Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
27. Menagih Janji


__ADS_3

Azam menghubungi Arsyil kembali setelah satu minggu sejak janjinya mau datang ke rumahnya gagal karena Mala tiba-tiba pingsan. Kini akan menghubungi Arsyil lago dan datang untuk bertemu dengannya di rumahnya.


Tuuut.


Tersambung, tapi belum di jawab. Azam mencoba menghubunginya lagi lalu tak lama di jawab.


"Assalamu alaikum, Zam."


"Wa alaikum salam."


"Ada apa Zam?"


"Waktu itu aku tidak sempat datang ke rumahmu menemui Najwa, apa hari ini ada di rumah?"


"Ya, aku ada di rumah. Libur, kamu mau datang kesini?"


"Ya, ingin bertemu denganmu dan Najwa."


"Kalau mau datang kesini jangan terlalu siang, istriku mau ke rumah abahnya." kata Arsyil.


"Oke, aku akan datang lebih cepat. Tapi kamu ada di rumah kan? Maksud aku kamu tidak ikut dengan Najwa ke rumah abah?" tanya Azam.


"Ya, aku tidak ikut. Dek Najwa saja yang kesana." kata Arsyil.


Azam diam, dia seperti senang karena Arsyil tidak ikut dengan Najwa ke rumah abahnya. Dia akan bertemu Najwa sebentar lalu memgobrol dengan Arsyil. Begitu pikiran Azam.


"Ya sudah, aku akan kesana sekarang."


"Iya."


"Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Klik!


Azam menutup sambungan teleponnya, dia senang kini akan bertemu dengan mantan istrinya lagi setelah hampir tiga bulan sesuai perjanjian mereka akan menyelesaikan kontraknya.


Azam keluar dari kamarnya, dia melihat Mala sedang belajar merajut. Azam mengambil kunci mobil dan langsung pergi dengan tatapan kecewa dari Mala istrinya.


Bi Darsih mendekati Mala, menyuguhkan minuman jus kesehatan. Dia juga melihat Azam pergi begitu saja tanpa memberitahu Mala mau pergi kemana.


"Mas Azam mau kemana bu?" tanya bi Darsih.

__ADS_1


"Tidak tahu bi, tadi tidak bilang sama aku." jawab Mala dengan kecewa.


"Apa ibu akan terus di sini? Maksud saya apakah mas Azam akan menemani ibu sampai melahirkan?" tanya bi Darsih, dia merasa tidak enak jika langsung bertanya permasalahan Mala dan Azam tentang kontrak pernikahan itu.


"Ya bi, sampai anakku lahir." kata Mala.


"Ooh, iya. Ibu sedang hamil ya." kata bi Darsih.


Sebenarnya antara Najwa dan Mala itu menurut bi Darsih semuanya baik. Tidak ada yang tidak baik di mata bi Darsih, dia hanya merasa kasihan saja saat ini pada majikannya sekarang. Mengejar cinta yang telah dia putuskan sendiri hanya karena tidak juga mengandung.


Tapi sekarang menikah lagi dan mengandung anaknya, justru tetap saja yang di kejar perempuan pertama yang pernah dia cintai.


_


Azam mencari alamat Arsyil dengan melihat beberapa rumah yang berjejer layaknya rumah BTN berjejer, melihat nomor yang tertera di depan. Dan ternyata rumah Arsyil paling ujung dan tempatnya tinggi, dan kompleks rumah Arsyil memang tinggi dan bebas dari banjir.


Karena di kompleks di depan rawan terkena banjir. Akhirnya Azam pun menghentikan mobilnya di depan rumah Azam. Tampak sepi, tapi kemudian dia melihat Najwa keluar dari rumahnya.


Hati Azam bergetar, dia terpaku melihat mantan istrinya itu sedang memakai sepatu. Lalu keluar Arsyil dengan baju santai dengan memnawa ember cucian baju.


Azam tertegun, dia melihat Najwa dan Arsyil sedang bicara. Ada raut cemas di wajah Najwa, begitu juga Arsyil. Entah apa yang di bicarakan Arsyil dan Najwa, tapi kemudian mantan istrinya itu menyalami tangan Arsyil lalu dia melangkah meninggalkan Arsyil.


"Dek!"


Panggil Arsyil yang terdengar oleh Azam. Najwa menoleh ke belakang, berhenti dan menatap suaminya.


Arsyil tersenyum, dia mendekat lalu menarik kepala Najwa dan mencium kepalanya lama. Najwa tersenyum lalu melambaikan tangannya pada suaminya, dan Arsyil pun membalasnya.


