
Dua hari, Arsyil bersikap seperti biasa saja pada Najwa bahkan cenderung dingin. Seperti apa yang dia rencanakan, dia banyak diam dan lebih memfokuskan diri pada pekerjaannya.
Membuat Nahwa bingung dengan sikap Arsyil itu, terkadang dia melihat suaminya makan dalam diam, bicara seperlunya saja. Meski tidur masih bersama, tapi Arsyil selalu membelakanginya.
Najwa heran kenapa suaminya banyak diam, bukankah itu kurang baik dengan hubungan mereka?
Tapi Najwa tahu mungkin karena waktunya sudah dekat, jadi Arsyil memghindarinya sebisa mungkin. Najwa menarik napas panjang
"Bang, abang kenapa sekarang banyak diam?" tanya Najwa ketika mereka makan malam bersama.
"Ngga apa-apa dek." jawab Arsyil.
"Adek punya salah sama abang?" tanya Najwa lagi.
"Ngga ada, abang hanya ingin diam saja." jawab Arsyil.
"Tapi aneh diamnya abang itu, adek jadi sedih kalau abang begitu." kata Najwa lagi dengan wajah sendu.
Arsyil menatap istrinya, tampak jelas di mata Najwa itu ada kesedihan. Seperti halnya dirinya, dia juga sedih.
"Maaf dek, abang harus biasa sejak sekarang untuk jauh dan bersikap biasa sama kamu." kata Arsyil.
"Tapi adek ngga mau begitu bang, adek ingin abang bersikap seperti biasanya. Ngga harus menjaga jarak denganku." kata Najwa dengan mata berkaca-kaca.
Arsyil diam, dia menatap istrinya. Sedih hatinya melihat Najwa seperti mau menangis, tapi dia tidak mau larut dengan hatinya yang tambah sakit jika akhirnya harus bercerai juga.
"Abang takut dek." kata Arsyil.
"Takut apa?"
"Abang takut ngga bisa lepas dari adek, makanya abang mencoba membiasakan diri menjaga jarak denganmu. Abang tidak mau kalau nantinya tidak rela melepasmu." kata Arsyil.
Dia tidak ingin bicara seperti itu, karena ingat dengan ucapan Azam dengan tidak bicara yang membuat Najwa bimbang. Tapi harus menjelaskannya juga pada Najwa. Arsyil menunduk dalam, menarik napas panjang, sedangkan Najwa diam sama.
Dia lalu bangkit dari duduknya, melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya sedikit keras. Membuat Arsyil terkejut dan menarik napas panjang.
"Maafkan aku dek." ucap Arsyil lagi.
Berat rasanya harus bersikap dingin pada Najwa, karena baru dua bulan dia bisa dekat dengan Najwa. Bisa bersikap layaknya suami istri yang romantis, tapi harus di hadapkan pada kenyataan kalau mereka harus berpisah bahkan bercerai.
_
Setiap hari sikap Arsyil semakin jauh pada Najwa. Membuat Najwa jadi sedih, dia sering sekali menangis dalam kamarnya ketika malam hari. Arsyil tahu istrinya itu selalu menangis, tapi dia tidak bisa mengingkari janjinya pada Azam.
Pagi ini, Najwa masih biasa meladeni suaminya menyiapkan sarapan. Menyalami tangan Arsyil ketika dia mau berangkat ke percetakan. Tak ada komunikasi antara mereka, hanya sebuah kewajiban saja yang di lakukan keduanya.
Membuat Arsyil juga merasa tersiksa dengan sikapnya sendiri, begitu juga dengan Najwa. Mereka saling diam, menatap satu sama lain lalu menunduk.
"Dek, maafkan abang." kata Arsyil.
"Iya bang, adek mengerti kok." kata Najwa berusaha tersenyum.
"Terima kasih. Abang pergi dulu ya."
__ADS_1
"Iya."
Arsyil pun tersenyum, dia mengelus kepala Najwa. Baru beberapa langkah, Najwa memanggil suaminya itu.
"Bang."
Arsyil menoleh menatap Najwa heran.
"Kenapa dek?"
"Masuk dulu, ada yang ketinggalan." kata Najwa.
Dia lalu masuk ke dalam rumah, Arsyil pun mengikuti istrinya. Entah dia tidak tahu apa yang ketinggalan di dalam rumah, seingat dia tidak ada apa pun ketinggalan di dalam rumah. Semuanya sudah dia masukkan ke dalam tasnya, tapi begitu dia pun menurut masuk ke dalam rumahnya.
