Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
41. Gagal Menemui Najwa


__ADS_3

Azam sudah menaiki mobilnya, hatinya benar-benar kacau setelah perdebatan dengan Mala tadi. Dia mendengus kasar, memejamkan matanya karena kini dia menyesal telah membuat Mala menangis tadi.


Tapi bagaimana pun dia tetap akan menikahi Najwa. Mantan istrinya yang kini telah menjanda untuk kedua kalinya. Hatinya mulai tenang, dia lalu menyalakan mesin mobil. Dia melihat Mala berdiri di depan pintu dengan tatapan sedih dan kecewa padanya.


Azam melajukan mobilnya pelan keluar dari halanab rumahnya. Dia masih memikirkan Mala yang menangis tadi di depan pintu.


"Ck, perempuan itu. Kenapa dia jadi menangis seperti itu, bukankah sudah aku bilang sebelumnya akan menikah dengan Najwa. Tapi dia malah melarangku untuk itu." kata Azam bicara sendiri dalam mobilnya.


Dalam perjalanan dia masih memikirkan apa yang di ucapkan Mala. Bukan karena melarangnya menikahi Najwa, tapi karena ucapan Mala yang mengatakan jatuh cinta padanya.


"Jatuh cinta padaku? Apa benar dia mencinatiku?" ucap Azam dengan senyum mengembang.


Ada rasa bangga ketika dua orang menckntainya, dia benar-benar merasa laki-laki yang beruntung sekali. Tetapi, cintanya masih berat pada Najwa. Entah itu sebuah obsesi atau memang dia mencintai Najwa.


Dia berpikir sekarang ini harus menikahi Najwa, memilikinya kembali setelah beberapa bulan berpisah. Hatinya sangat senang kini akan berjumpa lagi dengan Najwa dalam keadaan sudah tidak bersuami, jadi dia bebas untuk mengkhitbah kembali Najwa.


Mobil Azam sudah berada di depan halaman rumah abah dan umi Najwa. Tampak dari luar pintu tertutup rapat, Azam pun turun dari mobilnya.


Dengan penampilam paripurnanya, memakai celana jenas dan juga baju berwarna biru muda. Lengan di gulung dan tatanan rambut yang sedikit urakan tapi menambah kesan laki-laki idaman karena wajahnya yang benar-benar tampan. Tak lupa sepatu kets warna putih melengkapi penampilannya semakin sempurna.


Lalu dia pun melangkah menuju halaman rumah Najwa dan mengarah ke pintu, menarik napas panjang kemudian mengetuk pintu sambil berucap salam.


"Assalamu alaikum!"


Azam mengucapkan salam dengan tangan masih mengetuk pintu. Di ulang kembali salamnya, dan ...


"Assalamu alaikum!"


"Wa alaikum salam."


Suara jawaban salam terdengar dari dalam membuat Azam senang. Dia berdiri dengan gelisah karena beberapa menit lagi akan bertemu dengan Najwa, mantan istrinya dan juga mantan istri sahabatnya.


"Waaah, nak Azam ternyata. Umi pikir siapa." kata umi Dila yang berdiri di depannya.


"Iya umi, saya datang untuk bersilaturahmi." jawab Azam dengan senyum sumringahnya.


"Masuk dulu nak Azam."


"Iya umi."


Azam pun masuk ke dalam rumah. Umi Dila membawa Azam ke ruang tamu, Azam duduk setelah di persilakan oleh umi Dila.

__ADS_1


"Nak Azam ada waktu ya datang kemari." kata umi Dila berbasa basi.


"Iya umi. Kedatangan saya kemari untuk bertemu dengan dek Najwa, umi." kata Azam langsung saja.


"Kebetulan Najwa sedang tidak ada di rumah."


"Kemana umi?"


"Ada di rumah pamannya di kecamatan sebelah, sepupunya mau menikah. Jadi Najwa harus menemaninya di sana." kata umi Dila.


Azam tampak kecewa, dia menunduk lesu karena persiapannya untuk menemui Najwa jadi gagal. Dia menarik napas panjang, umi Dila tahu kalau mantan suami anaknya itu kecewa karena Najwa sedang tidak ada.


Dia tidak mau memberitahu apa pun permasalahan Najwa, tapi biarlah nanti Najwa sendiri yang akan bicara pada Azam.