Adegan itu membuat Azam hatinya cemburu, tangannya mengepal. Dia melihat tatapan Arsyil dan Najwa penuh arti di mata Azam.


Dia benar-benar marah melihat kemesraan Arsyil dan Najwa itu. Azam mendengus kasar, dia ingin keluar secepatnya. Tapi dia tahan ketika Najwa pergi meninggalkan Arsyil ketika ada mobil taksi online datang berhenti di depan halaman mereka.


Setelah Najwa masuk dan mobil yang di tumpangi pergi. Azam pun keluar dari mobilnya, dia melangkah menuju rumah Arsyil dan mendekat pada laki-laki itu yang sedang menjemur pakaian. Azam memperhatikan apa yang di lakukan Arsyil, kemudian dia pun berdehem.


"Ehem!"


Arsyil menoleh, dia mrnghentikan menjemur baju-bajunya dan Najwa. Melihat Azam sedang berdiri di depannya dengan tatapan dingin.


"Kamu melakukan ini setiap hari?" tanya Azam seolah mecibir apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu.


"Ngga juga hanya kebetulan Najwa sedang ada urusan saja." jawab Arsyil menjemur baju yang terakhir.


Dia lalu mengajak Azam masuk, dia tahu apa yang di ucapkan Azam itu adalah sebuah cibiran padanya. Tapi dia tidak peduli, baginya membantu pekerjaan Najwa itu adalah hal yang menyenangkan.

__ADS_1


"Duduk Zam." kata Arsyil.


Dia masuk ke dapur meletakkan ember yang tadi dia bawa. Lalu keluar lagi dan menemui Azam.


"Kamu terlambat datangnya, Najwa baru saja pergi." kata Arsyil.


"Aku tahu dia tadi pergi naik taksi online." kata Azam.


Arsyil diam, dia menatap Azam yang juga menatapnya datar. Ada hawa permusuhan di mata Azam pada Arsyil.


"Aku juga tahu kedekatan kalian tadi sebelum Najwa pergi." kata Azam lagi.


Arsyil masih diam, lalu menunduk dan menarik napas berat. Dia tahu Azam sedang mengingatkannya agar jangan terlalu jauh memendam rasa pada Najwa.


"Apa yang mau kamu bicarakan Zam?" tanya Arsyil.


"Kamu juga sudah tahu sebenarnya aku kesini mau apa. Tapi mungkin aku katakan lagi, waktumu sudah hampir habis Syil. Setengah bulan lagi habis masa kontrak kalian, kamu harus menceraikan Najwa." kata Azam.


"Aku tahu Zam. Aku tidak akan mengingkari janjiku, aku akan menceraikan Najwa. Dan ini masih ada waktu setengah bulan, aku akan bicarakan lagi dengan Najwa sebelum bercerai." kata Arsyil.


"Sebaiknya kamu jangan katakan apa pun pada Najwa tentang aku datang kemari dan menagih janji sama kamu. Dan juga jangan katakan hal yang membuat Najwa berat meninggalkan kamu." kata Azam.


"Maksudnya apa yang harus aku katakan padanya?"


"Mungkin kamu menyatakan cinta atau mencegah dia jangan pergi. Atau semacamnya yang membuat dia berat meninggalkan kamu." kata Azam lagi.


"Kamu takut Najwa akan menolakmu?" tanya Arsyil.


"Tidak. Aku yakin Najwa masih mencintaiku, jadi kamu jangan berharap Najwa akan berbalik mencintaimu. Jadi sebelum terlalu jauh perasaanmu pada Najwa, lebih baik kamu urungkan niatmu untuk terus menyukai Najwa." kata Azam.


Arsyil menarik napas panjang, dia memang mencintai Najwa. Tapi bukan berarti Azam juga mengatur hatinya untuk tidak mencintai Najwa.


Lama mereka mengobrol, awalnya tadi santai. Tapi semakin lama Azam semakin memojokkan Arsyil. Dan akhirnya dia pun pamit pada Arsyil.


"Aku pamit dulu, dan setengah bulan aku tunggu kabar kalau kamu sudah meneraikan Najwa." kata Azam.


Arsyil hanya mengangguk saja, dia mengantar Azam sampai depan. Dia hanya tersenyum tipis ketika Azam melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.


Arsyil berbalik, dia berjalan dengan langkah gontai. Tapi kemudian dia berhenti tiba-tiba, menatap sosok yang tadi pergi meninggalkan rumahnya.


"Dek?"


_

__ADS_1


_


****************


__ADS_2