apa?"


"Emm, apa ya? Soalnya abang belum pernah mengalami itu yang namanya CLBK. Jadi kurang paham juga abang, heheh." kata Arsyil tertawa kecil.


"Hemm, abang ngga pernah ya punya mantan?" tanya Najwa.


"Ngga ada, abang ngga pernah punya pacar sebelumnya." jawab Arsyil.


"Pantas aja, ngga tahu CLBK."


"Memang wajib ya tahu apa itu CLBK?" tanya Arsyil.


"Ngga juga, kalau ngga tahu ya udah. Jangan di bahas." kata Najwa lagi.


"Tapi abang pengen tahu dek, apa itu CLBK."


"Ya ampun, abang hidup di mana sih?"


"Adek bikin penasaran abang aja." kata Arsyil merajuk pada istrinya.


"Hahah, adek baru lihat abang merajuk." kata Najwa.


Arsyil diam dia sibuk memainkan laptopnya. Najwa pun mendekat pada suaminya, duduk di sampingnya menatap laptop yang masih menyala.


Najwa mencium pipi suaminya itu, dan Arsyil hanya menoleh sekilas lalu fokus lagi pada laptopnya.


"Cinta lama bersemi kembali, itu kepanjangannya bang. Kalau kita ke rumah mas Azam, apa abang ngga takut adek CLBK sama mas Azam?" tanya Najwa menatap suaminya.


"Kenapa takut? Abang percaya sama adek kok, tapi kalau adek mau balikan sama Azam ya silakan aja. Tapi nanti tunggu abang tua dan puas dulu sama adek, baru deh." kata Arsyil.


"Hahah! Lucu abang ini. Tapi adek sudah ngga ada perasaan apa-apa kok sama mas Azam, adek cintanya sama abang Arsyil Arkana Daud." kata Najwa dengan senyum mengembang dan menatap suaminya.


Arsyil menghentikan kegiatan bermain laptop, dia membalas tatapan istrinya dan tersenyuk juga. Dia menarik tengkuk istrinya dan menciumnya lembut, keduanya saling memagut lama.


Setelah puas, Arsyil melepas ciumannya lalu tersenyum lembut. Mengelus pipi istrinya itu yang semakin lama semakin halus meski jarang di polesi bedak.


"Abang juga cinta sama adek Najwa Nabil, mamanya Alief Irsyadi Daud. Cup." kata Arsyil.


"Terus?"


"Terus apa?"


Wajah Najwa cemberut, membuat Arsyil pun tertawa lepas. Dia sangat lucu dengan istrinya itu.


"Terus kita ke kamar aja." bisik Arsyil.


Najwa menoleh, pipinya memerah lalu tersenyum. Dan Arsyil kembali tertawa lepas, dia tahu sekarang istrinya mengajaknya melakukan sunah rasul.

__ADS_1


"Jadi, kita satu sama ya."


"Satu sama apanya?"


"Udah, ayo kita ke kamar."


"Ngga mau!"


"Eh, kok ngga mau? Tumben." kata Arsyil.


"Adek maunya duduk di sini sama abang, anggap aja lagi pacaran. Mumpung Alief lagi tidur, kita pacaran di sini." kata Najwa.


"Hemm, ya udah. Abang kecewa nih." kata Arsyil.


"Sabar bang, kita duduk-duduk sambil nonton film aja di laptop. Adek cari deh cerita romantis di internet." kata Najwa lagi.


"Ngga nonton film romantis kita juga udah romantis dek." kata Arsyil.


"Ih abang, kalau diam ngga ngapa-ngapain kan ngga enak." kata Najwa.


"Kita mau ngapa-ngapain kok." ucap Arsyil.


Dia pun langsung menyambar kembali bibir istrinya, mencumbunya dengan lembut. Najwa kaget dengan serangan dari Arsyil, tapi kemudian dia pun membalasnya pula.


Malam ini mereka sangat bahagia sekali, tidak ada gangguan dari anaknya Alief yang sepertinya mengerti akan kebutuhan kedua orang tuanya yang sedang menggebu itu.


Melakukan keromantisan di ruang tamu dengan penuh gairah. Rasa cinta dan kerinduan akan pelukan dan dekapan kini mereka lampiaskan, meski kadang mereka lakukan tetapi hanya waktu yang membatasi keduanya karena selalu saja ada suara tangisan yang mengganggu dan menyuruh mereka berhenti.


Napas keduanya memburu, lalu tersenyum. Arsyil menatap istrinya, tatapan yang penuh kasih sayang dan cinta. Di belainya pipi lembut itu.


"Abang cinta banget sama adek." ucap Arsyil dengan suara seraknya.


"Adek juga bang, abang yang selalu adek pikirkan. Semuanya tentang abang." kata Najwa.


"Hahah, jadi pikiran adek cuma abang?"


"Adek lagi menggombal nih bang, jangan tertawa." ucap Najwa dengan tersenyum malu.


"Hahahh, baiklah. Ayo kita lanjut ke kamar." kata Arsyil sambil membopong tubuh istrinya, membuat perempuan itu sedikit menjerit karena kaget.


"I love you."


"Love you too."


_


_


**************

__ADS_1


__ADS_2