"Oh ya nak Azam, umi sampai lupa. Nak Azam mau minum apa?" tanya umi Dila.


"Ngga usah repot-repot umi. Rencananya mau ketemu sama dek Najwa, tapi sekarang dia tidak ada. Jadi sepertinya saya pulang saja." kata Azam.


"Lho, kenapa buru-buru?" tanya umi Dila.


"Heheh, dek Najwanya tidak ada umi. Saya juga masih ada urusan dengan orang lain."


"Emm, ya ya. Nak Azam orang sibuk ya, urusannya juga banyak." kata umi Dila tersenyum.


"Tapi ini hari Sabtu, apa kantor nak Azam masul kerja?" tanya umi Dila lagi.


"Kalau yang punya tugas tambahan atau ada lemburan ya, mereka masuk di hari Sabtunya umi. Jadi di kantor saya jarang ada yang lembur sampai malam, mereka harus pergi ke kantor di hari Sabtunya. Itu peraturan di kantor saya, umi." kata Azam menjelaskan.


"Oh benar juga ya, jadi kalau ada karyawan perempuan itu tidak ada alasan pulang malam karena lembur ya." ucap umi Dila menanggapi.


"Iya umi."


"Bagus sih itu."


"Iya."


Keduanya pun diam, Azam tampak masih kecewa karena tidak bisa bertemu Najwa. Dia menarik napas panjang, lalu dia pun akan berpamitan pada umi Dila.


"Umi, saya pulang dulu."


"Ya."

__ADS_1


"Dan, maaf umi. Kira-kira, dek Najwa pulang ke rumah kapan ya?" tanya Azam untuk memastikan dia datang ke rumah itu, Najwa ada di rumahnya.


"Mungkin tiga hari lagi, tapi itu juga sepertinya hanya sebentar. Kalau menurut umi sih, lebih baik minggu depan saja nak Azam datang lagi. Najwa pasti sudah ada di rumah terus." kata umi Dila.


"Iya umi. Insya Allah minggu depan saya datang lagi menemui dek Najwa." kata Azam.


"Ya, itu lebih baik. Takutnya Najwa pulang tiga hari lagi, sorenya harus kembali kesana lagi. Karena sepupunya itu dekat dengan Najwa, jadi dia harus menemaninya selama seminggu itu di rumah pamannya." kata umi Dila.


"Iya umi, saya akan datang lagi minggu depan. Biar enak ngobrol dengan dek Najwanya, karena saya ingin berbicara banyak sama dek Najwa."


"Ya ya, memang kalian butuh waktu banyak ya untuk bicara masalah kalian." kata umi Dila.


"Kalau begitu, saya pergi dulu umi. Mau ke kantor."


"Ya, maaf lho umi tidak menyediakan minuman untuk nak Azam. Jadi tidak enak, ada tamu kok di biarkan kehausan." kata umi Dila.


"Hahah, tidak apa umi. Anggap saja saya kembali jadi menantu umi, jadi jangan merasa tidak enak." ucap Azam dengan santainya.


Umi Dila hanya tersenyum saja, dia lalu mengantar Azam sampai ke depan halaman terasnya. Azam pun bersalaman pada perempuan paruh baya itu yang masih terlihat cantik tapi berwajah teduh itu.


"Assalamu alaikum, umi."


"Wa alaikum salam, hati-hati ya nak Azam." jawab umi Dila.


Azam hanya mengangguk saja, dia memutar mobilnya keluar dari halaman rumah umi Dila. Dia melambailan tangan ketika sudah berada di jalan, umi Dila pun membalasnya. Mobil Azam sudah meluncur meninggalkan rumah umi Dila.


Tak lama, suaminya datang dengan berjalan kaki. Dia heran ada mobil masuk ke dalam rumahnya, abah Ubay pun menghampiri istrinya yang masih ada di luar.


"Siapa yang tadi umi?" tanya abah.


"Nak Azam bah." jawab istrinya.


"Kok mobilnya beda?"


"Kan nak Azam itu pengusaha, mobilnya banyak bah. Dia mau pakai mobil apa saja itu ya terserah dia." kata umi Dila melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan abah mengikuti dari belakang, dia tahu pasti Azam itu mau mencari Najwa. Dan tentunya tidak bisa bertemu karena Najwa sendiri sedang berada di rumah pamannya.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2