
Arsyil mengobrol dengan pak Sanip masalah ayahnya, baik hutang yang pernah dia pinjam atau pun sangkutan mengenai ayahnya pak Marwan.
"Setahu bapak sih pak Marwan tidak punya hutang sama siapa pun. Bahkan ada itu pak Jarot pernah berhutang pada ayahmu, tapi kemarin bapak tidak lihat dia datang ke rumahmu. Hanya ada istrimu saja, apa dia tidak mengatakan apa-apa?" tanya pak Sanip.
"Tidak pak, saya tidak tahu kalau istrinya yang mana." kata Arsyil.
"Ah ya, nanti bapak saja yang menagihnya." kata pak Sanip.
"Kalau tidak terlalu besar sih, jangan pak. Biarkan buat amalan ayah saja, saya lihat pak Jarot kehidupannya tidak lebih baik dari ayah." kata Arsyil lagi.
"Tapi setidaknya dia datang ke pemakaman pak Marwan."
"Tidak apa pak. Mungkin beliau sedang merantau."
"Ah ya, benar juga."
"Kalau begitu, saya pamit dulu pak. Sudah siang, takut yang di rumah mencari karena terlalu lama perginya." kata Arsyil.
"Oh ya nak Arsyil, bapak penasaran. Emm, apakah yang di rumah pak Marwan itu. Maksud bapak, perempuan yang nak Arsyil bawa itu istrinya nak Arsyil? Soalnya pak Marwan pernah cerita kalau nak Arsyil sebenarnya sudah punya istri. Hanya saja memang harus di sembunyikan." kata pak Sanip menghilangkan rasa penasarannya dengan Najwa.
"Iya pak, tapi sebentar lagi bukan istriku. Apa ayah cerita banyak masalah saya?" tanya Arsyil.
"Ada sebagian, karena bapak tidak memperhatikan. Hehehe, maaf bapak."
"Tidak masalah, itu artinya pak Sanip tahu tentang cerita saya dari ayah. Dan nanti sore saya harus pulang, lusa mungkin saya kembali lagi ke rumah ayah." kata Arsyil.
"Iya, dan semoga nak Arsyil dapat kebahagiaan yang sesungguhnya ya. Bapak doakan semoga nak Arsyil dapat jodoh sesungguhnya." kata pak Sanip
"Aamiin pak Sanip. Terima kasih, kalau begitu saya permisi pulang dulu." kata Arsyil.
"Iya nak Arsyil, jangan khawatir masalah ayahmu ya."
"Iya pak, assalamualaikum."
"Wa Alaikum salam."
Arsyil pun pergi dari rumah pak Sanip, laki-laki tua itu menatap kepergian anak dari tetangganya yang pendiam. Dia tahu anak pak Marwan sedang tidak baik-baik saja. Entah karena memang merasa berat sekali karena di tinggal oleh ayahnya, atau ada masalah lain lagi. Tapi pak Sanip hanya bisa mendoakannya saja.
Sedangkan Arsyil berjalan pelan menuju rumah ayahnya. Dia berpikir setelah memulangkan Najwa besok ke rumah abahnya, dia akan menetap di rumah ayahnya sementara waktu untuk menghilangkan rasa sedihnya berpisah dengan istrinya.
Terlihat Najwa berdiri di depan pintu dengan gelisah, Arsyil tahu istrinya sedang menunggunya pulang. Najwa melihat suaminya pulang tampak senang, dia menyongsong Arsyil dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Bang, adek khawatir banget sama abang." kata Najwa menghampiri suaminya.
"Khawatir kenapa dek?" tanya Arsyil.
"Takut abang sedih dan ngga kembali lagi ke rumah." jawab Najwa menunduk.
"Abang ngga akan ninggalin kamu di rumah ayah sendirian, dek. Kan nanti sore kita pulang." kata Arsyil.
Najwa tersenyum kaku, entah kenapa saat ini dia merasa Arsyil berbeda dari biasanya. Apa karena waktu yang akan segera habis?
Atau karena memang sedih meninggalnya ayah mertuanya.
"Adek sudah buatkan makanan, abang makan ya?" kata Najwa.
"Nanti saja dek, abang belum lapar." kata Arsyil.
"Kapan abang lapar?" tanya Najwa.
"Entah dek, abang belum lapar saat ini. Adek kalau lapar makan aja duluan." kata Arsyil lagi.
"Tapi adek mau di temani sama abang." kata Najwa menatap suaminya.