Arsyil masuk, dia melangkah ke dapur. Melihat Najwa mengepak kotak makan, memasukkan makanan untuk bekal.
"Adek mau bawakan abang bekal?" tanya Najwa.
"Iya, setiap kali mau bawakan bekal. Selalu saja lupa, sekarang mumpung ingat. Jadi di bawakan buat makan di kantor." kata Najwa.
Arsyil tersenyum, jika dia meminta di bawakan bekal pada Najwa. Mungkin Najwa tidak akan lupa.
Najwa pun menyelesaikan memasukkan makanan untuk bekal Arsyil. Dia lalu menyerahkannya pada suaminya.
"Ini bekal untuk abang, besok kalau abang ingat bilang ya." kata Najwa dengan senyum mengembang.
"Iya dek. Terima kasih." kata Arsyil.
"Emm, bang?"
Najwa menatap suaminya, dia menginginkan sesuatu tapi malu. Meskipun Arsyil sedang menjaga jarak dengannya, tapi Najwa ingin bermanja dengan Arsyil.
Dia mendekat pada suaminya, menempelkan tubuhnya lalu tangannya merangkul pinggang Arsyil. Tentu saja membuat laki-laki itu diam dan tegang, dia tahu sikap Najwa itu adalah sikap manja istrinya.
Tidak tega dia mengabaikan sikap istrinya yang sedang manja itu. Arsyil pun membalas pelukan istrinya, semakin Najwa bersikap seperti itu. Arsyil semakin berat melepas istrinya, tapi biarlah. Dia harus mengikuti kemauan istrinya, nanti ketika dua hari menjelang habis masa kontrak. Dia akan membicarakan lagi dengan Najwa.
"Adek lagi kangen sama abang?" tanya Arsyil.
Najwa mengangguk, dia seperti nyaman memeluk suaminya itu.
"Berapa lama mau seperti ini?"
"Ngga tahu."
"sepuluh menit, abang kasih waktu."
"Kurang bang."
"Tapi sudah siang dek, abang harus ke percetakan." kata Arsyil.
Tiba-tiba Najwa melepas pelukannya, tampak dia kecewa mendengar ucapan Arsyil. Arsyil heran, kenapa dengan Najwa, sikapnya jadi aneh pagi ini.
"Dek?"
__ADS_1
"Abang berangkat aja sana, katanya sudah siang." kata Najwa sedikit ketus.
"Kamu marah?"
"Ngga!"
"Ya ampun, istriku merajuk."
"Siapa yang merajuk?!"
"Hahah, baiklah. Sebentar, abang mau menghubungi Nadia dulu kalau abang berangkatnya telat ke percetakannya." kata Arsyil dengan tawa senangnya.
Najwa diam, lalu dia tersenyum malu-malu. Arsyil jadi bingung untuk bagaimana bisa menjauhi Najwa jika sikap manjanya saja membuat dia senang.
"Nadia, maaf ya aku berangkat agak siang. Jika ada yang datang, tolong kamu tangani dulu." kata Arsyil.
"Bapak rumahnya kebanjiran?"
"Emm, ya. Maaf ya, aku harus bersih-bersih dulu." kata Arsyil berbohong.
"Oke pak."
"Terima kasih Nadia."
Klik!
Arsyil menutup sambungan teleponnya pada Nadia, dia masukkan ke dalam tasnya ponsel lalu menatap istrinya yang sedang tersenyum malu. Dia jadi gemas melihat Najwa seperti itu.
"Sekarang, adek mauya apa?" tanya Arsyil.
"Emm, ngga tahu bang." kata Najwa masih malu-malu.
"Kalau sikap adek seperti ini, bagaimana nanti abang melepasnya ya?"
"Jangan pikirkan itu, masih lima hari lagi kan."
"Ya sudah, saat ini abang mau melakukan apa yang adek inginkan. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. Sekarang adek mau apa?" kata Arsyil.
"Di rumah aja bang."
"Mau apa?"
"Ngga tahu."
"Ya ampun, abang tahu nih apa yang adek inginkan." kata Arsyil.
Dia letakkan tas ranselnya di kursi, lalu menarik tangan Najwa dan tiba-tiba mengangkat tubuh Najwa, menggendongnya lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menciumi wajah Najwa hingga perempuan itu merasa geli.
"Abang!"
_
_
__ADS_1
**************