Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
54. Resepsi


__ADS_3

Arsyil dan Najwa pulang ke rumah pak Marwan yang kini sudah jadi milik Arsyil. Mereka membereskan barang milik Arsyil untuk tinggal sementara di rumah abah menjelang resepsi mereka di yayasan pesantren.


"Dek, kalau Azam di kasih tahu enak ngga ya?" tanya Arsyil.


"Ngga usah bang, biar saja. Lagi pula dia tahu kok kalau aku akan kembali sama abang." kata Najwa.


"Tapi kan dia ngga tahu kita akan menikah lagi dek. Apa sebaiknya di undang saja?" tanya Arsyil.


"Terserah abang saja, tapi nanti adek mau marah sama abang." kata Najwa sedikit merajuk.


Dia tidak mau nanti Azam akan marah pada suaminya, nanti Arsyil akan merasa bersalah padanya.


"Ya sudah, abang ngga kasih tahu Azam kalau adek ngga mau." kata Arsyil.


Najwa diam, dia melihat suaminya seperti merasa serba salah. Najwa tahu Azam adalah sahabat suaminya, entah bagaimana Arsyil dan Azam bersahabat.


Sewaktu menikah dengan Azam dulu, Najwa tidak tahu Arsyil adalah sahabat Azam, apakah waktu itu suaminya itu tidak datang ketika di pernikahannya dengan Azam.


"Bang, waktu dulu adek menikah dengan mas Azam. Adek kok ngga pernah tahu abang adalah sahabat mas Azam. Apa abang ngga di undang sama mas Azam waktu itu?" tanya Najwa.


"Di undang, tapi abang lagi keluar kota. Abang masih kuliah dan lagi sibuk banget, jadi ngga bisa datang. Baru tiga tahun, abang kembali lagi ke kota ini dan membuka percetakan buku dan undangan. Azam membantu abang dalam modalnya, ya hampir lima puluh persen." jawab Arsyil.


"Jadi, percetakan itu modal dari mas Azam dan abang?" tanya Najwa.


"Iya, tapi abang lebih besar. Karena kita sahabat, dia menanam modal di percetakan abang dan hasilnya juga tiap bulan abang transfer. Dua bulan lalu dia bilang tidak usah transfer hasil keuntungan itu, tapi abang tetal kirim setiap bulan. Karena itu keuntungan bersama, abang ngga mau begitu meski Azam menolaknya." kata Arsyil.


"Jaminan apa yang di kasih sama mas Azam waktu mau jadi suami selinganku bang?"


"Adek kenapa tanya begitu?" tanya Arsyil, heran dengan pertanyaan Najwa itu.


"Adek pengen tahu bang. Adek ngga mau abang terus-terusan ngga enak sama mas Azam karena banyak balas budi sama abang. Jadi mengorbankan kebahagiaan abang sendiri." kata Najwa.


Arsyil menarik napas panjang, dia menatap istrinya lama. Lalu tersenyum, dia mendekati Najwa duduk di depannya.


"Menjaga silaturahmi itu baik dek, meskipun kadang memang sangat tidak biasa permintaan Azam. Tapi abang sangat berterima kasih telah mengenalkan abang sama adek, istriku sekarang dan selamanya. Adek jangan khawatir, abang akan jaga adek, melindungi adek dan mencintai adek selamanya." kata Arsyil meyakinkan istrinya.

__ADS_1


Najwa tersenyum, tapi dia masih merasa tidak tenang. Karena dia takut Azam belum ikhlas sepenuhnya merelakan dirinya dan Arsyil.


"Apa yang abang katakan itu karena ada janin dalam perut adek?" tanya Najwa.


"Awalnya iya, tapi setelah abang sadar kalau cinta itu harus di perjuangkan. Apa lagi jalannya juga ada, jadi abang mempertahankan adek karena abang mencintai adek. Apa lagi ada janin abang dalam perut adek ini." kata Arsyil memegangi perut Najwa yang mulai membuncit.


Najwa tersenyum senang, dia sangat lega dengan jawaban Arsyil. Dia memelul suaminya, sangat damai dia rasakan.


Arsyil mencium kepala Najwa, dia benar-benar bahagia sekali. Dia tahu istrinya khawatir dengan dirinya yang nanti menyerah begitu saja. Tapi dia tidak akan seperti itu, dia akan beritahu Azam nanti kalau dirinya sudah kembali lagi dengan Najwa.


_


Acara resepsi di yayasan pondok pesantren sangat meriah. Acara sederhana, tapi semua nampak antusias dengan pernikahan Najwa dan Arsyil itu. Banyak guru-guru dan santri yang penasaran siapa laki-laki yang mau menikahi Najwa, seorang janda cantik dan sholehah itu.