Arsyil diam, dia lalu tersenyum dan mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam rumah, rencananya Arsyil ingin tidur sebentar lalu membereskan barang milik ayahnya. Setelah itu dia akan mengajak Najwa pulang ke kontrakan mereka
_
Dia tampak gelisah juga, sepertinya Arsyil akan bicara sesuatu yang sangat penting. Entah sore ini atau malam nanti, Najwa jadi merasa takut sendiri.
Dia memasak makanan untuk makan malam, meski hatinya gelisah. Arsyil sudah keluar dari kamar mandi setelah terasa lengket dan penat hati dan pikirannya. Dia melirik istrinya yang sedang memasak sambil melamun.
"Dek, kamu masak?" tanya Arsyil.
"Iya bang, buat makan malam." jawab Najwa.
"Pesan saja dek, kamu capek pasti." kata Arsyil.
"Ngga apa-apa bang, ini aku lakukan buat abang kok."
"Ya, tapi abang ngga selera makan."
Najwa menghentikan kegiatannya, dia menatap suaminya dan meneruskan kegiatannya lagi.
__ADS_1
"Kalau abang ngga mau makan masakan adek juga ngga apa-apa bang. Jangan menyuruh adek berhenti melayani suamiku." kata Najwa kesal juga dengan ucapan suaminya.
"Abang hanya ngga mau adek capek." kata Arsyil lemah.
"Abang jangan khawatir, adek masih kuat. Yang harus abang kuatkan adalah abang sendiri, jangan merasa kuat jika tidak bisa menahannya. Kenapa abang tidak bilang saja sama mas Azam untuk menangguhkan perjanjian itu?" tanya Najwa.
Arsyil diam, dia menatap istrinya yang sedang sibuk mengiris tempe. Dia heran kenapa Najwa tahu akan hatinya yang sedang bingung itu, tapi dia berjalan meninggalkan Najwa sambil berucap.
"Janji adalah janji dek, tidak bisa di ingkari. Abang tidak bisa menunda apa yang seharusnya jadi keharusan." kata Arsyil.
Najwa menghentikan memotong tempenya, dia menitikkan air matanya. Jika sudah seperti itu, maka dirinya yang akan membuat keputusan sendiri.
Najwa lalu menuangkan tepung terigu dan di beri garam serta penyedap. Dia akan menggoreng tempe tepung dan membuat tumis kangkung. Air mata Najwa masih terus menetes, dia mengusap pipinya yang masih basah karena air matanya tidak juga berhenti menitikkan air mata.
Suara azan magrib pun berkumandang, Najwa segera mandi dan dia bergegas sholat wajib tiga rakaat itu. Memohon petunjuk agar semua di beri jalan yang seharusnya di lewati. Meski pun akan ada yang tersakiti, bukankah webuah pengorbanan harus di lakukan untuk kebahagiaan.
Lama Arsyil dan Najwa berdiam di kamarnya masing-maisng, Najwa ingin memberikan kekuatan pada Arsyil. Tapi laki-laki itu tidak mau dirinya terlibat dalam kesedihannya, sedangkan Arsyil tidak tahu kalau Najwa juga merasa sedih dan sakit hati dengan keadaan mereka saat ini.
Tapi kemudian Arsyil pun kini keluar dari kamarnya, dia berniat untuk makan malam dengan istrinya yang terakhir kalinya. Menghargai hasil jerih payah Najwa istrinya.
"Dek, kamu sudah selesai sholatnya?" tanya Arsyil di depan pintu kamar Najwa.
Pintu terbuka, tampak Najwa masih menggunakan mukenah. Di pipinya tampak basah habis menangis, Najwa menunduk.
"Ada apa bang?"
"Abang lapar, adek bisa siapkan makan?" tanya Arsyil.
"Iya bang, sebentar adek lepas dulu mukenahnya."
"Ya, abang tunggu di meja makan."
Najwa masuk ke dalam kamarnya dan Arsyil menuju dapur untuk makan malam, meski dia tidak begitu lapar dan selera makan juga tidak ada. Tapi dia ingin menghargai istrinya dan juga ingin bicara mengenai rencananya besok.
Najwa menghampiri Arsyil, dia membuka tudung saji dan mengambil peran piring untuk suami dan dirinya. Dia mengambil nasi lalu ri masukkan ke piring, baru setelah itu duduk di depan suaminya.
Arsyil mengambil tempe tepung, Najwa mengambilkan tumis kangkung. Mereka makan dalam diam, masih memikirkan apa yang akan mereka bicarakan setelah selesai makan itu.
"Dek, abang mau bicara."
_
__ADS_1
_
************