"Waah, pengantinnya cantik dan ganteng ya. Beruntung banget sih ustadzah Najwa menikah dua kali tapi dapat suami yang ganteng-ganteng semua. Di mana ya ustadzah ketemunya, kok bisa dapat suami ganteng begitu?" tanya salah satu guru dan ustadzah di pondok pesantren itu.


"Iya, aku yang jomblo dari dulu belum juga ketemu yang begitu." sahut yang lainnya.


"Dengar-dengar sih itu teman mantan suaminya dulu. Tapi, sekarang sih beda ya. Lebih sederhana dan ramah banget kelihatannya." kata ustadzah satunya lagi.


Mereka tampak iri ketika melihat Najwa bersanding di pelaminan dengan Arsyil yang ramah dan lembut itu.


"Ustadzah Najwa sudah menikah lagi, apa beliau akan mengajar lagi di pesantren?"


"Katanya sih ngga, beliau mau ikut suaminya. Sayang banget ya, padahal kalau lagi mengajar tuh enak banget. Adem." ucap santri lainnya.


Umi dan abah tampak tersenyum mendengar ucapan para santri tentang anaknya. Apa lagi abah, dia sangat senang karena Najwa banyak yang menyukainya. Tapi mereka tidak tahu pergolakan apa yang di hadapi dalam kehidupan anaknya.


Sementara itu, Azam tampak marah sekali ketika Arsyil memberitahu melalui pesan singkat kalau dirinya akan mengadakan pernikahan lagi dengan Najwa. Dia kesal dengan sahabatnya itu, kenapa Arsyil harus kembali dengan mantan istrinya itu.


"Huh, aku sudah sabar menunggunya Najwa mau kembali lagi padaku. Tapi kenapa mereka justru mengadakan resepsi pernikahan?" ucap Azam.


Dia berada di ruang kantornya, kesal, kecewa, marah dan cemburu jadi satu membuat Azam tidak konsentrasi lagi bekerja. Maya, sekretarisnya juga heran kenapa bosnya uring-uringan saja dalam ruangannya.


Azam masih dalam ruangannya hingga waktu makan siang selesai. Kebetulan hari ini tidak ada pertemuan apa pun atau ada klien yang datang ke kantornya.

__ADS_1


Maya masuk ke dalam ruangan Azam, bertanya apakah dia ingin di pesankan makanan untuknya.


"Pak Azam, apa anda ingin di pesankan makanan?" tanya Maya.


"Tidak, aku belum lapar." jawab Azam.


"Baik pak."


"Oh ya Maya, aku mau keluar dan nanti langsung pulang. Jika ada yang penting telepon aku, aku ada perlu menghadiri acara pernikahan teman." kata Azam mengambil jasnya dan segera melangkah pergi.


"Ya pak Azam."


Azam keluar dari ruangannya di susul oleh Maya. Dia melangkah pergi meninggalkan sekretarisnya. Dia akan pergi ke rumah Najwa, ingin mengetahui pernikahan seperti apa yang di adakan oleh abah dan umi. Apakah sama dulu pernikahannya dengan Arsyil.


Sepanjang jalan Azam merutuki penyesalan, kenapa dia mengenalkan Arsyil pada Najwa.


"Aku menyesal kenapa Arsyil yang aku kenalkan pada Najwa. Tidak menyangka mereka akan saling menyukai, heh. Menyebalkan sekali." kata Azam.


Dia membelokkan mobilnya ke arah rumah abah dan umi, tapi dia tidak melihat ada keramaian di rumah itu. Justru tampak sepi saja.


"Pak, maaf mau tanya. Pernikahan anaknya abah Ubay di mana ya?" tanya Azam ketika dia bertanya pada orang lewat.


"Ooh, resepsinya di yayaaan pesantren mas. Di sana ramai sekali, mas di undang ya?"


"Iya. Terima kasih pak."


"Ya, sama-sama."


Azam pun melangkah pergi ke yayasan pesantren yang tidak jauh dari rumah abah itu. Hanya berjalan dua ratus meter dari gerbang pesantren. Dia melihat banyak lalu lalang santri dan undangan lainnya.


Tampak Azam melihat di sebuah masjid dan lapangan dekat masjid itu ada pelaminan. Dia melihat Najwa dan Arsyil sedang menyalami tamu undangan. Azam menarik napas kasar, hatinya benar-benar cemburu.


Dia tidak melanjutkan masuk ke dalam untuk menyalami atau mengucapkan selamat pada kedua mempelai, tapi justru pergi lagi dalam keadaan hati yang tidak menentu.


_

__ADS_1


_


****************


__ADS_2